
Minggu pagi itu dapur dr. Dessert telah mengepul sedari kemarin, Wulan menyicil puding mangga dan semalam ia membuat roti-roti dengan empat varian rasa bersama Mbak Nita dan Wiwit.
Sekitar jam 8 pagi, Wulan dan Mbak Nita bergantian menggankat keranjang roti-roti itu kedalam mobil Freednya yang terlihat tidak muat. Dan berakhir dengan harus dua kali pengantaran. Sehingga Wulan memutuskan untuk mengantar puding terlebih dahulu dan beberapa keranjang roti. Dan sisanya akan diambil setelah selesai mengantar yang pertama.
Dan tepat pukul 9, Mbak Nita dan Wulan berjalan untuk mengantarkan ke rumah sakit Petramedika. Jalanan yang lengang membuat mobil Freed dr. Dessert berjalan dengan mulus. Dan berselang tiga puluh menit mobil Freed itu masuk kedalam perkarangan parkiran rumah sakit.
Terlihat Mbak Nita tengah menelfon dr. Evan untuk menanyakan dimana roti dan puding ini akan dibawa. Dan tak berselang lama dua orang satpam datang mendekat kearah mobil dengan telah membawa trolly.
" Permisi, Mbak saya tadi sudah di beritau dr. Evan untuk membantu Mbak, " kata Satpam tersebut.
" Ah, iyaa baik pak, terima kasih, " jawab Wulan sedikit terkaget.
Dan Wulan yang masih terduduk didalam jok mobil, reflek untuk membuka pintu mobil dan turun membuka pintu belakang mobil. Ia mengarahkan kedua Satpam itu untuk membawa puding dengan pelan. Butuh dua trolly untuk membawa semua puding dan beberapa keranjang roti.
" Udah kamu disini aja, beresin pudingnya dan roti, Mbak balik dulu ambil sisa rotinya, oke!!, " ucapnya yang buru-buru masuk kedalam mobil dan menstater mobil meninggalkan Wulan yang enggan.
" Mbak??, " ucapnya yang tak didengar Mbak Nita yang sudah menutup jendela mobil dan berlalu meninggalkan Wulan.
Huuuffftt, hela nafas Wulan. Kemudian ia pun berjalan cepat mengikuti kedua Satpam yang telah menunggunya didepan pintu masuk rumah sakit.
" Ayo pak, dimana aulanya??" tanya Wulan.
" Kata dr. Evan, yang puding diantar ke aula, sedangkan roti dititip di reseptionis Mbak, karena mau dibagi-bagi untuk para pasien " jawab Satpam kedua.
" Oh, begitu yaa, " ujar Wulan paham. Dan Wulan hanya mengikut saja kemana kedua Satpam itu mendorong trolly pudingnya.
Memang hari minggu untuk rumah sakit terlihat lengang dari kunjungan pasien, hanya terlihat beberapa perawat yang mungkin tengah berjaga sift, dan hal itu juga terlihat sepi dibeberapa lantai. Dan lift rumah sakit itu pun terhenti di lantai paling atas rumah sakit, yaitu lantai 7 yang terlihat sepi.
Kedua Satpam itu membuka pintu aula rumah sakit yang sudah didekor sederhana untuk acara.
" Disebelah sini Mbak, katanya ini khusus untuk puding Mbak" ujarnya seraya menghentika trolly tepat di depan dua meja panjang yang telah dihias sederhana.
" Baik pak, terima kasih, saya akan menyusunnya segeranya" kata Wulan.
" Maaf, Mbak kita tinggal apa gak papa?? " tanya Satpam kedua.
" Ya, gak papa pak " jawab Wulan cepat.
" Maaf yaa Mbak, kita tinggal karena pos jaga tidak boleh kosong," jelas Satpam pertama.
" Baik, gak papa pak, terima kasih banyak, oia nanti tolong teman saya yaa pak, tolong dibantu karena masih ada beberapa keranjang roti yang tadi tidak muat dibawa sekaligus, " ucapnya serius.
" Baik Mbak, permisi Mbak, " seraya para Satpam itu keluar dari aula besar dan terlihat Wulan sendiri berada disana.
Sesaat Wulan menarik nafas panjang, dan kembali ia mengingatkan dirinya untuk fokus dan secepat mungkin menyusun puding ini dan meninggalkan ruangan. Butuh waktu dalam menyusun puding itu tertata rapi dimeja. Setelah selesai Wulan mencoba melihat dari kejauhan bahwa susunan puding itu telah sempurna dimeja. Sesaat ia melihat sekeliling ruangan dengan antusias, ia seperti mengenal dekor dari aula ini. Namun pandangannya terhenti pada sebuah piano yang terletak disudut ruangan.
Wulan mencoba melangkah pelan menuju piano tersebut, dan menyentuhnya dengan seksama. Ia mencoba duduk di kursi pemain, dan sesaat ia membuka penutup tus piano itu.
Tersungging senyum rindu akan memegang tus-tus piano itu. Ia mengingat terakhir kali ia mainkan piano ketika perayaan Wedding Party sahabatnya sesama pecinta kue Mas Edo yang memintanya memainkan lagu Utada Hikaru- First Love sebagai kado pernikahannya.
Wulan seperti mencuri pandang melihat kesekeliling ruangan aula itu yang sepi.
" Hhmmm, kayaknya gak papa kalau cuma 1 lagu, " ujarnya yang kini mengubah posis duduknya menjadi maju dan jemari-jemarinya mulai menyentuh tus piano itu dengan yakin.
Seketika ruangan aula itu terdengar suara piano yang mengalun merdu dengan ketukan jari-jari Wulan yang tenggelam dalam aluna instrument Utada Hikaru-First Love.
Sesekali bibirnya terdersir lirik dari lagu itu dengan pelan.
You will always be inside my heart
Itsumo anata dake no basho ga aru kara
I hope that I have a place in your heart too
Now and forever you are still the one
Ima wa mada kanashii love song
Atarashii uta utaeru made
You are always gonna be my love
Itsuka darekato mata koi ni ochitemo
I'll remember to love you taught me how
You are always gonna be the one
Mada kanashii love song.
Now and forever...
Namun disisi lain tanpa Wulan sadari, dr. Evan yang berdiri di pintu aula sebelahnya tengah terkesima mendengar aluna piano. Ia melihat dengan kagum pada sosok yang tengah menghayati permainan pianonya.
Punggung Wulan yang ramping dengan rambut yang terkuncir dihias rambut-rambut halus yang membuat tatanannya menjadi indah. Sesaat senyum dr. Evan terlihat senang, karena ia kembali dapat melihat sisi lain Wulan yang mungkin jarang terlihat karena ia hanya fokus membuat kue.
Akhiran lirik Now and Forever, Wulan dengan lega melepas jari-jarinya dari tus piano itu. Dan seketika ia berbalik badan, namun ia terhenti karena terkaget. Pria yang ingin ia hindari kini berdiri beberapa meter dari tempatnya dengan berjalan pasti kearahnya seraya tersenyum hangat kepada Wulan.
" Dokter??, " ucapnya pelan, yang tiba-tiba takut.
" Kamu ternyata bisa memainkan piano seindah itu, sungguh mengejutkan, " puji dr. Evan yang kini berdiri tepat dihadapan Wulan yang mematung.
" Ah, maaf Dokter, Wulan gak sengaja, " ujarnya kaku dan ragu.
" Wulan permisi Dokter, " ucapnya yang melangkah dan tak memberi luang untuk dr. Evan berbicara. Namun lengan dr. Evan menghentikan langkah Wulan dengan meraih tangan Wulan.
" Tunggu, saya akan temani kamu turun, sekalian saya akan membayar pesanan saya" ucapnya yang mencoba memberi alasan agar Wulan bisa tertahan sesaat bersamanya.
" Kalo begitu, saya temani kamu turun".
" Wulan bisa sendiri Dokter, " ujarnya mengelak.
" Saya akan temani kamu, " ujar dr. Evan sedikit tinggi, sehingga Wulan pun mengalah.
" Baiklaah, " ujarnya yang enggan.
Langkah Wulan pun mulai keluar dan diikuti dr. Evan yang mengikuti Wulan dari belakang .
Keduanya berjalan dalam diam, didalam lift dokter menekan tombol lantai 3. Sehingga kening Wulan mengeyit dan kembali melihat dr. Evan.
" Saya mau ambil hasil lab kamu yang gak kamu ambil-ambil".
" Kenapa??, " tanya Wulan tak senang.
" Setidaknya kamu harus tau realnya kondisi diri kamu, Wulan, " jelas dr. Evan.
" Tapi, Wulan gak mau dokter!!".
" Kenapa?? ".
" Rasanya akan terus menghantui pikiran Wulan, cukup Wulan tau bahwa memang Wulan gak bisa seperti wanita lain, " ucapnya yang mencoba menghindar dari tatapan dr.Evan.
" Seberapa pun hasilnya, tapi mungkin ada hal kecil yang bisa kamu syukuri, kita tidak hidup untuk terus merenung ketidak beruntungan kita, kau harus bisa trus optimis untuk hidupmu lebih baik, " nasehat dr. Evan serius melihat pada Wulan.
Wulan terpaku mendengar nasehat dr. Evan.
" Terima kasih Dokter, mungkin tidak mudah, tapi akan Wulan coba, " ucapnya pelan.
Dan ting..., bunyi lift itu berhenti pada lantai yang dituju. Tapi pintu lift itu terbuka tanpa keduanya keluar dari lift itu. Hingga pintu lift itu tertutup kembali tak ada sanggahan dari dr. Evan lalu ia menekan tombol lantai dasar rumah sakit.
" Kenapa Dokter tidak turun??, " tanya Wulan aneh melihat dr. Evan.
" Hhmm, maaf Wulan mungkin saya tidak mengerti kondisi kamu sehingga memaksa kamu untuk melihat hasil lab, " ujarnya sedikit menyesal.
Wulan seperti terhipnotis dengan sorot mata dr. Evan yang menyesal.
" Gak papa dokter ".
" Maaf Wulan, " sesal dr. Evan.
" Gak papa Dokter, terima kasih atas perhatiannya, " ucap Wulan sungguh.
Dan kini lift itu terbuka di lantai dasar rumah sakit. Terlihat langkah keduanya keluar dari sana. Keduanya jalan dengan canggung. Beberapa perawat menyapa dr. Evan dengan ramah.
Namun ketika menuju lobby rumah sakit, seketika mata Wulan melihat sosok mas Rendi dari kejauhan tengah berjalan dengan sibuk berbicara ditelfon dengan serius. Reflek Wulan berdiri menghadap dr. Evan dengan wajah cemas. dr. Evan pun terkaget dengan Wulan yang kini berada tepat dihadapannya dan terlihat wajah cemas. Lalu dengan tak terduga tangan Wulan mencengram coat dr. Evan dan berusaha menenggelamkan wajahnya dalam dada dr. Evan.
" Kamu???, " tanya dr. Evan terkaget dengan tingkah Wulan.
" Maaf Dokter, sebentar saja, " ucapnya gugup dan cemas menutup wajahnya.
" Apa??, pria itu sudah pergi??," tanya Wulan.
" Siapa??, " jawab dr. Evan bingung.
" Itu, pria yang sedang telfon dengan baju kemeja panjang warna hijau tua, " jelas Wulan pada dr. Evan.
dr. Evan mencoba melihat dengan serius kearah depan, dan matanya terhenti kesosok yang tak asing dimatanya.
" Bukankah itu pria yang diputuskan Wulan??," gumamnya dalam hati.
Terlihat Rendi seperti menunggu seseorang.
" Apa dia telah pergi??, " tanya Wulan kembali dengan menegadah wajahnya melihat dr. Evan.
" Belum, " ucapnya yang melihat wajah Wulan yang masih betah meringkuk didalam coatnya dengan cemas.
Dan Rendi pun sepertinya bertemu dengan sosok yang ia tunggu, dr. Luna yang berlari kecil memeluk Rendi dengan mesra. Mata dr. Evan melihat sedikit kaget. " Ternyata suami dr. Luna adalah mantan Wulan??, " gumamnya yang sedikit terkaget.
Dan terlihat dr. Luna menarik lengan Rendi untuk menuju kesisi lain rumah sakit, kearah ruangannya yang berada dilantai dasar rumah sakit. Kedua sosok itu pun menghilang jauh meninggalkan lobby rumah sakit.
" Hhmm, sepertinya ia akan kemari, " ujar dr. Evan bohong. Sesaat dr. Evan tersenyum, sebenarnya ia menikmati kedekatan ini dengan Wulan.
" Apa??, " ucapnya kaget dan hal itu reflek membuat Wulan lebih dalam lagi menyembuyikan dirinya didalam coat dr. Evan.
" Apa semakin dekat??, " tanya Wulan lagi.
" Sepertinya tidak jadi??, " ujarnya dengan mencoba menahan senyum.
"APA??, " ujarnya yang menatap dr. Evan dengan aneh, dan ia memutuskan untuk melihat sendiri dengan membalikkan badan dan mencoba melihat dengan seksama.
" Apa ini???, Dokter bohong??, " ucapnya dengan kesal seraya mencengkram coat dr. Evan.
Namun dr. Evan tersenyum puas.
" Sudah bisa menjauh??, sedari tadi para Perawat melihat aneh kearah sini, " ujar dr. Evan yang sedari tadi membatu menahan tubuh Wulan.
Wulan pun tersadar dan reflek melepas coat dr. Evan lalu mencoba menjauh dari dr. Evan.
" Maaf Dokter" ucapnnya kaku.
" Sebagai gantinya kamu temani saya makan!!, " ujar dr. Evan dengan senyum seraya meraih tangan Wulan untuk mengikutinya.