
Samar suara jalanan yang sudah kembali beraktivitas mulai terdengar kependengaran Sarla dan membuatnya terjaga.
Ya, ini sudah siang mentari pagi mulai tampak membuat gorden dijendela terang ia menggerakkam bahu dan tubuhnya merenggangkan pegal-pegal ditubu.
Sarla pun mengingat sesuatu lelaki itu semalam tidur disebelahnya namun kini Morean tidak tampak disebelahnya, Sarla segera bangkit mengedarkan pandanganya ditempat kecil itu, “Kemana dia?” Namun sepertinya lelaki itu sudah tidak ada dirumahnya.
Sarla pun segera mengemasi kasur lipatnya, sembari memastikan kembali keberadaan Morean hingga melihat mobilnya diluar sana dan benar sekali lelaki itu tidak ada dia sudah pergi entah kapan, Sarla tidak heran akan itu, Morean memang selalu aneh, hilang dan datang sesuka hati.
Cuaca diluar begitu cerah ia membuka gordennya disana, akhirnya bisa kembali kerumah, rasanya begitu melegahkan lepas dari sangkar emas iblis itu namun jika mengingat sikapnya semalam dia tidak terlalu buruk tampak menyenangkan diajak bicara dan bisa diprotes juga.
“Yeay, Im Free… Tidak Sarla! kau tidak sepenuhnya bebas ini hanya beberapa waktu saja.” Sarla pun bergegas menutup gorden akan bersiap untuk kembali bekerja ke restoran, Ya jika masih boleh, jika tidak tentunya dia akan mencari tempat lainya.
***
Morean sudah kembali ke Rodriguez House, hanya satu jam saja ia tertidur dikontrakan Sarla itu, selebihnya ia hanya melihat wanita itu tidur dan menikamati wajah cantiknya dengan nafasnya yang mendengkur itu.
Menjelang pagi saat hari masih gelap Morean pun memutuskan untuk kembali tanpa membangunkan Sarla yang begitu lelapnya tertidur tidak lupa menyelimutinya.
“Bos!” Suara suara Luke yang datang menyapa membuat Morean yang sedang sarapan bersama ayahnya menoleh.
“Pagi Luke, ada apa? Ini belum waktumu untuk memberiku pekerjaan, masih ada setengah jam lagi, aku akan pergi sedikit siang hari ini." Morean layaknya pekerja dan Luke adalah situkang perintah dan itu sudah biasa.
Luke pun mendekat pada Morean lalu ia berbisik, “dr. Stevanus datang kekediaman nona Sarla akan tetapi dia tidak ada ditempatnya.”
Morean menarik nafas berat, kemudian meletakkan sendoknya seketika, “Minta seseorang mencarinya di restoran dan pastikan dia menemuinya hari ini.” Morean menjawab sedikit berbisik membuat Luke mengerti dan segera pergi.
“Siapa yang sakit More? Kenapa menacari ke restoran?” sang ayah ternyata menyimak percakapan Morean dan Luke barusan menatap penuh selidik sang anak tersebut.
“Rekanku, bukan sebuah hal yang penting.” Morean pun melanjutkan makannya, “Dimana Juless? Apakah dia sudah pergi?”
Ayah menoleh pada sang anak, “Dia pergi ke Bougenv pagi tadi, universitasnya mengadakan sebuah penyuluhan kesehatan dan acara donor darah di kota kecil itu, dia terlibat sebagai panitia acara disana.”
Morean terkesiap, itu merupakan kota yang kecil dimana Sarla tinggal, jika melakukan sebuah acara pasti dilakukan di tengah pusat pertokoan disana dan berada didekat dengan restoran Sarla bekerja, Morean mencoba tenang kemudian segera bangkit dari sana.”Lanjutkan Sarapan mu ayah, aku melupakan pertemuanku pagi ini dengan perusahaan dari Swiss....pastikan kau meminum obatmu.”
Sang ayah pun menyahut mengerti. ia sedikit menaruh kecurigaan pada Morean anaknya itu, dari sebuah kabar burung yang ia dengar Morean kemarin membawa perenpuan ke kamarnya akan tetapi dia tidak bisa memastikan kebenarannya. “Siapapun dia semoga bukan Summer…” bibir tua ayah memohon penuh kesungguhan.
Morean pun menyusul Luke keruangan kerja miliknya, Luke yang sedang memerintah seseorang menemui Sarla di restoran, Luke terkesiap Morean sudah berada dibelakangnya.
“Juless ada disana melakukan tugas kampusnya! Ingatkan pada Sarla agar tidak sekalipun pergi ke acara itu dan minta dia pulang menemui dr. Stevanus dan tidak kemana pun hari ini.”
Luke menatap Morean serius sedikit tersenyum sebal selalu saja Morean memerintah sesukanya diluar pekerjaan, “Kenapa kau tidak membelikannya sepasang merpati Bos, lalu kau bisa menyampaikan pesan dan perintahmu sendiri, ku rasa akupun harus menyita ponselmu, supaya lebih adil dan memudahkan semua pekerjaan.”
Morean tertawa kecil mendapatakn sindiran Luke, “Aku lupa, Luke sialan kirimkan segera ponsel untuknyal!”
***
Sedari tadi dia menjadi buah bibir beberapa pramusaji dan pekerja lainya disana, sungguh tidak adil mereka saja diwaktunya libur bahkan tidak diberi izin libur diminta lembur akan terancam potong gaji dan pemecatan jika tidak mau namun Sarla setelah berhari-hari libur dia begitu mudahnya masuk lagi dan diterima begitu saja.
Sarla mengacuhkan itu, tujuan dia disana adalah bekerja bukan untuk menjadi pengamat atau pemjaga hati orang lain, percuma saja dia merasa tidak nyaman semuanya sudah terjadi, Sarla pun terus melanjutkan bersih-bersihnya lalu memebersihka segala sisa-sisa makanan kotor dimeja sana, ia berharap dia akan bisa terus bebas seperti ini dan lelaki bernama Morean itu akan lama lagi datang ke kota ini.
“Nona Sarla, seseorang mencari anda…” tegur sang owner diarea pencucian piring membuat Sarla seketika menoleh.
“Mencari saya?” Sarla langsung menebak itu adalah Morean, “I-Iya terimakasih.” Sarla tergagap membuat lelaki itupun berlalu.
Jelas sekali suara panggilan sang pemilik didengar para karyawan lain disana, belum selesai dia libur panjang dan kini baru beberapa jam bekerja dia bisa menemui seseorang diluar pekerjaan begitu saja, Sarla melirik pada orang-orang disana yang menyorotkan pandangan benci padanya, Sarla pun mencoba mengacuhkan dan pergi dari sana.
Sarla mencari keluar Morean yang ia fikir datang, menoleh ke kanan dan kekiri, “Nona Wilamo, dr. Stevanus menunggu anda dirumah, ayo segera kembali kerumah, saya akan menghantarkan anda.” tegur suruhan Luke yang datang kesana.
Seketika Sarla ingat ucapan Morean yang memintanya melakukan kontrasepsi penunda kehamilan, Sarla pun diam sesaat ia sedikit merasa takut untuk melakukannya, ia reflek menyentuh perutnya hingga hari ini dia belum mengalami menstruasi.
Tidak! Sarla meyakinkan dirinya mungkin ini belum waktunya saja, Sarla pun memutar ulang kebelakang mengingat-ingat kapan terakhir kali dia menstruasi.
“Nona Wilamo?”
“Eh, I-iya…” Sarla pun bergegas kembali lagi masuk kedalam restoran kini langkahnya begitu berat bagaimana untuk meminta izin lagi dia saja baru masuk hari ini, sungguh ini benar-benar membuat dia akan semakin tidak disukai orang-orang disana.
“Ada masalah Nona Sarla? Jika ada selesaikanlah dulu, saya tidak akan mempermasalahkan.” Ucap sang owner restoran itu seketika berdiri entah datang darimana.
“Maaf, saya mau izin pulang–“
“Silahkan…selesaikan urusan anda, restoran ini selalu menerima anda kapanpun.” Lelaki itu pun mengangguk hormat dan berlalu, sungguh dia membuat Sarla terperangah kenapa bersikap begitu baik, Sarla mengacuhkan itu segera pergi dari sana.
***
Sebuah mobil mewah menghantarkan Sarla untuk kembali kekediamannya, jelas saja ia seketika mendapatkan cibiran oleh karyawan disana yang melihat dari dinding kaca restoran itu, Sarla mengulas senyuman pada wajah-wajah disebalik dinding sana, biarlah mereka merendahkannya dan berfikir buruk mungkin itu benar adanya hidupnya memang sedang dalam sebuah lingkaran yang salah dan buruk.
Ia menatap nanar pada jalanan diluar sana lalulalang keramaian begitu bahagia sekali hidup mereka tertawa bebas disana, “Kenapa ramai sekali?” Bathin Sarla tempat itu seperti ada acara, ia menoleh hinga memutar kesamping terlihat seperti ada acara besar disana, sepertinya ini adalah acara tahunan berbagai macam ada disana, penyuluhan kesehatan hingga festival.
Sarla pun mengulas senyuman semoga pertemuan dengan dokter cepat selesai agar dia bisa pergi datang melihat acara ditengah kota itu malam nanti menikmati festival disana, Sarla pun mengusap perutnya berharap benar tidak ada yang tumbuh dalam perutnya saat ini, sungguh jika ada artinya dia akan terikat selamanya dengan lelaki itu.
.
.
.
Next »Sajennnnnnnn 🙉🙈