One Step Closer

One Step Closer
15



Lima hari berlalu, toko Dr. Dessert telah kembali buka dan mulai ramai kembali dikunjungi oleh para pelanggang yang senantiasa membeli roti-roti lezat itu.


Tak lupa Mbak Nita mewanti-wanti Wulan untuk terus memantau kesehatannya dengan dr. Evan. Walau sebenarnya Wulan tak ingin lagi berurusan dengan info-info sakitnya, tapi ada benarnya nasehat Mbak Nita, mungkin nanti "kemungkinan" terbaik itu ada jika Wulan trus berobat.


Hubungannya dengan Mas Rendi pun kembali hangat, walau sibuk Rendi selalu menyempatkan diri untuk mengetahui kabar Wulan. Ia semakin serius untuk merencanakan pernikahaannya dengan Wulan.


Pagi itu si kembar Safa dan Marwah datang dengan riang, tapi akhir-akhir ini dr. Evan juga ikut turun menemani keduanya memilih cake. Bahkan kadang mereka mengobrol ringan sekedar canda tawa bagi Safa dan Marwah.


Mbak Nita melihat sisi lain dari tatapan dr. Evan pada Wulan. Ia sadar pasti ada sesuatu dari diri dr. Evan untuk Wulan. Tapi ia tak bisa begitu yakin, karena Wulan sepertinya akan benar serius menikah dengan Rendi.


" Tante minggu depan kak Zerin datang loh, " kata Safa pada Wulan.


" Zerin??, " ucapnya bingung.


" Ah, itu sepupu mereka, anak kakak saya, " ujar dr. Evan yang seketika meraih jus guava dan menyerutkannya kedalam mulut.


" Ooh ya, nanti ajak main kemari yaa, " pinta Wulan.


" Iyya pasti Tante..., tapi Tante kapan main kerumah kita??, " tanya Marwah, yang sontak membuat dr. Evan tersedak karena tengah menikmati pure jus guava. Wulan pun reflek menepuk-nepuk pinggung dr. Evan.


" Ya ampun Dokter!!, dokter gak papa??, " ujarnya cemas.


dr. Evan memberi kode dengan menganggukkan kepalanya, yang masih sedikit menahan batuk-batuk dari tersedaknya tadi.


" Papa kenapa??, " tanya Safa ikut cemas melihat papanya.


" Gak..., uhuk..., uhuk..., gak papa sayang, " sahut dr. Evan terbatah-batah.


" Sebentar Wulan ambil air putih hangat, " ucap Wulan yang bersegera lari kedapurnya menuju despenser, lalu menampung air hangat di gelas putih cristal. Dan bersegera lari kembali menuju duduk dr. Evan dan kedua putrinya yang cemas.


" Ini Dokter, " ucap Wulan seraya menyerahkan gelas cristal itu ketangan dr. Evan.


dr. Evan meraih gelas itu dan meminumnya dengan pelan. Sesaat batuk dr. Evan pun mereda.


" Apa sudah baikan Dokter??, " tanya Wulan.


dr. Evan menjawab dengan anggukan pelan.


" Maaf dan terima kasih Wulan, " ucapnya menatap mata Wulan.


Deg...


Jantung Wulan berdebar ketika ditatap dr. Evan.


" Ah, iyya Dokter, gak papa, " ucapnya yang tiba-tiba canggung.


" Ayo, Safa Marwah, papa udah harus kerumah sakit, ada adik bayi yang mau lahir".


" Yaaah, Papa, " ucap Marwah cemberut.


" Sebentar lagi ya pah??, " pinta Safa pada papanya.


" Ayo sayang, lusa kalian bisa kemari lagi, " ucap papa mereka.


" Safa Marwah, ayo sayang, harus denger kata papa yaa, lusa kalian bisa kemari lagi dan kita bisa cerita-cerita lagi yaa sayang, " bujuk Wulan.


Dalam waktu singkat keduanya pun patuh dan turun dari kursi itu dan berdiri sisi dr. Evan. dr. Evan sedikit terpanah, " Bagaimana bisa Wulan menyakinkan Safa Marwah yang manja ini dengan sekali ucap, " gumam hati dr. Evan yang bertambah kagum dengan sosok Wulan.


" Dadaaaah..., Tante Wulan, " ucap Marwah seraya melambaikan tangannya.


" Daaah..., sayaaang, " balas Wulan yang ikut keluar mengantar keduanya didepan pintu toko.


Tiba-tiba Mbak Nita datang menghampiri Wulan dari belakang.


" Cieeee.., kok Mbak liatnya kamu kayak lagi antar anak dan suami yaa???, " celetuk Mbak Nita yang mengagetkan Wulan.


" Wuuuusss..., Mbak ini ngomong apa siih??, udah ah..., jangan ngaco deh, yuk kita buat roti keju dan selai stroberi, " ajak Wulan pada Mbak Nita.


Wulan berlalu masuk kedalam toko dan Mbak Nita melihatnya dengan senyum, yaa bisa saja jadi kenyataan.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Dan memang Tornado itu datang setelah Badai.


Satu minggu berlalu, toko Dr. Dessert kedatangan seorang Bapak dengan setelan hitam masuk mencari orang yang bernama Wulansari.


" Maaf, siapa disini yang bernama Wulansari??, " tanya Bapak itudengan nada tegas.


Mbak Nita dan Wiwit sedikit terkejut, wajah mereka sedikit takut. Sesaat Wulan datang dari arah dapur menuju meja kasir yang terlihat Mbak Nita dan Wiwit berdiri dengan ekspresi aneh.


" Mbak, siapa??, " tanya Wulan polos.


" Apa Mbak bernama Wulansari??, " tebak Bapak itu bertanya pada Wulan.


Wulan sedikit terkaget.


" Ah iyya Pak, saya Wulansari. Bapak siapa yaa??, ada perlu apa??, " tanya Wulan yang bingung. Dan Wulan mencolek sisi Mbak Nita yang terdiam mematung.


Tiba-tiba Bapak itu menyerahkan handphone ke arah Wulan.


" Ini, Nyonya mau bicara".


Wulan dengan ragu mengambil handphone itu dari tangan si Bapak. Dan mengarahnya ke sisi telinga kanan.


" Ha.., " ucapan Wulan terputus.


" Saya Ibu Raden Rendi Pangalila, Saya ingin berbicara 4 mata dengan kamu, kamu ikut mobil yang sudah Saya kirim, sekarang !!!," ujarnya dengan dingin.


Seketika Wulan mematung, ia seperti terserang syok berat.


" Ah, baik" sahut Wulan kaku dan seketika panggilan itu terputus, dengan lemas Wulan mengembalikan handphone itu pada bapak yang sedari tadi menunggunya selesai bicara.


" Siapa??, " tanya Mbak Nita menatap Wulan.


" Ibu Mas Rendi, " jawabnya pelan.


Mbak Nita terlihat terkejut.


" Mbak titip toko yaa, Pak sebentar saya ambil tas dulu, " ujarnya yang kemudian berbalik badan menuju rumah atasnya.


Didalam kamar ia mencoba meraih tas Fossil selempang merah dan tiba-tiba ia terhenti. Wulan mencoba memegang jantungnya. Namun seketika ia tersadar lalu turun.