
Malam itu jadi malam yang berbeda, Wulan termenung didepan bahan kuenya. Wulan masih mencoba untuk bisa menyesuaikan perasaannya yang masih menyesak.
"Gila" gumamnya seraya meremas adonan tepung kue itu. Sesekali wulan berhenti dan bergumam sendiri lagi.
Dan terdengar notifikasi pesan, dan wulan meraih handphonenya dan membuka laman pesan itu, dan tertera nama dr. Evan disana.
"terima kasih wulan" dr. Evan.
Dan wulan pun hanya bisa melepaskan nafasnya panjangnya. Dan ingatannya akan cium dengan dr. Evan tadi kembali terbayang dengan jelas. Dan lagi-lagi wulan bergumam sendiri menyebut dirinya "gila" seraya melanjutkan membuat kue untuk pesanan besok pagi.
Wulan terus bergelut dengan adonan kue hingga pagi menjelang. Ia pun membuka toko kuenya jauh lebih awal dari biasanya.
Mbak nita yang datang jam 8 pagi pun terlihat bengong. Ia pun langsung masuk dan mencari sosok wulan yang tengah bersih-bersih toko.
Mbak nita/"wulan??? ada apa ini??"
Wulan/"eh mbak?? udah datang aja, ah ini cuma beres-beres dikit" ucapnya memaksakan tersenyum.
Mbak nita/"hah?? memang dalam rangka apa??" ujarnya bingung
Wulan/"ah gak ada, ya kan toko juga harus selalu bersih kan mbak, biar pelangan juga seneng kalo pembeli liat toko bersih" imbuhnya lagi.
Mbak nita/"hhmm iyaa juga siih, tapiii??"ujarnya masih tak percaya.
Wulan/"udaaaaah, jangan kelamaan mikir!!"timpal wulan yang berlalu menuju dapur dengan mengankut ember pel.
Mbak nita cuma bisa manggut saja dengan perkataan wulan, tapi tetap ada yang beda dari wulan.
Tak berselang lama wulan kembali ke dapur kue, ia mendekati mbak nita yang terkejut untuk kedua kalinya melihat roti-roti telah tersedia fresh to oven.
Mbak nita/"ini kamu kerjaian sendiri??"
Wulan hanya menganggu seraya meneguk air putih seraya menyandar pada sisi meja.
Mbak nita/"jadi kamu gak tidur??"
Wulan tersenyum, ia membenarkan pertanyaan mbak nita bahwa semalaman ia tak tidur.
"gimana mau tidur??? wajah dr. Evan terus terbayang dimata. Apa lagi baru aja ngajak dr. Evan untuk menikah?? gila kan???" rutunya sendiri dalam pikirannya. Namun ia tetap melempar senyuman kepada mbak nita yang masih bertanya-tanya.
Wulan/"mbak, wulan istirahat sebentar yaa, udah agak pusing nih" ujarnya dengan memegang kepala.
Mbak nita/"iyya kamu istirahat aja, kamu ini masih gak jaga kesehatan??"ujarnya ngedumel.
Wulan hanya tersenyum dan berlalu menuju rumah atasnya. Dengan langkah gontai ia membuka pintu kamarnya dan langsung merebahkan diri di kasurnya yang terlihat masih rapi.
Sorot mata wulan pun tertuju pada bingkai foto disudut meja riasnya. Ia menatap dengan sedih. Sebuah potret wanita dengan memeluk anak perempuan usia 7 tahun yang tengah memegang balon dan tertawa lepas bersama.
Wulan/"maah, maafin wulan yang berbohong, wulan janji ini kali terakhir wulan berbohong untuk kebaikan yang pahit" dan air mata wulan jatuh seraya iya menutup mata.
Wulan pun tertidur dengan sendirinya dengan membalut diri didalam selimut seakan pagi itu dingin.
Pagi dikediaman dr. Evan, terlihat dr. Evan tengah membuka pintu kamar putrinya yang tengah menyisir rambut.
dr. Evan/"pagiii tuan putri safa dan putri marwah??"sapanya senang.
Reflek keduanya menoleh bersamaan di ikuti bibik yang tentang mengepang rambut marwah.
Safa/"papa??" panggilnya senang.
Marwah hanya tersenyum kepada dr. Evan. Dan terlihat dr. Evan masuk dan duduk di tepi tempat tidur marwah yang berwarna ungu.
dr. Evan/"pada cantik-cantik mau kemana??"
Safa/"siang ini mau ketempat tante wulan pah"
dr. Evan/"hhmmm, gitu yaa"
Marwah/"papa gak kerumah sakit???"
dr. Evan tersenyum dan menggeleng.
Marwah/"papa libur lagi yaa??" ucapnya menebak.
dr. Evan/"hhmm, kasih tau gak yaaa???"
Safa/"iiiihhh papa suka banget main tebak-tebakan kayak tante wulan aja??"
dr. Evan/"ah?? sebaiknya kalian jangan panggil tante wulan lagi??"
Marwah/"kenapa??"
Safa/"???"
dr.Evan/"panggilnya harus MAMA" ujarnya tersenyum yang membuat keduanya bengong tak mengerti.
Safa/"Mama??"
Marwah/"tante wulan mau jadi mama kita??" ujarnya cepat yang berlari kehadapan dr. evan seketika.
dr. Evan hanya menganggu mengisyaratkan bahwa perkataan marwah adalah benar.
Dan sontak keduanya bersorak senang.
Safa/"yeeeeeeeeey!!!
Marwah/"asyik kita punya mama wulan"ujarnya seraya melompat-lompat meraih safa dan bergembira bersama.
Bibik yang mendengarkan jadi ikut senang, 5 tahun sudah dan kini ia akan kedatangan nyonya baru.