
Malam pesta lajang kak ari dan widya digelar di Klub ibu kota yang telah di sewa 1 lantai untuk mereka. Wulan sebenarnya enggan pergi, karena ia tak begitu suka dengan dunia malam. Tapi ia tak bisa mengelak undangan kak ari, karena berkat kak ari bisnisnya sekarang berkembang pesat karena promosi kak ari kepada pihak-pihak WO yang membutuhkan jasa wedding cake.
Wulan berpakaian dress crem dan ia membawa serta long cardingan untuk berjaga-jaga bila hawa terlalu dingin.
Wulan meminta mbak nita mengurus sisa kue-kue dan esok pagi ia akan membereskan sisa dekor cake yang akan di ambil besok.
Wulan berjalan cepat, jam ditangannya menunjukkan pukul 9 malam. Ia berharap dengan menyetor tampang sesaat pada kak ari dan widya,dan sejam kemudia ia akan pulang sehingga wulan bisa pulang lebih awal.
Perjalan mobil freed wulan mulus menuju lokasi undangan. Ia memarkir dengan leluasa, karena sepertinya belum banyak pengunjung.
Wulan turun dengan membawa tas kecil dan melangkah masuk menuju klub. Suasana klub yang remang-remang dengan hentakan musik yang keras membuat wulan tak nyaman, ia mencari pelayan untuk menayakan tempat acara kak ari. Dan ia menemukan seorang pelayan klub dan mengarahkan arah tangga untuk menaiki lantai atas.
Terlihat para kerabat yang wulan kenal menyambut dengan senang, peluk cium dari rekan-rekan bisnis wulan pun menyapa silih berganti. Obrolan-obrolan ringan pun terjadi, tak lupa wulan pun menyempat kan diri memberi selamat kepada kak ari dan widya yang terlihat kompak dengan kostum pajamas party.
Makanan dan minuman disuguhkan silih berganti, alunan musik-musik romanis pun mengema seisi ruangan yang menampung 30 undangan kak ari dan widya. Sampai pada waktu wulan akan duduk di meja sudut, ia tak menyangka akan bertemu mas rendi yang terlihat menyendiri didalam acara.
Wulan terpaku, dan ia memilih untuk menjauh dari pandangan mas rendi, tapi terlambat, langkahnya tertahan oleh tangan mas rendi.
"Mas mabuk??"
"Ya" jawab Rendi berat
"Tolong lepas" pinta Wulan yang mencoba menarik tangannya dari genggaman mas Rendi.
"Aku tak bisa, aku takut kau akan pergi" ucapnya dengan air mata tertahan dan suara parau . "Aku tak bisa hidup tanpa mu!!"menatap wulan dengan dalam.
Sesaat hati Wulan terhenti, ia menatap wajah mas Rendi dengan dalam dan ia mencoba menyembunyikan sedihnya dibalik redupnya lampu ruangan itu.
"Kata-kata itu tak seharusnya mas ucapkan dengan status mas sudah menikah" ucap Wulan yang mencoba tenang menahan gemuruh hatinya.
Dengan sebisa Wulan menarik tangannya dari genggaman mas Rendi yang sepertinya terlalu terpengaruh dengan alhokol sehingga genggamannya terlepas. Wulan berjalan cepat untuk meninggalkan ruangan klub malam itu. Ia berlari kecil menuju parkiran mobilnya dan masuk segera kedalam mobil freednya.
Sesaat Wulan menyandarkan kepalanya pada stiur mobilnya, dan air mata pun kembali jatuh. Wulan menangis dalam diam. Ia sedih melihat mas rendi sangat berubah, sosoknya yang optimis dan kuat itu seakan hilang.
"Haruskan aku membuat mu lebih sakit lagi??? agar kau bisa melupakan aku mas??" ucapnya lirih.
Cukup lama Wulan menangis, ia berusaha menenangkan dirinya.
πππ
Pagi harinya Wulan bangun lebih awal, ia sengaja melakukanya. Ia ingin cepat membuat kesibukan agar hatinya tenang. Kejadian semalam membuatnya terus terbayang akan mas rendi. Sisi hati kecilny ia ingin memeluk tubuh pria yang ia cintai itu, disisi lain ia sadar ini semua ia lakukan untuk mas rendi.
Mbak Nita yang datang pagi itu melihat dengan wajah heran diri wulan yang mencoba menutupi sesuatu.
"Wulan?? apa kamu baik-baik saja??"
"Hm" gumamnya menyahut dengan wajah tersenyum lalu beralih ke timbangan kue.
"Ya sudah, mbak susun kue yang sudah kamu buat dulu didepan yaa"
"Ah, ya mbak" balas Wulan cepat dan kembali fokus. Namun ketika mbak Nita berlalu, wajah Wulan seketika murung.
Dan ia mencoba mengatur nafasnya. Ada rasa sesak disana yang tak bisa ia ungkap. Tangannya terhenti untuk menimbang bahan kue.
"Bagaimana bisa hati ini tak mau berdamai??" ucapnya lirih berbisik.
Namun seketika Wulan melirik jam ditangannya, ia melihat sudah pukul 8 lewat, ia mengingat ada janji pelanggan yang akan mengambil cake ulang tahun. Lalu Wulan bergegas mengambil cake yang telah ia dekor dan kini mencoba memasukkan cake itu kedalam kotak besar dan mengikat dengan pita yang senada dengan warna cakenya.
Dan tiba-tiba pintu toko terbuka. Wulan berpaling melihat kearah pintu, dan ia pun terkejut dengan kehadiran dr. Evan yang kini berada tepat dihadapannya.
"Pagi tante Wulan??"sapa Safa riang.
"Ah, pagi juga Safa dan Marwah" balasnya dengan melihat bergantian.
"Apa kami menganggu??"tanya dr. Evan.
"Ah, gak dokter, hanya kuenya belum terisi karena belum siap sebagian" jawab Wulan canggung.
"Tante, mau gak ikut kita pergi kelaut??" pinta Marwah malu-malu.
"Hah?? laut??"seru Wulan bingung.
"Maaf Wulan, semalam anak-anak meminta untuk dibawa jalan-jalan karena saya sedang ambil cuti hari ini, dan Safa Marwah mau mengajak kamu untuk ikut"
Wulan melihat kearah Safa dan Marwah yang terlihat memohon agar wulan mau ikut.
"Tante bisa ikut kan??"
"Hhmm, gimana yaa??" Wulan menimbang.
Mbak Nita datang ditengah-tengah lalu menepuk bahu Wulan pelan.
"Udah ikut aja, toko serahin sama mbak dan Wiwit"ucapnya dengan senyum kearah Safa Marwah.
"Kamu sibuk???" tanya dr. Evan yang melihat wajah Wulan yang enggan.
"Engga dokter, bawa aja Wulannya"elak mbak Nita menjawab cepat.
"Tapi mbak??"
"Udah, pergi aja, kamu juga udah butuh refresing biar gak mument" celetuk mbak Nita yang membuat dr. Evan tersenyum.
Wulan pun mengalah, ia pun mengangguk tanda ia ikut permintaan Safa .arwah.
"Tapi tante minta 20 menit sebentar bisa??"
"Yesss!!! oke tante kita tunggu" sahur Safa yang senang.
Wulan pun beralih ke tangga rumah atasnya. Wulan menganti baju dan membawa tas fossil merahnya dan membawa hal yang dirasa perlu nanti.
Ia turun perlahan dan melangkah ke tengah tokonya yang terlihat dr. Evan menatap kearahnya dengan senang.
"Wah tante cantik" puji Safa yang memeluk wulan.
Wulan membelai Safa.
"Makasih Safa" ucapnya lembut.
"Mbak, wulan jalan yaa?? titip toko"
"Oke" sahut mbak Nita dengan memberi tanda jempol untuk Wulan.
"Kami pergi dulu, permisi" ujar dr. Evan pamit dan ikut berjalan dibelakang Wulan yang mengandeng kedua tangan putrinya.
Mbak Nita tersenyum sengang melihat kearah mereka. Ia berharap semoga Wulan bisa bersama dr. Evan. Semoga..