One Step Closer

One Step Closer
75



Diruang operasi itu, suasana tegang pun terlihat. Wajah dr. Evan berubah dingin, para perawat dengan was-was menunggu perintahnya. Namun tiba-tiba pintu ruang operasi itu terbuka dan dr. Wayu datang dengan wajah panik.


Selama menuju ruang operasi ia mendapat kabar bahwa dr. Evan berubah gila. Karena istrinya pendarahan hebat.


"EVAN!!, " panggil dr. Wayu tegas. Dan hal itu menghentikan tangan dr. Evan yang akan membelah perut istrinya dengan wajah tegang.


Derap langkah kaki dr. Wayu pun terdengar tegas menuju temannya.


" Biar aku yang lakukan!!, " pintanya serius.


" Kau???, " ujar dr. Evan ragu.


" Kau tak bisa melakukannya dengan perasaan kalut, itu akan fatal untuk istrimu".


" Aku tak mau, " tolak dr. Evan dingin, dan tatapannya kembali pada perut Wulan.


Dengan sekali hentakan dr. Wayu menarik baju dr. Evan dengan kuat dan mendorong tubuh dr. Evan kedinding operasi. Dan sontak membuat para perawat wanita menjerit takut.


" Apa kau gila???, kau ingin bermain-main dengan nyawa istrimu???, bahkan tanganmu saja gemetar!!!, " ujar dr. Wayu marah yang melihat dengan mata kepalanya sendiri tangan sahabatnya gemetar memegang pisau bedah.


" Tapi dia istriku!!!!, "ujar dr. Evan marah.


Dan Plakkk.. dr. Wayu menampar keras wajah dr. Evan yang bagai orang kesurupan. Sontak membuat para perawat wanita disana berubah tegang dan takut dengan duel kedua dokter itu yang terkenal keakrabannya.


" Kau sadarlah!!!, disini bukan status dia istri siapa???, dia sekarang pasien kritis!!!," ucap dr. Wayu marah melihat temannya menjadi lupa diri dan gila karena kalut.


" Dia sedang hamil, dan kemungkinan kista dirahimnya pecah hingga pendarahan, " ujar dr. Evan bergetar dengan tatapan nanar.


" Percaya pada ku, biar aku yang lakukkan!!!, " kata dr. Wayu meyakinkan.


" Dokter, denyut jantung pasien melemah!!, " ujar Perawat panik.


" Suntikan obat Xxx pantau tekanan darahnya!!, " perintah dr. Wayu cepat.


" Percaya aku!!!, " perintahnya serius menatap wajah sahabatnya yang layu.


Dan dengan berlahan dr. Evan menyerah.


" Selamatkan dia, kumohon!!!, " ujarnya bergetar dengan suara parau.


Dan dengan cepat dr. Wayu mengambil alih operasi istri sahabatnya. Dan dr. Evan berjalan pelan menuju sisi samping Wulan yang terlihat putih dengan selang pernafasan terpasang disana. Ia meraih tangan Wulan yang tertancap berbagai selang untuk kebutuhan operasi.


" Aku mohon bertahan laah, " ujar dr. Evan parau. Dan hal itu membuat suasana haru bagi para perawat yang melihat sisi lain dari dr. Evan.


Butuh 3 jam untuk menghentikan pendarahan Wulan. Dan hal yang menyakitkan adalah Wulan harus kehilangan bayi dan juga saluran rahimnya sebelah. Karena kondisi Kista parah yang sudah mulai mengrogoti saluran tuba hingga jalan terbaik adalah memotongnya. Dan kantung darah yang telah dihabiskan selama operasi Wulan mencapai 10 kantung.


Sesaat ketika tubuh Wulan keluar dari ruang operasi wajah sayu dr. Evan terlihat disana yang berhenti didepan pintu ruang operasi. dr. Wayu menghampirinya seraya menepuk pundak dr. Evan.


" Kita sudah lakukan yang terbaik, dan sisanya biar mukjizat Tuhan yang bekerja, " ucap dr. Wayu dan berlalu meninggalkan dr. Evan.


Seketika ruang operasi itu sunyi. Tinggal dr. Evan sendiri disana dengan tubuh terhunyung, ia berusaha keluar dari ruangan dingin itu. Ia berjalan menuju ruang ganti pakaian, berlahan ia meraih handphonenya terlihat 36 telfon panggilan. Mulai dari Nibik rumah, Ibu dan kak Eva. Hatinya beku seketika. Berlahan ia menelfon bibik rumah.


" Papa??, mama gimana??, " tanya Safa Marwah yang ragu.


" Huuuuffft.., " ia mengatur nafas gemuruh dihatinya untuk menjawab pertanyaan kedua putrinya yang menyakitkan.


" Ma..mama baik, " ujar yang terhenti dengan suara parau. Dan seketika airmatanya lolos dari pelupuk mata dan telfon itu pun jatuh begitu saja dari tangannya. Dengan gemuruh dihatinya ia roboh berlutut menangis dengan isak tertahan seraya menahan tangannya dikedua matanya.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Malam itu diruang ICU, seorang perawat wanita tengah mengecek kondisi Wulan pasca operasi. Sudah lebih dari 5 hari Wulan belum sadar. Kondisinya yang tak stabil membuat dr. Evan terus berjaga menjaga kondisi istrinya. Hanya diwaktu makan dan kekamar mandi ia meninggalkan Wulan.


Para perawat yang ikut berjaga berganti jam pun salut akan kesetiaan dr. Evan yang tak bergeming disisi istrinya. Bahkan ada banyak simpatik datang dari rekan sejawat yang memberi suport pada dr. Evan.


dr. Wayu datang tiap malam sebelum ia kembali pulang. Ia terus berdiskusi dengan perkembangan Wulan yang tak signifikan.


" Lebih baik kau beristirahat. Sudah beberapa hari kau terjaga, " ucapnya dengan memasang infus di tangan dr. Evan yang kini membutuhkan suport obat untuk bertahan menjaga istrinya.


" Ya, terima kasih, " jawabnya parau namun sorot matanya nanar menatap wajah Wulan.


Setelah dirasa baik, dr. Wayu meniggalkan dr. Evan menjaga istrinya.


Dengan duduk dikursi dan menahan tangan di infus. dr. Evan memandang wajah Wulan.


" Cepatlah kembali, kau tau??, aku rindu" ucap dr. Evan pelan seraya mengengam jemari ramping Wulan yang pucat.


Berlahan dengan pekatnya malam dr. Evan terlelap dalam tidurnya disamping tempat tidur Wulan.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Pukul 3 dini hari, berlahan mata Wulan terbuka. Ia berusaha untuk terus membuka kedua matanya. Dan ia merasakan seluruh tubuhnya sakit. Sesaat ia merasakan teramat sangat haus. Dengan bingung ia melihat sekitar.


" Aa..air..air, " ucapnya berbisik parau.


Wulan berusaha meraba menarik tangannya yang ia rasa memegang sesuatu. Dan ternyata hal itu membangunkan suaminya mas Evan. Dan dengan panik Mas Evan bangun dengan wajah kaget namun senang.


" Kamu bangun!!!, kamu bangun!!, " ujar dr. Evan senang. Dan dengan cepat ia mengambil alat Stetoskop untuk mengecek kondisi Wulan yang baru sadar. Ia melihat arah monitor jantung. Dan berlahan ia tersenyum bahagia. Dan reflek memberikan ciuman dikening istrinya yang terlihat pucat.


" Kamu kembali!!, "ucapnya lirih di sisi Wulan dan masih bingung.


" Apa kau haus???, " tanya Mas Evan.


Wulan menjawab pelan. Berlahan Mas Evan memberikan air minum dengan menyulangkannya dari sendok kemulut Wulan yang kering.


Setelah dirasa cukup mas Evan menatap wajah Wulan dengan dalam.


" Mass" panggil Wulan dengan suara parau berbisik.


" Sssssstt.. simpan laah tenagamu, kamu belum benar-benar pulih. Semua akan mas jawab nanti jika kita sudah dirumah, " dan berlahan ia naik keatas ranjang pasien itu dan berlahan tidur di sisi samping Wulan dengan memeluk tubuh kurus istrinya.


Wulan hanya melihat tanpa bisa merespon karena ia benar-benar lemah, ia hanya sanggup memalingkan wajahnya ke hadapan mas Evan yang kini tidur disampingnya. Seketika air mata pria itu jatuh yang membuat Wulan terkejut.


" Kenapa.. mas menangis??, " ucapnya berbisik seraya tangannya yang bertancap selang infus pun menyentuh wajah suaminya yang terlihat tirus.


" Mas takut kehilangan kamu".


Wulan hanya tersenyum simpul. Namun dilubuk hatinya ia ikut bersedih melihat suaminya yang begitu tak terurus.


" Aku mencintaimu Mas".


" Aku pun selalu mencintaimu, Wulan," ucapnya berlahan dengan mempereratkan pelukkannya pada Wulan. Hal yang sangat ia harapkan dari sadarnya Wulan adalah pelukan yang hangat dari istrinya.


" Kau harus sembuh, anak-anak merindukan kamu".