One Step Closer

One Step Closer
20



Mobil Alphard putih itu melaju dengan cepat menyusuri jalan kota menuju rumah sakit Pertamedika. Safa dan Marwah tersenyum senang, karena akan membawa kue untuk papanya.


Sampai pada arah mobil putih itu masuk ke perkarangan parkir rumah sakit, Pak Didi memarkir agak jauh dari pintu utama rumah sakit, karena parkiran penuh. Safa dan Marwah bersabar menunggu pintu mobil dibuka oleh Pak Didi. Ketika turun terlihat Marwah sedikit kesusahan karena memegang kotak sedang. Pak Didi dengan suka rela memberi pertolongan.


" Biar saya bawa aja Non kotaknya, " ucapnya yang mencoba mengambil dari Marwah.


" Makasih Pak Didi, Safa tunggu!!, " ucapnya yang mencoba mengejar kakaknya Safa yang telah berjalan lebih dulu kedalam rumah sakit.


Langkah mereka terarah menuju lift dan menekan tombol 3. Sesampai dilantai 3, Safa dan Marwah melangkah menuju ruang dr. Evan dan terlihat wajah kagum pasien yang melihat kecantikan keduanya.


" Kak Suster??, apa papa ada??, " tanya Safa sopan.


" Oh, Safa, papa ada tapi lagi ada pasien, sebentar yaa kakak tanyak dulu sama doktern " ucapnya yang bangun menuju ruang dalam dokter.


Safa menunggu dengan sabar, Marwah yang berdiri disampingnya mencoba membenarkan bando kakaknya yang sudah tak diposisinya lagi.


Selang beberapa detik kakak Suster itu kembali dengan senyum untuk keduannya.


" Kata dokter tunggu sebentar yaa, masih ada 3 pasien lagi, " jelasnya ramah.


" Baik, yuk Safa, " jawab Marwah yang meraih tangan kakaknya untuk duduk disisi pojok kursi antrian bersama Pak Didi yang sudah terlebih dahulu duduk disana.


Dengan sabar keduanya menunggu seraya bercanda gurau. Dan ketika pasien ke 3 keluar dari ruang dokter, Safa dan Marwah dengan segera masuk kedalam ruang, dr. Evan yang terduduk dan tengah menulis sesuatu dan mencoba merapikan meja kerjanya. Terlihat dr. Evan dengan sorot mata hangat menyambut keduanya, wajahnya masih ditutup masker karena demam dan flu takut menular ke yang lain.


" Papaaaaah, " panggil Safa manja seraya berlari kecil dan menghamburkan pelukan ke papanya, dan sedetik kemudian ia telah dipangkuan dr. Evan.


" Kalian dari mana??, " tanya papa mereka.


" Apa papa masih sakit??, " tanya Marwah cemas.


" Hhmm masih, tapi papa sudah minum obat kok, " ujarnya tersenyum dibalik masker.


" Oia pah, ini ada sesuatu untuk papa!!, " kata Safa seraya turun dari pangkuan dan memanggil Pak Didi untuk menyerahkan kotak itu dimeja kerja papanya.


" Sesuatu apa??, " ujarnya bingung.


" Pasti papa suka, " tebak Marwah.


" Maaf tuan ini, " ucap Pak Didi seraya menyerahkan kotak sedang berwarna maroon itu di hadapan dr. Evan dan ia pun berlalu keluar.


dr. Evan terlihat bingung dan diraihnya kotak itu. Kedua tangannya membuka lalu terlihat cup-cup kecil dengan warna orange. dr. Evan pun tersenyum dan ia pun meraih 1 cup kecil itu seraya mengambil sendok kecil bening yang tersedia didalamnya.



" Ini, dari mana??, " ucapnya seraya mulai memotong kecil puding itu dan mencoba memakannya dengan menarik masker terlebih dahulu, dan rasa manis asem mangga menjalar keseluruh rongga mulut dr. Evan yang sedari tadi pahit.


" Dari tante Wulan, " jawab Safa polos.


" Safaaaaaaaa..," ucap Marwah geram mendengar kakaknya yang mengingkari janji dengan tante Wulan.


" Uuppsssttt.., sorry keceplosann, " ujarnya merasa tak bersalah.


Dan sontak membuat dr. Evan tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku keduanya. Dan ia mencoba memotong puding mangga itu lagi, dan lagi hingga habis.


" Kenapa sayang??, kok Marwah gitu sama kak Safa??, " ucapnya seraya meraih cup puding kedua.


" Itu pah, kita udah janji sama tante Wulan, kalau kita gak bilang kalo puding ini dari tante Wulan untuk papa, " ujarnya cemberut kesal pada Safa.


dr. Evan sedikit terhenyak, " jadi ini dari Wulan??, " pikirnya, dan hal itu membuat dr. Evan senang.


" Ikh, bukan papa, sisanya itu punya kita, papa kan udah makan tadi 2 pudingnya, " ucap Safa mencoba memindahkan kotak kue itu dari hadapan papanya yang terlihat ingin mengambil lagi.


dr. Evan hanya tertawa ringan, ia jadi ingin memakan lagi. "Tapi yaa sudah laah, dua puding tadi sudah cukup membuat bahagia, " gumam pikirannya.


Dan terlihat Safa dan Marwah menikmati puding mereka. Dengan antusias mereka bercerita soal tante Wulan yang menawarkan puding ini pada mereka.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Waktu berlalu, hari pernikahan Rendi dan Luna akan berlangsung siang ini di hotel XXXX yang berada dipusat kota. Wulan sedari tadi malam sudah mulai mengerjakan wedding cake itu dengan menguras seluruh tenganya. Pagi harinya ia pun berangkat menuju hotel tempat acara agar punya banyak waktu untuk mendekor wedding cake pada meja yang disediakan.


Mbak Nita sebenarnya sedih melihat Wulan. Ia benar-benar tau apa yang ada dihati Wulan yang tengah bersedih. Disatu sisi ini adalah permintaan wanita yang dinikahi mas Rendi, disisi lain ini adalah pelanggan.


Wulan sampai pada ruangan aula hotel yang terlihat megah, dan indah dengan bunga-bunga yang hampir menghiasi setiap sudut ruangan. Sorot mata Wulan terlihat sedih. Oleh karena itu ia bertekat untuk segera menyeselaikan wedding cake ini sebelum acaran dimulai.



Butuh waktu dua jam untuk Wulan menyelesaikan wedding cake itu. Dan entah mengapa konsep yang ia pikirkan sama dengan dekor ruangan yang berbunga.


Setelah dirasa pas dan cukup Wulan mulai berbenah dan meninggalkan ruangan megah itu. Dari kejauhan terlihat seorang perempuan dengan dress code hitam berlari kecil mengapai bahu Wulan.


" Mbak Wulan???, " sapanya dengan mencoba mengatur nafas.


Dan langkah Wulan pun terhenti dengan tepukan ringan itu dan berbalik badan mencoba melihat orang yang memanggilnya.


" Vira???, ya ampun, kamu kok ngos-ngosan gitu??, " ucapnya kaget.


" Huuuft, Mbak??, Mbak kok ada disini??, " tanya Vira.


Wulan sedikit tersenyum.


" Mbak yang menyediakan wedding cake itu, " ucapnya seraya menunjuk kearah ruang tengah aula yang terlihat wedding cake disana.


" Hah??, serius Mbak??, Mbak tau ini acara siapa??, " ucapnya tak percaya.


" Hhmmm, iyya Mbak tau," ucapnya mencoba tersenyum walau getir itu masih menyisa dilubuk hatinya.


" Mbak balik yaa, semoga kalian sukses terus, " ucapnya yang meninggalkan Vira yang masih tak percaya kalo mbak Wulan tau ini adalah acara Mas Rendi bosnya.


" Harusnya ini acara Mbak, " lirihnya sedih, karena ia tau mbak Wulan dan mas Rendi sudah lama menjalin cinta, dan mereka berdua sejoli yang serasi satu sama lain. Sama-sama dewasa mandiri dan kompak jika bekerja sama. Mungkin takdir sudah berkata lain. Sehingga siang ini mas Rendi menyunting wanita lain.


Wulan kembali ke mobil Freednya yang terparkir dihalaman depan hotel. Tubuhnya serasa berat, dan ia mulai merasa lapar.


🌢🌢🌢🌢🌢🌢🌢🌢🌢


**Salam sahabat.


Maaf kalo akhir-akhir ini sering telat up yaa, maaf jadi buat teman-teman menunggu lama.


Bianhe yorobune.


Sebisa mungkin saya up double yaa, sebisanya tapi gak janji πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


Terima kasih untuk segala dukungannya, mohon tinggalkan like dan koment agar saya semakin semanggat menulis.


Sekali lagi terima kasih banyak-banyak sahabat love you ❀❀❀❀**