One Step Closer

One Step Closer
35



" Maukah kamu menjadi istriku??, "ucap dr. Evan menatap Wulan.


" Dokter??, " Wulan terpanah dengan perkataan dr. Evan.


" Aku sedang melamar kamu Wulan, " ucapnya serius menatap wajah Wulan lekat-lekat.


Wulan yang bingung juga terkaget menjadi diam seribu bahasa.


Wulan terpaku mendengar pengakuan dr. Evan. Sesaat seolah waktu disana berhenti berputar disekelilingnya.


" Dokter??, " Wulan ragu.


" Kenapa tiba-tiba??, " ucapnya canggung.


dr. Evan menatap Wulan dengan senyum. Ia tau Wulan gelisah karena ucapnya tadi.


" Karena aku menginginkan mu!!, " tembak dr. Evan yang to the poin.


Deg..


Mata Wulan melebar, jantungnya berdebar. Wulan tertunduk sesaat mencoba berpikir tenang.


" Maaf dokter, tapi,,"


" Aku akan menunggu kamu, jika kamu butuh waktu, " sela dr. Evan cepat sebelum kalimat Wulan selesai.


Habis sudah kata-kata yang ingin Wulan katakan. Kali ini dr. Evan benar-benar membuatnya serba salah.


Bagaimana tidak, hatinya saja masih melayang-layang akan Rendi, dan sekarang dihadapatnya dr. Evan dengan hangat memberi pernyataan yang membuatnya terkejut.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Di toko dr. Dessert Mbak Nita menebak-nebak kemana Wulan, karena ia tak berada ditoko ketika Mbak Nita membuka toko dr. Dessert.


Dan kini sosok itu muncul dengan wajah yang sedikit lesu. Mbak Nita menghampiri Wulan dengan segera.


" Kamu dari mana saja???, Mbak cemas karena kamu gak ada ditoko pas buka pintu".


" Ah, maaf Mbak, semalam Wulan ikut dr. Evan kerumah sakit, Safa Marwah dirawat disana, " jelas Wulan.


" Apa??, kamu pergi dengan dr. Evan??, " ucap Mbak Nita senang.


" Ikh, Mbak kenapa sih seneng banget??"


" Ah, enggak kok, biasa aja, " elaknya seketika.


" Nah trus??, " sambung Mbak Nita untuk mengetahui lebih lanjut.


" Trus apa??," ucap Wulan dengan mengeyitkan dahi.


" Yaa, waktu dirumah sakit??, " tanya Mbak Nita kembali.


" Yaaa, jengguk orang sakit donk Mbak!!, gimana sih Mbak ini, aneh banget??, " celetuk Wulan.


" Iisss, kamu tuh yaa!!, " ucap Mbak Nita gemes dengan jawaban Wulan yang membuatnya jadi tambah penasaran.


" Wulan, mandi dulu ya Mbak, setengah jam lagi Wulan turun, " ujarnya seraya berjalan menuju tangga rumah atasnya.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Dikamar Wulan terduduk di tempat tidurnya. Pikirannya masih tergiang-giang ucapan dr. Evan.


" Huufffft, apa yang harus aku lakukan??, " ucapnya seraya merebahkan badannya.


Namun sesaat Wulan mendengar suara handphonenya berdering. Wulan meraih tasnya dan mencoba menenukan handphonenya. Dan melihat nomot asing disana.


Dengan segera Wulan menganggkat telfon itu.


" Hallo??".


" Tante Wulaaaaan, " terdengar suara dua gadis kecil itu memanggilnya berbarengan.


" Safa, Marwah??," jawab Wulan terkejut.


" Tante kemana?, kok pergi gak bilang sama kita??, " tanya marwah.


" Iya, maaf tante buru-buru sayang, karena harus buka toko, maaf yaa, " jelas Wulan.


" Tapi, tante gak lupakan janjinya untuk bawa kado untuk kita???, " tanya Marwah kembali.


Wulan tiba-tiba tersadar, ia mengingat janji yang ia buat bersama kedua gadis kembar itu semalam.


" Hhmm iyaa, tante gak lupa, " jawab Wulan sedikit ragu.


" Jam berapa tante datang??, " tanya Safa.


" Itu, Tante gak biasa pastiin jam berapa, tapi,,"


" Tante harus datang karena kita tungguin, kalo gak kita gak mau minum obat siang ini, " ancam Safa dengan tertawa kecil.


Tut.., komunikasi itu pun terputus begitu saja tanpa jawaban dari Wulan.


Sesaat Wulan menarik nafas panjang, dan meletakkan handphonenya diatas perut. Matanya terpejam "Safa Marwah" gumamnya berbisik.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Satu jam berlalu, Wulan turun dengan telah berpakaian rapi. Mbak Nita melihat dengan penasaran.


" Kamu pergi lagi??, " tanya mbak Nita dihadapan Wulan yang kini tepat didepan kasir yang meraih kunci mobilnya.


Wulan mengangguk enggan. Lalu Wulan berjalan ke estalase cake premium, ia memilih satu cake ultah sederhana dan membungkusnya didalam kotak dan dipercantik dengan hiasan pita warna ungu yang senada dengan dekor cake tersebut.


" Kamu kenapa??, kok lesu gitu??, " tanya Mbak Nita yang penasaran untuk siapa cake ultah itu dibungkus.


" Wulan pergi dulu yaa Mbak, kalo sudah siap, Wulan segera pulang, " ujarnya cepat seraya membawa kotak cake tersebut.


" Hati-hati dijalan, " kata Mbak Nita seraya pada Wulan yang beranjak pergi menuju pintu toko dan menghilang begitu saja dari pengelihatan Mbak Nita.


Mbak Nita hanya bisa menarik nafas panjang melihat Wulan.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Mobil Freed itu pun melaju santai dijalanan ibu kota. Wulan berpaling melihat kearah jam tangannya, dan melihat sudah pukul 11 lewat. Dan ini sudah masuk jam makan siang, ia sedikit ragu untuk pergi menjengguk Safa Marwah. Ia tak ingin bertemu dengan dr. Evan saat-saat ini.


Lalu laju mobilnya masuk di parkiran mall ibu kota, ia ingin membeli kado yang dijanjikan untuk Safa dan Marwah.


Wulan berjalan cepat dan ia masuk kedalam sebuah toko khusus perawatan kuku dan memilih beberapa warna kutex yang aman untuk dipakai anak-anak.


Wulan memilih 9 warna yang cantik-cantik sambil membayangkan wajah Safa dan Marwah yang pasti senang dengan hadiahnya.



Sembari menunggu, Wulan melihat beberapa artikel tentang kutex dibrosur yang disediakan toko.


Tak berselang lama, terdengar notif pesan dari handphone Wulan. Dan ia meraih handphonenya yang berada di saku coatnya.


Dan terlihat undangan pesta lajang dari teman sesama pembisnis wedding di tanah air. Wulan tersenyum membaca pesan itu. Kak Ari dan Widya akan mengelar pesta pernikahan pekan ini.


" Mungkin akan terus menghadiri pesta orang lain, " celetuknya untuk diri sendiri.


Dan lamunnya pun buyar ketika pelayan toko menyerahkan sekotak kecil nail yang telah dibungkus cantik. Segera Wulan membayar dan ia keluar dari toko tersebut dan melajukan mobil Freed nya ke rumah sakit Petramedika.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Ketika mobil Freed itu terhenti diparkiran rumah sakit, Wulan sedikit ragu untuk turun.


" Huuuuffft, oke, semoga dr. Evan gak ada!!, " ucap Wulan yang kemudian turun dan beralih kepintu belakang mobilnya untuk mengambil kotak cake dan kado yang ia beli tadi untuk Safa Marwah.


Langkah kaki Wulan terlihat sudah terhapal dengan sendirinya area gedung rumah sakit Petramedika itu. Ia berjalan berlahan karena menyeimbangkan agar cake yang dibawanya tak banyak bergeser.


Dan Wulan melewati lagi meja perawat dan menyapa dengan ramah. Lalu berlalu menuju kamar Safa Marwah, yang terlihat sepi. Dengan gerakan terbatas Wulan membuka pintu kamar Safa Marwah yang terlihat tertidur. Senyum Wulan mengembang melihat ternyata keduanya tak memakain selang infus lagi dan tertidur berpelukan dengan lelap.


Namun suara notif handphone Wulan sukses membangunkan keduanya. Wulan yang baru saja meletakkan kotak cake itu buru-buru mencoba mengambil handphonenya.


" Tante Wulan??? " panggil Safa yang kini bangun terduduk melihat kearah Wulan.


Wulan hanya tersenyum kepada Safa.


" Maaf yaa jadi buat Safa kebangun, apa mau tidur lagi??, " ucapnya yang mendekat dan membelai rambut Safa yang masih terlihat mengantuk.


Namun Safa memeluk tubuh Wulan dengan erat.


" Rindu tante, " ujar Safa manja.


Dan tak berselang lama Marwah pun terbangun dengan terkejut melihat Safa yang memeluk Wulan. Ia pun bangun dengan segera dan berusaha mengapai tubuh Wulan untuk memeluk.


" Kenapa tante lama??, " tanya Marwah manja.


" Maaf yaa sayang, " ucapnya yang sedikit menyesal membuat keduanya menunggu.


" Oia, tante ada bawa sesuatu buat kalian, tunggu yaa, " ucapnya yang mencoba mererai pelukan keduanya dari pinggang Wulan.


Ia mengambil kotak besar dan membukanya dihadapan Safa Marwah.


" Selamat ulang tahun sayang!!, doa terbaik dari Tante untuk kalian, " ucapnya tersenyum melihat ekspresi keduanya yang terkagum akan cake yang ia bawakan.



Safa dan Marwah terkagum akan cake ultah mereka.


" Terima kasih tante, terima kasih banyak"


" Cantiknya cake ultah ini, " puji Safa.


" Syukurlah kalian suka, nah tunggu yaa Tante ambil pemotong cakenya".


" Jangan Tante, kita tunggu papa yaa, biar sama-sama motong cakenya, " ujar Marwah.


" Hah??, ah maaf sayang, hhmm, tante gak bisa lama".


" Kenapa tante??, " tanya Safa yang terlihat sedih.


" Hah?? hhmm, itu..,"


Wulan berusaha keras memikir alasan yang pas untuk kedua gadis ini.


" Yaa ampun, kan gak mungkin bilang kalo tante itu lagi menghindar dari papa kalian!!, " gumamnya dalam hati.


Wulan masih berputar-putar memikirkan alasan yang tak dibuat-buat untuk Safa dan Marwah agar tak kecewa.


" Hhmm, temen tante ada yang ingin ketemu, dia mau pesen cake ultah untuk anaknya, kan kasian temen tante, " ucapnya yang dibuat-buat.


" Ya udah, tapi tante gak balik sekarang kan??, " tanya Marawah.


" Ya gak sayang, mungkin sebentar lagi yaa".


" Yeeee asyik, oia kadonya mana tante??, " tanya Safa mengingat.


" Ah, iya tante hampir aja lupa!!, " ucapnya yang berjalan kembali mengambil kotak kecil yang terbungkus cantik menyerahkan kepada keduanya. Dan Safa Marwah pun semangat membuka kado kecil itu, dan mereka terkaget tapi juga senang, karena janji tante Wulan ditepati.


" Waaaah, makasih Tante, kita suka banget, " ucap keduanya tulus.


" Sekarang kita main kutex-kutex yuk Tante??, " ajak Safa.


" Ah, iyya, " ujarnya yang mendekat pada Safa Marwah, dan dengan rela menyerahkan kedua tangannya kepada Safa dan Marwah. Dan dengan antusias keduanya meraih dan mulai melilih warna kutex yang akan mereka kenakan pada kuku Wulan. Terdengar canda tawa hangat dari kamar sakura.


" Tante suka princess apa??, " tanya Marwah.


"Hhmmm, siapa yaa??, mungkin Princess Cinderella, " jawab Wulan yang memperhatikan Marwah yang tengah serius mengecat kuku Wulan dengan warna merah.


" Kenapa??," tanya Safa seketika.


" Karena Cinderella sama dengan Tante, sama-sama gak punya ibu"


" Sama kayak kita juga donk"


" Gak Marwah!!, kitakan masih ada Mommy, " sahut Safa serius melihat kearah adiknya.


" Tapi Mommy gak peduli sama kita, buktinya Papa dan Bibik yang urus kita, " jawab Marwah ketus tapi masih serius mengecat kuku Wulan.


" Marwah??, " ucap kakaknya yang mulai marah.


" Sssstttr..., " ucap Wulan menenangkan Safa.


" Marwah sayang, liat Tante, " ucapnya lembut seraya mencoba menghentikan aktifitas mengecat kukunya, dan membelai wajah Marwah dan Safa dengan lembut secara bergantian.


" Sayang, tante gak mau Marwah ngomong begitu lagi yaa, Marwah harus tetap sayang sama mommy apa pun itu, " ucapnya menatap mata Marwah.


" Mommy kalian pas pasti sedih kalo anaknya gak sayang sama Mommy, janji sama tante Marwah gak boleh ngomong gitu lagi ya sayang, " ucapnya yang memeluk Marwah yang terlihat cemberut.


Marwah memeluk Wulan dengan erat.


" Tante bisa gak selalu ada sama kita??, " ucapnya dengan suara setengah berbisik.


Wulan terdiam mendengar permintaan Marwah, seakan ia seperti mengulang perkataanya papanya.


Tanpa Wulan sadari, ada seorang wanita paruh baya yang berdiri mendengarkan obrolan mereka sedari tadi dari balik pintu kamar sakura. Dan pelan ia pun masuk sehingga mengagetkan ketiganya bersamaan.