
Sedan mewah Mas Evan pun sampai pada perkarangan rumah mewah yang terlihat asri dengan pohon yang tumbuh dengan rindang disudut perkarangan rumah itu. Mas Evan berlahan memarkirkan mobilnya di dalam garasi yang bersebelahan dengan mobil Alphard.
Bibik dan pak Didi menyambut senang kepulangan pemilik rumah itu dengan senyum hangat. Safa Marwah antusias menunggu Wulan yang turun berlahan.
" Ayo Mah, kita masuk, " seraya menggandengan tangan Mama barunya yang terlihat menyapa ramah pada Bibik dan pak Didi yang menyambutnya.
Wulan berjalan berlahan masuk dari pintu depan rumah.
" Selamat datang dirumah Nyonya, " sambut Bibik ramah.
Wulan hanya tersenyum simpul pada Bibik yang menuntunnya masuk kedalam. Safa Marwah pun tak jauh-jauh dari sisi Wulan. Wulan melihat dengan seksama ruangan yang terlihat sangat pas dengan sofa yang minimalis juga penataan lukisan dinding yang abstrak.
Selang berjalan lebih dalam, masuk keruang tengah yang terdapat sisi sebelah ruang tv dengan layar TV besar disana yang terpajang. Dibawahnya terpasang motif karpet yang minimalis serta bantal-bantal besar yang mempercantik ruang keluarga itu membuat siapa saja pasti betah untuk menonton lama.
" Mama tidur dikamar kita kan??, " tanya Safa antusias.
" Iyya kan Mah??, pak Didi koper Mama masuk kekamar kita yaa!!," perintahnya kepada pak Didi yang melintas dengan koper kecil milik Wulan yang ia gerek. Namun disambut kaget oleh pak Didi yang ingin mengerek koper kecil itu didepan pintu kamar Tuannya. Diikuti wajah Bibik yang juga sama kagetnya dengan perintah non kecil Marwah.
" Tapi sayang??, Mama??"
" Kalau untuk beberapa malam saja, papa setuju??, " ucap mas Evan memberi isyarat pada Safa Marwah.
Dan disambut sorak bahagia oleh Safa Marwah yang senang. Wulan tersenyum simpul. Namun ia lega, walau untuk sesaat. Marwah menarik tangan mamanya untuk masuk kedalam kamar mereka yang di ikuti oleh mas Evan yang mengekor.
Dan keduanya semangat menjelaskan tour kamar mereka kepada Wulan. Keduanya benar-benar teramat senang mama baru mereka bisa tidur bersama, seperti apa yang mereka harapkan selama ini.
πππ
Malam harinya dirumah itu, terdengar suara canda tawa dimeja makan yang biasanya sepi. Bibik dan pak Didi juga diajak makan bersama. Wulan tidak membuat batas pada Bibik dan Pak Didi, ia mencoba untuk berbaur seperti keluarga sendiri.
Wulan pun tak segan-segan untuk turun bersih-bersih mencuci piring dan membantu Bibik soal dapur.
" Nyonya, jangan Nyonya biar Bibik aja," pintanya yang panik melihat pemilik rumah menyuci piring.
" Gak papa Bik, dari dulu saya udah terbiasa," ujarnya yang telah menyelesaikan cuci piring.
Bibik yang masih berdiri dibelakangnya agak sekidit tak enak hati.
" Bik, jangan merasa tak enak, kita bagi tugas aja yaa. Dan Bik, saya tuh gak bisa masak, saya mau belajar masak sama Bibik soal makanan kesukaan Mas Evan" pinta Wulan serius.
" Aduuh Nyonya, Bibik juga gak bisa masak, Tuan selama ini gak pernah makan dirumah Nyonya, kecuali sarapan pagi, itu juga bisa dihitung jari. Paling anak-anak yang rutin makan, " ucapnya jujur.
" Oooh begitu yaa Bik, kalo gitu kita belajar masak sama-sama aja bik. Lewat youtube!!," ujarnya yang seraya tertawa kecil dan diikuti Bibik yang juga ikut tertawa. Dan obrolan hangat itu pun berlanjut didapur kotor tanpa Wulan sadari Safa Marwah sedang menunggunya diruang tv bersama Mas Evan.
" Mamah kemana sih?? lama banget didapur belakang??, " ujarnya yang bete dan bangun dari duduknya menyusul Wulan ke dapur belakang.
Marwah pun jadi ikut bangun mengikuti kakaknya untuk ikut menyusul mama baru mereka yang sedari tadi di dapur belakang ( dapur kotor). Mas Evan hanya melihat keduanya lewat didepannya dengan mata kembali pada layar handphonenya dengan serius.
" Mama??, " Panggilan Safa yang mengagetkan Wulan dan Bibik yang duduk mengobrol.
" Ya Safa??, " jawab Wulan yang reflek dan berbalik kepada suara anak perempuannya.
" Mama, kok disini?? kita tungguin loh dari tadi didepan sama papa."
" Ah, maaf ya nak, Mama tadi lagi ngobrol sama Bibik, kamu kenapa??, " ucapnya yang membelai lembut wajah Safa yang manja disisinya dan Marwah hanya berdiri depannya.
" Udah pada ngantuk ya Non??, " tebak Bibik untuk keduanya yang terlihat matanya sayu.
Keduanya kompak mengangguk pelan.
Wulan memperhatikan keduanya secara bergantian. Dan benar keduanya terlihat sendu dan mata yang seakan mengantuk.
" Ya udah yuk kita tidur, Bik saya tidurin anak-anak dulu yaa"
" Iiya Nyonya" patuh.
Wulan dan kedua putrinya pun berjalan bergandengan masuk keruang dapur bersih dan melewati ruang TV yang terlihat Mas Evan pun memperhatikan ketiganya lewat didepannya.
" Loh?? pada mau kemana??, " tanya mas Evan.
" Kita mau tidur Pa, ngantuk, " jawab Marwah yang terlihat malas-malasan.
" Baiklah, " ujar mas Evan seraya bangun dan mencium kening Safa dan Marwah bergantian.
" Kok, Papa gak cium Mama??, " celetuk Marwah melihat kearah Papanya.
Wulan reflek melebarkan matanya mendengar perkataan Marwah. Namun mas Evan dengan senyum beralih melihat wajah Wulan yang merona malu. Lalu sedetik kemudian tangan mas Evan meraih wajah Wulan dan ia menjatuhkan kecupan sayang di kening Wulan yang terlihat terkaget menerima ciuman itu didepan Safa Marwah yang jadi tertawa cekikikan karena senang.
" Tidurlah, " ucapnya lembut menatap mata Wulan yang masih merona malu. Dan Wulan hanya tersenyum simpul dan ia pun melangkah mengikuti tarikan kedua putrinya untuk masuk kedalam kamar anaknya.
Dan mas Evan pun hanya bisa menghela nafas panjang, merelakan istrinya untuk menyenangkan kedua putrinya. Dan ia pun kembali kedalam kamarnya seorang diri.
ππππ
Dipagi hari yang cerah dikediaman mas Evan. Terdengar suara tawa Wulan dan Safa Marwah yang cekikikan mendengar cerita bibik dulu waktu kecil. Wulan yang tengah menyuapi sarapan pagi kepada Marwah pun ikut tertawa mw mendengarkan cerita bibjk yang lucu.
" Iya Non bener deh, dikampung kalo malem gak ada lampu, yang ada lampu teplok, jadinya kan Bibik gak bisa bedaian mana tali mana ekor sapi, eh rupanya bibik narik ekor sapi untung gak ditendang Bibik sama itu sapi, " ujarnya yang serius bercerita. Tapi yang mendengarkan malah cekikikan tertawa hingga mengeluarkan air mata.
" Kasian banget yaa Bibik, " ucap Safa dengan tertawa.
" Tapi kalo diinget-inget sekarang lucu kan Non, dulu Bibik kecil-kecil udah turun sawah Non bantu mboknya Bibik kasiah soalnya kalo cuma sendiri kesawah yang luas, " cerita Bibik mengenang.
" Jadi, Bibik udah lama ikut mas Evan??," tanya Wulan seraya menyuapi nasi kemulut Safa kembali.
" Oh, saya udah lama Nyonya, dulu ikut Nyonya Besar waktu Tuan Muda masih kuliah dan sampai sekarang nyonya".
" Ooh begitu, pak Didi juga??, " tanya Wulan penasaran.
" Iyya kan, Bibik cinlok sama pak Didi dirumah Nyonya Besar dulu, waktu pak Didi masih jadi supir tuan besar".
Wulan tak percaya dengan ucapan Bibik yang ternyata suaminya adalah pak Didi. Jadi suami istri ini pun terus berlanjut mengikuti mas Evan sampai sekarang.
" Waah gak nyangka yaa Bik, " ujarnya tersenyum hangat.
" Waah, sepagi ini kalian udah bangun dan sarapan??," ujar mas Evan tak percaya.
" Iyya donk pa, karena mama bangun cepat, kita juga jadi bangun cepat, dan kita juga udah mandi, " jawab Safa.
" Masa iya??, " jawab mas Evan tak percaya, biasanya jam segini anak-anaknya masih pulas tidur, jam 9 pagi baru pada mau mandi. Dan tatapan mas Evan pun jatuh pada Wulan yang tengah memberi minum kepada Safa.
" Kalian lagi makan apa??"
" Nasi goreng pa, papa mau??, " tanya Safa menawarkan seraya mulutnya disuapi lagi oleh tangan Wulan.
" Oke papa mau, tapi mama yang suapin!!".
Permintaan mas Evan cukup membuat Wulan terkejut. Dan tanpa malu-malu mas Evan mendekat kehadapan Wulan yang masih terkaget.
" Mas??," ucapnya berbisik sedikit malu-malu.
Mas Evan tanpa canggung membuka mulutnya dihadapan Wulan menunggu suapan tangan Wulan.
Bibik yang melihatnya seperti tersipu-sipu malu melihat tuan dan nyonya. Safa Marwah jadi ikut tertawa dengan menahan mulutnya. Dan dengan berlahan ia menyuapi nasi goreng itu ke dalam mulut suaminya.
Dan mas Evan merasa cukup puas hal itu. Pagi ini ia senang karena kedua putri mendapat kasih sayang dari ibu baru mereka.
ππππ
Diruang TV Safa Marwah mengajak mamanya untuk bermain bersama. Mas Evan juga ikut ambil bagian dalam permainan itu.
Dan permainan yang dimainakan adalah tepak perkalian. Dan siapa yang tak bisa menjawab maka akan dicoret wajahnya.
" Hhmm, kalo perkalian mah ini kecil banget sama papa, " ujarnya percaya diri, secara ia dulu adalah murid terpintar disekolah bahkan menjadi juara tiap tahunnya.
" Uuuuuuhh, sombongnya," sindir Wulan yang mencari dukungan dari Safa Marwah.
Safa Marwah tertawa geli melihat papanya yang yakin tidak akan kalah. Wulan dan mas Evan sebagai peserta lomba, sedangkan Safa sebagai juri dan Marwah sebagai penanya.
" Safa mulai yaa 1..2..3!!!!".
"7x8???"
Wulan dan Mas Evan "56" jawab bersamaan
"4x7???"
"28" jawab mas Evan dan Wulan kembali menjawab sama.
"4x9???"
Wulan dan Mas Evan "36"
Pertarungan itu pun begitu sengit Wulan dan mas Evan menjawab dengan benar. Sampai Marwah kewalahan mengacak perkalian itu.
"1x2" ujar Marwah dengan suara agak pelan
"2" jawab Wulan cepat.
"22" jawab mas Evan yang keceplosan.
" Papa salaaaah!!!, " sahut Safa cepat menilai.
" Yeeeeee!!!!, " sorak Wulan senang.
Mas Evan menepuk mulutnya yang salah menyebut angka 2 menjadi 22.
" Yeyee,, papa kalah, " sorak Marwah seraya berjoget senang.
Wulan pun ikutan toss bersama kedua putrinya secara bergantian.
" Naaah, sebagai hukumannya mama harus coret wajah papa, " ujar Marwah antusias memberikan lipstik milik mamanya ke tangan mamanya.
Wulan dengan wajah tersenyum licik dengan cepat membuka penutup lipstiknya dan ia tengah membayangkan gambar apa yang akan ia gambar di wajah mas Evan.
Mas Evan dengan mata terpejam dan pasrah menyerahkan wajahnya dihadapan Wulan. Safa Marwah tertawa geli melihat papanya yang tengah menerima hukuman.
Tiba-tiba tangan Wulan meraih dagu mas Evan. Ia pun berdesir pelan.
" Ssssssss..,bagaimana kalo ini, " tukas Wulan semangat seraya mulai menjatuhkan ujung lipstiknya di atas bibir mas Evan. Ia memakainkan lipstik ke bibir seksi mas Evan dengan menahan tawa.
Dan ditengah kegiatan memberi lipstik dibibir si penerima hukuman, mata mas Evan pun terbuka dan ia menatap Wulan dengan lekat dengan jarak yang dekat.
" Apa kau ingin mencium bibirku yang merah ini??" ucap mas Evan pelan setengah berbisik, yang membuat wajah Wulan merah merona. Dan lipstik itu terhenti tepat di tengah bibir mas Evan yang mengoda.
Wulan yang sedikit kelabakan pun terpaku mendengar perkataan mas Evan yang terang-terang mengodannya didepan anak-anak. Namun ia disadarkan oleh Safa yang meraih lipstik ditangannya dan dengan cepat ingin mencoret wajah papa.
Marwah juga dapat bagian untuk menghukum papanya. Ia mencoret dengan antusias pipi papanya seolah itu blush on. Namun karena terlalu semangat tanpa sengaja marwah mematahkan lipstik mamanya.
Wajah takut marwah pun terpancar disana.
" Mama.. maaf mah" ujar Marwah takut melihat Wulan.
" Gak papa sayang, " ucap Wulan dengan lembut meraih Marwah yang terlihat takut.
" Gak papa, mama masih punya lipstik lainnya kok, " ucap Wulan menenangkan Marwah.
Safa merangkul Marwah yang sedikit tak tenang karena telah berbuat salah.
" Udah sayang gak papa, mama gak marah".
" Ya udah yuk mandi, kita jalan-jalan, " tawar mas Evan.
Safa Marwah pun mengangguk dan mereka bangun diikuti Wulan yang bersamaan ikut masuk kedalam kamar putrinya.