One Step Closer

One Step Closer
40



Beberapa hari berlalu setalah pelukan hangat dr. Evan ditubuh wulan. Kini ia melamun dengan memandang jalan dari dalam cafe mininya dengan menyerut chocolatte hangat yang terasa manis dimulut juga pahit diujung pangkal lidahnya.


Namun lamunnya teralihkan kepada sosok wanita yang tak lain adalah dr. Luna yang datang dengan wajah sembab.


"Kau ada waktu??"tanya dr. Lunak dengan suara bergetar.


Wulan hanya sanggup mengangguk pelan, ia tak tau ada gerangan apa dr. Luna datang menjumpainya dengan wajah terlihat sedih. Wulan bangun mempersilahkan dr. Luna untuk duduk, tapi ia menolak.


"Adahal serius yang ingin aku bicarakan!!"


Wulan seketika menegang, suara dr. Luna seolah menahan hal berat dihatinya.


"Baik, kalo tidak keberatan bagaimana kalo dirumah atas saya" ajak Wulan menawarkan lalu berjalan dihadapan dr. Luna yang mengikutinya dari belakang.


Mbak Nita dan Wiwit melihat sedikit aneh kepada pelanggan yang diajak Wulan kerumah atasnya dengan ekspresi tegang.


Wulan membuka pintu rumahnya dengan perlahan.


"Masuk laah" tawar Wulan seraya mempersilahkan dr. Luna masuk kedalam rumah atasnya yang minimalis.


dr. Luna melihat sekeliling ruangan kecil itu dengan seksama. Dan ia melangkah lebih jauh untuk masuk dan duduk disofa milik wulan yang terlihat cantik dengan bantal-bantal kecil disana.


"Sekarang aku tau, alasanya ia tak bisa melupakan mu"


Seketika Wulan terhenti, jantungnya berdebar cepat. Ia mencoba mencerna perkataan dr. Luna.


dr. Luna akhirnya mengeluarkan foto dan meletakkannya diatas meja kecil depan sofa wulan. Mata Wulan melebar, ia terperanjak tak percaya melihat foto dirinya dan mas rendi beberapa tahun yang lalu berada dihadapannya lagi.




"aku sudah berusaha untuk membuatnya lupa akan dirimu, tapi ternyata tidak" ujar dr. Luna dengan bergetar.


"Tapi setiap ia melihat ku, setiap ia memeluk ku, aku tau tak ada bayangan diriku dimatanya" seiring dengan air mata dr. Luna pun jatuh.


"dr. Luna, mohon untuk tidak salah paham, kami sudah lama berakhir"


"Aku tau, tapi bagaimana pun bayangan mu tak akan pernah hilang dari matanya"


"Tidak??"sela dr. Luna cepat.


"Mungkin ini terdengan gila, tapi aku bersedia kau menjadi madu ku!!"timpal dr. Luna dengan suara bergetar.


Mata wulan melabar, ia terkejut mendengar perkataan dr. Luna. "Ide gila macam apa ini??"pekiknya dalam hati.


Wulan menarik nafas panjang, untuk bisa menenangkan pikirannya.


"Aku akan berpura-pura tak mendengar perkataan mu tadi!!" ujarnya dingin.


"Aku tau?? kau divonis tak bisa memiliki seorang anak kelak"


Ucapan dr. Luna kini benar-benar melukai perasaan Wulan yang sedari tadi ia tahan. Matanya mulai memerah menahan amarah dan air matanya.


"Aku tak keberatan karena hal itu, setidaknya hanya aku yang akan memberikan keturunan pada mas Rendi, dan sekarang aku sedang mengandung bayinya" ucapnya dengan memegang perutnya.


Wulan tak bisa berkata, hatinya kini benar-benar sakit.


"Aku akan mengalah, asalkan mas rendi bisa melihat aku dengan segala yang telah aku korbankan untuknya" ucap dr. Luna dengan derai air mata.


"Maaf" ucap Wulan tegas.


"Aku, aku tak akan bisa menerima tawaran ini, sungguh ini melukai harga diriku sebagai wanita"timpal Wulan dengan suara bergetar.


"Aku akan,,"


" LUPAKAN!!!"sanggah Wulan dengan suara keras, dengan menahan gemuruh dihatinya, dan beberapa menit suasana hening.


" maaf... tapi bisa kah kau pergi sekarang!!" dengan suara bergetar.


"Sebentar lagi aku ada janji!!" ucap Wulan berbohong untuk menyudahi pembicaraan gila ini.


dr. Luna paham, ia pun berjalan dan berlalu meninggalkan Wulan seorang diri dirumah atasnya.


Tubuh wulan pun roboh seketika ketika bayangan dr. Luna hilang dari pandangannya. Air matanya pun tumpah .