One Step Closer

One Step Closer
7



Di dapur Dr. Dessert Wulan terlihat sedang menimbang-nimbang bahan untuk membuat kue dengan serius. Mbak Nita melihat dengan cemas karena Wulan masih terlihat tidak sehat.


" Wulan, kamu kok buat kue? kenapa gak istirahat aja??"


" Hhmm, Wulan gak bisa Mbak ?? semakin istirahat pikiran entah jadi tambah kemana-mana, jadi Wulan buat kue aja, " ujarnya seraya melanjutkan mengambil bahan lainnya untuk ditimbang.


"Hasil darah tadi gimana?"


" Oh, belum Mbak, mungkin karena udah sore juga jadi yaa kata dokter besok siang baru keluar hasil labnya ".


" Hhmm gitu yaa, oia tadi pagi si kembar cariin kamu ".


" Safa dan Marwah??".


" Iyya, Mbak bilang kamu sakit trus mereka sedih dan langsung balik ".


Wulan mengangguk, ia tau pasti keduanya kecewa tak menemukan Dessert kesukaan mereka Avocado Cake Box. Dan Wulan hanya tersenyum mengingat kedua pelanggan kecilnya itu yang sudah bagaikan obat jika berkunjung ke toko pasti mereka berusaha untuk bertemu dengannya.


Wulan melanjutkan lagi kesibukannya menimbang bahan, kali ini ia akan membuat 2 resep cake berbeda, dan ia menambah kan 1 resep avocado cake untuk kedua pelanggan kecilnya Safa dan Marwah yang mungkin mereka akan kembali lagi besok.


" Wulan, Mbak balik dulu yaa, udah dijemput soalnya ".


" Oh, oke Mbak, hati-hati dijalan ya ".


" Kamu kalo tengah malam butuh temen telfon Mbak aja biar Mbak nginap kemari ".


" Ah iyya Mbak, tapi Wulan udah jauh mendingan setelah minum obat dokter tadi ".


" Oh oke, dadaah , sampai ketemu besok, " seraya Mbak Nita berjalan menuju pintu keluar toko yang di ikuti oleh Wulan dari belakang.


" Yaa, dadaaah, " seraya Wulan menutup kembali pintu besi toko dan menguncinya.


" Oke lanjut ngebaking setelah itu istirahat," ujarnya sendiri.


Wulan pun berjalan menuju dapurnya dan kembali fokus dengan bahan-bahan kue.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Dirumah kediaman dr. Evan terlihat sunyi. dr. Evan masuk kerumah dengan berlahan dan ia berpas-pasan dengan wanita paruh baya yang sudah lama menjadi pengurus rumahnya.


" Sudah tidur tuan, " jawab Bibik.


" Tumben??, " ucapnya kaget.


" Katanya biar besok pagi cepet bangun ".


" Ooh, ya sudah makasih bik, boleh istirahat, " ucap dr. Evan seraya melepaskan dasi dan duduk di sofa tv dengan badan lelah.


" Baik tuan, permisi".


dr. Evan hanya mengangguk saja, dan tangan kanannya meraih handphone dari sisi saku celananya dan ia mendapatkan beberapa pesan dan email. Tapi ia tak membukanya, dr. Evan bangun menuju ke dapur seraya membuka kulkas dan meraih air dingin, namun ia melihat kotak-kotak transparan tersusun rapi disana.


" Banyak banget kuenya, " ujarnya aneh melihat 5 box cake yang tersusun didalam kulkas, dan ia meraih 1 kotak box sedang, lalu berjalan ke meja makan dan mengambil sendok dari sisi meja.


Ketika ia ingin membuka kotak box cake itu dokter membaca label yang berwarna merah.


"Dr. Dessert" ucapnya seraya membuka dan melihat cake tersebut dan memotong sedikit lalu tanganya menyuapi potongan itu kedalam mulutnya.


Sesaat dr. Evan menikmati kelezatan cake box tersebut, berlahan ia memotong lagi cake tersebut dan ia memakannya dengan berlahan, lagi kelezatan itu membuatnya tak bisa berhenti untuk memotong cake tersebut.


Ketika suapan terakhir dr. Evan sadar, berarti tidak salah kalo kedua anak gadisnya bisa berulang kali membeli cake di sana, cake yang dijual benar-benar enak.


Setelah merasa kenyang dr. Evan membersihkan meja dan box cake tadi dan ia berjalan menuju kamarnya.


Hari ini ia benar-benar lelah, hasil vote di rapat tadi pagi memutuskan bahwa Direktur rumah sakit harus segera diganti karena akan pensiun, dan hal itu menjadi sulit karena para staff menginginkan ia menjadi direktur baru rumah sakit.


dr. Evan pun bersegera membersihkan badannya dikamar mandi. Dibawah shower air hangat pikirannya seolah enggan beralih dari hasil rapat.


" Kalo jadi Direktur rumah sakit mungkin waktu bersama Safa dan Marwah akan semakin sedikit," gumam pikirannya dan ia menghela nafas panjang.


Selesai dengan kegiatan mandi, dr. Evan merebahkan badannya di kasur king size itu dengan meraih handphonenya lagi. Sesaat ia terpaku mendapat dengan pesan yang masuk dari nama Vivian, ia membuka pesan WA itu dengan berat.


" Izinkan aku membawa anak-anak ke Dufan minggu ini," Vivian.


Setelah ia membaca pesan itu ia meletakkan handphonenya disisi meja samping tempat tidurnya tanpa membalasnya. Ia menutup wajahnya dengan tangan kanan seraya menghela nafas panjang, 5 tahun sudah berlalu setelah ia bercerai dari Vivian, tapi perasaan yang sakit masih terasa sampai saat ini.