
Pagi harinya, Wulan terbangun lebih awal. Dan ia langsung mandi untuk menyegarkan badannya. Mas Evan yang masih tertidur lelap pun ikutan terjaga karena suara ngemericik air dari balik kamar mandi itu seolah mengundangnya untuk bangun.
Namun mas Evan menoleh handphonenya yang terlihat mendapatkan notifikasi pesan dari group rumah sakit. Jadwal rapat untuk ganti priode pun akan dimajukan lebih cepat. Dan ia menarik nafas kesal dengan kabar itu, yang berarti besok ia harus segera balik kejakarta.
Selang beberapa menit Wulan keluar dengan kimono handuknya dan terkaget mendapatkan mas Evan telah bangun dan ia tengah asyik berselancar di handphonenya.
Mengetahui itu Wulan mendekat pada mas Evan berlahan.
" Mas??, mau Wulan buatkan kopi atau teh??," tawarnya yang mengalihkan pandang mas Evan kepadanya.
Dengan wajah tersenyum ia bangun mendekat pada istrinya. Dan menjatuhkan ciuman hangat dikening Wulan.
" Gak, Mas mau mandi dulu, biar hari ini kita bisa jalan-jalan, " jelasnya dan berlalu masuk kedalam kamar mandi.
Wulan tersenyum dan ia kembali dengan aktifitasnya berpakaian dan bermake up.
1 jam kemudian keduanya pun telah siap dan keluar dari kamar hendak menuju restoran hotel untuk sarapan, karena bosan dengan menu hotel.
" Wulan??, apa ada tempat yang ingin kau kunjungi??, " tanya mas Evan.
" Hhmm, apa yaa??, Wulan gak tau mas, kenapa??, " tanya Wulan berbalik tanya pada mas Evan.
" Hhmm, kalau begitu kita google aja tempat-tempat bagus yaa".
Dan Wulan pun setuju dengan ide mas Evan.
" Wulan??" sapanya menatap lembut.
" Kalau besok kita pulang??, apa kamu keberatan??, " tanya mas Evan ragu.
Wulan tertawa simpul.
" Gak Mas, kenapa??".
" Entah kenapa jadwal rapat priode dipercepat. Padahal Mas pikir masih bisa dua hari lagi disini, " ujar mas Evan kecewa.
Berlahan jemari tangan Wulan meraih tangan mas Evan.
" Mas??, kita masih punya banyak waktu dilain hari, " ujarnya lembut.
Dan mas Evan hanya menatap wajah berseri Wulan dengan dalam. Namun tiba-tiba ia meraih handphonenya.
" Tersenyumlah seperti itu, Mas ingin memfoto dirimu, " ujarnya seraya mengarahkan kamera handphonenya kehadapan Wulan dan Wulan pun menurutinya dengan menahan tawa. Dengan bermacam angel mas Evan memfoto Wulan dan ia pun mencoba mengambil foto selfi berdua dengan Wulan yang terlihat manja memeluknya dari belakang.
" Jangan pernah lupakan, Wulan!!, " ucapnya berbisik ditelingan mas Evan yang tengan menahan kamera untuk mengambil foto mereka berdua.
πππ
Perjalanan keduanya bersama supir kemarin pun dimulai. Wulan hanya memilih tempat-tempat terdekat dan ia hanya ingin berputar-putar kota bali seraya melihat indahnya laut.
Tak lupa Wulan membeli pernak pernik untuk oleh-oleh karyawan tokonya. Sedangkan untuk kedua putrinya ia memilih untuk membeli baju kembar yang bisa mereka kenakan jika tidur bersama.
Hingga malam menjelang keduanya memilih untuk dikamar hotel saja seraya berbenah untuk persiapan besok pulang.
Didalam kamar hotel pun kini terhidang makan malam untuk berdua yang berada di gazebo kolam. Suasana tenang dan asri terlihat disana. Mas Evan memperlihatkan beberapa hasil fotonya tadi pada Wulan. Dan ia melihat dengan antusias.
Sesekali tawa terlepas dari keduanya ketika menemukan foto-foto failed.
Jam menunjukkan pukul 11 malam dan keduanya tengah berusaha tidur dengan berpelukan seraya mas Evan melihat beberapa notifikasi email dari handphonenya.
" Mas??".
" Hhhmm, " gumam mas Evan.
" Wulan boleh ngomong sesuatu gak??, " ucapnya ragu.
Mas Evan menoleh seraya bangun dari tempat tidurnya untuk duduk dan meraih air mineral dari sisi tempat tidurnya.
Dan reflek Wulan pun jadi ikut bangun mengikuti mas Evan.
" Boleh gak Mas, dapur belakang Wulan rombak??, maksudnya direnovasi sedikit. Hhhmm.., Wulan ingin membuat mini dapur roti untuk bisa Wulan mengerjakan cake premium dirumah," jelasnya menunggu reaksi mas Evan.
Mas Evan tersenyum dengan permintaan Wulan.
" Kamu nyonya dirumah itu, jadi semua Mas serahkan padamu tentang segala urusan rumah. Entah mau kamu renovasi atau hal lain itu terserah padamu Wulan, Mas akan selalu menyetujuinya" jelasnya.
Wulan terkesima dengan respon mas Evan yang selalu menyambut baik idenya.
" Sebenarnya Mas sempat berpikir untuk kita merenovasi toko kamu untuk jadi rumah kedua kita. Jadi sesekali kita bisa tinggal disana dan pun jarak toko kamu dan rumah sakit tak terlalu jauh, " ujarnya lagi.
Wulan tak bisa berkata-kata rasa simpatiknya berubah haru didalam hati Wulan yang senang.
" Mas!!, " ucapnya lirih dengan mata berbinar.
" Sssssstt.. kamu belum benar-benar mengenal suamimu, Wulan" ucapnya dengan menyilangkan tangan di dadanya.
Wulan terkesima dan hanya bisa tersenyum simpul dengan wajah bahagia.
" Tidakkah kamu ingin memberikan ciuman pada Mas, sebagai tanda terima kasih??, " ujarnya seraya menyodorkannya pipinya untuk dicium oleh Wulan yang tersenyum.
" Terima kasih mas, sungguh, " ucapnya dengan suara pelan.
" Tidak-tidak, Mas hanya menerima ciuman bukan ucapan!!, "pintanya lagi dengan pipi masih menunggu ciuman dari Wulan.
Berlahan Wulan mendekatkan wajahnya untuk mencium mas Evan. Namun didetik itu mas Evan berpaling, dan cup.. ciuman Wulan pun jatuh pada bibir mas Evan.
" Pas,, dan ini manis, " ucapnya tersenyum puas dengan ekspresi terkejut Wulan lalu berlahan mas Evan pun merebahkan tubuhnya. Dan berlahan Wulan dengan tersenyum malu-malu pun ikut merebahkan tubuhnya dalam pelukan mas Evan.
Dan semakin larutnya malam membuat keduanya tidur dengan lelap.