One Step Closer

One Step Closer
57



Wulan menunggu taksi lewat didepan studio Kak Ari dengan cemas. Karena Langit berlahan sudah mulai menjatuhkan butiran air hujan rintik-rintik kebumi. Ia melihat sekitar dan berjalan berlahan untuk menyeberang jalan. Namun betapa terkejutnya Wulan, seorang pria menghalangi jalannya, dan dia adalah mas Rendi.


Mas Rendi/"ikut aku!!" ucapnya dingin dan dengan kasar tangannya meraih pergelangan tangan wulan dan menariknya dengan paksa mengikutinya.


Wulan yang berusaha melepaskan tangannya dari mas Rendi dengan terpaksa mengikuti langkah mas Rendi yang kuat menarik tangannya menuju parkiran bawah parkiran kantor kak Ari yang terlihat lengang karena sudah malam dan karyawan sudah pada pulang.


Wulan/"mas!!! tolong lepasin!!" ujarnya dingin ketika langkah mereka terhenti dan kini mas Rendi menatapnya dengan wajah marah.


Mas Rendi/"Wulan?? apa yang sudah kamu lakukan??"ujarnya menahan marah dengan rahang yang kentara.


Wulan/"apa??"


Mas Rendi/"ada hal apa yang kamu kerjakan bersama Kak Ari??"


Wulan/"aku???" napasnya seakan sesak ingin berkata.


"aku akan menikah!!" ujarnya tegas. Dan saat itu suara hujan lebat pun menyambut terkejutan mas Rendi dengan pernyataan Wulan yang menusuk hatinya.


Mas Rendi/"Apa!!!" menikah??"ujarnya tak percaya dengan ucapan wulan.


Wulan/"ya, aku akan menikah mas!!" ujarnya menahan sakit digengaman mas rendi.


Mas Rendi/"apa kau gila??? bagaimana kau bisa melakukan ini??" ujarnya masih syok.


Wulan/"kenapa?? dia pria yang baik, dan semua sudah ditentukan,wulan akan menikah dalam waktu dekat!!" imbuhnya.


Mas Rendi/" WULAN!!!" Bentaknya marah.


"bagaimana bisa kau sejahat itu pada ku?? apa artinya aku untuk mu??"


Sesaat tubuh wulan bergetar. Ia benar-benar membuat rendi marah. Matanya melebar merah menahan gemetar ditubuhnya.


Wulan/"kau??? kau hanya seorang mantan bagi ku, dan mas kini sudah berkeluarga. Jadi tak ada alasan lain untuk wulan menjelaskan alasan wulan menikah!!" ujarnya menahan gemetar tubuhnya.


Mas Rendi/"apa yang kau inginkan wulan?? BERITAU AKU!!" ujarnya dengan suara berat.


"apa aku harus bercerai dengan luna??? apa kau butuh harta?? apa kau ingin aku untuk tinggalkan keluarga ku?? KATAKAN WULAN??" ujarnya frustasi.


Wulan benar-benar membatu mendengar perkataan mas rendi yang mengila.


Wulan/"gak mas!! aku tak mencintaimu lagi!!


Cukup jangan memaksaku lagi mas" pintanya seraya melepaskan tangannya dari gengaman mas rendi yang terpaku dengan kenyataan yang wulan katakan. Dan Wulan pun berusaha untuk pergi meninggalkan mas rendi.


Namun baru beberapa langkah Wulan menjauh dari mas Rendi. Tubuh wulan di rengkuh oleh kedua tangan mas rendi, yang menguncinya dalam pelukan mas Rendi.


Wulan/"mas?? kamu apa-apa sih?? lepas??" pintanya meronta.


Mas Rendi/"gak wulan?? sampai kapan pun kamu gak akan mas lepas!!" ucapnya seraya membalikkan tubuh wulan untuk menghadap pada dirinya yang terlihat marah.


"Walau kau berkata bukan??? tapi kau tetap Wanita ku!!" ucapnya yang sedetik kemudian melumat bibir wulan dengan paksa.


Wulan yang tak terima dengan ciuman paksa itu merontak dengan kuat. Hingga ciuman buas mas rendi terlepas karena dorongannya. Dan...


PLAK.. wulan yang marah menampar wajah mas rendi dengan kuat.


Wulan/"mas gila??" ujarnya dengan nafas sesak tersenggal karena gemuruh hatinya yang sakit menerima perlakuan mas Rendi seolah wulan seorang pelacur.


Dan Wulan pun berlari dengan menerobos hujan lebat itu. Ia berlari jauh dengan tak tentu arah didalam lebatnya hujan.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Wulan pun tiba di toko dr. Dessert dengan basah kuyup. Hal itu membuat mbak Nita dan Wiwit yang tengah membereskan toko pun jadi terkejut. Mereka melihat wajah wulan yang pucat pasih. Dan seketika tubuh Wulan limbung dan jatuh di sisi pintu tokonya.


Mbak nita/"wulaaaan?? ya Tuhan apa yang terjadi pada mu?" ujarnya yang panik melihat tubuh wulan yang dingin dengan wajah pucat.


Wulan/"mbak.. to..long wu..lan!! ucapnya lirih berbisik dengan lemah karena tak sanggup lagi berdiri.


Dengan cepat Wiwit membantu mbak nita untuk memopong Wulan ke sofa mini cafe. Desi yang baru siap dari toilet pun terkejut dengan kerumunan mbak nita dan mbak wiwit yang memopong mbak wulan yang terlihat pucat pasih dengan baju bahas kuyup.


Wiwit/"des bikinin teh hangat!! cepetan yaa!!!" perintahnya yang melihat desi yang bengong.


Desi/"ah!! baik mbak segera!" jawabnya yang panik berlari cepat kedapur untuk membuat teh manis hangat.


Mbak nita mencoba menyadarkan wulan dengan menepuk-nepuk wajah wulan dengan berlahan.


Mbak nita/"wulan??? wulan?? " ucapnya berulang.


Wiwit dengan cemas berlari ke meja kasih dan mencoba merogoh laci meja untuk menemukan minyak angin atau balsem mint untuk mbak Wulan.


Dan akhirnya ia menemukan balsem mint dan bersegera kembali ketempat mbak Wulan dibaringkan. Ia mengisap secukupnya ke kening dan punca hidung Wulan.


Wiwit/"apa kita bawa mbak wulan ke rumah sakit aja mbak??" tanyanya pada mbak nita.


Sesaat tangan Wulan meraih tangan wiwit yang tengah memegang pundaknya. Dan Wulan menggeleng pelan.


Wulan/"ja.. jangan!!" ucapnya dengan suara parau.


Mbak nita meraih tangan wulan yang dipengang masih dingin.


Mbak nita/"des ambilkan selimut tebal mbak Wulan diatas, cepat!!!" perintahnya.


Desi pun reflek bangun dan kembali berlari kecil menuju rumah atas wulan dan bersegera masuk kedalam kamar wulan dan menarik bad cover yang terletak diatas tempat tidur wulan. Ia pun turun segera menuju mini cafe dan segera menaruh diatas tubuh mbak wulan untuk menghangatkan tubuh mbak wulan.


Tiga puluh menit berlalu. Wulan berlahan membaik wajahnya tak sepucat tadi, ia mencoba bangun berlahan. Dan mbak nita berusaha menopang tubuh Wulan.


Mbak nita/"kau sudah baikan??"


Wulan mengangguk pelan.


Wiwit/"mbak sebaikanya kerumah sakit aja yaa?? kayaknya kondisi mbak masih belum terlalu baik??" cemas.


Wulan/"mbak udah agak baikan" ucapnya pelan. Dan ia berusaha bangun.


Wiwit membantu jalan Wulan yang masih goyang menuju rumah atasnya. Mbak nita melihat itu tak tenang dengan terpaksa membuka tas wulan dan meraih handphone wulan. Dan mbak nita menelfon dr. Evan segera.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Jam menunjukkan pukul 10 malam. Mbak nita menemani wulan dirumah atasnya. Wiwit juga masih setia menunggu mbak nita merawat wulan. Mereka tak tega meninggalkan wulan yang terlihat begitu tak baik kondisinya. Hanya desi yang sudah pulang dari toko, karena jarak rumahnya agak sepi bila ia pulang telalu telat.


Mbak nita mendekat pada wulan yang terduduk lesu di sofa ruang tvnya yang mungil.


Wulan/"udah, mbak sama wiwit balik aja. Wulan udah jauh baikan" ujarnya dengan suara berat.


Mbak nita/"mbak gakk bisa liat kamu gini, kecuali kamu mau mbak bawa ke rumah sakit"


Wiwit/"iyya mbak wulan"


Wulan/"maaf mbak jadi repotin, tapi wulan udah baikan dan sebentar lagi wulan akan minum obat dan langsung tidur" ujarnya yang merasakan suhu tubuhnya meningkatkan panas.


Namun suara bel toko mengalihakan ketiganya. Wulan terheran dijam segini siapa yang ketokonya??. Mbak nita yang seolah tau turun seketika meninggalkan wulan dan wiwit berlaru turun kebawah.


Wiwit berjalan mendekat kearah wulan dan mencoba memegang kening bosnya itu, dan ia merasakan tubuh wulan yang panas.


Wulan/"mbak gak papa, udah kamunpulang aja" ujar wulan yang disertai dengan terbukanya pintu rumah atasnya oleh mbak nita yang telah kembali dari bawah.


Berlahan sosok dibelakang mbak nita terang dibawah sinar lampu tengah rumah wulan yang ternyata dr. Evan yang melihat wulan dengan wajah cemas.


Wulan terpaku melihat dr. Evan kini hadir di rumah atasnya. Mbak nita berjalan menuju wulan.


Mbak nita/"maaf wulan, mbak benar-benar cemas jadi mbak pikir dr. Evan bisa menolong mu untuk memeriksa keadaanmu sekarang?" ucapnya seraya menarik tangan wiwit untuk bangun dan berjalan kesisi samping dekat meja makan mungil milik wulan.


dr. Evan berjalan kehadapan wulan yang terlihat terpaku. Dan ia menekukkan satu lututnya dihadapan wulan seraya berlahan menyentuh kening wulan. Sesaat hati wulan sakit.


Mbak nita/"kalau begitu kami pulang dulu yaa wulan" ucapnya yang pamit bersama wiwit yang diam dan menyerahkan wulan pada dr. Evan.


dr. Evan/"apa yang terjadi??" ucannya lembut kepada wulan.


Wulan tetap membisu, bening-bening kaca dimatanya seolah akan tumpah. Namun ia mencoba untuk tak menjatuhkan air mata. Sesaat ia mencoba untuk bangun. Namun tangan dr. Evan menariknya berlahan tubuh wulan untuk kembali duduk.


dr. Evan/"apa ada hal berat yang terjadi??" ujarnya yang menyadari bola mata wulan berkaca-kaca.


Wulan tetap tak menjawab.


dr. Evan/"baiklah, sebaiknya aku mengambil dulu obat dimobil, tunggu laah disini" pintanya lembut seraya bangun dan membalikkan badannya untuk melangkah menuju pintu keluar rumah wulan.


Namun ketika tangan dr. Evan akan meraih pedal pintu, tiba-tiba dr. Evan merasakan tubuhnya dipeluk dari belakang oleh kedua tangan wulan yang melingkar lembut dipinggangnya. Berlahan wulan menyadarkan kepalanya pada punggung dr. Evan yang bidang.


Wulan/"sebenar saja!!" pintanya dengan suara parau. Dan berlahan air mata wulan jatuh dalam diamnya. Hatinya sakti mengingat kejadian dengan mas rendi yang membuatnya syok berat, dan hati wulan terluka ketika mas rendi menciumnya paksa bak pelacur.


dr. Evan tak menjawab, ia menuruti permintaan wulan yang terlihat sedih. Beberapa saat dr. Evan hanya bisa bertanya-tanya ada hal apa yang membuat wulan menangis lagi.


πŸ’πŸ’πŸ’


Salam sahabat, apa kabar pecinta setia one step close??? semoga baik kapan dan dimana pun kalian berada. Aaaamiin.


Terima kasih tak terhingga untuk kesetiaan kalian yang masih mau bersabar menunggu up tiap partnya one step close yang agak melambat. Bianhe sahabat karena satu dan lain hal jadi sering gak bisa up tepat waktu. πŸ˜₯πŸ˜₯


Tapiiii... tetap mohon tidak lupa selalu memberikan like dan koment kalian di tiap partnya yaa?? karena kalian saya jadi semangat nulis. Dan tetap saya memohon maaf sebasar-besarnya jika ada hal-hal yang kurang berkenan baik tulisan atau konten medis yang sejujurnya ini hanya hayalan saya yang miskin ilmu πŸ˜“πŸ˜“. Tapi dicoba dinikmati aja yaa hahahaha πŸ˜†πŸ˜†


I love you Sahabat πŸ˜™πŸ˜™