
Wulan mengikuti langkah dr. Evan yang menarik tangan Wulan dengan paksa. dr. Evan melihat sekeliling dengan mencoba mencari taksi yang mungkin lewat disekitar daerah itu.
Namun langkah Wulan terhenti, dan itu membuat tangan dr. Evan pun tersentak ringan karena dr. Evan masih melangkah.
" Kenapa Wulan??, " seru dr. Evan melihat pada Wulan yang terpaku melihat sesuatu.
" Dokter, kita makan disitu aja yaa??" ucapnya yang menunjuk pada warung diseberang mereka. dr. Evan melihat pada jari yang ditunjuk Wulan dan terlihat warung dipinggir jalan bernama "Bakso Wirosableng".
" Kamu serius??, " tanya dr. Evan ragu dengan sedikit melirik Wulan yang antusias, karena kondisi warung itu agak-agak membuat dr. Evan menilai bahwa warung ini pasti tidak higienis.
" Yuk, Dokter!!, " ucapnya semangat dan kini tangannya yang menuntun dr. Evan untuk menyebrang jalan menuju warung tersebut.
dr. Evan berjalan dengan sedikit enggan. Dan ketika mereka masuk terlihat beberapa pasang mata yang melihat dengan aneh ke arah keduanya. Yaaa, mungkin karena melihat dr. Evan tentunya dengan setelan jas lengkap masuk ke warung senggol begini pasti suatu hal yang aneh bagi mereka.
Wulan terlihat cuek, ia masuk dengan segera dan duduk di meja yang terlihat kosong untuk dua orang. dr. Evan mengikuti Wulan kakinya masih sedikit tidak nyaman karena hanya menggunakan kaus kaki, sedangkan sepatunya menjadi milik kaki Wulan.
dr. Evan duduk disisi Wulan dengan melihat sekeliling warung yang terlihat sanggat sederhana. Diatas meja tersedia telur rebus, kerupuk kulit dan kacang goreng.
" Mas, bakso dua yaa??, " pesan Wulan dari jauh kearah gerobak penjual bakso.
" Saya gak usah, " sela dr. Evan cepat.
" Hah??, kenapa dokter??, kan gak lucu kalo Wulan makan bakso sendiri, " ucapnya yang heran.
" Hhmm, yaa saya nanti saja karena masih kenyang juga, " sahut dr. Evan sewajar mungkin memberi alasan.
" Hhmm, baiklaah, " ujarnya tapi ia tak membatalkan pesanan dua mangkok bakso tersebut.
Disela-sela menunggu Mang bakso dr. Evan melihat layar handphonenya dengan serius. Wulan hanya memerhatikan sekilas dan sedetik kemudian Mamag bakso datang dengan kedua mangkok bakso ditangannya dan meletakkany di hadapan Wulan dan dr. Evan.
" Makasih, Mas, " ucapnya yang antusias melihat isi mangkok bakso tersebut.
" Ini punya siapa??, kan saya gak jadi pesan??, " tanya dr. Evan bingung menerima mangkok bakso itu dari Mas bakso.
" Punya Wulan, " sahut Wulan cepat seraya tersenyum sedikit malu.
Dan Mas bakso itu pun berlalu kembali menuju gerobak baksonya yang telah kedatangan pria dengan jaket Ojol disana.
dr. Evan melihat dengan terpaku pada Wulan yang kini tengah menaruh kecap dan cabai rawati dengan semangat.
Sayup-sayup terdengar obrolan dari pelanggan yang duduk bersebelah dengan Wulan.
" Kayaknya, ada anak orang kaya lagi yang pesta di hotel Xxxx, " ujar salah satu pelanggan bakso itu.
Sesaat Wulan terhenti tangannya meraih mug cabe rawit.
" Hhmmm, iyya papan bunganya aja udah kalah-kalahin pagar hotel, " sambung pelanggan kedua.
Wulan yang mendengar seperti sedih menghinggapi dirinya. Dan seketika tangan Wulan memasukkan sendok cabe rawit itu dengan banyak, hampir 7 sendok cabe rawit giling masuk kedalam mangkok bakso Wulan Namun tiba-tiba tangannya dihentikan oleh dr. Evan yang sadar akan tingkah Wulan.
" Apa yang kamu lakukan??, kamu mau merusak lambungmu??, " tanya dr. Evan yang khawatir dengan Wulan.
" Ah.., hhmmm, yaa Dokter, sekalian mau hilangin sakit kepala, " sahutnya yang sadar.
" Ilmu dari mana itu sakit kepala bisa sembuh dengan makan cabe??, " tanya dr. Evan yang sedikit heran dengan ekspresi wajah Wulan yang sedih.
" Hhmm, dulu waktu sekolah, teman-teman pada bilang gitu, hal terbaik yang bisa menghilangkan pikiran yang buruk adalah makan dengan sangat pedas, " sahutnya yang kini dengan yakin menyicipi bakso level 7 pedesnya.
Dan seketika ras pedas itu menjalar kedalam rongga mulut Wulan dengan membakar hingga ketenggorokan. Namun Wulan menyukainya dan ia menyendokan lagi kuah bakso pedas itu kedalam mulutnya. Tapi hal yang seharusnya bisa ia kontrol malah jatuh dengan tak terkendali, air matanya jatuh begitu saja. Bukan karena pedasnya kuah bakso itu, tapi karena hati Wulan tengah bersedih.
Seketika Wulan menengadah wajahnya keatas dan mencoba menyeka air matanya yang jatuh. Wajah dr. Evan terkesima dengan melihat Wulan yang mengeluarkan air mata.
" Waaah, ini benar-benar pedas, " ucapnya sedikit bergetar, dan kini meraih tisu yang disodorkan dr. Evan yang khawatir dengan Wulan.
" Kamu, baik-baik saja??, " tanya dr. Evan serius melihat Wulan yang menutup matanya dengan tisu, dan hanya ada anggukan dari Wulan.
dr. Evan meraih air meniral yang tersedia di meja itu lalu membukanya seraya menyerahkan kepada Wulan yang masih mencoba mengendalikan air matanya.
" Minumlaah, " ucapnya lembut.
" Terima kasih dokter, " sahut Wulan pelan dan meraih air mineral itu lalu meminumnya.
" Ini enak, " gumam hatinya, dan dengan pasti menyuapkan bakso itu kemulutnya.
Wulan melihat dengan aneh, dr. Evan yang tengah asyik memakan bakso yang tadi ia tolak.
" Gimana dokter??, enak??, " tanya Wulan pada dr. Evan yang hampir habis memakan bakso itu.
" Hhmmm, yaa ini enak, saya gak pernah makan bakso seenak ini, " tuturnya jujur.
Wulan tersenyum, betapa itu lucu melihat ekspresi dr. Evan bagai orang yang tak pernah makan bakso.
" Tambah ini dokter, " sarannya seraya menyerahkan mug cabe rawit dan kecap manis.
" Jamin lebih enak lagi rasanya, " ucapnya yakin.
Dengan ragu dr. Evan mencoba menaruh cabe rawati itu yang hanya seujung sendok kecil, dan mengaduknya. Lalu kembali mencoba menikmati kuah bakso yang telah tercampur cabe rawati giling tadi. Seketika dr. Evan terhenti, ia sedikit kewalahan mengontrol pedas pada mulutnya.
" Wulan, ini pedas!!!, " ucapnya panik bak anak kecil yang kepedasan dengan mata sedikit melebar.
Wulan pun sukses tertawa lepas melihat tingkah dr. Evan. Suara dr. Evan yang mendesir pedas itu cukup membuat tawa Wulan tak berhenti.
" Wulan!!, " ucapnya yang tak enak melihat Wulan tertawa tak berhenti menjadi perhatian pelanggan lain.
" Hahahaha, haduuh dokter lucu banget, " ucapnya yang mencoba menahan tawanya.
dr. Evan menyudahi makanannya, cukup karena Wulan telah kembali tersenyum.
" Kau tak menghabiskannya lagi??, " tanya dr. Evan yang melihat pada Wulan yang tengah meneguk air mineral
" Hhmm, saya sudah kenyang dokter, " sahutnya sedikit kikuk, karena sekarang ia benar-benar tak lapar lagi.
" Wulan, " panggil dr. Evan serius menatap Wulan yang kini mencoba menyisir rambutnya dan mengulungnya asal keatas sehingga terbentuk cepol Korea.
Wulan pun berpaling melihat dr. Evan.
" Wulan, saya sebenarnya ingin mengucapkan terima kasih banyak, karena kamu terus baik kepada Safa dan Marwah, " ucapnya tulus.
" Ah, hhmm, yaa semua orang pasti baik pada anak kecil, apa lagi Safa dan Marwah juga mengemaskan dan mereka anak yang pintar, " ucapnya sedikit tersenyum canggung.
" Hhmm, dan sepertinya saya harus mengkomfirmasi satu hal dengan kamu, " tutur dr. Evan serius menatap Wulan yang sedang meraih air mineral dan membukanya.
" Saya sudah tak memiliki istri".
Deg.
Jantung Wulan berdebar yang dirasa aneh olehnya. Wulan terdiam sesaat, mencoba mencerna penjelasan dr. Evan.
" Saya sudah lama bercerai dengan mantan istri saya, jadi Safa dan Marwah selama ini saya yang merawat, " jelas dr. Evan seraya membantu Wulan menutup kembali air mineral yang tadi ia buka.
" Saya hanya ingin memperjelas kekhawatiran kamu waktu itu yang melarang saya datang ke toko kamu lagi".
" Ah, maaf dokter, tapi, " ucap Wulan ragu.
" Saya tau mungkin kamu risih dengan kedatangan saya, saya paham, " ucapnya tulus dan tersenyum menatap wajah Wulan yang masih tak berekspresi mendengar penjelasan dr. Evan.
" Hhmm, apa kamu mau makan lagi??".
" Ah, tidak lagi dokter, sudah cukup, " ucapnya cepat.
" Saya antar kamu pulang sekarang, " tawar dr. Evan yang bangun lalu berjalan menuju gerobak bakso itu, dengan menenteng sepatu heels Wulan yang tadi di bawanya.
Wulan yang berjalan duluan keluar dari warung bakso tersebut. Namun kehadirannya langsung disambut hujan deras yang membuat Wulan terkaget dan mencoba menghindar dengan masuk kembali kedalam warung.
Namun sedetik kemudia, Wulan terkaget dengan tiba-tiba aroma parfum pria yang hangat menjalar pada dirinya dan ia terkejut dengan menyadari bahwa dr. Evan telah menyematkan jas miliknya ke atas bahu Wulan dan membantu menutupi tubuh Wulan.
" Pakailaah, itu akan membuat kamu hangat, " ucapnya seraya meraih ponselnya dan mencoba mencari taksi online disekitaran itu.
Wulan hanya terpaku melihat dr. Evan. Ada hal yang tak bisa Wulan jelaskan, tapi ia merasa sedikit terhibur dengan kejadian hari ini bersama dr. Evan.