One Step Closer

One Step Closer
69



Seharian Wulan memikirkan perkataan mas Evan tadi pagi. Mbak nita yang menyadari mood Wulan pun datang mendekat kekursi yang Wulan duduki.


" Wulan??"


" Ya, Mbak??, " Wulan menoleh dengan kaget.


" Apa, sedang ada masalah??, " tanya Mbak Nita. " Ah, maaf??, " ucapnya seperti salah tebak. " Ini orderan yang akan kita kerjakan dua minggu lagi, " seraya meyerahkan buku catatan di hadapan Wulan.


Wulan melihat dengan sekilas, ia tak benar-benar membacanya.


" Mbak??, maaf kalau Wulan bertanya hal yang tidak sopan, " ucapnya ragu seraya melihat Mbak Nita.


" Apa??, apa hubungan itu menyakitkan??, " tanya Wulan sedikit ragu.


Mbak Nita masih bingung.


" Aah, ck, " decaknya sedikit kesal dan ia lebih memilih menulis pada buku catatan itu.


" hubungan intim, " tulisnya dan menyodorkannya pada Mbak Nita.


Dan Mbak Nita membaca namun seketika kedua matanya terbelalak melihat Wulan.


" Kamu ??, " seraya mengenyitkan dahi yang paham bahwa selama ini Wulan belum melakukan hubungan suami istri.


" Ya kalo mbak gak jawab yaa gak papa, Wulan ngerti, " ucapnya seraya menutup pulpen itu dan meletakkannya asal.


" Apa, yang kamu ngerti??, " tawa kecilnya seraya melirik Wulan.


" Mbak gak akan tanya kenapa sama kamu??" ucapnya seraya mengeserkan dudukan kursinya mendekat pada Wulan.


" kamu tau??, hubungan suami istri itu bukan hanya fisik semata".


" Disana ada hatimu, " ujar Mbak Nita serius. " Kamu tau, seberapa banyak wanita diluar sana melakukan hubungan intim tanpa ada ikatan pernikahan??, dan berapa banyak pula yang menangis menyesal setelahnya??, dan semua bermula dari hati mereka yang ingin menyatu dengan orang yang mereka cintai".


Wulan serasa tertohok dalam. Ia diam merenung dalam pikirannya yang masih dilema.


" Dan kamu harus tau??, kamu paling beruntung Wulan, karena dicintai dengan sangat oleh dr. Evan, " jelas Mbak Nita.


" Bagaimana bisa mbak tau??, " tanya Wulan dengan kaget.


" Mbak tau, karena dr. Evan melihat kamu dengan tulus, ia benar-benar mencintaimu, " ujar Mbak Nita.


" Mbak??, lama-lama Wulan ngeri duduk dekat Mbak, " ujarnya seraya mengosok-gosok pundaknya bergantian karena berinding mendengar perkataan Mbak Nita.


" Kenapaaa??, " balas Mbak Nita yang penasaran.


" Mbak kayak ahli nujum, bisa tau isi hati orang".


Dan seketika tawa Mbak Nita pecah. " Lama hidup banyak dilihat dan banyak dirasa, tau mana yang tulus mana yang tidak, baik benar juga seakan terlihat nyata. Kamu tau Mbak udah lewati itu semua, berkali-kali hati tersakiti ditambah nikah diusia 40, penantian 3 tahun baru dapat anak semua udah Mbak rasa dan kamu lihat semua historis Mbak."


Wulan terdiam, ia akui hampir 5 tahun lebih ia mengenal sosok Mbak Nita, Mbak Nita jauh sudah merasakan semuanya. Sehingga Mbak Nita lebih dewasa dan bijak dalam berpikir. Tak terhitung air mata yang jatuh diperjalanan hidup Mbak Nita.


" Kamu paling tau hati kamu Wulan, dan kamu harus paham inti dari pernikahan untuk saling melengkapi dan semua keharmonisan itu berawal di atas ranjang, " terang Mbak Nita yang lagi Wulan terdiam mendengar perkataan Mbak Nita yang tajam mengena dihatinya.


Dan Mbak Nita pun kembali kekegitannya menghampiri pelanggan yang baru datang.


Wulan terus berdiam diri dan merenung lama.


Namun tiba-tiba handphonenya bergetar notifikasi pesan masuk. Dan Wulan meraih dengan membuka fitur pesan itu yang dikirim dari kak Ari yang mengabarkan foto album pernikahan mereka telah selasai. Dan Wulan menarik jemarinya keatas layar untuk menemukan pesan selanjutnya dan ternyata ada foto moment romantis pada saat itu.



Sedetik kemudian tanpa Wulan sadari air mata Wulan jatuh. Dan seketika Wulan bangun berlari kecil untuk meriah tasnya dan ia buru-buru untuk pergi.


" Mbak Wulan mau kemana??, " Wiwit terheran melihat Wulan yang terlihat panik.


" Mbak ada perlu, titip toko ya, " dan ia pun berlalu melewati Mbak Nita yang tak sempat ia berpamitan.


Mbak Nita tersenyum simpul dan kembali fokus melayani pelanggan yang ingin membuat pesanan.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Wulan melajukan mobil Freednya untuk bersegera pulang. Ia ingin bertemu mas Evan suaminya.


Sesampainya dirumah yang terlihat hening sepi karena anak-anak beserta Bibik dan Pak Didi tak ada. Wulan membuka pintu berlahan ia tau mas Evan belum pulang. Namun ia berpikir untuk membuat kejutan seraya menunggu mas Evan pulang.


Wulan turun ke dalam dapur kotor dan mencoba membuat masakan kesukaan mas Evan sambalado. Tapi kali ini ia menbuat sambalado tokok daging ala rumah minang. Dan sayur ubi santan kesukaan mas Evan.


Butuh dua jam untuk membuat dua masakan itu. Wulan yang biasanya dibantu bibik pun merasa kewalahan mengurus dapur.


" Jadi rindu bibik, " ucapnya ketika melihat tumpukan panci bekas masak dan rebus dua masakan tadi.


Setelah dua masakan tadi di hidang diatas meja. Wulan berlahan melangkah menuju kamar anak-anak dan bersegera mandi.


Jam pun berlalu, kini tanpa Wulan sadari sudah jam 7 malam. Wulan duduk diruangan TV seraya menonton sinetron dengan tanpa ekspresi. Matanya nanar menatap layar TV besar itu. Berkali-kali ia melihat jam di dinding dan mas Evan belum juga pulang hingga jam 9 malam.


Dan Wulan pun terlelap dengan sendirinya tidur diruang TV yang lelah menunggu mas Evan.


Berselang jam, mobil sedan mas Evan pun pulang dan segera terparkir digarasi. Ia turun dan berjalan menuju pintu depan rumahnya. Ia mencoba membuka kunci pintu rumah berlahan, ia berpikir pasti Wulan sudah lebih duluan tidur dikamar.


Berlahan ia masuk dan menutup pintu itu kembali. Dan ia sedikit terkaget dengan lampu ruang TV dan meja makan masih menyala. Namun tak begitu mempengaruhi mas Evan yang ingin bersegera istirahat dikamarnya.


Dengan berjalan pelan ia melewati ruang tengah untuk menuju dapur bersih untuk meminum air dingin dikulkas. Namun sekilas pandangannya terlihat sosok Wulan yang tertidur diruang TV dengan TV menyala silend.


Ia terpanah melihat Wulan yang tertidur lelap dengan melipatkan tangan sebagai bantal diatas sofa TV dan meringkuk karena dingin diterpa AC ruangan itu. Berlahan ia melangkah mendekat ke sofa itu. Dan tubuhnya reflek turun untuk melihat Wulan. Ia menatap dalam wajah Wulan dan tangannya mencoba mererai rambut Wulan yang jatuh menutupi wajahnya.


Namun hal itu membuat Wulan bergeming, berlahan kelopak mata Wulan terbuka. Dengan mencoba mengumpulkan kesadaran Wulan melihat didepannya sosok mas Evan tengah menatapnya.


" Mas??, " ucapnya pelan dan berlahan bangun dengan menurunkan kakinya.


" Kenapa tidak tidur didalam??, " tanya mas Evan.


" Apa Mas sudah makan???, Wulan masak makan kesukaan Mas, " ujarnya menatap mas Evan.


Seakan jeda, kata-kata "menunggu" membuat hati Wulan sedih, berlahan Wulan mengangguk pelan dengan kedua matanya mulai berkaca-kaca. Dan berakhir lolos air matanya jatuh.


Mas Evan terkesima melihat air mata Wulan. Dan tangannya menyentuh berlahan wajah Wulan.


" Kenapa??"


" Wulan mencintai mas, " seakan jeda Wulan merasa air matanya tak bisa terkontrol untuk jatuh.


" Maafkan, Wulan yang terus membuat Mas menunggu, " ujarnya dengan meraih tangan mas Evan di pipinya dan tertunduk dalam.


Mas Evan terpanah, ia terkejut mendengar pengakuan Wulan setelah sekian lama.


" Wulan hanya merasa tak yakin dengan semua yang begitu cepat berjalan dalam hubungan kita, maaf, karena Wulan mengabaikan segala hal yang telah mas lakukan, " jujurnya yang merasa sedih.


Berlahan mas Evan menarik tubuh Wulan dalam pelukannya.


" Tak perlu meminta maaf, karena Mas yang terus mengejarmu, Mas yang terus berusaha untuk mendapatkan kamu," ucapnya seraya mendalamkan pelukkannya ditubuh wulan.


" Malam ini, " ucapnya ragu.


" Malam ini bolehkah Wulan tidur bersama Mas??".


Dan sedetik kemudian mas Evan mererai pelukannya, ia terkaget mendengar permintaan Wulan dan menatap dalam Wajah sembab Wulan.


" Kamu serius??, " menatap tak percaya.


Wulan tak menjawab, namun ia berlahan tubuhnya turun untuk dapat meraih wajah mas Evan yang masih terduduk bersimpuh dihadapannya. Dan Wulan menjatuhkan ciuman hangat di bibir mas Evan. Sesaat mas Evan terpanah, karena Wulan tak pernah menciumnya duluan, dan sedetik kemudian ciuman itu terlepas dan Wulan menatap dalam wajah mas Evan dengan tangannya lembut menyentuh wajah pria tampan itu.


" Lakukan!!, " ucapnya berlahan.


" Lakukan hal yang seharusnya sudah terjadi dimalam pernikahan kita, " pinta Wulan yang berbicara nyaris berbisik didepan bibir mas Evan.


Wajah terkejut mas Evan pun berlahan terbingkai senyum bahagianya. Dan berlahan mas Evan ******* bibir istrinya yang disambut lembut oleh Wulan. Saliva mereka pun bercampur dengan lidah saling tertau.


Namun beberapa saat mas Evan menghentikan cumbuan bibir itu dengan nafas tersenggal. Wulan menatap bingung.


" Kita kekamar, " pintanya seraya menuntun tubuh Wulan. Dan ketika Wulan baru setengah berdiri, ia merasa limbung dan detik itu ternyata mas Evan meraih tubuh Wulan untuk mengendongnya.


" Mas, " ucapnya yang kaget. " Turunin Wulan!!, " pintanya. "Wulan berat loh mas," pintanya lagi.


" Seberat apa pun kamu??, Mas pasti akan tetap mengendongmu, " ucapnya yang terus berjalan menuju kamar utama.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Dan berlahan keduanya masuk kedalam kamar mereka. Yaa, kamar yang seharusnya telah hangat sebulan yang lalu. Kamar yang luas dan hangat, dan terlihat pencahayaan yang remang dari balik jendela besar kamar yang belum tertutup gorden.


Wulan hanya melihat sekeliling dengan perasaan tak karuan. Namun berbeda dengan mas Evan yang dengan semangatnya berjalan menuju tempat tidur mereka yang terlihat rapi dengan susunan bantal disana. Berlahan mas Evan merebahkan tubuh Wulan dikasur mereka. Lalu ia turun menghidupakan lampu tidur yang berada disisi tempat tidurnya, dan seketika cahaya itu menerpa sehingga memperlihatkan wajah cantik Wulan yang sendu.


" Kamu benar-benar cantik," pujinya seraya mengusapkan jemarinya pada wajah Wulan yang sedikit tertutup oleh rambutnya.


Wulan tak menjawab, ia hanya berusaha untuk mengontrol takutnya dengan memegang dada mas Evan.


" Apa kamu takut??," lalu ia turun mencium sisi leher Wulan yang bereaksi geli.


" Percaya pada Mas!!, Mas akan melakukanya berlahan, " ujarnya berbisik diteling Wulan.


Dengan mencoba menikmati moment itu, Wulan menutup kedua matanya dan ia berusaha untuk mengurangi takutnya dengan memeluk tubuh Mas Evan.


Mas Evan tersenyum melihat Wulan yang berubah membalas perlakuan, dan ia pun berlahan mencium bibir ranum Wulan yang terlihat mengoda. Berlahan keduanya pun tenggelam dalam hasrat keduanya yang telah lama tersimpan.


Dan Mas Evan benar-benar melakukannya dengan berlahan, Wulan yang baru pertama kali merasakannya pun akhirnya mengerti arti dari perkataan mbak Nita dan ia merasa takjub akan hal yang benar-benar terlalu indah untuk diungkapkan.


Suasana kamar yang dingin dengan suhu AC yang menyala rendah untuk mendinginkan kedua insan yang baru saja menumpahkan hasratnya.


Mas Evan tersenyum puas ketika ia melihat wajah cantik Wulan yang tersenyum hangat padanya. Ia tau, bahwa ia telah berhasil membawa Wulan pada nikmatnya dunia.


Mas Evan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang terlihat lelah. Namun ia sedikit terusik karena Wulan tak berbicara sedari tadi.


" Apa, masih terasa sakit??, " ujarnya mencoba menatap wajah Wulan yang diam.


" Jangan!!, " ujarnya dengan mencoba menyembunyikan wajahnya.


" Kenapa??, " ujar Mas Evan panik.


" Wulan bilang, jangan lihat Wulan!!, " ucapnya yang malu.


Mas Evan terperangah dan ia tertawa kecil hingga berniat untuk mengoda istrinya lagi.


" Kalau kamu begini, jadi buat Mas ingin melakukanya lagi, " ucapnya serius mencoba mengoda Wulan yang menutup wajahnya.


Wulan terkaget mendengar perkataan mas Evan.


" Apa??, lagi??, " ujarnya tak percaya.


" Apa mas Evan sekuat itu??, aku saja masih babak belur dan dia masih ingin lagi??," gerutu Wulan dalam hati.


Namun Wulan bereaksi waspada.


" Peluk Wulan!!, " pintanya pada mas Evan yang hampir mengodanya lagi.


" Ingat, cuma peluk aja!!, " tegasnya lagi.


Dan dengan menahan tawa mas Evan mengikuti permintaan istrinya.


" Untuk hari ini cukup!!, kita masih punya malam-malam berikutnya," ucapnya serius seraya membalas pelukan suaminya.


" Terima kasih, Mas!! i love you, suami ku, " ujarnya dan berlahan ia tertidur dengan lelap dipelukan mas Evan yang terlihat terkejut dengan perkataan Wulan yang mengatakan "suamiku"


Mas Evan tersenyum bangga, dan berlahan ia mencium kepala atas Wulan dan memeluknya dengan erat.


" Dan aku pun mencintaimu, Wulan" ujarnya lembut dan dengan senyum bangga ia pun ikut tertidur lelap bersama Wulan.