
Mobil Alphard hitam itu melaju cepat membelah jalanan ibu kota dengan lancar. Didalam mobil mewah itu Wulan duduk dengan tenang, walau hatinya jauh lebih gundah dari yang dibayangkan.
Tiga puluh lima menit kemudian, mobil mewah itu masuk kesebuah mall mewah ibu kota. Laju mobil itu melambat ketika sampai pada gerbang depan mall tersebut. Ketika pintu mobil itu terbuka, terlihat seorang wanita dengan pakaian kantor menyambut Wulan dengan sopan.
" Mari, ikut saya!!, " ucapnya datar pada Wulan.
Wulan hanya mengangguk canggung. Wulan mengikuti wanita kantoran itu dengan mencoba mengimbangi kecepatan jalannya. Wulan mencoba menerka-nerka kemana ia akan dibawa.
Ketika memasuki sebuah lift, terlihat Wulan mencuri pandang dengan jari wanita itu, dan terbaca lift ini akan naik ke lantai 8. Wulan merasa hawa didalam lift itu cukup dingin, ia merasakan ujung-ujung jarinya sedikit beku.
Ting...
Bunyi lift itu berhenti dilantai 8, dan seketika pintu lift itu terbuka dan terlihat suasana amat sangat lenggang disana. Langkah kaki wanita kantoran itu terus melangkah menuju kesebuah restoran moderen.
" Silahkan, Nyonya sedang menunggu Mbak didalam ".
Lagi, Wulan hanya mengangguk paham akan intruksi dari wanita kantoran itu. Sebelum langkah kaki Wulan benar-benar masuk kedalam restoran, ia mencoba menarik nafas panjang dan membuangnya dengan seraya langkah dengan pasti kedalam.
Dan terlihat, seorang wanita paruh berwajah anggun tengah duduk di meja dekat jendela yang memperlihatkan view Jakarta siang hari. Dengan pasti langkah Wulan mendekati meja tersebut. Seketika wajah wanita paruh itu berpaling melihat Wulan yang kini tepat berhenti didepan meja.
Wanita paruh baya itu melihat dengan amat teliti, seakan menjengkal setiap tubuh Wulan dari atas hingga bawah.
" Maaf ibu, saya membuat anda menunggu, " tutur Wulan sopan.
Wanita paruh baya itu hanya diam melihat Wulan dengan sorot mata tajam. Wulan dengan pelan menarik kursi dan duduk dengan mencoba untuk nyaman. Dan mata Wulan melihat sekitaran dalam restoran dengan aneh. Wulan tak melihat pengunjung lain, didalam restoran itu hanya ada ia dan ibu Mas Rendi, serta 2 pelayan yang bersiaga juga 1 wanita kantoran tadi yang mengantarnya kemari.
" Sepertinya tempat ini sepi, apa karena hari kerja ya bu??, " ucap Wulan mencoba mencairkan suasanan.
" Saya bukan Ibumu, dan tidak akan pernah sudi panggilan ibu keluar dari mulut kamu, " ucapnya dingin menatap Wulan tajam.
Seketika Wulan terhenyak, dan ia berusaha untuk tetap tenang.
" Maaf Nyonya, " ucap Wulan tenang.
" Apa yang ingin Nyonya sampaikan??, saya tidak bisa berlama-lama karena akan bertemu dengan seorang yang penting!, " ucapnya tegas.
" Siapa??, Dokter pria itu??, " ucapnya seolah menghina Wulan.
" Apa ibumu tak mengajarkan tata krama dan kepribadian yang bagus??, dan kamu bisa bermain dengan dua pria sekaligus??, " ujar Ibu Rendi ketus.
Wulan marah, ia tersinggung dengan ucapan Ibu Rendi. Dibawah meja itu tangannya mengepal kuat menahan amarahnya karena telah menyinggung almarhum Ibu Wulan.
Namun Wulan tersenyum dengan mengalihkan pandangannya. Dan itu cukup membuat ibu Rendi geram seolah telah di hina oleh Wulan.
" Kamu masih bisa tersenyum, apa itu lucu??, " ucapnya marah.
" Maaf, tapi semua yang Nyonya katakan adalah gambaran dari kepribadian Nyonya, yang suka menilai seseorang dari sebelah mata dan menfitnah dengan kejam, " ucap Wulan membalas halus.
" Menjauhlah dari putraku, kamu hanya memberi dampak buruk untuknya, " ujar Ibu Rendi dingin.
" Maaf, tapi sepertinya tidak bisa, karena putra anda yang menahan saya untuk disisinya, " ucap Wulan membela diri.
" Jadi kamu tak mau pergi dari putra saya??, " ucapnya tajam.
" Aaa..., sebagai gantinya Saya akan memberikan uang untuk kamu, " ucapnya menemukan celah.
" Maaf Nyonya, tapi saya tidak butuh uang, " ucapnya dengan senyum.
Namun seketika Brasssssss...
Wajah Wulan basah oleh siraman air teh Ibu Rendi yang menyiramnya dengan marah.
" Terserah kamu terima atau tidak, saya telah mengirimnya..., dan KAMU harus ikut perintah Saya untuk menjauh dari Rendi selamanya, " ucapnya dengan nada kesal dan marah. Lalu bangun dan berjalan cepat keluar dari restoran itu.
πππ
Lama Wulan terdiam di meja restoran itu dengan melepaskan nafas berat.
" Benar-benar perang yang berat, " ucapnya pelan seolah telah habis seluruh tenanganya tadi menghadapi ibu Mas Rendi.
Sesaat ia teringat ucapan Ibu Rendi bahwa ia telah mengirimkan uang. Dengan berlahan ia membuka layar ponselnya dan mulai ngecek di aplikasi perbankan online. Ia membuka akun pribadinya dan saldo masih tertera dua ratus empat puluh delapan juta. Wulan pun masih bernafas lega karena saldo pribadinya masih normal. Dan sekarang ia membuka akun Dr. Dessert, seketika ia terbelalak dengan nominal yang tertera satu miliyar tiga puluh juta. Ia benar-benar terkaget betapa ibu Mas Rendi tak main-main dalam ancamannya.