One Step Closer

One Step Closer
6



Jam 10 pagi, terlihat mobil Alphard putih memasuki parkiran depan toko Dr. Dessert.


"Papa tunggu disini yaa, kami turun dulu," ucap Safa senang.


"Tunggu yaa pa, " ucap Marwah seraya mengikuti kembarannya untuk turun dari mobil.


"Baik tuan putri, " jawab dr. Evan dengan senyum.


Dan ketika pintu mobil itu terbuka terlihat dua anak perempuan berlari penuh semangat masuk kedalam toko dengan riang. dr. Evan hanya tersenyum senang melihat kedua putrinya gembira, dan hari ini entah kenapa kedua anaknya meminta ikut mengantarnya ke rumah sakit.


Namun selang beberapa menit kemudian keduanya kembali dengan wajah lesu dan sedih. dr. Evan melihat bingung ketika keduanya masuk kedalam mobil dengan wajah cemberut.


"Loh Safa, Marwah kenapa? kok cemberut?, " tanya dr. Evan kaget melihat wajah kedua putrinya yang tiba-tiba sedih.


"Kue yang kita mau gak ada papa, " jelas Marwah dengan sedih.


"Tante yang buat kue sakit, " ujar Safa seakan ingin menangis.


Dengan segera dr. Evan memeluk keduanya, untuk menenangkan kedua putrinya.


"Udah gak papa, kita doain aja Tante pembuat kuenya cepat sembuh, biar bisa buat kue kesukaan kalian lagi yaa, " ucapnya seraya membelai keduanya.


dr. Evan sebenarnya panik kalo keduanya menangis, karena sudah pasti ia tak bisa kerumah sakit kalo kedua putrinya menangis.


"Ya Tuhan jangan hari ini, ku mohon !!," ujarnya berdoa semoga tak ada tangis kedua putrinya, karena hari ini ada rapat pengurus rumah sakit, dan ia sebagai wakil direktur rumah sakit harus hadir.


"Pak Didi, balik kerumah dulu antar Safa Marwah" ujarnya seraya memangku Safa.


"Baik Tuan, " ucap Pak Didi dan segera memutar balik setiur mobil kearah jalur pulang kerumah.


Selama perjalanan dr. Evan terus mencoba mengalihkan perhatian keduanya dengan mengajak bercerita soal bayi-bayi dirumah sakit. Hal itu menjadi andalan dr. Evan ketika keduanya sedang bersedih.


Safa dan Marwah berusia 8 tahun, walau pun mereka kembar tapi sifat keduanya cukup jauh berbeda, Safa sebagai kakak yang lahir lebih cepat 7 menit dari Marwah memiliki sifat penyedih, dan penakut. Sedangkan Marwah adiknya jauh lebih berani dan lebih tegas ia sering menenangkan kakaknya Safa jika sedang bersedih.


Sampai saat ini keduanya enggan untuk pergi kesekolah, dengan berbagai alasan mereka menolak untuk diantar kesekolah, Safa dan Marwah lebih suka Homeschooling.


Ketika sampai di perkarangan rumah, mobil Alphard putih itu tak juga membuka pintunya. Didalam mobil dr. Evan sedang berusaha menenangkan keduanya.


"Hhmm nanti malam kalo kalian belum tidur kita jalan-jalan ya," janji dr. Evan pada kedua putrinya.


"Papa janji yaa??, " ucap Safa yang diikuti Marwah yang melihat kearah papanya


"Iyya papa janji, sini papa cium dulu, " ujarnya seraya meraih wajah Safa untuk dicium dan setelah itu bergantian dengan Marwah yang dengan sabar menunggu untuk dicium oleh papanya.


"Papa kerja dulu yaa".


Dan keduanya pun turun dengan berlahan. Keduanya berdiri di sisi mobil melihat papa mereka.


"Salam untuk adek bayi ya papa, " ujar Marwah.


"Iyya tuan putri " seraya dr. Evan melambaikan tangan dan mobil Alphard itu pun melanju keluar dari perkarangan rumahnya. Dan seketika terlihat dr. Evan melongarkan dasi dan melemaskan badannya pada jok mobil.


"Huufffft, hampir aja Pak, " ujarnya.


"Iyya Tuan, untung aja Non Safa dan Non Marwah gak nangis, kalo gak bapak gak bisa kerumah sakit, " tutur Pak Didi dengan tetap fokus membawa mobil.


"Iyya.., hampir jantungan saya, " seraya dr. Evan meraih handphonenya dan mulai melihat notif pesan masuk.


Dan mobil itu berjalan lancar menuju rumah sakit. Lalu mobil itu pun kembali melewati toko Dr. Dessert dan sekilas dr. Evan melihat dari kejauhan toko yang hampir membuat kedua anaknya menangis.


"Anak-anak sering ke toko itu ya Pak??, " tanya dr. Evan kembali melihat Pak Didi.


"Toko kue pak??, iyaa kalo gak salah udah hampir 10 bulan saya antar Non Safa dan Non Marwah buat beli kue disitu, seminggu bisa 3 kali pak ke toko itu."


"Memang kue apa aja Pak yang dijual??"


"Banyak Tuan, tapi Non Safa dan Non Marwah suka kue yang dijual di dalam rak kaca itu Tuan, yang dingin, kayak kue ulang tahun gitu, enak loh, kadang Non Marwah suka tawarin untuk dikasih rasa ke saya, " ujar pak didi senang.


dr. Evan hanya menyeringai senyum mendengarkan cerita Pak Didi. Lalu ia kembali sibuk dengan layar handphonenya.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Sekitar jam 4 sore, di toko agak sedikit lenggang, dan terlihat Wulan turun dengan sudah terlihat rapi meski wajahnya sedikit pucat.


"Kamu sudah sehat??, mau kemana??, " tanya Mbak Nita cemas.


"kedokter Mbak, hari ini mau cek darah, " ujar Wulan pelan.


"Mau Mbak antar??"


"Gak usah Mbak, Wulan masih sanggup, ini udah mendingan, pergi dulu yaa Mbak, Wiwit," ujarnya sembari melangkah keluar toko.


Wulan mengendarai mobil Freednya dengan pelan. Sebenarnya Wulan tak ingin pergi, namun mengingat untuk kejelasan sakitnya ia harus menguatkan diri.


Sesampai di parkiran mobil rumah sakit yang terlihat lenggan Wulan mengitari parkiran dan menemukan posisi parkir yang tak jauh untuk berjalan ke gedung rumah sakit.


Wulan berjalan cepat seraya melihat kesekeliling. Ketika memasuki gedung rumah sakit ia mencoba menarik napas panjang untuk membuat lemasnya.


"Harus kuat Wulan, seburuk apa pun itu, " ujarnya menyemagati diri.


Iya berjalan menuju lift untuk menuju lantai 3 ruang dr. Evan. Sesampai di lantai 3 Wulan sedikit kaget karena pasien yang mengantir terlihat ramai pada ruang tunggu dr. Evan. Segera Wulan menuju meja kartu dr. Evan.


"Mbak maaf saya kemarin disuruh dr. Evan balik untuk ambil darah, " ujar Wulan seraya meletakkan kartu pasien dimeja.


"Oh iyya baik, sebentar yaa Mbak, " jawab Perawat.


"Maaf yaa Mbak, hari ini agak ramai dr. Evan baru masuk jadi mbak no 21 paling akhir".


"Hah?? no. 21 Mbak??" ucap Wulan kaget.


"Iyya Mbak, " jawab Perawat tersenyum ramah.


"Baik akan saya tunggu Mbak, " ujar Wulan lemas.


Wulan pun berjalan balik mencoba melihat kursi yang kosong dan ia menemukannya kursi itu yang terlihat agak jauh dari ruangan dr. Evan. Tapi Wulan tak peduli dari pada berdiri karena ia akan mengantir paling lama.


Dengan santai Wulan duduk dan ia mengeluarkan buku catatan dan sembari melihat handphonenya untuk melihat orderan yang terlewatkan dari kemarin.


Tanpa Wulan sadari waktu terlewatkan begitu saja, sedikit demi sedikit pasien silih berganti masuk dan keluar sehingga terlihat dua pasien lagi yang mengantri setelah itu baru nomor Wulan yang masuk. Wulan sedikit menarik nafas dan membuangnya untuk menghilang bosan menunggu.


Sampai akhirnya pada nomor antri Wulan 21.


"Nomor 21, Wulansari, " panggil Perawat.


"Ah, iyya saya," ujar Wulan seraya segera bangun dan berlari kecil menuju pintu masuk dr. Evan.


Wulan masuk dengan canggung.


"Permisi dokter, " ujarnya sopan.


"Ah ya, silahkan masuk, " jawab dr. Evan seraya meraih kartu pasien Wulan kemejanya.


Wulan duduk dengan berlahan, Wulan melihat dr. Evan yang tengah serius membaca kembali kartu pasien miliknya. Sedikit ada rasa kagum melihat dr. Evan yang tampan, dan tiba-tiba wajah dr. Evan beralih melihatnya yang sontak membuat Wulan kaget.


"Oke hari ini kita ambil darah ya, " ucap dr. Evan yang seketika sadar melihat Wulan yang sedikit pucat.


"Hhmm, Mbak sakit?"


Wulan yang sadar akan pertanyaan dr. Evan reflek dengan memegang wajahnya.


"Ah, iyya dokter saya agak demam, " jawabnya pelan.


dr. Evan hanya mengangguk.


"Atau Mbak mau ambil darah dilain hari??," ujarnya menawarkan dengan cemas.


"Ah, jangan dokter, saya gak papa, ambil hari ini aja," jawab Wulan terburu-buru.


"Baik kalo gitu, " ujarnya seraya beralih memanggil Suster.


"Suster tolong Mbak Wulan untuk ambil darah".


"Mari Mbak, kebelah sini, " ujar Suster itu menuntun Wulan untuk masuk keruang periksa lain.


Wulan pun bangun mengikuti Suster dan ia duduk di sofa nyaman. Terlihat Suster tengah mengecek tensi darahnya. Dan beberapa saat kemudian Suster tersebut mengambil suntik dengan beberapa tabung darah kosong yang ia tata rapi lalu ia menyiapkan kapas bersih yang sudah diberi alkohol.


Selang beberapa menit dr. Evan masuk dan ia duduk tepat dihadapan kursi Wulan. Dr. Evan menatap Wulan sesaat, ia melihat kecemasan pada wajah Wulan.


"Mbak kerja??," tanyanya untuk menghilangkan cemas pada Wulan, seraya tangannya mulai memakai sarung tangan.


"Gak dokter, saja hanya tukang kue, " jawab Wulan seraya memperhatikan gerak gerik dr. Evan.


dr. Evan agak terkejut, ia tak menyangka, ia pikir Wulan adalah wanita karir yang berkerja diperusahaan.


Tangan dr. Evan meraih tali dan meraih lengan Wulan sebelah kiri dan mengikatnya di antara lipatan lengan serta ia meraih kapas yang sudah diberi alkohol lalu mengusapkannya dengan lembut ke atas kulit lengan Wulan. Dan sedetik kemudian kini tangannya beralih meraih jarum suntik dengan berlahan ia mengarahkan jarum suntik itu ke nadi Wulan.


"Hhmmm, " suara tertahan Wulan ketika merasakan jarum halus itu menembus kulitnya.


Terlihat oleh dr. Evan wajah cemas Wulan dengan mata tertutup dan tangan kanan mengenggap pinggiran kursi sofa itu dengan erat. dr. Evan yang melihat hal itu sedikit tersenyum, ia sedikit terhibur melihat kegelisaan wajah Wulan yang seperti anak kecil yang takut disuntik.


" Oke selesai, kita perlu darahnya 1 tabung kecil aja, " ujar dr. Evan menenangkan Wulan dan kini tangan dr. Evan beralih mengambil kapas dan menekannya seraya memberi plaster agar darah tak keluar lagi.


Dengan berlahan mata Wulan terbuka, dan ia melihat senyum dr. Evan yang membuatnya terkesima sesaat. Dan itu cukup membuat jantungannya berdebar.


" Duuh, dr. Evan jangan tebar pesona plisss, " gerutunya dalam hati.


Dan terlihat dr. Evan bangun dan beralih menuju meja kerjanya lagi. Dan diikuti oleh Suster dan juga Wulan yang kembali duduk di depan meja dr. Evan. Terlihat dr. Evan melirik jam tangannya dan menulis sesuatu di kartu pasien.


" Mungkin darahnya akan diperiksa dilab besok, dan besok siang hasilnya keluar, jadi Mbak besok balik lagi."


" Oh, baik dokter, " ujar Wulan paham.


" Kalo begitu saya permisi ".


"Tunggu !! " seru dr. Evan yang sedang menulis sesuatu di kertas resep dokternya.


" Ini ada obat tambahan, ini vitamin bisa membantu Mbak untuk cepat pulih, " seraya menyerahkan ke hadapan Wulan.


"Ah, baik dokter, terima kasih , permisi, " ujar Wulan menerima kertas resep obat dan ia keluar dengan cepat.


Sepeninggalan Wulan yang telah pergi sejam yang lalu, dr. Evan terus memperhatikan kartu pasien atas nama Wulansari. Ia memainkan pulpennya diatas kertas itu.


" Kasian wanita ini, masih muda dan cantik, " gumamnya dalam hati seraya melonggarkan dasi dan menghela nafas panjang. Dan seketika ia melihat jam tangannya dan sedikit kaget sudah pukul 8 malam, ia bergegas bangun dan membuka jas kedokterannhnya dan beralih mengambil jasnya sendiri. Lalu ia keluar dari ruangannya dengan terburu-buru.


" Sus, saya balik ".


" Baik dokter , " jawab Suster sigap.