
Dikamar Sakura, Mbak Nita masih tercengang tak percaya dengan cerita Wulan.
" Kamu serius bilang begitu dengan Rendi??"
Wulan mengangguk, seraya berusaha menyisir rambutnya dengan jari dan mengulungnya dengan asal sehingga terlihat cepol rambut diatas rambutnya.
" Wulan gak mungkin Mbak korbanin Mas Rendi, jadi yaa jujur saja dengan sakit ini, itu yang terbaik, " ujar Wulan sedih.
Mbak Nita mengela nafas panjang, memang perkataan Wulan benar, memang sakit tapi ini yang terbaik.
Namun terdengar pintu kamar terbuka, dan terlihat Rendi masuk dengan sebuah buket bunga merah ditangannya.
Wulan juga Mbak Nita terkejut dengan kedatangan Rendi. Sesaat suasana canggung menghinggapi ruangan itu. Sadar akan hal itu, Mbak Nita bangun dari duduk disofa lalu berjalan menghampiri meja untuk mengambil handphonenya yang sedang tercarger disisi meja tempat tidur pasien.
" Hhmm, Mbak keluar sebentar yaa, mau tanya Dokter kapan visit ".
Dan tinggallah Rendi dan Wulan yang membisu. Sedetik kemudiaan Rendi berjalan kehadapan Wulan yang terduduk dikursi samping tempat tidur pasien, ia turun berlutut dihadapan Wulan yang terdiam.
" Kamu, apa sudah baikan??, " ucapnya dengan mata sedih.
Wulan hanya mengangguk pelan dengan sorot matanya yang terus menatap Rendi dalam. Rendi menyerahkan buket bunga mawar itu pangkuan Wulan.
" Kamu tau??, Mas telah berpikir semalaman, " ucapnya pelan.
" Mas memutuskan untuk tetap bersama kamu, apa pun!!, apa pun kondisimu, Mas akan tetap bersama kamu, Wulan, " ucapnya menatap mata Wulan dalam.
Air mata Wulan turun, hatinya sakit mendengar pengakuan Mas Rendi. Namun tangan Rendi mengeluarkan sebuah kotak kecil dari balik sakunya dan membukanya dihadapan Wulan.
" Menikahlah denganku??? " ucap Rendi tulus. Dengan lembut Rendi meraih tangan Wulan dan memakaikan cincin itu dijemari Wulan.
" Bersama kita akan pergi kemana pun, sekecil apa pun hasilnya kita akan lalui bersama, " ucap Rendi dengan sedikit senyum sedih membingkai wajahnya.
Wulan tak bisa berkata-kata, hatinya senang tapi juga sedih teramat dalam. Air mata Wulan benar-benar tak berhenti, namun Rendi bangun dan meraih tubuh kurus Wulan kedalam pelukannya.
πππ
Mbak Nita menunggu perawat yang tengah menelefon perawat dari ruangan dr. Evan. Sedetik kemudian suster itu kembali berhadapan dengan Mbak Nita yang menunggu
sembari memainkan layar handphonenya.
" Maaf mbak menunggu lama, tadi dari info ruangan, dr. Evan belum datang mungkin agak sore karena dokter sedang ada urusan, " jelas Perawat itu.
" Oh begitu yaa, baik kami tunggu dikamar kalau begitu ".
Dan Mbak Nita kembali menuju kamar Sakura, tapi ia terhenti mengingat didalam pasti Rendi dan Wulan tengah membahas masalah mereka. Dengan nafas panjang Mbak Nita membalikkan badannya dan melangkah keluar dari ruangan perawatan ibu dan anak, menuju cafetaria rumah sakit yang berada dilantai dasar.
πππ
Wulan dan Rendi duduk disofa, dengan suasana yang masih sedikit canggung.
" Ya, Ibu harus tau keputusan Mas".
Wulan mengangguk paham, Mas Rendi adalah anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga. Tapi rasa cemas dihati Wulan belum sirnah sedikit pun, ia tau pasti akan badai setelah ini, hatinya gelisah. Tapi melihat Rendi yang meyakinkannya dengan sungguh, rasanya ia ingin mencoba untuk melawan ragunya.
" Kapan dokter masuk??, " tanya Mas Rendi.
" Wulan gak tau Mas??, Oia, Mbak Nita kemana yaa??, kok belum balik-balik??, " ujarnya dengan sedikit panik.
Rendi sedikit tertawa ringan melihat Wulan.
" Kenapa ketawa Mas??, apa ada yang lucu??"
"Hhmm, yaa".
" Apa??, " tanya Wulan penasaran.
" Kamu seperti Nobita, kalau lagi panik pasti cari Doraemon, " celetuk Mas Rendi dengan tertawa kecil.
" Hah??, apa??, Nobita??, isssh..., Mas ini jahat banget ngatain Wulan kayak Nobita".
Dan sesaat Rendi tertawa lepas melihat Wulan yang ngambek.
" Puas ketawanya??, " ujar Wulan yang bete melihat tawa Rendi yang mengejek.
Rendi terus tertawa melihat wajah Wulan, dan sesaat ia menarik nafas panjang.
" Kita udah lama tak bercanda gurau, kamu ingat ketika kejutan ulang tahunmu tahun lalu, Mas rasa itu moment terbaikmu".
" Kenapa??, " ujar Wulan bingung.
" Kamu bisa menangis tertawa diwaktu bersamaan ".
Wulan sedikit terpanah melihat sorot mata Rendi. Apa yang Mas Rendi katakan itu benar, mungkin itu moment terbaik yang pernah ia rasakan. Waktu itu ayahnya datang secara tak terduga, walau sesaat itu menjadi kenangan terbaik yang tak pernah ia lupakan. Bagaimana sosok ayah datang memberi kejutan ditengah-tengah kesibukannya.
" Apa ayahmu tau keadaanmu??"
Wulan mengeleng pelan. Rendi paham arti gelengan itu, ia tau bahwa ayah Wulan tak bisa sebebas itu mengetahui kondisi Wulan, ibu tirinya benar-benar memutuskan hubungan ayah anak ini dengan paksa.
" Sudahlaah, kamu istirahat saja, Mas akan jaga kamu".
" Jangan Mas, Wulan sudah baikan, " ujarnya menolak pelan.
" Rubahlaah sifat kamu yang terlalu mandiri, Mas juga ingin bisa jaga kamu, " pinta Rendi menatap Wulan.
Wulan sedikit tersindir, ia terdiam dengan sedikit mengeha nafasnya. Wulan mengikuti maksud Mas Rendi, ia bangun seraya mendorong tiang infus itu menuju tempat tidur pasien. Rendi bangun untuk membantu dari belakang langkah Wulan.
" Tidurlah, " ucapnya seraya membelai rambut Wulan, dan tangannya pun turun menyentuh tangan Wulan yang telah tersemat cincin yang tadi ia pakaikan.