One Step Closer

One Step Closer
41



Diruangnya terlihat dr. Evan tengah menatap layar ponselnya dengan tersenyum. Ia membolak balikkan lembaran foto Wulan yang sukses ia dokumentasikan pada waktu ke laut beberapa hari yang lalu.


Ia menatap wajah Wulan yang sendu dengan rambut-rambutnya yang terbang menghiasi wajah cantiknya.


Lalu seorang Perawat masuk untuk memberi laporan kepadanya.


" Dokter, sore ini ada sekitar 26 pasien yang akan konsul, malamnya ada 2 oprasi cesar, " ujar Perawat seraya menyerahkan kartu pasien dimeja dr. Evan.


dr. Evan menarik nafas panjang, hari-harinya benar-benar padat menolong orang.


" Katakan pada dr. Wayu, jika ia waktunya kosong tolong untuk ikut bersama saya dalam oprasi kali ini, " kata dr. Evan cepat seraya menandatangani dokument prosedur operasi.


" Baik Fokter, nanti saya kabari dr. Wayu, " jawab Perawat yang kemudian berbalik untuk keluar dari ruangan dr. Evan.


Sesaat dr. Evan melonggarkan dasinya, ia membuka kerah kancing kemeja, dan merebahkan tubuh pada kuris putarnya. Ia mencoba memejamkan matanya sesaat walau hanya 30 menit itu jauh dari cukup untuk menistirahatkan matanya yang lelah.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Wulan terduduk termenung di dalam rumahnya. Ia masih terus mengingat perkataan dr. Luna. Dan ia pun menghela nafas panjang seraya bangun dan masuk kekamarnya. Wulan membuka lemarinya dan mengambil coat (mantel) selututnya dan menganti bajunya dengan baju dress sederhana selutut berwarna peace soft.


Wulan turun berlahan, dan kehadirannya disambut wajah heran Mbak Nita dan Wiwit serta Desi yang sedari tadi menunggunya untuk turun.


" Mbak Wulan, mau pergi kemana??, " tanya Desi.


Wulan hanya tersenyum sekilas.


" Kamu terlihat kurang sehat, apa kamu sakit??, " tanya Mbak Nita menebak.


" Enggak Mbak, Wulan baik-baik aja, " ujarnya meyakinkan Mbak Nita.


" Mbak untuk orderan besok tolong bahan-bahannya dicek trus yaa, mungkin malam ini akan Wulan cicil membuat cup cake flowernya".


Mbak Nita mengangguk paham.


" Apa kamu pulang malam lagi??, " tanya Mbak Nita kembali.


" Hhmm, gak tau, nanti tolong Mbak kunci aja, Wulan bawa kunci toko satu lagi, "ucapnya yang segera keluar dari toko dan berjalan menuju jalan raya depan tokonya.


Wulan menyetop taksi dengan sembarang, dan terlihat taksi bernuansa biru dengan lambang burung itu mendekat dan Wulan menaikinya dengan segera.


" Rumah sakit Petramedika, Pak!!, " pinta Wulan pada supir taksi


Dan mobil taksi itu berjalan dengan lamban karena kemacetan ibu kota diwaktu sore hari yang merupakan jam pulang kantor. Wulan duduk dengan melihat hiruk pikuk padatnya jalan ibu kota.


Butuh 1 jam lebih untuk dapat keluar dari kemacetan dan mobil taksi itu sampai pada tujuan. Ketika Wulan turun, dengan segera ia disambut dengan hujan yang turun secara tiba-tiba dengan lebat. Wulan pun buru-buru berlari kecil kedalam gedung rumah sakit.


Ia terlihat sedikit menyeka bahu dan baju dari air hujan yang telah meresap kedalam kain bajunya. Sesaat Wulan ragu, langkahnya seakan enggan untuk beranjak dari pintu depan gedung rumah sakit. Ada banyak hal yang sedari tadi Wulan pikirkan. Pikirannya bimbang.


Namun, sosok yang sangat ingin ia hindari tiba-tiba lewat dengan wajah serius sedang berbicara di telfon. Dengan reflek cepat Wulan membalikkan badannya, menghindar dari pandangan mata mas Rendi. Setelah ia merasa yakin bahwa mas Rendi telah menjauh, langkah kaki Wulan kini kembali yakin untuk segera pergi ketujuannya awal.


Wulan berjalan pelan menuju lift rumah sakit, dan ia menekan tombol lift lantai 3, ruang yang ia tuju adalah ruang dr. Evan.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Wulan melihat didepan ruangan dr. Evan terdapat beberapa pasangan pasien yang tengah menunggu dengan sabar. Wulan terduduk dikursi paling ujung.


Waktu pun berlalu begitu saja, kini lorong depan ruang dr. Evan pun kosong. Pasien terakhir pun baru saja keluar dengan wajah bahagia.


Dari dalam ruang dr. Evan, terlihat sedang membereskan kartu pasien yang telah ia periksa. Dengan nafas panjang dr. Evan menyerahkan kartu-kartu itu kembali kepada perawat yang menunggunya.


"hhhhmmm, oke, terima kasih untuk hari ini suster Lia"ucap dr. Evan menyudahi tugasnya hari ini.


"Ah, tapi dokter, sepertinya ada 1 pasien lagi"


"Hah?? bukannya tadi sudah pas 26 pasien??" protes dr. Evan heran, kemudian ia melihat jam ditangannya.


"Baik laah suruh masuk sekarang"ucap dr. Evan berdamai dengan lelahnya.


"Baik, dokter" sahut suster yang kemudian berlalu untuk keluar dari ruang dr. Evan.


Disisi luar, Wulan terlihat termenung tanpa bergeming sedari tadi. Perawat itu mendatanginya.


"Maaf ibu, apa mau konsul dengan dr. Evan??"tanya sang suster yang mengejutkan lamunan Wulan.


"Baik, ibu no kartunya berapa??"


"Sa- saya gak ingat sus, tapi saya hanya sebentar saja"


"Ah, begitu yaa, saya tanya dokter dulu, yuk ibu juga ikut"


Perlahan Wulan bangun dan mengikuti perawat itu dari belakang. Pintu ruang dr. Evan terbuka, dan terlihat oleh mata Wulan jika dr. Evan tengah meneguk air mineral.


"Maaf dokter, ibu ini tidak ingat nomor kartunya??" jelas suster yang memiringkan tubuhnya sehingga terlihat Wulan yang kini berdiri tepat dihadapan dr. Evan.


" Wulan??" seru dr. Evan kaget melihat Wulan yang sedikit berwajah sendu.


"Ah, suster Lia, untuk hari ini terima kasih sudah bisa pulang"


"Oh, baik dokter, terima kasih"sahut sang suster yang kemudian berlalu meniggalkan ruangan dr. Evan dan pasiennya.


Sesaat ruangan dr. Evan hening. Wulan terlihat masih berdiri disana dengan wajah tak berekspresi.


"Apa kamu sakit??" tanya dr. Evan lembut seraya membuka kancing lengannya dan ia menggulung.


"Sejujurnya, Wulan sudah memikirkan hal ini" ucap Wulan yang terlihat ragu.


dr. Evan bangun dan berjalan kehadapan wulan yang berada tepat dimeja kerjanya.


"Dokter sudah tau dengan segala kekurangan Wulan, apa itu tak menjadi masalah untuk dokter??" tanya Wulan yang mencoba menatap wajah dr. Evan yang kini tepat berdiri dihadapannya.


"Kamu kenapa??"tanya dr. Evan cemas.


"Dokter apa mau menikahi Wulan??" tanya Wulan menatap dalam wajah dr. Evan yang seketika berubah sedikit syok namun perlahan terukir senyum manis dari wajah pria ini.


"Ya!!" sahut dr. Evan tanpa ragu.


"Sejujurnya bukan hal yang mudah menjaga kode etik kedokteran jika denganmu"sesaat dr. Evan menunduk dihadapan wulan.


"aku sudah terbiasa dengan peraturan ini, tapi bersamamu membuat ku lupa".


Wulan menatap wajah dr. Evan.


"Boleh aku mencium mu??" pinta dr. Evan pada Wulan.


Sesaat terlihat kilatan di kedua bola mata Wulan yang benar-benar tak bisa di tebak oleh dr. Evan.


Namun perlahan Wulan mendekat kan diri kehadapan dr. Evan, tangan kanannya mencoba menyentuh wajah dr. Evan dengan lembut.


dr. Evan pun menyambut lembut tangan Wulan dan mencium dalam tangan Wulan. Wajah wulan yang sendu sedikit tersenyum hangat kepada dr. Evan.


Secara nalurinya dr. Evan mendekatkan wajahnya pada wajah Wulan, nafas mereka bertemu, dan dr. Evan mengecup bibir ranum Wulan.


Perlahan Wulan pun menyambut bibir dr. Evan yang memangutnya dengan lembut. Tangan wulan pun menyentuh dada dr. Evan. Untuk waktu yang lama keduanya saling berciuman dengan hasrat yang seakan tak terbendung.


"Maafkan wulan yang memanfaatkan kebaikan mu dokter, kesalahan ini akan Wulan bayar dengan seluruh hidup Wulan" gumam Wulan dalam hati dengan tulus.


Lengan dr. Evan pun meraih tubuh Wulan untuk lebih dalam kedalam pelukan hangat itu. Dan ciuman itu pun terhenti, dengan nafas yang masih berhasrat. Namun perlahan dr. Evan memeluk dalam tubun Wulan.


"Terima kasih Wulan, Safa Marwah pasti senang mendengarkan kabar ini"ucap dr. Evan bahagia dengan mencium aroma harum dari tubuh wulan.


Disisi lain Wulan memeluk tubuh dr. Evan dengan rasa bersalah, air matanya jatuh.


🌢🌢🌢🌢🌢


Salam sahabat. di part sebelumnya dan part ini agak sedikit naik sasak authornya nulis. Secara pas udah full ilang naskahnya begitu saja 😭 pedis beb!!


Tapi semoga semuanya bisa terpuaskan dengan alur cerita dr. Evan dan mbak wulan yaa.


Untuk semuanya terima kasih banyak, salut sama antusias para sahabat yang dengan sabar nunggu up partnya. ❀❀ maafkan jika banyak penulisan yang salah 😭


Jangan lupa untuk Like dan koment yaa, dan bila berkenan berikan vote kalian se iklasnya yaa yorobun. biar dapat rangking πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜… secara ujian semester udah selesai πŸ˜…πŸ˜…garing,,


Terima kasih semua 😍