
"Aku sedang disebuah desa bibi ku tinggal. mungkin butuh empat jam aku bisa tiba di sana." Ujarnya Zea segera mengambil tas dan mengambil sebuah kunci mobil.
Zea tidak membawa pakaian karena ia selalu menyediakan di lemari pakaian bila ia ingin berkunjung kembali tidak perlu membawa pakaian lagi.
Zea turun menuruni anak buah tangga. saat ia melewati dapur , bibi Renata melihat Zea berjalan tergesa-gesa dengan ponsel menempel di telinga nya.
" Kau mau kemana-mana sayang sepagi ini?" Tanya Bibi Renata sedang memasak untuk sarapan nanti.
Zea tidak menjawab , hanya melambaikan tangannya . dan menuju garasi mobil.
" Mau kemana dia ? Sepagi ini sudah mau pergi . seperti ada hal penting yang membuatnya terburu-buru seperti tadi. " Kata Bibi Renata yang sedang memotong beberapa sayuran di atas marmer lumayan besar.
Zea melajukan mobilnya dengan lumayan cepat. ia sudah lihai mengendari mobil. karena masih pagi matahari pun belum muncul sempurna. jalanan masih begitu sepi dan sedikit gelap hanya di bantu dari sorotan lampu mobil milik nya.
Setelah melewati perjalanan selama empat jam menuju kantor tempat ia bekerja.
Zea baru saja tiba di perusahaan Art Arte. ia tidak merasakan lelah pada dirinya setelah melewati perjalanan jauh menuju ke kota .
Lalu Zea segera menuju ruangan Wakil CEO Art Arte.
Tok ...tok..tok
" Masuk "
Zea sedikit membuka pintu dengan tubuhnya setengah berada di dalam dan sisanya masih di luar.
Zea mengedarkan pandangannya ke semua sudut. tak nampak Wakil CEO di ruangan itu.
" Ke mana tuan Alex ? bukan nya tadi ada suara orang yang menyuruhku masuk tadi. " Gumam nya
" Ada apa kau ke ruangan ku ? " Alex menepuk punggung Zea. saat ini ia berada di belakang tubuh Zea.
" Astaga, tuan . kau mengagetkan ku saja. " Zea mengelus dadanya . untung saja ia tidak ada riwayat jantungan.
" Masuk lah " Perintah nya
Alex pun duduk di kursi meja kerjanya. sedang Zea berdiri ia enggan untuk duduk. karena tatapan wajah yang tidak biasa ia lihat selama ini.
" Seperti nya tuan Alex marah pada ku. apa ia tau kalau aku menghindar dari project Moon." Gumam pikiran Zea. ia melihat tatapan tuannya itu sangat tajam ia merasa bulu kuduknya berdiri.
" Duduklah "
Zea segera duduk di kursi yang berhadapan dengan tuannya itu.
" Kau tau salah mu ,Zea ? " tanya Tuan Alex
" ia tuan,"
" kau tau bukan, kalau Xave group merupakan perusahaan terbesar di dunia. banyak perusahaan yang ingin bekerja sama dengan perusahaan nya. dan selangkah lagi Art Arte akan menjadi salah satu bagian dari Relasi yang bekerja sama dengan Xave group. Art Arte akan dikenal. Banyak yang akan mencari Art Arte untuk bekerja sama dalam menjalankan project pembangunan mereka nanti. " Ujar Tuan Alex . " Kau tau kerugian kita dapat dari pembatalan projects Moon ?" tanya nya .
Zea hanya menggelengkan kepalanya. ia tidak berani menjawab nya.
Tuan Alex melemparkan sebuah dokumen kepada Zea. lalu Zea mengambil dan membaca isi dari dokumen itu.
Zea membaca dokumen itu matanya melebar seketika. dokumen itu berisi bahwa Art Arte masuk dalam black list dari Xave group yang berarti gedung yang mendapatkan sokongan dana dari Xave group tidak bisa melakukan kerja sama dengan Art Arte. dan hampir semua perusahaan di kota Ini , Xave Group sudah menanam saham walaupun hanya nol koma satu persen.
Zea tidak menyangka sebuah penolakan akan berujung panjang dan berimbas pada semua perusahaan nya kali ini. ia hanya menghembuskan nafas nya dengan kasar.
" Arsen !!! Kau ingin menguji ku. " Batin Zea. ia ingin sekali berteriak kencang tapi sayang saat ini ia sedang berada di ruangan pria setengah baya dan bila mendengar teriakannya akan membuat jantungan seketika.
****************************************
Terimakasih Reader
Jangan lupa like dan comments ya Teman-teman untuk mendukung author amatir ini 😁
I love u all