One Step Closer

One Step Closer
17



Sore itu Wulan kembali dengan lusuh, bekas siraman teh tadi meninggalkan noda di baju kemeja pinknya. Mata Mbak Nita dan Wiwit tercenggan melihat Wulan yang berjalan bagai zombi, tak berekspresi sedikit pun dan terus berjalan lurus masuk menuju rumah atasnya.


Ketika Wiwit ingin mendekat kearah Wulan, dengan segera tangan Mbak Nita menghalangi, ia mengeleng pelan ke arah Wiwit.


" Biarkan Wulan sendiri!!, " ujar Mbak Nita pada Wiwit.


" Tapi Mbak, " ucapnya terputus.


" Hal berat pasti tengah menimpa dirinya, kita jangan menganggunya, beri ia waktu sendiri, " terang Mbak Nita kembali.


Wiwit pun akhirnya menuruti perkataan Mbak Nita yang cemas melihat kondisi Eulan. Dirumahnya, Wulan masuk dengan langkahnya terarah ke kamar mandi. Ia ingin segera bersih dari bekas siraman air teh tadi.


Tak perlu waktu lama bagi Wulan untuk mandi. Dikamar ia duduk dikursi meja rias itu dengan lesu. Tik.., tanpa ia sadari airmatanya jatuh. Dan sedetik kemudian suara deringan telfon Wulan pun berbunyi. Ia meraih dengan enggan, dan terlihat nama Mas Rendi disana. Wulan menjawab telfon dari Mas Rendi dengan berat.


" Wulan, kamu dimana??, " ucapnya dengan suara cemas pada Wulan.


" Ditoko, " jawab Wulan berat.


" Syukurlah, Mas sebentar lagi kesana, " ucapnya buru-buru.


Tak ada jawaban balasan dari Wulan, seketika komunikas itu terputus.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Malam itu juga toko Dr. Dessert tutup lebih cepat. Entah kenapa Mbak Nita mengambil inisiatif untuk menyudahi penjualan hari itu. Wiwit dan Desi pun mulai berbenah sisa-sisa roti yang tak banyak lagi.


" Mbak, kita udah beresin roti yang sisa kedalam keranjang, " kata Wiwit.


" Oh, baik, terima kasih".


" Mbak, Mbak Wulan apa gak papa??, sedari tadi ia tak turun?, " tanya Wiwit yang cemas.


" Hhmm.., " balas Mbak Nita dengan bergumam seraya melihat ke lantai atas dengan sekilas. Namun tiba-tiba terdengar suara pintu toko dibuka, hal itu membuat Mbak Nita juga Wiwit kompak menoleh kearah pintu.


Mbak Nita dan Wiwit sedikit terkejut karena yang datang adalah Mas Rendi.


" Wulan??, " tanya Mas Rendu dengan wajah cemas, lalu mendekat kearah Mbak Nita dan Wiwit yang duduk dilorong dapur.


" Diatas, " jawab Mbak Nita cepat.


Dan segera Rendi melangkah, namun langkahnya terhenti karena dihalangi Mbak Nita yang menyerahkan sesuatu ke tangan Rendi.


" Bawa ini, sedari tadi ia belum makan".


Rendi hanya mengambil, lalu kembali berjalan menuju anak tangga rumah atas Wulan. Langkahnya terhenti didepan pintu yang tak tertutup rapat. Dan terlihat Wulan yang tengah duduk diruang tv mungil miliknya dengan memangku sebuah bantal kecil. Rendi masuk, langkahnya menuju tempat duduk Wulan, dan kini ia berdiri tempat di hadapang Wulan.


" Apa, kamu baik-baik saja??, " ujarnya yang kemudian duduk disisi Wulan.


Wulan mengangguk tanpa menoleh kearah Rendi, matanya tertuju pada tv yang mempertontonkan berita malam dengan mode silend.


Rendi menarik tubuh Wulan kedalam pelukannya. Ia tau Wulan tak baik-baik saja.


" Apa yang ibu kata kan padamu??".


Wulan tak menjawab.


" Maafkan ibu Mas, jika...,"


" Ia memberi Wulan 1 miliyar, " ucap Wulan datar.


" Wulan pikir bisa terus bertahan, dengan kekurangan Wulan yang jelas tak akan memberi kebahagian untuk Mas. Tapi sepertinya tidak, " ucapnya dengan suara berat.


" Apa maksud kamu??, " ujar Rendi bingung.


" Sebelum semua menjadi terlalu terlambat, Wulan pikir untuk berhenti, " ucapnya serius melihat mata Mas Rendi.


" Kita akhiri saja hubungan kita ini Mas".


" Wulan??, " ucap Mas Rendi tak percaya.


" Wulan lelah..., sungguh Wulan menderita dengan semua ini, jadi Wulan mohon akhiri hubungan kita, " ucapnya dengan diiringi air mata yang mulai jatuh.


Rendi benar-benar tertohok dengan pernyataan Wulan yang meminta untuk mengakhiri hubungan mereka.


" Kamu gak mencintai Mas??"


" Semakin Wulan mencintai Mas, semakin besar rasa sakit yang Wulan terima. Mas, kembalilah pada keinginan keluarga Mas, " pinta Wulan.


" WULAN!!!!, " bentak Rendi yang marah dengan menguncangkan tubuh Wulan.


Namun, Wulan segera menarik cincin yang tersemat dijarinya dengan paksa. Dan ia meraih satu tangan Mas Rendi dan mengembalikan dengan kasar. Lalu Wulan bangun meninggalkan Mas Rendi yang terpaku dengan Wulan mengembalikan cincin lamarnya.


Wulan masuk kedalam kamarnya dan menutup dengan segera pintu itu, dan tubuhnya jatuh dengan tangan menutup mulutnya yang berusaha untuk tak mengeluarkan suara tangisan.


Untuk beberapa lama, Rendi seperti terserang syok berat. Namun ia bangun dan berjalan pada pintu kamar Wulan.


" Baik, kalo itu mau kamu Wulan, Mas akan pergi dari sisi kamu. Dan Mas berharap kamu akan menyesal, " ucapnya berat.


Dan rendi berbalik melangkah menuju pintu rumah Wulan dan turun kebawah.


Wulan terus mencoba menahan tangis yang sedari tadi ia tahan.


" Maaf..,maaf Mas, " ucapnya menangis.


Wulan sadar ia menyakiti hati Mas Rendi lagi, tapi ia sungguh tak dapat bertahan untuk terus bersama Mas Rendi. Ada tembok besar yang memisahkan, dan ada hal yang nantinya menjadi badai besar dalam rumah tangganya nanti yang akan menjadi bumerang bagi mereka.


Malam itu Wulan terus menangis hingga tangisan itu membuatnya tertidur dalam gelisah.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Pagi harinya Mbak Nita datang lebih cepat, kali ini membuka toko dengan kunci cadangan. Karena setelah kejadian sakit Wulan tempo hari itu membuatnya berinisiatif untuk memiliki kunci cadangan sebagai jaga-jaga.


Mbak Nita masuk dengan hati resah. Ia melihat toko masih sama seperti saat ia tinggalkan kemarin. Lalu langkahnya menuju rumah atas Wulan.


Ia tak menemukan Wulan diruang tv atau dapur kecilnya. Lalu langkah Mbak Nita tertuju pada kamar Wulan. Dan dengan berlahan ia membuka pedal pintu kamar itu, dan terlihat Wulan tertidur. Mbak Nita cemas dan mendekat dan memeriksa tubuh Wulan. Dan ia terkaget, suhu tubuh Wulan sangat panas.


" Wulan???, Wulan bangun??, " panggilnya cemas dan takut melihat Wulan yang tak merespon.


Tiba-tiba mata Wulan terbuka pelan.


" Mbak..., " ucapnya parau, namun sedetik kemudian ia berusaha bangun dan memeluk Mbak Nita lalu menangis.


Mbak Nita yang terkaget mencoba menahan pelukan Wulan.


" Apa yang terjadi??, " ucapnya cemas.


" Kali ini benar-benar berakhir Mbak, " tangis Wulan pun pecah didalam palukan Mbak Nita yang terkejut.