
Pagi buta Wulan bangun dengan badan yang bugar. Entah karena efek infus atau karena obat yang diberikan dr. Evan sehingga ia bisa tidur dengan pulasnya. Namun sesaat wulan relfek bangun dan membuka pintu kamarnya berlahan keluar dari kamar. Wulan pun menoleh kesisi dinding yang terletak sofa disana. Dan terlihat sosok yang masih tertidur pulas dengan kedua tangannya menyilang didada.
Wulan merasa kasihan melihat dr. Evan tertidur dengan posisi rebahan tak nyaman. Bagaimana mana tidak, kakinya tergantung di sisi lengan sofa yang mungil itu. Dan sesaat Wulan mendengarkan suara getar handphone dr. Evan yang bergetar diatas meja. Reflek Wulan menyambar handphone itu agar tak menimbulkan suara getar dimeja yang dapat membangunkan dr. Evan.
Wulan/"huuuuft" gelagatnya yang takut dr. Evan terbangun. Dan ia melihat tanda alaram di handphone dr. Evan dan men offkan seketika alaram tersebut.
Berlahan Wulan meletakkan kembali handphone itu dimeja. Dan berjalan mengendap-ngendap menuju kamarnya kembali.
Didalam kamar wulan mandi kilat dan berpakaian seperti biasa. Dengan mengikat rambut panjangnya dengan asal, Wulan pun keluar kamar berlahan.
Dan ia terkejut ketika melihat dr. Evan yang telah bangun dan sedang menerima telfon dengan serius. Wulan hanya menunggu dr. Evan disisi sofa.
dr. Evan/"ah, ya mungkin dilain waktu aku akan ikut"ujarnya yang melihat wajah wulan telah segar.
"hhmm, ya, ya terima kasih ucapannya. Salam" ucapnya mengakhiri pembicaraan ditelfon tersebut.
"apa kau sudah baikan??"
Wulan mengangguk pelan. Dan dr. Evan tersenyum.
dr. Evan/"baiklaah, aku harus segera ke rumah sakit" ucapnya seraya melihat jam tangan yang telah menunjukkan pukul 7 pagi.
Wulan/"dokter tidak bersih-bersih dulu??"
dr. Evan/"mungkin nanti dirumah sakit" ucapnya seraya memijit tengkuknya sendiri.
Wulan/"hhhmm, tapi bisa kah dokter tunggu sebentar??"
dr. Evan/"???"
Wulan/"wulan akan buatkan bekal untuk dokter"
dr. Evan/"baiklah" dr. Evan mengangguk pelan dan ia pun mengikuti wulan turun ke bawah.
Dibawah dr. Evan menunggu di mini cafe dr. Dessert dengan secangkir kopi hangat. Ia fokus membaca beberapa email dari beberapa perusahaan farmasi yang mengeluarkan obat baru.
Wulan dengan cekatan membuat bekal dr. Evan, butuh waktu 30 menit ia membuat 4 potong sandwich sederhana dan menaruhnya pada kotak persegi transparan berlogo dr. Dessert. Ketika dirasa cukup wulan pun menutup kotak persegi itu dan menaruhnya pada paperbag medium dr. Dessert sembari berjalan menuju meja dr. Evan.
Wulan meletakkan paperbag tersebut di sisi samping cangkir kopi dr. Evan.
dr. Evan/"pasti aku suka"jawabnya singkat.
Wulan pun tersenyum simpul. Dan dr. Evan pun bangun sembari membawa paperbag tersebut.
dr. Evan/"aku pergi" ucapnya seraya membelai lembut wajah wulan.
Wulan mengangguk dan ia mengikuti dr. Evan berjalan ke pintu toko yang belum terbuka. Dan ketika pintu toko terbuka betapa terkejut ya mbak nita juga desi melihat ke arah dalam toko, dr. Evan dan wulan berdiri berdampingan.
dr. Evan/"pagi!!" jawabnya ramah seraya keluar dari toko dan berjalan menuju mobil sedannya yang terparkir didepan toko wulan.
Wulan yang salah tingkah bagai tertangkap basah karena melakukan hal yang salah menjadi sedikit canggung melihat ekspresi mbak nita dan desi yang pastinya sudah siap memberikan bertubi-tubi pertanyaan kepadanya untuk dr. Evan yang baru keluar sepagi ini dari tokonya.
Mbak nita/"kamu udah baikan??"
Wulan mengangguk pelan. Dan ia pun berlalu masuk kedalam toko meninggalkan mbak nita dan desi yang masih terbengong dengan kepergian dr. Evan.
Desi/"mbak wulan?? bener udah baikan??"
Wulan/"sudah" jawabnya tegas.
"semalam mbak di infus dan diberi obat oleh dr. Evan, dan pagi ini mbak udah merasa sehat"
Mbak nita/"jelas sehat!! pasti karena ada dr. Evan"
Wulan/"yaa mau gimana?? kan semalam mbak yang menhadirkan dr. Evan kemari kan??"
Mbak nita/"yaa tapi seru kan!!!" ujarnya jahil mengikuti wulan yang menghindar menuju kulkas bahan kue.
Wulan/"isss mbak ini apa yang seru??? semalam itu udah sakit trus kelaparan, untung dr. Evan pinter masak"
Mbak nita/"waaah bisa seromantis itu dr Evan masakin kamu?? pasti dia bisa juga yang lain kan???" tanya mbak nita ambigu.
Wulan tak menjawab, karena bila salah menjawab ia akan tergelincir dengan pertanyaan mbak nita yang mengarah kedua maksud.
Desi hanya mendengarkan saja kedua senior dr. Dessert sedang perang pertanyaan.