Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 81



Disebuah tempat perjudian, Luke mengendap-endap masuk, ini adalah tempat dimana Dayana kekasihnya berada, dia tinggal ditempat ini bersama lelaki yang sudah membayarnya kepada sang bibi. Terakhir kali Dayana mengabari dia tinggal dilantai 4 gedung tempat hiburan ini.


Dengan tidak ada rasa takut dan memang dia adalah orang yang pemberani Luke pun diam-diam naik ke gedung itu, saat dimana tidak ada yang mencurigainya dan menganggapnya adalah pengunjung biasa. Luke pun bergegas naik dengan cepat dan hati-hati ia berjalan di tangga-tangga tua gedung itu.


Tidak berhenti matanya juga mengedar menatap awas dan terus berjaga takut kalau-kalau hal buruk lain terjadi. Hingga langkah cepatnya membawa dia pada undakan terakhir lantai itu dan sampailah dilantai 4 sana.


Berbeda dengan lantai-lantai sebelum, Lantai 4 ini lebih seperti sebuah hotel ada banyak kamar disepanjang koridor. Lalu akan bagaimana Luke tahu dimana kamar Dayana.


Di tempat ini jauh lebih tenang dari lantai satu, dua dan tiga, tidak ada suara apapun disini sangat sunyi hanya terdengar samar-samar suara saja dari bawah sana.


Tidak ingin menunggu lama dan selalu punya banyak akal Luke melihat banyak fase bunga didepan-depan kamar ia pun mengangkatnya satu dan melempar ketengah.


BRUUUUKKK...


Segera lelaki itu berlari kesisi koridor lain, lalu bejalan kesebalik arah berbalik, jelas saja suara dentuman pot besar dilantai 4 barusan membuat penghuni-penghuni kamar disana keluar.


Beberapa wanita cantik yang ditebak Luke adalah pekerja di tempat perjudian ini melihat keluar dan bertanya-tanya apa yang terjadi, dari jauh Luke ikut berpura-pura melihat dengan wajahnya yang ia tutupi dan tampaklah disana sebuah pintu yang baru terbuka, sesosok gadis cantik berbalut piyama balon-balon yang sama dengan milik Luke mengintip disebalik pintu.


Luke menarik nafasnya lalu menghembusakan, ia merasa begitu lega akhirnya bisa melihat Dayana lagi, gadis itu tampak baik-baik saja walau tinggal dilingkungan para pekerja bukan ditempatkan dirumah yang lebih baik seperti istri-istri lelaki yang membayar dia dari sang bibi itu.


Menghitung mundur waktu saat dimana satu persatu orang sudah masuk kedalam kamar kembali, mengacuhkan pot itu, Luke pun berlari sekencang-kencangnya ke arah kamar gadisnya itu, mengetuk pintu yang baru saja tertutup. Dayana mengira itu adalah Tuan Rebel pria yang membayarnya atau para suruhannya segera ia membuka pintu dengan wajah tertunduk takut dan menekuk.


Segera Luke mendorong Dayana masuk dan mengunci pintu,  Dayana terkesiap mata indahnya membola saat ia begitu jengah akan menyambut lelaki tua sialan itu namun malah Luke yang datang.


“Luke?” Mata indah Dayana berbinar, “Kau datang....”


Luke pun mengangguk samar dan segera mendapati tubuh Dayana yang berhambur memeluknya. Hksss....hiksss.... “Aku fikir kau tidak lagi peduli, ku fikir kau sudah tidak akan pernah lagi mencariku.”


Luke menerima dekapan itu, ia juga merindukan gadisnya ini, sedari kecil mereka sudah sama-sama namun berpisah saat Luke diangkat oleh keluarga Rodriguez sebagai anggota keluarga saat dimana ayah Luke menjadi korban kecelakaan bersama kedua orang tua Juless dulu.


Namun selepas itu mereka masih kembali menjalin hubungan hingga beranjak dewasa, Dayana yang tinggal bersama wanita yang ia anggap bibinya dan Luke tinggal di Rodriguez House. Mereka sempat berkencan dan beberapa kali berpisah sebab Dayana sering hilang kadang dia dibawa bibinya ke Romain dan kadang di daerah lain.


Namun terakhir kali saat itu Dayana mengabari Luke, bahwa dia akan dinikahi oleh seorang pemilik Cassino di Kota Romein sang bibi memaksanya menikah dengan tuan Rebel dan menjadi istri ke-3 pria itu.


 Luke fikir itu hanya sebuah lelucon dan ancaman, sebab bibi Dayana sering mengancam akan menjualnya, Luke juga tidak bisa berbuat banyak dimana dia sedang sibuknya mengurusi Morean dan Sarla yang terlibat masalah besar.


Hingga Luke benar-benar kehilangan jejak Dayana yang biasa ia bisa temui di sebuah pabrik garmen, dia tidak lagi disana dan Luke pun akhirnya berusaha mencari Dayana lalu akhirnya benar semua ucapan Dayana ia ada ditempat terkutuk ini.


“Maaf...aku fikir bibimu hanya mengancam.”


Dayana terus menangis, “Aku fikir begitu juga namun semuanya terjadi.” Hiksss ....


“Ayo kita pergi!” Luke melepaskan pelukannya


Dayana menggeleng, “Ayah ku Luke, dia sedang sakit jika aku lari dari sini, Bibi akan melempar ayah ku kejalan.”


Luke mendesah lelah, Ia tahu Dayana sangat menyayangi ayahnya sedari dulu padahal ayahnya juga sangat jahat dulu saat dia sehat, Bibi Luane adalah kekasih ayahnya dan menjadi semakin jahat sahat ayah Dayana sakit-sakitan.


“Sampai kapan seperti ini?”


“Harusnya aku memintamu menyelamatkan ayahku dulu mungkin meletakkannya di Panti jompo atau panti sosial dan memberika dia tempat aman terbebas dari Luane, baru aku bisa lari dari sini.”


“Setelah dari sini nanti aku akan melakukannya untukmu, berhentilah menangi...” Luke menangkup wajah lembut Dayana, “Maafkan aku terlambat, beberapa hal tidak bisa aku tinggal dan juga menyangkut nyawa orang lain.”


Dayana mengangguk, “Aku tahu....” Ia pun berhambur lagi memeluk Luke betapa leganya ia atas kedatangan Luke.


Bruak....


“Bukan dia, itu pintu orang depan, Rebel akan datang pagi hari saat tempat perjudian tutup dan istri-istrinya tidak mencarinya.”


Luke menatap dari atas hingga kebawa pada Dayana, “Dia menyakitimu?”


Dayana menggelengkan kepalanya, “Dia berencana akan menjualku lagi, beberapa orang sudah menawarku dimalam pelelangan tapi dia tidak juga melepaskanku entah apa maunya.”


“Bedëbah!” Luke menggeram kesal memukul pada Dinding Dayana pun mengambil tangan Luke.


“Jangan sakiti dirimu, aku sudah pasrah apapun itu ya mungkin jalaannya.”


“Ayo kita pergi Dayana, kita bebaskan ayamu tanpa harus tinggal disini.”


Dayana menatap memelas Luke, “Luke, kontrol emosimu, mengertilah keadaanku.” Dayana mengusap dada Luke memberikan rasa tengan pada lelaki itu.


Sungguh Luke tidak tega sekali melihat Dayana, lelaki itu bahkan sudah memasarkannya ditempat pelelangan seperti barang, bisa saja dia benar terbeli oleh orang lain dan lebih buruk.


“Kau harus keluar dari sini, aku tidak bisa seperti ini melihatmu.”


Dayana mengangguk, “Aku tahu, kau bisa mengupayakan ayahku besok saat bibi Luane pergi dan aku pun akan bersiap-siap lari dari sini setelah mendapatkan kabarmu.”


“Bagaimana aku menghubungimu.” Luke pun mengeluarkan ponselnya, “Pakai ini, aku akan menghubungi mu setelah berhasil.”


Dayana menggeleng, “Aku bisa meminta temanku dia ada dikamar depan, tenanglah dia juga tahu aku akan lari dari sini, temanku lebih malang dia sedang mengandung anak pria asing yang menyewanya dan Rebel tidak meperdulikan itu.”


“Jangan membuatku takut, kau tidak akan mengalami itu!” Luke mangambil tangan Dayana lalu menggenggamnya.


Dayana mengulas senyuman, “Semoga, artinya malam ini kau akan disini Luke, menghabiskan sepanjang malam mendengarkan ocehanku.”


“Ya, aku rindu ocehanmu...aku tidak akan tidur, tidak ingin menyia-nyiakan waktuku denganmu.”


Dayana tertawa, “Aku tidak suka gombalanmu, lebih suka ucapan beracunmu.” Dayana pun mengecup wajah Luke, wajah tampan yang ia rindukan itu, i missyou my Luxurious.”


Luke pun membalas ciuman Dayana, mengecup pada bibir gadis itu berulang-ulang, “Aku merindukanmu, lebih dari yang kau tahu, gadis piyamaku...”


 


 


.


.


.


.


.


.


.


 


?