
Pagi hari yang sedikit mendung, Wulan membuka toko dengan sedikit senyum hari ini cukup teduh cuacanya. Terlihat Mbak Nita dan Wiwit jalan bersama anak baru desi bersamaan.
" Tumben datangnya bareng, tepat waktu lagi, " ujarnya menyapa dengan celutkan.
"Eh, Mbak Wulan udah sehat??, " ujar Wiwit.
" Sudah sehat kamu??, " tanya Mbak Nita.
" Udah Mbak, udah jauh lebih baik, " jawab Wulan.
" Syukur deh, kemarin kita cemasin Mbak makanya pada kompak datang cepat, " ujar Wiwit.
" Waaah, bagus itu, tapi jangan pas Mbak sakit aja, hari-hari lain juga harus datang cepat ya Wit, Desi juga, " ucap Wulan melihat bergantian.
" Hari ini roti apa aja yang kita buat?" tanya Mbak Nita.
" Wulan serahin sama Mbak aja mau buat apa rotinya, soalnya yang cake premiunnya udah selesai tadi malam ".
" Oke kalo gitu, yuk kita mulai, " ucap Mbak Nita seraya mengajak Wiwit dan Desi.
Wulan kembali masuk kedalam dan membereskan roti-roti yang tersisa kemarin untuk dipindahkan ke keranjang yang lain untuk memisahkan roti baru dan roti kamarin.
Sesaat Wulan mencoba mengalihkan kegundahan hatinya, ia mencoba kuat walau kenyataannya pikirannya akan sakit yang sudah menghancurkan masa depannya.
πππ
Di kediaman rumah dr. Evan, terlihat Safa dan Marwah menunggu Papa mereka sarapan. Mereka ingin ikut papanya kerumah sakit untuk melihat bayi-bayi yang diceritakan oleh papanya kemarin.
" Hhmm, Safa Marwah, minggu ini mommy kalian mau ajak kalian ke dufan"
" Gak mau, " ucap Marwah cepat dan wajahnya cemberut.
" Safa juga gak mau, " mengikuti kembarannya dengan ragu.
dr. Evan menarik nafas panjang, ia tak akan heran jika keduanya menolak. Ini bukan kali pertama anak-anaknya menolak, dan sampai saat ini dr. Evan tidak tau mengapa kedua anak kembarnya ini begitu tak menyukai ibu mereka.
" Papa udah siap??" tanya Safa.
" Ayo papa cepat!!, " rengek Marwah.
" Iyya sebentar Papa habisin kopinya dulu," ucapnya seraya meneguk kopi itu sampai habis, dan disambut sorak gembira keduanya. Dan mereka keluar menuju mobil Alphard putih.
" Pagi, Pak Didi," sapa Safa Marwah dengan riang.
" Pagi juga Non Safa, pagi Non Marwah, " ucap Pak Didi bergantian.
Terlihat dr. Evan keluar dengan rapi menuju mobil dan disambut sigap Pak Didi membukakan pintu mobil untuk dr. Evan.
Dengan girang Safa Marwah naik duluan mobil baru setelah itu dr. Evan naik dengan senyumnya melihat tingkah kedua kembar ini.
Dan mobil itu pun melaju dengan pelan menyusuri jalan kota, terlihat kedua kembar menyanyi dan bercanda ria didalam mobil.
Hal itu cukup menghibur dr. Evan.
Namun ketika sampai diperempatan lampu merah Safa menoleh keluar kanan mobil dan menatap ke luar dengan serius. Dan ia menoleh melihat Marwah, seolah paham pemikiran Safa, Marwah melihat kearah papanya.
" Papa, kita beli cake dulu boleh gak??" tanya Marwah.
"Cake??, tapi kalian baru makan, " ucap dr. evan beralih melihat kearah Marwah.
"Boleh yaa Pa??, " pinta Safa memelas.
dr. Evan tak bisa menolak jika Safa sudah menatapnya dengan wajah sendu, ia menghela nafas panjangnya.
" Pak ke toko cake ya".
Lalu keduanya kompak bersorak senang
" Yey!! makasih Papa, " ucap keduanya seraya berebutan mencium pipi papa mereka.
Dan haluan mobil putih itu pun berbalik arah menuju toko Dr. Dessert. Setelah Pak Didi memarkir tepat didepan toko, kedua gadis kecil itu turun dengan riang.
" Jangan lama-lama yaa, Safa Marwah," ujar dr. Evan.
πππ
Wulan tengah menata box dessert didalam estalase kaca pendingin. Tiba-tiba ia sedikit terkaget ketika mendengar namanya dipanggil.
" Tante Wulan!!, " sapa keduanya seraya berlari didepan estalase kaca pendingin.
" Eh, Safa Marwah, " ujarnya seraya meletakkan box dessertnya begitu saja dan berjalan cepat berputar estalase dan menghadap kedua gadis kembar dengan turun berlutut dan terlihat keduanya senang melihat kehadiaran Wulan.
" Tante, katanya sakit yaa??, " tanya Safa.
" Apa Tante masih sakit ??, " tanya Marwah.
" Hhmm, Tante udah sembuh, " jawab Wulan lembut.
Reflek keduanya memeluk Wulan bersamaan, dan Wulan merasa aneh dengan perhatian keduanya.
" Syukurlah, Tante udah sembuh, " seru keduanya.
" Tante pasti sembuh, kalo gak Tante gak bisa buat kue enak untuk kalian, " ucap Wulan tersenyum, seraya membelai wajah Safa dan Narwah bergantian.
" Kalian mau beli cake apa??, " tanya Wulan seketika.
Keduanya diam seraya beralih melihat estalase kaca dindin.
" Oia, Tante ada cake baru, kalian coba yaa , " ujarnya seraya bangun dan beralih menuju kulkas didapurnya, dan kembali dengan kotak sedang yang berisi cake yang telah dipotong.
Keduanya tersenyum melihat Wulan yang datang dengan kotak cake baru.
πππ
Didalam mobil dr. Evan beberapa kali melihat jam ditangannya. Sudah lebih 20 menit Safa dan Marwah belum keluar dari dalam toko kue itu.
" Kok, anak-anak lama yaa Pak??, " tanya dr. Evan.
" Biasanya memang lama Tuan, apa Saya panggil aja Tuan??, " jawab Pak Didi.
" Gak Pak ! , biar Saya turun aja, " ujar dr. Evan seraya menghela nafas panjang dan turun dari mobilnya.
dr. Evan berjalan menaiki empat anak tangga dan seketika ia meraih pedal pintu kayu seraya mendorong pintu kaca itu terbuka, tercium aroma roti yang lezat serta hawa sejuk menerpa. dr. Evan masuk berlahan dengan melihat kesekeliling dalam toko dan ia terkesima melihat Safa dan Marwah tengah duduk berhadapan dengan seorang wanita yang dengan ceria menyuapi mereka.
" Safa Marwah??, " panggil dr. Evan dengan lembut yang mengejutkan ketiganya. Dan sontak kedua gadis kecil itu berpaling melihat ke arah suara panggilan yang sangat mereka kenal.
" PAPA !!, " ucap mereka berbarengan.
Deg...
Seolah jantung Wulan berhenti, ia terpaku melihat dr. Evan.
" Papa??, " ucapnya kaget dengan nyaris berbisik, Wulan tak menyangka bahwa dr. Evan adalah papa dari Safa dan Marwah.
dr. Evan berjalan mendekat dan terlihat senyum mengembang kearah Wulan. Dan kedua gadis itu turun dan memeluk sisi kanan kiri dr. Evan dengan manja.
" Pantas kalian gak balik-balik, " ujarnya tersenyum.
" Dok??, dr. Evan, ma..maaf saya yang menahan Safa dan Marwah, " ucap Wulan sedikit gugup.
"Ah, gak papa..., kalian sedang apa tadi??" ujarnya seraya melihat Safa dan Marwah bergantian.
" Tadi kita lagi coba rasa cake baru Tante Wulan, Pa, " jawab Safa.
" Iyya, enak loh Pa, Papa mau??" tawar Marwah pada papanya.
Wulan jadi salah tingkah mendengarkan celotehan kedua gadis kecil itu. Tapi dr. Evan hanya tersenyum senang mendengar keduanya berbicara riang.
" Jadi kalian mau beli yang mana??"
" Cake yang baru Pa, " ujar Marwah riang.
" Oke !!, " jawab dr. Evan setuju.
" Yey !! cake yang ini ya Tante Wulan 4 kotak, " pinta Safa.
" Ah, hhmm, iyya tapi...," ucap Wulan ragu, cake itu belum siap dijual karena masih cake percobaan.
" Kenapa?? " tanya dr. Evan melihat Wulan.
" Ah, itu..., itu masih cake percobaan saya belum menjualnya, tapi kalo Safa dan Marwah mau saya beri percuma, " ujar Wulan ragu.
Safa dan Marwah terlihat senang.
" Asyiiik...., makasih Tante Wulan, " seru Safa senang.
Wulan berbalik masuk menuju kulkas didapurnya dan mengeluarkan cake tersebut dan memotongnya perslide
Wulan kembali dengan kotak coklat besar.
" Ini !! Russian honey cakenya, " ucap Wulan pelan dan meletakkannya di atas meja dan mempercantiknya dengan ikatan pita.
dr. Evan memandang wajah Wulan dengan lekat-lekat, ia merasa terkesima dengan Wulan, Wulan bisa membuat kedua anak gadisnya menjadi begitu patuh dan ceria. Dan panggilan Safa membuyarkan lamunannya.
" Yuk Papa, makasih banyak Tante Wulan ".
" Iyya, tante tunggu testinya yaa kalo enak kasih tau tante ya cantik, " balas Wulan ramah.
" Daaah..., Tante!! " seru Marwah.
" Terima kasih banyak Wulan, " ucap dr. Evan.
Sesaat Wulan terkaget ketika namanya di sebut oleh dr. Evan.
" Ah, sama-sama dokter".
" Jangan lupa siang ini kamu harus mengambil hasil labnya, " dr. Evan mengingatkan Wulan.
Wulan reflek mengangguk.