One Step Closer

One Step Closer
12



dr. Evan pulang kerumah dengan perasaan tak seperti biasa, masih terngiang di kepalanya ketika Wulan memutuskan hubungan dengan kekasihnya.


Namun lamunannya terbuyar dengan suara Pak Didi.


" Tuan, sepertinya ada Nyonya Vivian dirumah, " kata Pak Didi ketika memakirkan mobil disebelah mobil HR-V merah.


" Dia bukan Nyonya, dia orang asing, ingat itu!, "ucap dr. Evan dingin lalu ia pun turun dengan kesal.


" Maaf Tuan, " sadar akan salah ucapnya tadi.


dr. Evan membuka pintu rumahnya dengan kasar dan terlihat Vivian tengah duduk diruang tengah sembari menatap layar handphonenya, dan ia tersadar ketika Evan berjalan melintasi ruangan itu tanpa melihatnya, Evan berjalan menuju dapur dan meraih pintu kulkas.


" Kau masih saja pulang terlambat, " kata Vivian dengan menatap Evan yang cuek dengan kehadirannya.


Evan tak menjawab ia, mengeluarkan air dingin dari kulkas dan meminumnya, lalu mengamati kotak cake Dr. Dessert dan mengambilnya satu, dan duduk di meja makan. Vivian berjalan menuju meja makan dengan wajah kesal.


" Apa yang telah kau katakan pada anak-anak sampai mereka begitu tak menyukai aku, Ibu kandungnya??, " tanya Vivian sinis.


Evan hanya tertawa sekilas.


" Menurutmu??, " ucapnya seraya menyuapkan cake rasa mocca itu kemulutnya.


" Kau!!, " ucap Vivian marah dan kesal dengan tingkah Evan yang seperti mengejeknya.


" Besok pagi aku akan menjemput mereka untuk menginap dirumahku selama beberapa hari".


Evan hanya mengeleng kepala.


" Kita lihat, apa anak-anak mau??, " ujarnya dingin.


" Aku ibu mereka!!, " ujarnya lantang.


" Hah??, " ucap Evan mencibir.


" Ibu egois!!, menelantarkan mereka untuk kesenanganmu, apa pantas sekarang kau menuntut atas mereka??, " ujar Evan ketus.


" Lebih baik kau keluar!!, " ucap dingin menahan marah menatap Vivian.


Vivian kesal dengan ucapan Evan ia beralih menuju sofa mengambil tasnya dan keluar dari rumah itu dengan marah.


Beberapa saat Evan mencoba menenangkan dirinya dari rasa marah berdebat dengan Vivian. Ia bangkit dari kursi meja makan menuju kamar Safa dan Marwah dengan wajah sedih. Evan membuka pintun kamar itu dengan pelan dan terlihat Marwah tertidur dengan memeluk kakaknya Safa yang selalu ketakutan bila tidur. Ia menghela nafas panjang merasa sedih melihat kedua putrinya harus kehilangan sosok ibu. Namun ia kembali menarik pintu kamar itu hingga tertutup. Ia melangkah kekamarnya yang berhadapan dengan Safa dan Marwah.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Esok paginya dikediaman dr. Evan, Safa dan Marwah telah bangun lebih awal. Mereka masuk dan berlari kearah kasus king size itu serta naik dan duduk dikedua sisi papa mereka yang masih tertidur.


" Papa??, " panggil Safa lembut.


" Hhmmm, " sahut dr. Evan dengan masih tertidur.


" Papaaah banguuuuun!!, " pinta Marwah.


Evan terbangun dan berbalik badan menghadap ke arah Safa dan Marwah yang terduduk dikanan kirinya. Evan berusaha benar-benar sadar seraya menarik Safa dan Marwah untuk tidur kedalam pelukannya.


" Mommy kemarin datang, katanya mau ajak kita kerumahnya, " ucap Safa pelan.


" Marwah gak mau!!, " protesnya.


Evan menarik nafas panjang, ia sudah menduga Marwah pasti menolak.


" Kalian sayang sama mommy??".


Safa dan Marwah diam serta saling lirik satu sama lain.


" Gak!!, " jawab Marwah tegas.


" Sedikit pah, tapi..., " ujar Safa terhenti dengan wajah ragu.


Evan membelai kedua kepala putrinya yang tidur didadanya.


" Mommy rindu sama kalian, kali ini aja ikut mommy yaa, " ucap Evan tak begitu yakin akan diterima oleh keduanya.


" Kalo kakak mau, kakak aja yang pergi!!, Marwah tinggal sama papa, " ucapnya marah dan keluar dari kamar papanya, meninggalkan Safa yang sebentar lagi akan menangis.


Dan benar saja, Safa menangis setelah ditinggal oleh Marwah.


Evan segera bangun untuk menenangkan Safa dari tangisnya, karena jika dibiarkan ia akan memicu muntah seharian.


" Safa udah yaa jangan nangis, papa tar ngomong sama Marwah, udah nak yaa, nanti kamu bisa muntah, " ujarnya sedikit panik.


Evan turun dari kasurnya dan mengendong Safa yang masih menangis.


" Bibik...,biik!!, " panggil Evan panik.


" Iyaa Tuan.., loh Non Safa kenapa nangis??, " tanya Bibik bingung.


" Tolong pegang Safa, saya mau liat Marwah dikamar, " ujarnya seraya menurunkan Safa dihadapan Nibik, dan ia berlalu mencari Marwah yang pasti mengurung diri didalam kamarnya.


Didalam kamar Marwah duduk disisi bawah tempat tidur dengan wajah cemberut. Evan berlahan jalan mendekat kearah Marwah dan duduk tepat dihadapan gadis kecil itu.


" Marwah??, " panggil Evan penuh sayang.


Marwah hanya diam ketika namanya dipanggil.


" Papa tau, Marwah gak mau ketempat Mommy, tapi jangan tinggalin Safa, kasian dia".


Mata marwah memerah menatap Evan.


" Marwah gak sayang sama Safa??"


" Sayang, " ucap Marwah cemberut.


" Kalo sayang temenin kak Safa yaa, mungkin dia rindu Mommy, boleh??, " ucap Evan menatap dalam mata Marwah.


Marwah tak menjawab, dan tangan kecilnya mulai memukul dirinya sendiri dengan kesal. Dengan panik Evan menarik tangan Marwah agar terhenti.


" JANGAN !!!, " ucap Evan panik meraih tangan Marwah.


" Jangan lukai diri sendiri lagi sayang, " ucap Evan cemas.


" Maaf...,maaf..,maaf..., papa gak akan maksa kamu lagi, " ucapnya dengan segera menarik tubuh kecil Marwah kedalam pelukannya. Dan Marwah pun menangis sejadi-jadinya dalam pelukan papanya.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Setelah hampir 1 jam lebih menenangkan Marwah, Evan keluar kamar dengan melihat Vivian tengah memangku Safa dimeja makan.


Evan melihat Safa sudah tak menangis lagi, ia sedang makan bersama Vivian.


" Apa Marwah masih marah??, " ucapnya ragu kearah papanya.


" Tidak, ia sedang tidur, " ucap papanya beralih menuju dispenser.


" Sebaiknya aku membawa Safa saja, " ujar Vivian senang.


Evan hanya mengangguk, ia meminum air putih hangat dan berbalik menuju kamarnya.


Namun tiba-tiba Safa turun dari pangkuan Vivian dan berlari memeluk pinggang papanya.


" Papa marah??, " ucapnya cemas.


Evan berbalik melihat kearah Safa.


" Gak, papa gak marah, pergi lah, " ucapnya lembut.


" Safa gak lama, janji nanti malam udah main sama Marwah lagi, " ucapnya sungguh pada papanya.


" Iyya, " ucapnya seraya mencium kening Safa.


Safa pun berbalik menuju Vivian yang berdiri menunggunya didepan pintu rumah. Safa terlihat berat tapi ia ingin sebentar bersama Mommynya. Dan mobil HR-V merah itu pun keluar dari perkarangan rumah dr. Evan.