
Empat hari berlalu setelah pemotretan prewed wulan dan dr. Evan. Wulan menjalani hari-harinya seperti biasa. Dan tentunya kedua kembar dengan setia berkunjung ketoko ibu baru mereka untuk bercengkerama.
Siang itu Wulan duduk di mini cafe miliknya bersama Safa Marwah yang tengah mengerjakan PR dari miss Suri guru privat bahasa Inggris. Dan suara notif pesan masuk pun mengalihkan perhatian Wulan yang tengah mencoba membantu PR Marwah.
Ia meraih dan membuka layar handphonenya seketika. Wulan membaca dengan serius pesan tersebut dan berlahan dua sudut bibirnya pun menyunggingkan senyum ceria.
Beberapa detik kemudian ia pun membalas pesan tersebut dengan cepat, terlihat kedua matanya terpancar rasa bahagia.
Safa/"mama wulan kenapa??"
Wulan/"kakek baru kalian akan datang, jadi mama senang sekali"
Marwah/"kakek???"
Wulan/"iyya, ayahnya mama mau datang minggu depan, nanti kalian berdua harus baik yaa sama kakek" ucapnya senang.
Dan tak berselang lama Safa Marwah pun mengangguk paham akan intruksi wulan. Sembari melihat kedua wajah putri angkatnya. Tiba-tiba handphone Wulan berdering, dan hal itu mengalihkan perhatian mereka kepada deringan telfon itu. Wulan membaca cepat nama yang tertera di layar telfon itu dan terlihat nama kak Ari tertera disana menunggu jawaban telfonnya dari Wulan.
Wulan/"Safa, Marwah!! sebentar yaa mama angkat telfon temen mama dulu"ucapnya seraya bangun dan menerima telfon dari kak Ari.
Wulan/"Hallo!!!"
Kak Ari/"ya hallo wulan??? sore ini apa bisa datang ke studio kita??"pintanya ramah
Wulan/"sore??"ucapnya seraya melihat jam tangan.
"oh, oke.. ada hal apa kak??"
Kak Ari/"ada hal yang ingin kakak pastikan sekali lagi dengan mu dan juga menyerahkan contoh undangan yang telah dicetak untuk kau setujui desainnya"
Wulan/"ah, begitu rupanya. Oke sore ini wulan akan datang bersama dr. Evan"ujarnya singkat.
Kak Ari/"baik laah, kakak tunggu distudio sore ini"
Wulan/"oh.. oke"dan komunikasi itu pun terputus.
Berselang dari itu, Wulan pun segera mencari no telfon dr. Evan. Namun Wulan urungkan, berlahan jemari-jemari Wulan mulai mengetika dilayar handphonenya.
"Salam, dr. Evan. Maaf jika menganggu waktunya, apakah sore ini Dokter bisa ikut pergi dengan Wulan ke studio kak Ari?? ada beberapa hal yang ingin dipastikan sekali lagi oleh pihak WO" Wulan. Dan pesan itu pun terkirim ke dr. Evan.
Sesaat wulan merasa tak enak karena mengirim pesan dijam sibuk dr. Evan. Dengan berasaan cemas ia menunggu balasan dari dr. Evan.
Namun beberapa menit kemudian suara notif pesan pun masuk sehingga Wulan pun terkaget sendiri. Dan dengan segera ia membuka layar pesan itu.
"Maaf Wulan, sepertinya aku tak bisa ikut sore ini karena sudah ada jadwal dengan pasien yang konsul. Aku percayakan setiap keputusan mu untuk acara pernikahan kita, kau pasti beri yang terbaik" dr. Evan.
Entah kenapa ada sedikit rasa kecewa dari balasan dr. Evan. Namun ia pun paham bahwa tugas seorang dokter memang melayanin pasien.
Tapi dari hal itu semua, Wulan menyukai perkataan dr. Evan "Aku percayakan setiap keputusanmu untuk acara pernikahan kita". Entah kenapa dr. Evan selalu punya bahasa yang mendalam ketika berbicara. Dan selalu hal itu membekas di hati wulan.
Wulan/"fuuuh" lepas nafasnya.
Dan Wulan pun kembali duduk bersama kedua putrinya sembari kembali membantu mengerjakan PR keduanya.
πππππ
Sore itu setelah anak-anak pulang dari tokonya, Wulan bergegas ke rumah atas untuk mengambil tas merah fossilnya.
Dan Wulan turun berlahan dengan membenarkan ikatan rambutnya.
Wulan/"wit!! mbak nita mana??"
Wiwit/"ah itu mbak lagi beli bahan tambahan untuk bahan kue yang kurang"
Wulan/"loh?? bukannya sudah dicatat dan sudah dikirim oleh cici tadi pagi???"ujarnya mengenyit dahi.
Wiwit/"iyya mbak, bahan sama mbak cici udah lengkap, cuma ada beberapa bahan yang harus di cari sendiri oleh mbak nita, katanya untuk roti dengan resep baru"
"ya udah kalo gitu mbak pergi sebentar yaa ada perlu sama pihak WO"
Wiwit/"baik mbak, jangan lupa bawa payung kayaknya bakal hujan lebat karena mendung banget".
Wulan/"gak usah, kan naik mobil!!"
Wiwit/"laaah tapi kan mobil dipakek sama mbak nita"
Wulan/"hah??? oh oke deh, gak papa lagian cuma mentar naik taksi juga gak akan kehujana kan"imbuhnya lagi seraya berjalan meninggalkan wiwit dan ia pun keluar dari tokonya. Ketika diluar toko ia pun melihat kearah langit yang memang berawan hitam, dan yakin pasti akan ada hujan lebat.
Namun Wulan pun berjalan cepat mencari taksi kosong. Dan ia menemukannya seketika.
πππππ
Wulan sampai di studio kak Ari di jam 5 sore. Ia bergegas naik ke lantai atas studio WO itu berkantor. Terlihat beberapa pegawai menyapa wulan dengan ramah, ada beberapa dari mereka malah menyambut wulan dengan sangat ramah. Memang karyawan WO kak ari bukan orang baru untuk wulan, dalam beberapa kesempatan Wulan juga ikut dalam event yang diselenggarakan oleh WO kak Ari.
Sebenarnya hal yang kecil untuk WO kak Ari mengurus acara pernikahan Wulan dan dr. Evan denganhanya mengundang 350 tamu. Namun karena telah mengangap Wulan sebagai adik angkatnya, maka dari itu kak Ari setuju untuk bertanggung jawab mengurus persiapan pernikahan Wulan dan dr. Evan.
Sesampai Wulan pada studio kantor kak Ari ia masuk berlahan menyapa kak Ari yang tengah duduk berdiskusi dengan beberapa karyawannya.
Wulan/"kak??"
Kak Ari/"eh, Wulan ayo masuk aja"ujarnya cepat.
Wulan pun masuk dengan berlahan ia pun mengikuti kak Ari ke sebuah sudut kantornya yang terdapat kursi sofa yang nyaman untuk menyambut para klien.
Kak Ari/"duduk dulu, kakak ambil filenya biar kamu bisa liat rinciannya"
Wulan hanya mengangguk menyetujui intruksi kak ari. Dan tak berselang lama kak Ari datang dengan beberapa lembar kertas dan laptop mini ditangannya. Setelah kak Ari meletakkan semua diatas meja, ia menyerahkan kartu undangan ke arah Wulan. Wulan pun menerima dengan bingung.
Wulan/"???"
Kak Ari/"itu undangan kamu yang akan kita cetak secepatnya agar bisa segera diedar ke para undangan".
Wulan melihat dengan antusias, desain yang sederhana untuk tampak depannya tapi mewah dan elegan didalam. Warna crem dipadu dengan tinta emas itu menghias indah undangan tersebut yang dibubuhi dengan selembar foto prewed mereka yang terlihat indah. Tersungging senyum puas Wulan melihat hasil desain kak Ari, ia bahkan tak menyangka bahwa undangannya akan se mewah ini.
Kak Ari/"ini desain yang telah kita bereskan, dengan view yang kamu ingin kita dapat rooftop hotel seperti yang kamu mau. Untuk dekorasi juga sudah di desain seperti contoh yang pernah kamu kirim ke kakak, cuma kita modifikasi dibeberapa bagian sehingga desain itu jauh lebih indah ketika di foto"ujarnya serius ketika memperlihatkan layout visual di dalam komputernya.
Wulan/"makasih kak, wulan gak nyangka akan sebagus ini kakak mendesainnya" ucapnya tulus.
Kak Ari pun tersenyum puas karena Wulan menyukai hasil kerjanya. Dan setelah itu kak Ari juga membahas sovenir yang telah siap juga beberapa hal soal menu tambahan di meja VVIP. Dengan diskusi yang panjang kak Ari dan Wulan pun menyudahi semua dengan hanya memperbaiki sedikit hal saja yang diperlukan pada saat acara.
Sesaat mereka pun berbicara santai dengan membahas fenomena event di Indonesia yang luar biasa pesat maju dengan berbagai macam persaingan bisnis dengan mendatangkan berbagai hal terbaru dari luar negri.
Hal itu juga tak luput dari Wulan karena ia juga merasa kewalah akhir-akhir ini dengan permintaan pelanggan yang memesan wedding cake dengan desain-desain luar negei yang rumit namun indah.
Pembicaraan hangat itu pun berlalu.
Kak Ari/"Wulan?? sebenarnya beberapa hari lalu kakak dan rendi bertemu"
Sesaat wulan terdiam.
Kak Ari/"ia seperti bukan rendi yang dulu"
Wulan/"apa kakak memberi tahunya soal pernikahan ini??"
Kak Ari/"tidak, tapi foto prewed mu yang dicetak oleh bayu sempat ia lihat diatas meja kerja kakak saat itu!" ujarnya cemas.
Wulan/"ah, tak apa. Lagi pun kami sudah lama berlalu, mas rendi sudah dengan kehidupannya sendiri. Jadi tak ada hal yang harus dikhawatirkan" ucapnya dingin seraya mengambil undangan miliknya dan bersegera bangun dari sofa itu.
"Wulan balik kak, terima kasih sebelumnya, salam untuk istri kakak" ujarnyaa seraya berjalan berlahan untuk meninggalkan kak Ari yang tak bisa berbicara lagi.
Kak Ari hanya memandang punggung wulan yang keluar dari studio kantornya. Dan menghilang dari matanya.