
Pagi itu Wulan bangun seperti biasa, ada yang membuat beda hari ini, karena ia akan ke pesta temannya di salah satu hotel ibu kota. Wulan berdandan sederhana dengan gaun putih yang senanda dengan sepatu heels yang akan dikenakan. Wiwit datang lebih awal dari Mbak Nita, dan akhir-akhir ini suasana toko trus stabil.
Wulan turun berlahan, ia menenteng sepatu heels dan tas pesta kecil untuk menaruk handphone dan beberapa lembar uang yang akan ia butuhkan nanti.
" Waaaah, Mbak cantik banget kayak mau nikahan aja!!, " puji Wiwit melihat dandanan Wulan yang cantik.
" Ah, kamu bisa aja, Mbak jalan dulu yaa!! titip toko".
" Siap boss!!, " ucapnya dengan mengacungkan jempolnya.
Wulan pun berjalan menuju depan tokonya, ia tak membawa serta mobil Freednya, karena jam 10 nanti ada pengantaran 400 box kue ke rumah seorang pelanggan.
Wulan berjalan menunggu taksi online yang ia pesan yang akan mengantarnya ke gedung hotel acara.
Tak lama terlihat sebuah mobil mobilio putih menghampirinya.
" Anda, Mbak Wulan??, " tanya supir Mobilio tersebut.
" Iyya, saya Pak, " jawab Wulan cepat.
" Baik, silahkan maksuk Mbak, " ujarnya sopan.
" Baik pak, terima kasih, " balas Wulan ramah.
Wulan pun masuk kedalam mobil Mobilio itu lalu mobil putih itu pun melaju pelan menuju tujuan pesanan Wulan.
Wulan melihat-lihat layar handphonenya yang dengan teliti, ada beberapa gambar yang terkirim di group pertemanannya. Dan juga termasuk teman-temannya yang telah duluan hadir diacara telah memposting picture mereka dilaman group.
Tersungging senyum Wulan yang melihat lucu tingkah para teman-teman seangkatannya yang telah banyak berubah.
Tak berselang lama, mobil Mobilio putih itu masuk keperkarangan hotel. Wulan turun dengan terlebih dahulu membayar sesuai tagihan pada taksi online tersebut.
Wulan berjalan santai dan disambut oleh beberapa pelayan hotel yang dengan ramah menyapa Wulan. Ia berjalan seraya melihat beberapa tamu undangan yang tengah berdiri disana. Namun langkah Wulan terhenti ketika namanya disapa oleh suara seorang wanita yang kini mendekapnya dari belakang.
" Wulaaaan???, " panggilnya keras. Seraya berjalan cepat memeluk Wulan dari belakang.
Wulan reflek melihat pada wanita yang mendekapnya.
" Suci??, " ucapnya yang terpanah akan wajah Suci yang terlihat beda dari terakhir mereka bertemu.
" Kamu sedang hamil???, " tanya Wulan.
" Sudah tunggu hari, " sahutnya lagi.
Wulan hanya tersenyum dan kini ia memeluk Suci dengan perut menghalangi mereka.
" Kamu masih cantik saja, Wulan, " puji Suci yang kagum pada wajah temannya yang sedari dulu tak banyak berubah, hanya polesan make up tipis menambah indah wajah Wulan.
" Kamu ini, bisa saja," sanggah Wulan malu.
" Kamu sudah lama???, " tanya Suci.
" Belum, baru saja sampai, " jawab Wulan seketika.
" Ya sudah, yuk kedalam, eh, lucu yaa Fania akhirnya menikah juga dengan ketua kelas kita, " certia Suci.
" Hhmm, iya, " jawab Wulan mengangguk dan mereka pun berjalan kedalam ruangan aula yang sudah terlihat penuh.
" Ck, untung aja gue pakek sepatu teplek, kalo gak bisa kacau nie, " celetuk Suci.
" Lagian kamu juga, udah tau mau lahiran kenapa keundangan segala??, " timpal Wulan.
" Hehehehe, kapan lagi bisa kumpul kalo gak moment-moment gini, jadi kudu pegi, " ujarnya senang.
Wulan hanya mengeleng saja melihat tingkah Suci yang sedari dulu selalu begitu.
" Kita pojokan aja yaa??"
" Hhmm, oke, " Wulan setuju.
Langkah keduanya pun seiraman melangkah mengelilingi aula itu untuk mencari pojok yang dimaksud Suci. Dan akhirnya keduanya mendapatkan tempat duduk yang pas walau tidak benar-benar pojokan.
Wulan duduk sembari memperhatikan Susi yang terlihat susah untuk duduk karena perut ya sudah terlalu besar.
" Apa bayi kamu kembar??"
" Tidak, " jawab Suci yakin.
" kamu yakin??, tapi perut kamu besar sekali".
" Aku berpikir gitu, cuma kata dokter gak, cuma satu dan ini boy, " tutur ya lagi.
Wulan mengangguk dan matanya fokus melihat Fania yang keluar dari persembunyiannya. Ada hal yang membuatnya iri melihat pernikahan itu. Namun tanpa sadar ada suara yang mengusik lamunnya melihat si pengantin Fania.
" Maaf Mbak, apa bangku ini kosong??, " tanya seorang wanita muda pada diri Wulan.
" dr. Luna??, " gumamnya terkejut.
" Eh, Mbak Wulan??, ya ampun Mbak?? saya jadi pangling liat Mbak Cantik banget, " sahut dr. Luna yang menyapa dan memeluk tubuh Wulan dan ternyata disisi dr. Luna ada mas Rendi yang melihatnya dengan tajam.
Wulan seketika kaku, jantungnya berdebar kuat.
" Sama siapa Mbak??, " mencoba melihat kesisi samping duduk Wulan yang terlihat Suci tengah mencoba menyapa dr. Luna juga.
" Sama temen, " jawab Wulan singkat.
" Ah, Mbak, ini kenalin suami saya Rendi, " ujar dr. Luna senang memperkenalkan suaminya kepada Wulan.
Wulan seketik berkeringat dingin, jantungnya terasa nyeri. Wulan mencoba sebisa mungkin untuk tenang dihadapan Rendi.
" Mas, ini loh Mbak yang buat wedding cake kita, makasih yaa Mbak, wedding cakenya bagus banget dan rasanya juga enak, bener puas Mbak, " puji dr. Luna sumbringah.
Wulan hanya tersenyum kecut, ia merasakan tatapan Rendi yang tajam menatapnya. Wulan berusaha untuk mengalihkan pandangannya seketika.
" Mbak, temennya siapa dari pengantin??, " tanya dr. Luna.
" Saya dari Fania, teman sekolah dulu".
" Ooh, berarti temannya Reno juga donk??, saya temennya Reno waktu kuliah dikedokteran, berarti kita seumuran donk??, " tutur dr. Luna senang.
" Ah, iyya, " sahut Wulan canggung.
Prosesi akad nikah Fania dan Reno berjalan lancar. Kedua mempelai terlihat serasi dengan adat minang yang kental dan terlihat dari mulai dekorasi juga pakaian yang dikenakan.
Ketika acara akad nikah selesai, acara langsung diubah keacara resepsi yang digelar ditempat yang sama.
Para tamu berbaur kearah makanan yang terhidang disisi ruangan aula. Bermacam hidangan terlihat disana.
" Kita ketempat Fania terus, yuk??, sebelum nantik gue gak kuat lagi, " ajak Suci kearah Wulan.
" Baik, yuk, " ucap Wulan yang bangun meninggalkan bangkunya.
Wulan berjalan cepat, untuk bisa menghilang dari hadapan Mas Rendi dan dr. Luna. Hati Wulan benar-benar kacau melihat keduanya sekaligus, padahal seharusnya ia sudah tau hal yang seperti ini pasti akan terjadi. Bertemu dengan mas Rendi dengan kondisi telah beristri.
Wulan mengikuti Suci yang berjalan cepat memecah kerumunan tamu yang juga ingin bersalaman dengan kedua pengantin baru yang terlihat bahagia. Namun pikiran Wulan tak lagi pada acara itu, ia ingin cepat-cepat pulang.
Langkah Wulan terhenti ketika melihat sisi taman hotel yang indah diterpaan matahari, Wulan berjalan kesisi hotel itu, mencoba menikmati paparan matahari yang sedikit sendu namun hangat.
Namun tanpa Wulan sadari, tangannya diraih kasar oleh seorang pria. Wulan tersentak kaget melihat pria yang menariknya.
" Mas Rendi???, " ucapnya terkejut
" Ikut aku!!"
" Mas, lepas!!, " pinta Wulan meronta pada Rendi yang kini menarik Wulan dengan paksa mengikutinya.
"Mas, tolong lepas, " ucapnya lagi, dan Rendi tak peduli ia terus menarik Wulan kesisi samping taman hotel yang terlihat jauh dari kerumunan tamu.
Langkah mas Rendi berhenti dan seketika menarik tubuh Wulan kedalam pelukkannya.
Wulan membeku, matanya melebar menerima pelukkan mas Rendi yang tiba-tiba. Namun Wulan mencoba melepaskan pelukan itu dengan paksa.
" Mas, sadar laah!!!, kamu sudah beristri, tolong untuk jaga sikapmu!!, " ucap Wulan marah.
" Menikahlaah denganku??, cukup kamu terus berasa disampingku, " ucap Rendi sungguh memohon pada Wulan.
" Mas??, " sela Wulan marah dengan ucapan Rendi.
" Kamu takut gak bisa kasih aku keturunankan??, sekarang ada Luna yang bisa gantiin kamu untuk memeneruskan keturunan keluargaku, " ucapnya frustasi dengan meraih kedua lengan Wulan dan mencengramnya.
Wulan hampir dibuat gila oleh perkataan Rendi, hatinya sakti mendengarkan hal konyol itu.
" Kamu mau buat aku jadi wanita simpanan??, Mas, Wulan gak gila??, " sabut Wulan yang semakin kesakitan dengan cengkraman tangan Rendi.
" Kembalilah Wulan!!, aku benar-benar mencintaimu, " pinta Rendi setengah memohon dengan kepala tertunduk dihadapan Wulan.
" Kau tau setiap aku menyentuh Luna, yang aku bayangkan adalah kamu Wulan, kamu sudah membuat aku tergila-gila oleh kamu, kamu udah buat dunia mas terbalik Wulan, " ucap Rendi dengan setengah bergetar.
" Mas, to,,tolong lepas!!, " ucap Wulan yang tak tahan dengan cengkaram Mas Rendi. Dan tubuh Wulan semakin terpojok kesisi hotel.
Terlihat dari jauh, namun samar dari mata Wulan sosok yang berjalan cepat kearah Wulan yang kesakitan.
" Wulan !!!, " panggil dr. Evan dengan cemas, seraya mencoba menolong Wulan dari genggaman tangan Rendi.
Seketika cengkraman Rendi terlepas dari Wulan. Dan dengan segera Wulan berlari memeluk dr. Evan dengan wajah takut.
" Kamu baik-baik saja??, " tanya dr. Evan cemas pada Wulan dan merangkul tubuh Wulan untuk menjauh dari Rendi yang terlihat kacau.