
Sore harinya, Wulan yang sudah sadar duduk bersandar pada bantal-bantal yang menyangga punggungnya dengan mata melihat pada arah tv yang menyala.
Sedetik kemudian Wulan turun seraya memegang tiang infus, ia ingin membangunkan Mbak Nita yang sedari tadi menemaninya. Desi telah pulang lebih awal karena ia harus singgah ke toko untuk membuat pemberitahuan bahwa toko tak buka beberapa hari.
" Mbak !!, Mbak bangun ," panggil Wulan pelan.
Mbak Nita bangun dengan berlahan dan membuka matanya untuk benar-benar terjaga.
" Mbak balik dulu udah mau malam ".
" Gak, Mbak jaga disini aja temenin kamu, Mbak udah telfon sama si Mas kalo gak pulang karena kamu lagi sakit, " jelas Mbak Nita.
" Mbak, aku tuh udah baikan, bener, udah pulang aja, nanti masuk dokter aku mau minta pulang, " kata Wulan meyakinkan Mbak Nita.
" Tapi kamu masih sakit, " ujar Mbak Nita cemas.
" Gak Mbak, aku udah sehat, bener, " ujar Wulan tersenyum meyakinkan.
" Sebentar lagi Rendi datang, ia terlambat karena baru kembali dari bandung, " jujur Mbak Nita seraya melihat Wulan.
Seketika Wulan terpaku dengan penjelasan Mbak Nita. "Mas Rendi" gumamnya dalam hati.
" Udah, Mbak pulang aja, aku disini ada perawat 24 jam, " ucapnya lagi.
" Baiklah, " ucap Mbak Nita menyerah seraya mengambil tas dan kunci mobil Freed itu, ia tinggalkan di atas meja.
" Udah bawak aja deh Mbak, udah mau malam besok lagian jemput Wulan kan??, " kata Wulan.
Mbak Nita melihat kearah Wulan, dan Wulan tersenyum meyakinkan Mbak Nita untuk membawa mobil Freednya.
Dengan berat Mbak Nita keluar dari kamar sakura. Setelah keluar dari kamar Wulan, Mbak Nita mengirim pesan ke Rendi untuk segera datang, karena ia harus pulang.
πππ
Diruangan dr. Evan masih terlihat pasien yang berkonsultasi. Sesekali dr. Evan melihat jam tangannya.
" Suster berapa pasien lagi??, " tanya dr. Evan pada Suster.
" Dua pasien lagi dokter".
" Oke, lanjut, " ucapnya.
Pikiran dr. Evan masih dipenuhi Wulan, ia ingin melihat kondisi Wulan pasca pingsan, karena kabar dari Perawat pasien dari kamar Sakura sudah sadar dari jam 2 siang tadi.
dr. Evan belum visit kembali kekamar Wulan karena ia harus menerima 20 pasien konsultasi hari ini. Dengan fokus dr. Evan melayani pasien yang berkonsultasi.
πππ
Dikamar Sakura, Wulan terduduk disofa dengan melihat kelayar phonselnya. Beberapa kali ia ingin menelfon sesorang yang ia rindukan "Ayah" tapi ia urungkan.
Padahal dengan kondisinya saat ini ia butuh suport dari keluarganya. Namun lamunannya teralihkan dengan suara ketukan pintu.
Tok...tok..
Dan terlihat sosok Mas Rendi masuk dengan wajah cemas.
" Wulan, " ucapnya terkejut melihat Wulan yang tak ditempat tidur tapi duduk disofa dengan tiang infus disisinya.
Wulan sedikit kaget, ia banguni.
Dan sedetik kemudian Mas Rendi berjalan mendekat dan memeluk tubuh Wulan dengan sangat dalam.
Wulan terkaget namun ia menikmati pelukan hangat Mas Rendi, harum parfum Mas Rendi menenangkan hatinya yang gundah.
" Kenapa kamu gak bilang kalo kamu sakit??, " ucap Mas Rendi berat seraya membelai punggung Wulan dengan lembut.
" Mas..., " ucapnya lembut seraya merenggankan pelukan Mas Rendi.
" Wulan gak papa, " ucapnya pelan.
" Kamu gak pernah kabari Mas soal apa pun!!, kamu beberapa hari ini dingin dengan Mas" ucap Mas Rendi menuntut.
Wulan terdiam membisu, ada pilu rasa hatinya mendengarkan perkata Mas Rendi.
" Kamu kenapa??, apa kamu kepikira setelah pertemuan dengan Ibu Mas ya??, " ucapnya penuh khawatir melihat wajah Wulan yang terlihat agak kurus dari terakhir ia jumpai.
" Mas.., " ucap Wulan terhenti dengan tangan bergetar ia melapaskan tangan Mas Rendi dari genggamannya.
" Sebaiknya kita putus saja, " ucap Wulan berat.
" Apa maksud kamu??? putus??, ucap Mas Rendi menahan marah.
" Kita putus saja, itu yang terbaik, " ucapnya parau dengan air mata mulai turun dipipi Wulan.
" Kamu apa-apa sih??, apa yang ada dipikiran kamu Wulan??, " ucap Mas Rendi frustasi seraya memegangan lengan Wulan.
" Wulan..., Wulan gak bisa mas!!, " ucapnya yang kini mulai menangis.
" Apa yang kamu gak bisa??, apa kamu belum bisa ketemu Ibu Mas untuk sekarang??, oke, gak apa-apa, Mas gak akan maksa kamu, tapi jangan dengan cara gini Wulan, Mas gak bisa tanpa kamu, kamu tau Mas cinta sama kamu," ucap Mas Rendi frustasi.
Wulan mengeleng dengan pelan,,
" Wulan, Wulan gak akan bisa kasih anak ke Mas, " ucapnya seraya menahan tangis.
Wajah syok Mas Rendi terlihat jelas. Ia terpaku mendengar pernyataan Wulan.
" Dokter bilang Wulan terkena PCOS Syindrom hormon yang membuat seorang wanita sulit untuk hamil, " ucap Wulan dengan tangisan.
Tubuh Mas Rendi sedikit terguncang, ia berusaha meraih lengan Wulan.
" Kamu pasti bisa, " ucapnya terbatah mencoba meyakinkan Wulan yang terpuruk.
Wulan terus menangis, ia sudah katakan yang selama ini ia simpan. Putus dengan orang yang ia cintai cukuplah berat, tapi ia tak mungkin membohongi Mas Rendi dan mengikatnya dalam pernikahan. Pasti akan jadi rumah tangga yang mengerikan jika ia tak melepaskan Mas Rendi, dan Mas Rendi berhak untuk bahagia dengan orang lain yang bisa membuat keluargannya bangga dengan lahirnya penerus.
πππ
Namun disisi lain terlihat dr. Evan berdiri terpaku diluar pintu kamar Wulan, ia tak sengaja mendengarkan perkataan perpisahan Wulan dan prianya.
Dengan menghela panjang ia memberi kode keperawat untuk berbalik, dan perawat itu mencoba mengikuti intruksi dr. Evan yang tak jadi visit kekamar Sakura.
dr. Evan berjalan cepat menuju kemeja jaga para perawat. Ia mengeluarkan pulpen dari jas dokternya dan menulis catatan yang ia tinggalkan untuk perawat.
" Tolong beri obat ini pada pasien dikamar Sakura sekarang, " ucapnya seraya melirik jam tangannya sudah pukul 8 malam.
" Baik dokter, " ucap perawat sigap.
" Dokter, pasien di kamar Mawar dan Anggrek ingin persetujuan Dokter untuk keluar besok, " jelas Perawat.
" Oke, besok pagi setelah visit, " ucapnya cepat. Dan terdengar pintu kamar Sakura terbuka, dan terlihat pria tampan dengan handphone disisi telinganya berjalan meninggalkan kamar Wulan begitu saja.
" Jadi ini pria yang direlakan Wulan??, " gumam dr. Evan dalam hati seraya memperhatian sosok Rendi yang lewat.
Terlihat para perawat sedang berbisik-bisik ketika melihat sosok Rendi lewat didepan meja jaga mereka dan menyapa sopan kepada para perawat, sehingga ada beberapa yang histeris.
"Gila ganteng banget, " kagum Perawat pertama yang gemes.
" Itu Rendi kan??, Vendor Wedding yang terkenal itu ya??, " ucap Perawat kedua yang girang.
" Waah, udah kaya, ganteng lagi, " puji Perawat pertama.
" Asli ganteng yaa, eeh.. tapi denger-denger dia itu masih singel loh, " ujar Perawat ketiga.
" Serius??, waah gue jadi ngarep doi niih, hahahaha, " tertawa Perawat kedua senang.
" Maasss.. tunggu akuuuuh, " ucapnya seolah sosok Rendi itu masih ada disana.
" EHEM, " sela dr. Evan tegas yang membuat ketiga perawat yang berhayal tadi terkaget, mereka melupakan dr. Evan yang masih berdiri disana.
" Maaf Dokter, " ujar Perawat kedua seraya menyikut teman disampingnya.
" Oke, malam ini tolong pantau pasien kamar Sakura, saya balik dulu, " ucap dr. Evan, namun wajah dr. Evan melihat pada kamar Sakura. Dan tanpa sadar ia pun berjalan menuju kamar Sakura. Langkah kakinya terhenti tepat didepan pintu kamar Wulan sayup-sayup ia mendengarkan Wulan sedang menangis tersedu-sedu.
Lengan dr. Evan seolah ingin mengapai pedal pintu itu untuk masuk, tapi ia urungkan. Dan ia berjalan balik ke meja jaga para perawat.
" Sejam lagi, beri obat dikamar Sakura, " ucapnya tegas.
" Baik Dokter ".
dr. Evan berjalan seraya melepaskan jas kedokterannya lalu ia menuju lift.
" Sumpah yaa, gue betah disini karena dr. Evan, ganteng baik lagi, DUREN banget deh, " ucap Perawat kedua sembari melihat sosok dr. Evan yang tengah menunggu lift.
" Apa tuh Duren??, " tanya Perawat ketiga.
"Duda kereeeen, " celetuk Perawat kedua gemes melihat temennya yang o'on.