One Step Closer

One Step Closer
72



Dipasir putih yang indah dengan deburan ombak kecil yang silih berganti pecah dibibir pantai.


Wulan berjalan menatap depan dengan rambut indah tergerai ditiup angin laut. Ia menatap sekitar hingga menemukan sosok pria yang terus berjalan menuju dirinya.


" Wulan???, " panggilnya dengan trus berjalan mendekat pada Wulan. Tapi dengan senyum lembutnya Wulan berjalan mundur seraya trus menjauh dan tangannya terentang seolah menunggu pelukan mas Evan.


" Wulan??, kamu mau kemana???," ucapnya lagi dengan berjalan bersusah payah mengapai jemari Wulan.


" Kenapa panas sekali sih??," rutunya dengan trus mencoba berjalan menuju Wulan.


Namun samar-samar sosok Wulan hilang berlahan. Dan hal itu membuat mas Evan panik.


"WULAN!!!, " panggilnya. Dan ia pun tersentak kaget dengan nafas memburu. Sesaat ia sadar ternyata itu hanya mimpi, dan reflek ia menempuk sisi samping tempat tidurnya. Dan kembali terkejut karena tak menemukan tubuh Wulan disana.


Dengan panik ia turun dari tempat tidur seraya mencari sosok Wulan didalam kamar.


" Wulan??, "panggilnya cepat.


" Wulan???," panggilnya lagi seraya keluar kedepan kolam renang dan melihat sekitaran hingga ke gazebo sisi samping kolam. Namun tak ia temukan sosok istrinya.


" Wulan??, " ujarnya terburu hingga kembali kedalam kamar dan mencoba mencari didalam kamar mandi. Dan tak ada Wulan disana.


Dengan panik mas Evan meraih jaketnya untuk keluar dari kamar. Namun..


Klik.., pintu kamarnya terbuka. Dan sosok Wulan dengan wajah sumbringah tersenyum hangat pada mas Evan yang terlihat panik.


" Mas, udah bangun???, " ucapnya seraya berjalan kehadapan mas Evan yang diam terpaku.


Namun dengan cepat mas Evan meraih tubuh Wulan dan memeluknya dengan dalam. Sehingga membuat Wulan bingung.


" Mas??, kenapa??, " tanya Wulan pelan.


" Apa sesuatu sudah terjadi??".


" Kamu dari mana saja??," ucapnya parau.


Wulan berlahan mererai pelukkannya pada mas Evan. Dan dengan senyum hangatnya menunjukkan kantong plastik putih.


" Wulan baru ambil ini tadi. Wulan titip beli goshop, " jelasnya pelan.


Berlahan mas Evan menghela nafas panjangnya seakan lega.


" Maaf mas, tadi Wulan gak tega bangunin mas, " ucapnya seraya menyentuh lembut wajah suaminya.


" Sssssstt.. bagaimana mana kalo Wulan bantu mas untuk cukur janggut halus ini???" pintanya.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Wulan duduk di bahu sofa dengan kaki bertumpu pada paha mas Evan yang telah duduk disofa.


" Apa kamu yakin??, " ucapnya yang ragu ketika melihat Wulan tengah memberi busa pencukur di wajahnya.


" Percayalaah, " ujarnya seraya menahan tawa. Melihat wajah mas Evan yang sedikit tegang dan terlihat putih dengan busa pencukur didagu dan dibawah hidungnya.


Kini ia mengambil pencukur janggut itu diatas meja yang telah tersusun persiapan pencukur janggut. Dan delikan mata mas Evan pun terpaku pada pisau pencukur jenggot itu dengan menelan salivanya dengan cemas.


" Apa Mas takut??, " seraya manahan tawa.


" Huuuuffft.., " hela nafas mas Evan panjang.


" Ayo mulai!! ".


Dan dengan senyum Wulan berlahan mulai mengerut pisau janggut itu di pipi mas Evan sedikit deg-degan ketika pisau itu berjalan dipipinya. Namun berlahan senyum wajah Wulan meluluhkan kekhawatirnya.


" Voba buat gini Mas??, " pintanya seraya meniru membuat mulutnya terkulum sehingga Wulan pun dengan mudah mengerut kumis halus mas Evan.


Selang 30 menit aktifitas mencukur janggut itu pun selesai. Dan Wulan pun membantu mas Evan mengelap wajah tampan suaminya dengan handuk basah. Berlahan ia memeriksa kembali wajah mas Evan dengan kedua telapak tangannya. Setelah meraba seluruh rahang dan bagian kumis mas Evan pun ia merasa puas. Semua janggut halus itu pun bersih.


" Bersih!!, " ucapnya menatap mas Evan.


" Hhmm, kerja bagus!!, " ucapnya yang mememuji hasil kerja Wulan dengan meraba wajahnya.


" Hal yang selalu ingin Wulan lakukan bersama, mencukur janggut dan memakaikan Mas dasi, " ujarnya menatap wajah mas Evan.


" Lakukanlaah setiap apa yang kamu inginkan, " ucapnya lembut seraya meraih tangan Wulan dan menciumnya berlahan.


" Aku mencintaimu Mas, " ucapnya seraya mengecup bibir mas Evan berlahan.


Berlahan mas Evan menarik tubuh Wulan untuk benar-benar jatuh dipangkuannya. Ia mengecup kembali bibir ranum Wulan. Pangutan hangat dan lembut menjadikan keduanya terlena.


Mas Evan kembali tangannya ikut turun meraba hal yang sensitif bagi Wulan. Namun reflek Wulan menghentikan ciumannya.


" Semalam kita baru saja melakukannya, dan sekarang mas ingin lagi??, " tanya Wulan tak percaya.


Mas Evan dengan tawa pelan seraya mendekatkan dahinya pada dahi Wulan, lalu menatap dalam mata istrinya.


" Apa kamu gak mau??, "ucapnya pelan.


Wulan hanya menatap mata mas Evan yan berhasrat.


" Bukankah itu yang namanya Bulan madu?? menghabiskan waktu kita dengan bercumbu??, " tutur mas Evan mengoda Wulan.


Dan sesaat senyum malu-malu Wulan pun terbingkai disana. Ia tau mas Evan tak akan pernah melewatkan moment ini dengan hal lain selain trus bermesraan dengan dirinya.


" Bagaimana mana kalau kita lakukan dikamar mandi??, " ajaknya seraya berbisik dibibir mas Evan.


" Aku suka!!, " sambutnya dan kemudian ia bangun dengan mencoba mengendong tubuh Wulan dan keduanya pun memadu cinta dikamar mandi dengan riak suara air disana.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Setelah pagi yang panas. Keduanya beristirahat hingga siang dengan menonton film-film yang ditayangkan di fox movie dan makan siang didalam kamar.


Namun menjelang malam keduanya memutuskan untuk keluar kamar. Untuk menikmati suasana malam bali yang ramai oleh turis-turis.


Keduanya bersenda gurau dengan tak memikirkan sekitar. Mereka asyik dengan dunianya.


" Wulan??"


Wulan hanya menoleh dengan sedang menyerut jus sirsaknya.


" Sepulang dari sini, sebaiknya kamu ikut mas untuk cek up kesehatan, " ucapnya serius.


" Kenapa??, Wulan ngerasa baik-baik aja kok Mas??, lagi pun obat yang mas berikan selalu Wulan minum, " jelasnya.


" Cek up itu gak harus tunggu kamu sakit dulu kan??, " ujarnya serius dan sedikit kesal dengan tanggapan Wulan yang tak serius.


" Ah yaa, baiklah dokter, " ujarnya manja untuk meredakan mas Evan.


Namun sorot mata mas Evan menatap tajam wajah Wulan. Dan ia kembali dikejutkan dengan derigan telfon. Dan ternyata itu telfon dari Singapura.


" Hallo??".


" Papaaaah!!!, " sapa Safa Marwah girang.


" Mama mana??, " pertanyaan yang to the poin.


" Hey, kalian gak kangen sama papa yaa??".


Namun terdengar suara bising dari seberang sana.


Wulan melihat kearah mas Evan dengan penasaran. Lalu tiba-tiba ia mendapatkan handphone mas Evan kini ditelingannya dengan dipegang oleh mas Evan yang melihat Wulan masih sibuk dengan jusnya.


" Hallo??, " sapa Wulan yang bingung.


" Mamaaaah???, mama Marwah rindu." ujarnya.


" Safa juga rindu mama!!, " ujarnya yang berselang detik berpindah telfon dengan adiknya.


Wulan yang terkejut seakan terharu mendengarkan dua anak perempuannya.


" Sayaang, mama juga rindu, kapan kalian pulang??, " tanya Wulan antusias.


" Mungkin lusa, karena zerin ingin menginap beberapa malam dirumah kita mah," jelas Safa.


" Ooh begitu yaa, baiklah mama tunggu kalian pulang yaa sayang.. peluk rindu mama untuk kalian berdua, " ucapnya dengan riang.


" Yaa mama, peluk rindu kami untuk mama papa, love you, " ucap Safa manja.


" Love you to baby, " dan komunikasi itu pun terputus, mas Evan masih menatap wajah Wulan yang terlihat senang setelah menerima telfon dari si kembar.


Wulan yang menyadari tatapan mas Evan sedikit mencoba meraba pipinya.


" Kenapa??, apa ada sesuatu diwajah Wulan??, " seraya meraba wajahnya.


" Yaa.. aku melihat malaikat dihadapanku, " jawabnya yang sukses membuat Wulan terperangah dan karena hal itu Mas Evan mendapat pukulan manja dari Wulan.


" Cukup untuk tak mengombal lagi ya Mas??, " pintanya yang tak ia pungkiri bahwa ia pun jadi melayang dengan gombalan mas Evan.


Dan canda tawa itu pun terus menghangatkan kedua hingga kembali ke hotel.