
“Hentikan basa-basimu Sarla! KATAKAN YANG SEBENARNYA, SARLA!” Pekik Morean begitu kuatnya membuat Sarla terlonjak.
Manik Sarla berkaca-kaca, dadanya sesak seperti mendapatkan sebuah tembakan yang tepat sasaran menghantam tepat pada dirinya.
“M-More—“ Sarla berusaha menyentuh.
Seketika Morean menarik tangan Sarla menahannya kuat.“KATAKAN! Jangan cari cara mengelak lagi, kau bekerja sama dengan dokter Stevanus membohongiku, apa yang kau rencanakan, aku minta dokter Stevanus memeriksamu agar aku tahu bagaimana kondisimu, Ya, aku bilang aku tidak ingin kau hamil aku mengatakan itu, sebab aku tidak ingin kau dan anak yang kau kandung dalam bahaya, tapi jika sudah terjadi bagaimana menolaknya? apakah kau pernah mendengarkan aku meminta kepadanya jika kau hamil gugurkan! Apa pernah aku mengucapkan itu.”
“A-aku tidak—“ Bibir Sarla terasa kelu tidak berkata-kata.
“PEMBOHONG! Aku mencoba diam, aku biarkan kau lakukan apa yang kau suka, aku ikut apapun yang mau mau, kau fikir aku tidak merasa aneh, kau fikir aku tidak merasakan perubahanmu? Aku berusaha percaya ucapan Dokter Stevanus tentang sakit lambungmu, aku mencoba percaya dokter Stevanus tidak berbohong tapi aneh bagiku, aneh!” Tatapan Morean penuh amarah, ia sudah begitu meledaknya.
"More semua tidak seperti itu--"
“Berhenti menyangkal, kita periksakan kandunganmu sekarang! Kau pembohong kau wanita tidak punya hati, bahkan kau bisa mendengarkan seorang ayah merencanakan kepergian anaknya tanpa dia tahu janin itu ada dan dia tumbuh, kau membuat orang lain aga r membiarkan wanita yang mengandung anaknya pergi, kau sengaja tidak mengatakan kepadaku kau akan kemana, kau sengaja kan agar saat nanti dia lahir aku tidak pernah tahu dia ada, kau lebih jahat dariku, Sar-la!”
Morean berkaca-kaca ia menatap pada tubuh Sarla yang memeluk dirinya sendiri ketakutan dan menunduk, hanya bisa pasrah dan menangis, 6 minggu kini usia kandungannya, bahkan perut Sarla mulai nampak sedikit naik, dua buah benda terbungkus itu bahkan tampak lebih subur tubuh Sarla jauh lebih berisi dari pertama kali mereka bertemu di malam itu.
“Ma-afkan aku, aku takut!” Hiksss hikss
“KAU PEMBOHONG! Dari lama aku sudah menduga demammu bukan demam biasa, kau bahkan meminum obat demam beberapa kali, kau tega! Menolak itu, aku memang bukan manusia yang baik, dia ada sebab diluar kewarasanku tapi aku tidak pernah ingin membuatnya terlahir menyedihkan tanpa ayah tanpa kedua orang tua tanpa kehidupan yang layak, TAPI KAU, kau tega berusaha pergi dan akan membuatnya sama hidup menyedihkan sepertimu!”
Beberapa bulir bening diujung ekor mata Morean merembes dia tidak pernah seemosional ini, rasa begitu terbakar dan meledak-ledak. Sarla semakin menciut ia menangis sejadi-jadinya berderaian air mata tanpa suara.
Morean yang tidak bisa lagi mengontrol amarahnya pun segera keluar takut membuat Sarla kenapa-kenapa, ia menarik nafasnya berat rasa bingung bercampur kekesalan membumbung padanya, wanita itu benar hamil, darah dagingnya tumbuh disana dirahim wanita yang beberapa waktu ini ada dikehidupannya.
“Jika seperti ini bahkan nyawa pun aku pertaruhkan, dan tidak akan pernah membiarkannya pergi sedetikpun apa lagi membawa milikku.”
Morean turun dari rumah pohon, ia akan memberitahukan pada ayahnya, ini tentunya adalah yang begitu besar untuk dia dan keluarga besarnya, keselmatan Sarla saja sudah terancam saat diketahu dekat dengannya, apa lagi jika tahu Sarla mengandung darah dagingnya.
Baru beberapa meter turun Morean berbalik lagi melihat keatas, Sarla sangat licik tidak akan ada yang tahu kapan saja dia bisa melarikan diri, bahkan dokter saja bisa ia ajak bekerja sama membodohinya, segera Morean pun naik lagi tidak akan lengah sedikitpun membiarkan Sarla pergi dan dia menjadi tidakwaras kehilangan darah dagingnya.
.
.
.
.
.
Next »