
Pagi hari yang cerah, Mas Evan bangun dengan wajah kecewa. Bagaimana tidak, sudah tak malam pertama posisi tidurnya pun paling pinggir karena ia itu disisi kiri tempat tidur berselang dengan posisi tidur marwah yang memeluk tubuh mama barunya dengan senang.
Mas Evan memandang wajah ketiganya sesaat, ada rasa bahagia yang tak bisa ia ungkapkan. Wulan telah mengisi kekosongan yang dibutuhkan oleh kedua putrinya. Biarlah ia berpuasa beberapa saat, karena kepentingan anak-anaknya lebih dari segalanya. Belahan ia membelai rambut panjang marwah yang terlihat tidur dengan nyaman pada sisi lengan mamanya.
Berlahan mata wulan terbuka, ia mencoba sadar berlahan dari lelapnya. Dan ia merasa ada yang menatapnya dari sisi samping. Sorot matanya pun bertemu dengan tatapan mata mas Evan yang menatapnya dengan senyum hangat.
Wulan/"mas?? mas udah bangun??" ucapnya pelan dan berlahan bangun dari tidurnya dan melihat safa marwah tertidur lelap. Ia berusaha memindahkan tangan keduanya dan reflek mas Evan membantunya untuk mererai pelukan putrinya itu, agar Wulan benar-benar bisa bangun.
Setelah berhasil terlepas dari pelukan itu Wulan berlahan bangun untuk turun dari tempat tidur. Mas Evan hanya memperhatikannya saja sembari menikmati moment yang telah lama tak ia lihat, seorang wanita bangun pagi dikamarnya. Wulan menyisir rambutnya asal dan mengulungnya ke atas, lalu ia bangun untuk menuju kamar mandi. Mas Evan melihat dengan tersenyum, entah laah menurutnya melihat wanita bangun pagi tanpa make up itu cukup mengoda.
Tak berselang lama dari Wulan pergi kekamar mandi, Safa berlahan terjaga dari tidurnya dan berselang beberapa detika Marwah pun juga ikut terjaga. Dan ia bingung melihat sekitar tak menemukan mama barunya.
Marwah/"mama mana??" tanyanya yang mencoba bertanya pada papanya.
Mas Evan/"mama kalian lagi dikamar mandi, pagi tuan putri papa" ucapnya seraya merebahkan tubuhnya ditengah-tengah Safa dan Marwah.
Reflek Safa memeluk tubuh papanya. Dan ia mendapat kecupan sayang dikening begitu jiga dengan Marwah yang masih memcoba merenggankan tubuhnya sesaat.
" Apa kalian senang??"
" Senang banget papa, " ucap Safa yang kini ikut memeluk sisi samping papanya dengan manja.
" Safa mau tidur begini setiap malam sama mama"
" Marwah juga" timpalnya.
Mas Evan hanya bisa menghela nafas panjang. Dan ia pun mulai mengerjai keduanya dengan mengelitikk sisi samping Safa yang sontak membuat Safa cekikikan menahan geli itu. Dan berselang Mas Evan mengerjai Marwah yang berakhir mengalah dengan gelitikan papanya.
Beberapa saat Wulan pun keluar dari kamar mandi yang terlihat tertawa melihat ketiganya berakhir main bantal yang membuat tempat tidur itu menjadi arena pertarungan bantal.
" Mama ayo sisi tolongin kita buat kalahin papa"
Akhirnya Wulan pun bergabung dan menyerang Mas Evan. Canda tawa pagi itu benar-benar hangat mungkin, moment itu laah yang akan Safa Marwah ingat selamatnya. Kehadiran mama baru sungguh membuat keduanya bahagia.
Setelah puas bermain perang bantal dan berakhir mas Evan menyerah kalah. Wulan mengajak Safa Marwah untuk mandi, karena siang ini Wulan harus mengantar ayahnya untuk kembali kebandung.
" Mandiin kita ya mah??, " pinta Marwa yang menarik lengan Wulan.
" Iya sayang, " sahut Wulqn seraya menyisir kembali rambutnya yang terlihat berantakan setelah perang bantal tadi.
Mas Evan/" papa ikut " godanya.
Safa/"ikh papa kita kan cewek-cewek masa papa ikut" ucapnya sedikit mengenyitkan dahi.
Ketiganya pun berlari kecil masuk kekamar mandi, meninggalkan Mas Evan yang kini bangun meraih handphonenya dengan rambut yang berantakan.
ππππ
Setelah ketiganya selesau mandi dan berpakaian cantik. Safa Marwah menunggu diruang tv dengan menonton tv kartun. Wulan yang tengah berdandan di meja rias pun memakai make up tipis. Dan Mas Evan memperhatikan dari dekat kegiatan istrinya itu yang membuat Wulan sedikit risih.
Wulan/"mas??"
Mas Evan/"lanjutkan kegiatan dandanan mu" pintanya yang memperhatikan wajah Wulan yang terlihat glowing. Pasti benda-benda dimeja itu yang membuat wajah Wulan terlihat cerah dan cantik. Dan reflek mas Evan mencium kepala Wulan sekilas. Dan hal itu membuat Wulan terkejut ketika tengah memakain handbody tangannya.
Wulan/"??"
Mas Evan/"kau benar-benar cantik" ucapnya yang kemudian berlalu masuk kekamar mandi.
ππππ
Siang itu dibandara Wulan memegang tangan ayahnya dengan sedih.
Wulan/"ayah, jaga kesehatan" ucapnya dengan menitikkan airmata.
Safa Marwah melihat dengan haru memeluk kakek baru mereka yang baru beberapa hari akrab selama pernikahan kemarin.
Safa/"kenapa kakek gak lama-lama disini??"
Ayah Wulan/"nanti kakek datang lagi, Safa Marwah baik-baik yaa, jadi anak pintar" ucapnya seraya membelai kedua kepala cucu barunya.
Mas Evan/"hati-hati dijalan ayah" ucapnua seraya meraih tangan ayah mertuanya untuk bersalam hikmat.
Dan ayah mertuanya meraih tubuh menantuanya untuk berpelukan.
Ayah Wulan/"tolong jaga putri ku, maafkan laah bila banyak kekurangan pada dirinya, aku sangat berterima kasih padamu atas segala kebaikanmu kepada Wulan" ucapnya tulus seraya pelukan itu terrerai. Dan Mas Evan hanya mengangguk pelan.
Berlahan ayah Wulan pun berjalan berlalu masuk kedalam bandara. Tinggal ke empatnya yang masih menatap haru ke sosok yang telah hilang dibalik pintu bandara.
Mas Evan/"ayo kita pulang" ajaknya kepada Wulan.
Wulan hanya mengangguk pelan dan ia meraih tangan safa marwah untuk jalan bersama mengikuti suaminya yang jalan lebih dulu.
Didalam perjalanan pulang, wajah wulan terlihat sendu.