
Tiga hari berlalu, Wulan berdiri depan tokonya dengan pandangan jauh melihat sekitar. Ada hal yang menganggu pikirannya setelah terakhir kalinya bertemu dengan dr. Evan. Namun lamunannya terusik oleh panggilan Mbak Nita yang menghampirinya dengan antusias.
" Wulan??, " panggilnya semangat.
" Wulan, minggu ini kita dapat orderan dari pelanggan yang pasti membuatmu terkejut, " ucap Mbak Nita yakin.
" Orderan??, dari siapa??, " tanya Wulan penasaran.
" Ayo laah, kamu coba tebak dulu??, " ucapnya yang memaksa Wulan untuk berpikir.
" Ya ampun, Mbaaak, tau kan Wulan tuh males banget main tebak-tebakan, " ujarnya tak mau ambil pusing.
" Ikh, kamu ini Wulan, ngebosanin banget!, " ujarnya yang kesal.
" Ya udah, ini pesanan dari rumah sakit Petramedika, " jelas Mbak Nita.
" dr. Evan??, " sahut Wulan cepat.
" Waaaah, bisa ketebak yaa sama kamu kalau ini dari dr. Evan??, " ucapnya membenarkan tebakan Wulan.
Namun sesaat Wulan terdiam.
" Hey, kamu kenapa tiba-tiba diam??".
" Ah, gak mbak, " Wulan mengalihkan.
Namun dari balik luar toko dr. Dessert terlihat seorang pria dengan pakaian casual masuk membuka pintu toko. Sehingga Mbak Nita dan Wulan kompak menoleh pada suara pintu terbuka itu.
Dan ternyata, orang yang sedari tadi dibicarakan datang dengan senyum mendekat pada Wulan dan Mbak Nita yang terpaku.
" Panjang umur dr. Evan, "ucapnya berbisik pada Wulan.
Wulan hanya mendengarkan tanpa merespon.
" Siang, " sapa dr. Evan sopan, namun nampak bingung dengan ekpresi Wulan dan Mbak Nita yang melihatnya dengan wajah datar.
" Apa saya mengangetkan kalian??, " ujarnya kearah keduanya.
" Ah, gak dokter !!, gak kok, ya kan Wulan, " ucapnya menyinggung Wulan.
Wulan hanya tersenyum paksa.
" Ah, begitu yaa, oia ini, " ucapnya menyerahkan kunci pada Wulan.
" Mobilnya sudah bagus lagi, semuanya telah diservis, " terang dr. Evan
Wulan dengan canggung menerima kunci mobilnya.
" Ah, terima kasih dokter, berapa biaya servisnya??, akan Wulan ganti, " ucapnya serius.
" Gak usah, " sela dr. Evan membalas cepat
" Ah, tapii...," ucapan Wulan terpotong.
" Itu tidak jadi soal, hanya tolong buatkan puding mangga 300 buah dan juga roti 500 pcs untuk minggu depan, " pesan dr. Evan pada Wulan dan Mbak Nita.
" Apa??, " jawab Wulan kaget mendengar jumlah orderan dr. Evan.
" Minggu depan adalah ulang tahun rumah sakit, setiap Dokter menyumbang untuk perayaankan bersama kali ini, dan saya mau order itu semua, " ucapnya yang sukses membuat Wulan kaget.
Mbak Nita hanya tersenyum senang, kali ini bukan hanya masalah orderan, tapi ada hal lain yang terselip sehingga Mbak Nita jauh lebih semangat menerima orderan ini.
" Hhmmm, tapi kalo itu sebenarnya hal yang berbeda, Wulan rasa.., " ucapnya terputus.
" Aauuuw..," tiba-tiba Wulan menyeringai sakit karena menerima cubitan dilengannya dari Mbak Nita.
" Gak papa dokter, kita terima orderannya dengan senang hati, yuk mari biar saya bantu membuat notanya, tanda jadi, " ujarnya dengan sopan menuntun dr. Evan masuk kedalam cafe mini dr. Dessert.
πππ
Disisi mini cafe dr. Dessert terlihat dr. Evan duduk seraya memperhatikan Wulan yang menyibukkan diri dengan pelanggan. Dan selang beberapa menit Mbak Nita datang dengan secangkir Chocolatte hangatnya dan menaruhnya dihadapan dr. Evan yang sedikit terkejut dari lamunannya memandang Wulan.
" Hhmm, apa Wulan yang menjadi perhatian dr. Evan??, " ujar Mbak Nita to the poin.
" Ah, apa itu terlihat jelas??, " ujarnya sedikit kaget seraya meraih cangkir Chocolatte hangat itu dan meminumnya sedikit.
" Hhmmm, ya, tapi mungkin Wulan berusaha mengabaikan anda dokter, " ucap mbak Nita serius seraya melihat pada Wulan.
" Saya paham, " jawab dr. Evan.
" Saya hanya sebagai kakak angkatnya, saya tau Wulan orang yang sangat baik, namun takdir yang ia jalanin terlalu berat, dan saya sedikit berharap untuk kehidupan Wulan yang bahagia, " terdiam sesaat menelangsa jauh.
" Ah, maaf dokter jadi berbicara seperti ini".
" Hhmm, ya, " sela dr. Evan canggung dan hatinya sedikit memahami maksud dari Mbak Nita
" Ini nota orderannya dokter, kapan kue ini kami antar??, " seraya menyerahkan nota order kehadapan dr. Evan.
" Kalo bisa pagi jam 9 atau jam 10 di aula atas rumah sakit, " jelas dr. Evan.
" Baik dokter, akan saya buat catatan pengingat".
" Kalo begitu saya permisi, " ucapnya yang meletakkan cangkir Chocolatte itu yang kini tinggal setengah.
dr. Evan pun bangun dan meninggalkan Mbak Nita. Sesaat Wulan tersadar bahwa dr. Evan telah pergi. Ia pun menyudahi kepura-puraannya yang tengah sibuk untuk menghindar dari dr. Evan.
" Apa yang terjadi padamu Wulan???, " gumamnya dalam hati. Ia pun beralih menuju dapur kue, dan terlihat Mbak Nita tengah memasang stiker nota orderan dengan rapi.
" Apa yang terjadi padamu??, " tanya Mbak Nita tepat sasaran.
" Ah, gak ada!!, " sahutnya cepat seolah mengelak.
" Kenapa kau menghindar dari dr. Evan??"
" Enggak kok, Wulan hanya, " ucapannya terpotong oleh Mbak Nita perkataan Mbak Nita.
" Dia duda, apa salahnya??, " ucap Mbak Nita cepat seraya menghadap Wulan.
" Hah???, Mbak tau??, " ucap Wulan kaget.
" Kamu terlalu banyak pikiran, Wulan".
" Hhmmm, Wulan masih mau begini Mbak, dan Wulan gak berpikir kemana-mana, lagian Wulan hanya menghindar agar tidak ada omongan tak enak dikemudian hari. Lagian Mbak??, kenapa juga terima orderan dr. Evan??, emang siapa yang mau kerjain coba??, " ujarnya cemberut.
" Ya kamu laah yang kerjain, semua yang ditoko ini dijual dari tangan kamu, jadi yaa kamu yang beresin Mbak hanya perantara aja, " ujarnya yang berlalu meninggalkan Wulan dengan ekspresi wajah aneh. Lalu Mbak Nita tersenyum seraya bergumam dalam hati
" Mbak juga perantara jodoh kamu".
" Ya ampun, Mbak??, " ucap Wulan yang terkaget melihat nota orderan dr. Evan didinding orderan besar.
πππ
Didalam mobil Alphard dr. Evan duduk dengan memandang keluar jendela mobilnya, ia baru saja mendapat pesan dari mantan istrinya Vivian.
" Evan, tanggal 23 ini ijinkan aku menjembut anak-anak, aku ingin merayakan ulang tahun mereka " Vivian.
Pesan itu tak mendapat balasan dari dr. Evan. Pikirannya masih terniang pembicaraannya dengan Mbak Nita tadi.
" Berharap hidup Wulan bahagia??, " gumam dr. Evan sendiri.
Lalu ia menarik nafas panjang membuang pikirannya yang entah kekemana-mana.