
Didalam mobil sedan mewah dr. Evan, Wulan sedikit kesulitan menelfon Mbak Nita, beberapa kali mencoba memanggil tapi tak ada jawaban dari yang punya nomor. Terakhir ia memutuskan untuk mengirim pesan siangkat kepada mbak nita.
" Mbak, Wulan pergi sebentar yaa, jangan menunggu Wulan, kalo sudah selesai balik toko aja terus, " pesan Wulan pun sukses terkirim kepada Mbak Nita.
Dan berselang beberapa detik terdengar suara notif masuk dihandphone Wulan.
" Oke, tenang aja toko Mbak urus ๐," isi pesan Mbak Nita yang membuat Wulan bengong.
" Telfon beberapa kali gak diangkat, tapi giliran WA secepat kilat balasnya???, dasar Mbak Nita ini, " gerutu dalam hati Wulan yang sedikit kesal.
Sesaat Wulan menjatuhkan handphonenya diatas pangkuan. Pandangan matanya jauh keluar kaca jendela mobil.
" Kamu mau makan apa??, " tanya dr. Evan serius kepada Wulan. " Apa mau bakso lagi??".
" Terserah dokter aja, Wulan apa aja oke, " jawabnya datar.
" Hhmmm, oke, " sahut dr. Evan paham dan ia pun mempercepat laju mobil mewahnya itu. Hingga tak berselang lama mobil mewah itu masuk ke dalam sebuah parkiran mall mewah ibu kota.
Wulan turun , dan ia membenarkan tali tasnya lalu menyematkan dibahunya yang ramping. dr. Evan berjalan menuju Wulan dan keduanya berjalan berdampingan menuju dalam mall yang terlihat ramai itu.
Didalam mall sepertinya tengah ada Even yang sedang berlangsung. Terlihat orang-orang dengan antusias menonton kearah panggung yang tengah mengadakan musik life.
Wulan berjalan, menghindari orang-orang yang berjalan melawan arah dengannya. dr. Evan yang melihat hal itu pun meraih lengan Wulan, lalu menariknya untuk dekat disisi dr. Evan sehingga dr. Evan menjadi tameng bagi Wulan dalam berjalan membelah kerumunan orang-orang yang tengah berlawan arah dengan mereka.
" Kamu gak papa??, " tanya dr. Evan yang kini berada didepan Wulan yang tengah sedikit tertunduk mengikuti langkah kaki dr. Evan.
Wulan hanya mengangguk saja. Dan kini keduanya sampai pada lift mall. Tanpa Wulan sadari tangan dr. Evan terus mengengam tangan Wulan.
Setelah menunggu cukup lama lift itu turun dengan menurutkan pengunjung lift. Dan langkah dr. Evan menuntun langkah Wulan untuk masuk kedalam lift yang sedikit lenggang. Lift yang transparan membawa Wulan dan dr. Evan ke lantai paling atas mall.
Ketika sampai pada lantai atas pintu lift itu terbuka dan terlihat beberapa pengunjung yang menunggu pintu lift terbuka. Dengan sigap tangan dr. Evan menuntun jalan Wulan lagi untuk turun.
dr. Evan terus berjalan hingga masuk kesalah satu restoran yang tak asing bagi Wulan.
Wulan hanya melangkah saja mengikuti dr. Evan dengan diam. Dan meja yang mereka tuju tepat disisi jendela besar yang memperlihatkan view ibu kota.
Setelah keduanya duduk dengan nyaman, seorang pelayan datang menyerahkan menu dihadapan keduannya. Wulan hanya memesan "Wagyu Beef Tagliata-Cafรจ Milano" dan air lemon hangat dan dr. Evan mengingikan hal yang sama dengan Wulan. Setelah pesana fix, pelayan itu pergi meninggalkan meja mereka.
" Kamu pernah kemari??, " tanya dr. Evan yang melihat Wulan terlihat datar.
" Ini kali kedua, " jawabnya pelan.
Sebenarnya restauran itu tak asing bagi Wulan, bagaimana tidak restauran ini tempat ia pertama kali pertemu dengan Ibu Mas Rendi.
Jelas itu kenangan yang tak menyenangkan, mungkin ada beberapa pelayan yang masih mengingat wajah Wulan ketika disiram teh oleh Ibu Mas Rendi. Sedetik kemudia Wulan mengeleng dan ia seperti membuang kenangan itu dari kepalanya.
Sesaat Wulan beradu pandang dengan dr. Evan yang sedari tadi melihat Wulan terdiam.
" Apa ada hal lain yang kamu pikirkan??"
" Ah, semua orang pasti punya hal untuk dipikirkan, " sela Wulan.
" Hhmm, yaa, tapi kamu seperti memikirkan hal yang berat, " jawab dr. Evan menebak.
Wulan tak menjawab, ia mencoba mengalihkan pandangannya pada kesekeliling ruangan restauran itu. Sesaat ia melihat seorang wanita tengah menimang bayi yang sepertinya akan terlelap tidur.
" Dokter??"
" Hhmm, " sahut dr. Evan gumam.
" Apa hal terkecil yang bisa Wulan syukuri dari sakit ini??, Apa mungkin bayi tabung atau hal lain apa bisa terjadi??"
" Hhmm, dari ilmu kedokteran bisa saja melakukan itu, tapi terdapat banyak resiko didalamnya, bahkan akan membahayakan keduanya, karena resiko kompilkasi pada kehamilan sangat rentan pada kasus kamu, " jelas dr. Evan sederhana.
Wulan seolah paham, ia hanya tersenyum getir mendengarkan penjelasan dr. Evan.
" Bahkan hal terkecil itu juga sulit, tapi andai kesempatan itu bisa, Wulan pasti ingin mencobanya, " sahut Wulan jujur seraya melihat kembali pada wanita yang menimang bayi yang kini telah tertidur lelap.
" Ada hal lain yang bisa kamu lalukan, untuk bisa seperti wanita lain, " ujar dr. Evan ambigo.
Wulan sedikit bingung mendengar pernyataan dr. Evan.
" Sudah berapa lama kamu membuka usaha toko kue??, " tanya dr. Evan mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Ah, hmmm, itu mungkin sekitar 5 tahun"
" Cukup lama juga".
" Ya, banyak hal telah terjadi dan proses panjang dalam membangun usaha kue ini, " tutur Wulan sedikit mengingat.
" Benarkah??, " tanya dr. Evan.
" Awalnya Wulan hanya berjualan dari toko ke toko, menjajalkan roti itu dari pasaran ke pasar. Tapi berkat Mbak Nita yang selalu suport berlahan toko itu bisa berdiri mandiri dan sekarang sudah bisa membuka mini cafe, " jelas Wulan panjang lebar.
" Kalo boleh tau mengapa nama toko kue mu dr. Dessert??, " tanya dr. Evan serius pada Wulan.
Sesaat Wulan membuat dr. Evan terkesima dengan tawa kecilnya yang menghias wajah cantik Wulan. Hal yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
" Hhmmm, bagaimana yaa??, sebenarnya nama itu tercetus begitu saja, tapi bukan serta merta tanpa maksud??".
" Maksudnya??, " tanya dr. Evan tak paham.
" Nama itu sebagai ganti impian Wulan dulu yang gagal masuk ke Universitas Kedokteran, " ujarnya dengan nafas panjang.
" Kamu ingin jadi Dokter???".
" Memang banyak yang tak percaya, tapi Wulan lulus dengan nilai terbaik di UI jurusan Kedokteran, " ujarnya dengan sedikit sombong.
dr.Evan tertawa kecil. Ada banyak hal yang membuat dr. Evan ingin berlama-lama dengan Wulan dan ingin mengetahui lebih banyak sisi misterus Wulan.
" Lalu mengapa tak kami lanjutkan??".
" Ah, hmm, itu ceritanya agak sedikit sulit, " ujar Wulan menghindar untuk menjawab.
" Maaf kalo pertanyaan itu membuatmu tak nyaman, " ujar dr. Evan yang sadar ekspesi Wulan yang berubah tak nyaman.
Dan seorang pelayan wanita datang membawa dua pesanan Wulan dan dr. Evan.
Tangan Wulan meraih pisau dan garpu untuk memulai memotong steak yang terlihat lezat.
Namun beberapa saat kemudia dr. Evan mengulurkan piringnya kepada Wulan, yang terlihat sreak dr. Evan telah terpotong sempurna.
" Ini, sudah terpotong, dan makanlaah, " ujarnya lembut.
Wulan sedikit kaget, namun mengikuti permintaan dr. Evan. Ia mencoba mengambil piring milik dr. Evan dan memberikan piringnya pada dr.Evan.
" Terima kasih, Dokter".
Deg..,
Terlihat senyum tulus dr. Evan kearah Wulan. Dan Wulan jadi sedikit salah tingkah.
๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ
Salam sahabat
Terima kasih banyak dukungannya .
Tetap tinggalkan jejak kalian baik koment dan like yaaa sahabat, dukungan kalian membuat saya semangat untuk menulis.
Sekali lagi terima kasih banyak sahabat,
Sarang heyo yorobun โคโคโค