
sepulang dari rumah sakit mereka kini sedang bersantai duduk di ruang keluarga.mengobrol satu sama lain,begitu juga dengan su leoa ayah kandung nya ileen.
pria itu memberikan kabar bahwa su leegiun telah siuman,ada seseorang yang telah mendonorkan jantung nya untuk beliau.namun seseorang itu adalah orang yang sangat keluarga Zaiden kenal.semua yang di sana teramat sangat terkejut mendengar nama yang di sebutkan oleh su leoa.
"ayah...apa maksud nya,mengapa mamah Wina yang mendonorkan nya untuk opah.lalu bagaimana sekarang mama Wina bisa hidup tanpa jantung nya?" protes ileen.
"kalian mengenal nya?" tanya su leoa.
"dia mamah mertuaku ayah" ujar ileen
"jadi begini, sebenarnya Tante wina sudah meninggal dunia.sebelum dia meninggal,dia berpesan untuk mendonorkan jantung nya kepada tuan su leegiun.karena sebelum nya Tante Wina sudah pernah tes jantung nya apakah cocok atau tidak untuk tuan su leegiun dan hasil nya sangat cocok" penjelasan dari Rey.
Theo tercengang mendengar penjelasan itu,mengapa kini hati nya merasa sangat kehilangan?.mengapa seperti ada perasaan menyesal saat mendengar kabar ini?.
perasaan apa ini?,apa yang terjadi dengan diri nya.kenapa dia jadi sedih seperti ini.seharus nya dia senang karena orang yang sangat ia benci tak akan lagi menampakkan wajah nya di hadapan nya.
Theo melenggang pergi begitu saja tanpa berkata,rasa nya dia tak ingin mendengar kabar yang di beritahu oleh rey.di kamar nya Theo berdiri sembari mencengkeram pagar balkon itu.menatap kosong ke arah pepohonan di halaman mansion nya.
"aaaa...ada apa dengan ku" teriak Theo memukul pagar balkon tersebut dengan sangat kuat.
'walau aku membenci nya kenapa perasaan kehilangan ini begitu hinggap di hatiku.ada apa dengan diri ku?' batin Theo menundukkan pandangan nya sembari memejamkan mata nya.
mungkin Theo memang sangat membenci Wina,tapi hati seorang anak tidak bisa mengelak jika dia juga punya rasa peduli kepada wina.hanya saja Theo tak pernah menyadari akan hal itu dan kini penyesalan nya tak bisa di jelaskan datang kepada diri nya dengan tiba tiba.
"aku tau perasaan Dady saat ini,kau pasti sedih bukan mendengar kabar ini" ileen mengelus dada Theo lembut.
"tidak,aku tidak peduli kepada nya" ujar Theo mengelak.
"kau tak usah berbohong dad,aku istri mu.aku bisa melihat mata mu sedang menyembunyikan kesedihan itu" ujar ileen
Theo diam tak bergerak dan tak menjawab sedikit pun perkataan ileen.ya sedih,benar kata nya dia kini sedih.namun semua nya sudah terlambat,kesedihan nya tak akan bisa mengembalikan Wina untuk nya.
"nanti kita datang kepemakaman mamah ya" ajak ileen
Theo membalikkan badan nya menghadap ileen,lalu pria itu mengangkat wanita nya dan mencium bibir mungil itu sekilas.berjalan ke arah kursi yang duduk bersama di sana.
"benar katamu sayang,aku memang membenci nya.namun aku begitu sangat kehilangan mendengar kabar ini" jujur Theo memeluk ileen lalu menopangkan dagu nya di pundak ileen.
"aku tak tau mengapa bisa seperti ini" ujar nya lagi.
"itu karena kau punya perasaan peduli dan Sayang kepada mamah" kata ileen mengusap wajah Theo.