One Step Closer

One Step Closer
52



Satu minggu berlalu dari kepulangan wulan dan dr. Evan. Komunikasi keduanya jauh lebih dekat hari demi hari. Tapi dr. Evan dalam satu minggu itu dipenuhi jadwal operasi dan rapat-rapat penting rumah sakit sehingga membuatnya tak bisa bertemu dengan wulan.


Namun safa marwah jadi punya kebiasaan lain, mereka hampir setiap hari menjenguk ibu baru mereka. Keduanya malah meminta pada papanya kegiatan homeschooling dilakukan dirumah atas wulan.


Wulan tak bisa menolak karena keduanya meminta dengan janji-janji yang telah disepakati. Kegiatan toko juga menjadi normal kembali. Cake-cake premium wulan kini kembali menghiasi estalase kaca dingin itu dengan berbagaim macam rasa.


Mbak nita/"udah sejauh mana persiapan pernikahan mu??"ujarnya yang mendekati wulan yang tengah menghitung-hitung total belanja bahan untuk bulan itu.


Wulan/"hhhmm, minggu depan wulan akan fitting baju, tapi baju pengantin yang udah jadi"ujarnya santai.


Mbak nita/"lain-lain??"ujarnya penasaran.


Wulan menghentikan kegiatannya dan mengalihkan pandangannya pada mbak nita.


Wulan/"ah, karena dr. Evan sibuk jadi kita memilih untuk dilakukan oleh wo kak ari"ujarnya lagi.


Mbak nita/"ah, begitu yaa??"ujarnya paham, tapi ada sedikit hal yang mengganjal hati mbak nita.


"kau bahagia??"ujarnya ragu.


Wulan diam sesaat ada hal yang ia pikir sejenak dengan pertanyaan mbak nita.


Wulan/"pasti bahagia!!!"ujarnya tersenyum kaku.


Mbak nita/"pernikahan adalah hal sakral, mbak harap kamu bahagia dengan pernikahan ini wulan"ujarnya serius.


Kata-kata mbak nita membuat wulan terpaku.


Wulan/"dulu?? hal apa yang membuat mbak yakin untuk menikah??"


Mbak nita/"mbak??? karena mbak ingin selalu bersama pria yang mbak cinta"


Wulan hanya terdiam. Dan mbak nita pun berlalu meninggalkan wulan, karena ada pelanggan yang akan bayar dimeja kasir.


"wulan rasa hal itu yang buat tujuan menikah wulan berbeda mbak!!"gumamnya sendiri dengan berbisik, lalu melanjutkan kembali dengan hitung-hitungan belanja.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Malam harinya toko tutup lebih cepat, karena roti-roti itu telah habis terjual. Mbak nita, wiwit, desi berkumpul didapur roti dan mengobrol dangan canda tawa. Wulan turun dari rumah atasnya dengan membawa paper bag untuk ketiga karyawan tokonya. yang sedang berkumpul.


Wulan/"yaaa, pas banget pada kumpul. Ini!!!"ujarnya kepada mbak nita seraya menyerahkan paper bag.


Mbak nita/"????" menerima dengan bingung


Wulan/"ini buat wiwit juga"


Wiwit/"???"


Wulan/"nah ini punya kamu des"ujarnya lagi seraya menyerahkan paper bag itu.


Desi/"???"


Wulan/"nah, sebelumnya pada tanya kapan pastinya pernikahan wulan?? ini mau jawab ya, 1bulan lagi!!"ujarnya dengan senyum yang membuat kaget karyawannya khususnya mbak nita.


Mbak nita/"cepat sekali??"


Wulan/"karena lebih cepat lebih baik"ucapnya kepada mbak nita.


"ini wulan kasih kain baju untuk acara resepsi wulan, mohon dijahit secantik mungkin yaa"


Ketiganya masih terbengong melihat wulan.


Wiwit/"acara resepsi dimana mbak??"


Wulan/"masih rahasi!!"ucapnya usil.


Wulan/"oke, karena toko udah selesai sekarang pada pulang yaa, besok kita ketemu lagi dan terima kasih untuk kerja kalian hari ini"ucap wulan santai seraya melangkah kedepan toko dan diikuti oleh ketiganya denga obrolan kecil.


Ketiganya pun berpisah didepan toko wulan, wiwit dan desi satu motor dan mbak nita sudah ditunggu oleh suami dan anaknya. Dan wulan melambaikan tangan kepada mereka yang berlalu menghilang dari pandangan wulan yang kembali masuk ketoko untuk mengambil kunci.


Namun berselang beberapa menit dari kepergian ketiga karyawan wulan, sebuah mobil sedan mewah herhenti didepan toko wulan. Dan seorang pria turun dengan santai dan melangkah masuk membuka pedal pintu kaca yang bersuara gemerincing.


Wulan/"maaf toko sudah tutup!!"ucapnya lembut tak melihat kearah pintu masuk karena tengah merapikan kotak-kota kue yang belum tersusun rapi.


dr. Evan/"apa tidak ada pengecualian untuk pelanggan ini???"ucapnya yang mengejutkan wulan dengan suara beratnya yang terlihat tersenyum kearah wulan yang terpaku.


Wulan/"dokter???"ucapnya yang kemudian berpaling melihat dr. Evan dan berjalan berlahan kehadapan dr. Evan.


dr. Evan menyambut wulan dengan menarik lengan wanita itu dan memeluknya seketika.


dr. Evan/"5 menit, ijinkan aku memelukmu 5 menit"pintanya yang merangkul tubuh wulan lebih dalam kepelukannya.


Wulan tak membantahnya, ia membiarkan pria itu memeluknya. Tangan kanan wulan pun mencoba untuk menyentuh punggung dr. Evan yang terlihat lelah.


Sesaat ruangan itu hening. dr. Evan benar-benar menikmati pelukannya pada wulan.


Wulan/"apa dokter lelah??"


dr. Evan/"hhhmm"gumamnya pelan yang menghirup aroma harum dari tubuh wulan.


Wulan/"mau wulan buat coklat hangat??"ujarnya yang kini pelukan itu terlepas dari tubuhnya.


dr. Evan/"apa masih bisa order??"ujarnya tersenyum pada wulan.


Wulan menjawab dengan mengangguk pelan. Dan mengajak dr. Evan untuk masuk kedalam mini cafenya dan duduk disofa yang terletak didinding tengah ruangan.


Wulan/"duduk laah, wulan buat coklatnya"ujarnya seraya meninggalkan dr. Evan disofa.


dr. Evan/"tolong untuk tidak terlalu manis nona"godanya.


Wulan/"baik tuan"ucapnya dengan tertawa kecil dengan ucapan dr. Evan.


Tujuh menit berlalu dan wulan pun kembali dengan nampan yang membawa cangkir merah berisi coklat hangat. Ia berjalan berlahan menghampiri sofa duduk dr. Evan yang membelakanginya.


Dan ketika wulan telah berada di hadapan dr. Evan, ia terkejut melihat dr. Evan telah tertidur lelap dengan tangannya menopang kepalanya agar tak jatuh.


Wulan menghela nafas panjang dan ia menaruh nampan itu diatas meja depan dr. Evan. Ia melihat dengan teliti dr. Evan yang tertidur. Arah mata wulan pun jatuh pada dasi dr. Evan yang terlihat masih mengait dikerah leher dr. Evan. Berlahan wulan duduk berlutut dihadapan dr. Evan, tanganya berlahan mencoba meraih dasi dr. Evan dan mencoba mererai simpul dasi itu agar terlepas dari kerah kemeja dr. Evan.


Setelah dasi itu terlepas wulan memperhatikan wajah dr. Evan yang terlelap tidur. Tangan kanan wulan reflek ingin menyentuh wajah dr. Evan. Ia menyentuh berlahan ujung rambut dr. Evan dan turun menyentuh alis dan mata dr. Evan yang terbingkai indah. Jemari wulan pun turun menyentuh hidung dr. Evan dan garis bibir dr. Evan.


Wulan melihat dengan sedih.


Wulan/"dokter pasti lelah"ucapnya berbisik dan tangannya pun menyentuh lembut pipi dr. Evan.


Dan tiba-tiba mata dr. Evan terbuka pelan. Ia melihat kearah wulan yang terkejut dan tertangkap basah tengah menyentuh pipinya.


Deg..


Jantung wulan berdetak kencang, tatapan dr. Evan membuat jantung wulan berdetak kencang. Ada rasa lain yang menjalar dihati wulan.


Wulan/"dokter?? maaf jadi membangunkan dokter"ucapnya ragu seraya menarik tangannya dari pipi dr. Evan.


dr. Evan hanya tersenyum kepada wulan.


dr. Evan/"apa hatimu telah terbuka untukku??"


Mata wulan melebar, bibirnya kaku seketika mendengar perkataan dr. Evan.