
Dua minggu pun berlalu, Wulan yang berangsur-angsur membaik kini sudah keluar dari rumah sakit. Hal itu disambut senang oleh kedua putrinya. Selama dirumah sakit ibu mertuanya dengan penuh perhatian merawat Wulan. Bibik dan pak Didi turun senang karena majikan mereka sehat kembali.
Siang didalam kamar utamanya, terlihat Wulan tengah tertidur diranjangnya. Wajah pucatnya masih terlihat disana. Mas Evan yang baru saja masuk berlahan memelankan geraknya agar tak membangunkan Wulan yang terlihat terlelap.
Mas Evan berjalan dengan senyumnya disana. Hatinya senang wanita yang ia cintai tertidur lelap. Ia mendekat pada sisi tempat tidur dan duduk di samping tubuh Wulan. Berlahan ia memandang dalam wajah Wulan, tangannya reflek membelai halus wajah Wulan dan merapikan helaian rambut Wulan yang jatuh diwajah istrinya.
Sorot matanya pun jatuh pada jemari Wulan yang berada dibawah dagunya. Ia melihat dengan sedih punggung tangan Wulan yan masih memakain perban menutupi bekas jarum-jarum yang 2 minggu lalu menancap ditangan Wulan. Ia meraih berlahan jemari ramping Wulan dan mas Evan memegagnya lembut hatinya sedih menginggat kejadian 2 minggu lalu tak pernah terbayangkan olehnya jika hal terburuk terjadi pada Wulan.
Namun berlahan mata Wulan terbuka, ia merasakan tangannya diraih oleh suaminya yang terlihat duduk dengan wajah sendu.
" Mass??, "panggil Wulan lembut.
" Hhmm, " gumam Mas Evan.
" Apa Wulan terlalu lama tidur??".
Mas Evan menggeleng pelan. Wajah sedihnya terlihat disana.
" Mas kenapa??, " tanya Wulan lembut seraya bangun berlahan dan kini terduduk di hadapan suaminya.
Mas Evan hanya tertunduk seolah tak berani menatap wajah istrinya. Berlahan Wulan melepaskan tangannya dari genggaman mas Evan dan menyentuh wajah suaminya.
" Kenapa??, apa sesuatu telah terjadi??, " tanya Wulan berlahan.
" Maaf.., maaf karena mas gak merawat kamu dengan baik," ucapnya tertahan.
"maaf..!!, " mas Evan menyentuh jemari Wulan diwajahnya.
Wulan hanya tersenyum lembut. Dan ia menarik tangannya dari mas Evan, namun kemudian ia merentangkan kedua tangannya dengan senyum.
Berlahan mas Evan menjatuhkan diri dalam pelukan Wulan ia turun merendah hingga kepalanya berada di dada Wulan. Dengan lembut Wulan membelai lembut lengan suaminya yang seolah mendapat ketenangan disana.
" Terima kasih mas, sudah merawat Wulan. Maaf kan karena membuat mas cemas. Mas suami terbaik, " ucapnya seolah memberi semangat pada mas Evan.
Mas Evan diam, ia tak akan pernah memberi tahu hal yang telah hilang dari diri Wulan. Ia memilih untuk menyembunyikan semua agar Wulan tak terpuruk. Mas Evan hanya memberitahu bahwa kista Wulan memburuk dan membuangnya.
πππ
1 minggu berlalu, Wulan berlahan sudah melakukan aktifitas seperti biasa, hanya ia membatasi diri karena ia takut, jika luka bekas operasinya terbuka. Mas Evan pun jadi lebih perhatian pada Wulan, ia jauh lebih cerewet soal obat yang harus Wulan minum bahkan jadwal makan Wulan pun turut ia kontrol.
Malam itu dengan wajah kesalnya mas Evan menyodorkan gelas berisi susu padan Wulan yang sengaja melewatkan minum susu.
" Ya, baik laah dokter, Wulan tak akan lupa susunya lagi, " ujar Wulan sedikti malas lalu kemudian meraih gelas susu dari tangan mas Evan.
" Kamu harus tau, berapa banyak darah yang kamu pakai pada saat operasi??"
" 10 kantong!!!, " jelasnya serius pada Wulan.
" Benarkah?? 10 kantong darah??, " ucap Wulan kaget.
" Maka dari itu hargai darah-darah yang telah menolongmu dengan menjaga asupan makanan, " ujar mas Evan serius.
Wulan pun mengalah dah ia meminum susu itu seketika. Hal yang paling ia tak sukai hanyalaah susu dan kini mau tidak mau ia harus minum demi menyenangkan suaminya yang berdiri tepat didepannya dengan wajah serius.
Dan tak berselang lama susu itu pun habis.
" Ini!!" ujarnya yang pames gelas kosong.
" Bagus!!, " puji mas Evan dan berlalu pada meja kerja mini dikamarnya.
Wulan pun ikut berlalu keluar dari dalam kamarnya untuk mengeluarkan gelas kosong itu dari kamar utamanya. Ia tak mau mencium bau susu didalam kamar.
" Oke!!, kenapa Wulan lama sekali??," ujarnya yang berdiri dengan gelisah.
Namun beberapa menit kemudian Wulan pun kembali dengan segelas air putih hangat ditangannya.
" Sepertinya kita harus menganti tempat tidur, " ujarnya mulai berakting seraya melihat kepada Wulan dan disambut wajah bingung Wulan.
" Menganti??, kenapa??," tanya Wulan bingung dan melihat pada tempat tidur itu yang terlihat baik-baik saja dimatanya.
" Tempat tidur ini benar-benar tak nyaman lagi??, " ujar Mas Evan kembali meyakinkan Wulan.
" Tidakkah kamu mencobanya??, cobalah pasti tidak nyaman!!, " Mas Evan menyuruh Wulan untuk mencobanya sendiri.
Wulan bengong, namun seketika ia meletakkan gelas air putihnya disisi tempat tidur, lalu ia pun mengikut perkataan mas Evan. Ia naik keatas tempat tidur ia berlahan dan merasa tempai tidur itu baik-baik saja.
" Ck!!, bukan disitu??, kesana sedikit, dan coba kamu rebahan!!!, " perintah mas Evan serius.
Wulan kembali mengeser dan kali ini ia mencoba dengan rebahan. Dan ia merasa
aman-aman saja.
" Gak papa kok mas, nyaman-nyaman aja??, " celetukanya seraya meraba kasur itu dengan kedua tangannya.
" Aduuh, coba kamu lebih rasa-rasa lagi dikepala kamu!!, " tukas mas Evan kembali pada Wulan.
Dan lagi Wulan menuruti perkataan mas Evan dan kali ini ia mencoba mengerakkan kepalanya agak dalam kebantal. Dan benar ada benda yang ia rasakan sehingga tengkuknya sedikti sakit.
Wulan reflek bangun dan ia mencoba mencari benda itu dibawah bantalnya. Dan ia terkaget ketika melihat sebuah kotak hitam kulit disana.
" Oh!!!, apa itu??," ucap Mas Evan yang berpura-pura ikut terkaget lalu berlahan, ia pun ikut duduk diatas kasur disisi Wulan.
Wulan mencoba mengambil dan berlahan membuka kotak hitam kulit itu.
Dan Tak..,bunyi kotak hitam itu dibuka.
Dan sesaat Wulan terkesima dengan isi berkilau dari dalam kotak, terlihat gelang dan cincin bermahkotakan berlian yan berbeda desain dari cincin pernikahan yang ia simpan dilemari. Wulan terpaku, ia terdiam sesaat.
" Inii, " ujarnya pelan.
Mas Evan meraih kotak itu dari tangan Wulan. Dengan senyumnya ia mengambil cincin didalam kotak itu dan meraih jemari Wulan.
" Mas gak akan bertanya, kenapa kamu gaj memakai cincin pernikahan kita??, tapi kali ini Mas menuntut padamu untuk selalu kamu kenakan!!, " ujarnya serius dan seiring cincin itu pun berhenti dipangkal jemari Wulan.
Wulan hanya terpaku dan merasa bersalah.
" Kamu tau??, Mas benar-benar takut kehilangan dirimu!!, " ujannya serius menatap wajah Wulan yang cantik.
Wulan hanya menatap lembut. Berlahan ia mendekatkan diri pada suaminya, dan berlahan ia mencium bibir mas Evan. Mas Evan menerima dengan membalas pangutan hangat bibir istrinya.
Berlahan tangan mas Evan meraih tubuh Wulan untuk lebih intim pada dirinya. Pangutan hangat dan lembut kian mendalam, saliva keduanya pun bercampur dengan lidah saling membalas.
Namun berlahan mas Evan menghentikan ciuman mereka. Dengan nafas yang masih memburu mas Evan mencoba menguasai dirinya dari nafsunya.
" Kenapa??, " tanya Wulan bingung.
" Mas akan menunggu sampai kamu benar-benar sembuh, " ujarnya yang tau kondisi didalam rahim Wulan masih terluka.
Wulan terharu. Dan ia membalas mengecup singkat kebibir mas Evan.
Malam itu pun semakin larut dengan terlelapnya Wulan dan mas Evan yang tidur dengan pelukan.