One Step Closer

One Step Closer
32



Jam menunjukkan pukul 9 malam, dr. Evan masih dengan setia menunggu kedua putrinya sadar. Seketika nada dering handphonennya berbunyi dan mengangkatnya dengan segera.


" Hallo, ibu??"


" Evan, bagaimana keadaan Safa Marwah??," tanya wanita tua itu dengan cemas akan kondisi kedua cucunya.


" Hhmmm, sudah baikan, hanya mereka masih belum sadar dari pengaruh obat, " jawabnya lembut.


" Ibu cemas, bagaimana kamu bisa lengah mengizinkan wanita ****** itu membawa Safa Marwah??, "ucapnya kesal.


" Bu..., sudah laah!!, " sela dr. Evan tak mau membahas hal itu lagi.


" Ibu kesal sekali mendengar berita ini Evan, Bibik sudah cerita".


dr. Evan mengeha nafas panjang, ia tau wanita ini teramat sakit hati dengan Vivian. Tapi apa mau dikata nasi sudah jadi bubur.


" Besok ibu kesana, kabarnya Eva juga akan terbang besok pagi untuk melihat kondisi kalian, " ujarnya dengan cemas.


" Yaa ibu, terima kasih, ibu jangan terlalu memikirkan hal ini karena Safa dan Marwah sudah baikan, Evan gak mau darah tinggi ibu naik!!".


" Jangan cemasin ibu, kamu pikirkan dirimu sendiri dan anak-anak mu".


Dan komunikasi itu pun terputus begitu saja tanpa ada tanggapan dari dr. Evan yang melamun melihat pada wajah Safa yang tertidur pulas. Namun dr. Evan terkaget ketika mendengar panggilan dari Marwah yang sayup-sayup.


" Pah.., papa??, " panggilnya dengan suara berbisik dan lemah.


dr. Evan bangun dan beralih ketempat tidur Marwah yang terlah tersadar.


" Papa disini sayang!!, " ucapnya pelan penuh sayang kepada Marwah yang mencoba mengapai papanya.


Dengan sigap tangan dr. Evan meraih tangan Marwah.


" Sakit pah!!, " ucapnya yang seketika menangis dengan suara kecil.


Hati dr. Evan terluka melihat putrinya menangis, dengan segera ia pun naik keatas ranjang dan merebahkan badannya disisi Marwah, merangkul tubuh Marwah kedalam pelukan dengan penuh sayang.


" Maafin, papa Marwah, maaf sayang, " ucapnya memeluk tubuh kecil Marwah dan membelai lembut rambut panjang anaknya. Ada rasa sesal yang tak bisa ia jelaskan.


" Rindu tante Wulan, " ucap Marwah dengan suara parau.


dr. Evan terdiam, ia mencoba berpikir keras dengan ucapan Marwah.


" Hhmm, kita akan ketempat tante Wulan, kalau Marwah sudah sembuh yaa, " sahut dr. Evan mencoba menghibur.


Marwah pun terdiam dalam pelukan papanya.


" Anak papa kan ulang tahun kemarin, walau terlambat Marwah mau kado apa dari papa???" tanya dr. Evqn mencoba menghibur Marwah yang murung.


" Bisakah papa bawa tante Wulan kemari??, Marwah rindu, " ucapnya jujur dengan suara parau.


dr. Evan hanya bisa menarik nafas panjang, ia membelai wajah Marwah yang terlihat memelas.


" Hhmm, hal yang mungkin akan susah pa,,"


" Marwah mau tante Wulan pah??, " pinta Marwah memotong ucapan dr. Evan dengan hampir menangis


Dan seketika Safa pun terjaga dari tidurnya.


" Pah??, " panggil Safa pelan mencoba mencari papanya.


dr. Evan pun terbangun dan ia pun mencoba mererai pelukannya dari Marwah yang menangis dan beralih melihat kondisi Safa.


" Kamu udah bangun sayang??".


Safa mengangguk lalu ia melihat kearah Marwah yang menangis pelan, dan berusaha bangun.


" Marwah pasti rindu tante Wulan??, Safa juga rindu tante Wulan, " ucapnya yang sekarang mengikuti kembarannya Marwah menangis.


Seketika dr. Evan mematung, ia bingung dengan menghadapi tangisa keduanya. Dan seketika dua perawat membuka pintu dengan wajah tekaget.


" Dokter, apa perlu saya panggilkan dr. Silvi??, " ucapnya cemas karena melihat kedua anak dr. Evan menangis, ia berpikir pasti telah terjadi sesuatu.


" Gak usah.., gak papa anak-anak sudah baikan" ucapnya pelan.


" Ah, baik Dokter, kami stanby di meja jaga"


" Terima kasih, " ucapnya kepada kedua perawat yang menghawatirkan tangisan kedua anaknya.


Seketika dr. Evan melihat jam tangannya, sudah pukul 10. Ia agak sedikit khawatir dan tak yakin bahwa toko Wulan masih buka.


" Baiklah, papa akan coba menjemput tante Wulan, tapi papa gak janji bisa bawa, karena ini sudah malam, " ucapnya mencoba menenangkan tangis keduanya.


" Jadi anak baik, papa akan coba ,tapi inget papa gak janji karena ini udah malam, " ujar dr. Evan membelai kepala Safa, dan melihat pada Marwah yang kini mencoba bangun.


" Marwah akan tunggu pa??, " ujar Marwah serius menatap mata papanya.


" Kalian makan dulu yaa, nanti kakak perawat akan antar makanan dan akan jaga kalian sementaran papa keluar".


Safa dan Marwah pun kompak mengangguk paham. dr. Evan mencium kening Safa dan beberapa detik kemudia meraih wajah Marwah dan menciumnya dengan rasa sayang. Dan berlalu keluar kamar sakura itu menuju meja jaga perawat.


" Saya keluar, tolong jaga anak-anak dan minta pihak catering membawa makanan untuk keduanya sekarang, " perintah dr. Evan kepada keempat perawat yang berada disana.


" Baik dokter, " jawab perawat 1.


" Saya gak lama, jika ada apa-apa segera hubungi saya"


" Baik dokter, " jawab Perawat kedua.


Dan dr. Evan berlalu berjalan cepat menuju lift.


πŸƒπŸƒπŸƒ


dr. Evan mengemudikan sedan mewah itu dengan kencang. Ia larut dalam pikirannya sedari tadi. dr. Evan berharap cemas apa toko Wulan masih buka dijam selarut ini.


Butuh waktu 20 menit menuju toko Wulan dari rumah sakitnya. Dan kini laju mobil sedan itu terhenti tepat didepan toko Wulan yang masih terbuka sedikit dengan setengah pintu besi yang akan mengatup rapat.


Dan terlihat oleh dr. Evan dua karyawan Wulan keluar dari toko itu. dr. Evan turun dan melangkah cepat kedepan toko.


" Permisi!!"


" dr. Evan, " sambut Mbak Nita.


Desi melihat dengan kaget pada pemilik suara tadi.


" Apa Wulan ada??, " tanya dr. Evan ragu.


" Ah, ya dokter, Wulan ada didalam, " sahut Mbak Nita masih bingung melihat gelagat dr. Evan yang gelisah.


Tiba-tiba sosok Wulan muncul dengan berbicara cepat kepada desi.


" Des, ini kasih ke adikmu yaa, semoga ujiannya sukses, " ujar Wulan yang terhenti dipintu dan terkesima dengan kehadiran dr. Evan didepan tokonya.


" Dokter??, " sapanya kaget dan terpaku melihat dr. Evan.


" Ini orangnya dokter, kalo gitu kami permisi dulu yaa dokter, yuk des kita jalan, " ajak Mbak Nita yang buru-buru meninggalkan Wulan dan dr. Evan begitu saja.


Desi pun spontan mengikuti Mbak Nita yang menariknya dengan buru-buru. Dan seketika didepan toko hanya tinggal Eulan dan dr. Evan.


" Dokter ada apa??, " tanya Wulan yang sedikit ragu.


" Hhmm.., maaf Wulan, apa kamu bisa ikut saya kerumah sakit??"


Wulan mendengarkan dengan wajah bingung.


" Safa dan Marwah sedang dirawat disana"


Wajah Wulan terlihat terkejut.


" Apa??? apa mereka sakit parah??," Wulan terlihat cemas.


" Sekarang mereka sudah baikkan, hanya,,"


Wulan menunggu dengan bingung ucapan dr. Evan. Namun dr. Evan menarik nafas panjang.


" Mereka merindukanmu"


Wulan yang sedari tadi penasaran menjadi sedikit tersenyum.


" Ah, saya paham dokter, sebentar saya ambil tas dulu, " ucapnya yang kini berlalu meninggalkan dr. Evan dan menuju kedalam kerumah atasnya.


dr. Evan sedikit lega dengan jawaban Wulan. Ia pun tersenyum sendiri lalu berjalan turun ke anak tangga didepan toko dan duduk di sana dengan lega.


Selang beberapa menit, Wulan pun keluar dari tokonya dengan telah mengunakan cardigan merah yang senada tas Fossil merahnya.


Wulan keluar melihat kearah punggung dr. Evan yang kini terduduk dibawah anak tangga tokonya dengan santai. Ia melangkah pelan dan turun ke anak tangga tempat dr. Evan duduk.


" Dokter, " sapanya memanggil dr. Evan yang tengah fokus berselancar dilayar handphonenya.


Seketika dr. Evan terkesima dengan penampilan Wulan yang bercahaya dibawah sinar lampu didepan tokonya.


"Ah, yaa, " sahut dr. Evan yang bangun dari duduknya lalu berjalan menuju mobilnya bersamaan dengan Wulan.