One Step Closer

One Step Closer
47



Mobil sedan Civic itu pun memasuki kawasan daerah yang tak asing bagi Wulan. Sesaat ia mengingat-ingat terakhir ia pulang adalah 2 tahun lalu, ketika ia meminta ayahnya untuk ikut dengannya tinggal dijakarta. Daerah itu telah banyak berubah, beberapa bangunan baru telah berdiri disana bahkan ada beberapa kompleks baru yang telah mekar dengan luas.


"Dokter, disebelah kanan itu tolong sedikit pelan nanti ada gang buntu, kita masuk ke situ"


dr. Evan pun mengangguk tanda paham, dan perlahan terlihat gang yang dimaksud Wulan lalu dr. Evan melambatkan laju mobilnya.


"Dokter, itu rumah yang pagar merah ditengah, kita berhenti" tunjuk Wulan.


"Baik laah"


Dan kini mobil sedan itu pun berhenti tepat dirumah sederhana dua tingkat itu. Rumah itu terlihat asri dengan pohon mangga yang rimbun tumbuh didepannya.


Wajah Wulan sedikit terlihat sedih. Namun ia turun seketika sembari menarik nafas panjang untuk benar-benar kuat masuk kedalam rumahnya sendiri. Ia berjalan kedepan mobil dan mulai melangkah masuk meraih pintu pagar rumahnya yang terlihat sepi. dr. Evan hanya mengikutinya dari belakang.


Wulan masuk kedalam teras rumahnya lalu mengetuk pintu rumah. Dengan harap-harap cemas Wulan mengulangi lagi ketukan dipintu rumahnya. Dan beberapa saat terdengar suara dari dalam rumah.


" Ayah??" berbisik Wulan.


Dan benar, ketika pintu rumah terbuka terlihat pria paruh baya yang terlihat kurus terkejut dengan kehadiran putrinya yang telah lama tak pulang kini berada tepat di hadapannya.


"Wulan??"ucap pria paruh baya itu terkaget.


Dan tanpa pikir panjang Wulan langsung memeluk tubuh ayahnya yang sangat ia rindukan. Ayah Wulan pun membalas pelukan putrinya.


"Skhirnya kami pulang nak"


"Maafin Wulan, ayah" ucapnya yang sedih seraya melepaskan pelukannya ditubuh ayahnya.


"Masuklaah" ucapnya yang seketika terkaget ketika melihat sosok pria dibelakang Wulan.


"Nanti Wulan jelasin, sekarang masuk dulu yaa" ucap Wulan kepada sang ayah lalu mengajak dr. Evan masuk kedalam rumahnya.


dr. Evan hanya mengikuti perkataan Wulan yang masih berjalan disamping ayahnya. dr. Evan melihat ruangan yang sederhana itu sekilas.


"Duduk dulu" ujarnya pelan kepada dr. Evan.


" Ya, terima kasih" sahut dr. Evan sopan.


"Ayah, kenapa ayah gak bilang kalo ayah sakit??"


Ayah wulan memandang putrinya dengan lembut.


"Ayah gak mau membuat kamu cemas, karena ayah masih merasa bersalah padamu" ucap sang Ayah yang terlihat menyimpan penyesalan.


"Ayah!! Wulan gak mau mendengarkan hal itu lagi, hal itu gak perlu ayah sesali" tutur Wulan sedih.


Seketika ayah Wulan melihat dr. Evan dengan wajah penasaran. Wulan yang menyadarinya meraih tangan ayahnya.


"Ayah, sebenarnya ada hal yang ingin Wulan bicarakan dengan ayah"


"???"


"Ayah... maaf Wulan kali ini pulang karena ingin meminta restu ayah, Wulan ingin menikah" ujarnya sedikit ragu.


"Dan ini...ini calon suami Wulan" ucapnya sembari menatap dr. Evan.


Ayah Wulan tak bisa berkata-kata sesaat ia melihat dengan teliti kearah dr. Evan.


"Tapii.." sela Ayah ragu.


"ayah..dia bukan orang yang waktu itu" ucapnya mencoba menebak pikiran ayahnya yang pasti mengingat mas rendi.


Ayah wulan/"????"


dr. Evan/"saya Evan pak, maaf jika saya datang terlalu dadakan"ujarnya sopan.


Ayah wulan/"ah, begitu?? tapi kenapa.."


Tante dwi/"akhirnya kau ingat untuk pulang??"


Seketika wajah wulan berubah tegang.


Tante dwi/"bagaimana apa kali ini kau akan lama??"ujarnya seraya duduk disamping ayah wulan dengan wajah tak ramah.


Ayah wulan/"sudah!! hentikan ucapan mu!!"


Seketika wajah wulan berubah seakan mengejek tante wulan dengan tersenyum licik.


Wulan/"sayang!!" perkenalkan ini adalah ibu tiriku yang sangat bijaksana" ujarnya seraya merangkul lengan dr. Evan dengan manja.


Perubahan sikap wulan yang seketika itu membuat dr. Evan terperangah. Ia seperti tidak mengenal wulan yang biasanya.


Wulan/"I-BU ini wulan perkenalkan menantu untuk mu, dan ia seorang dokter"ujarnya dingin.


Wajah ibu tiri wulan berubah kesal, ia meradang melihat wulan yang datang kali ini membawakan calon suami.


Ibu tiri/"kau ingin melangkahi kakakmu??"


Ayah wulan/"apa salahnya jika wulan yang menikah duluan??"ujarnya membela wulan.


Ibu tiri/"aku tidak bisa menerimanya??"


Wulan/"I-BU terima atau tidak?? wulan akan menikah dalam waktu dekat!!" ucapnya tegas. "dan wulan hanya perlu restu ayah!!"


Ibu tiri/"KAU???"ucapnya meradang.


Namun ditengah-tengag pembicaraan sengit itu muncul sosok wanita dewasa dengan stelan kantor. Masuk dengan wajah aneh.


Ibu tiri/"kau sudah pulang Linda??"ucapnya yang tiba-tiba ramah menyambut putrinya.


Wajah wulan tak senang, jarinya mengepal kesal. dr Evan memegang tangan wulan seketika yang membuat wulan tersadar, sebaiknya ia sudahi.


Linda/"wulan?? kau??"ujarnya yang kaget melihat wulan yang duduk bersebalahan dengan seorang pria.


Wulan/"apa kabar kak??"


Linda/"ada gerangan apa kau pulang??"ujanya sinis.


Wulan/"memangnya kenapa kalo wulan pulang?? bukan kah ini rumah ku juga??"


Ayah wulan/"wulan??? sudah??"ucapnya ayahnya gelisah.


Seketika wulan diam, dan sedetik kemudian ia bangun.


Wulan/"sebaiknya kita pulang sayang!!" ucapnya kepada dr. Evan seraya meraih tangan dr. Evan.


"setidaknya kita sudah mengabarkan hal baik walau sambutannya tak menyenangkan" imbuhnya dingin.


Namu tiba-tiba ia berjalan kearah ayahnya dan duduk bersejajar dengan ayahnya seraya memeluk tubuh tua ayahnya yang sedikit lemah.


Wulan/"ayah, mohon restui wulan, dan soal tanggal pernikahan akan wulan kabari dalam waktu dekat" ucapnya seraya melepaskan pelukan hangatnya kepada ayahnya dengan berat.


"ayah, wulan harap ayah bisa datang sebagai wali nikah wulan, doakan wulan"ucapnya seraya berbisik pelan. Dan sedetik kemudian wulan bangun dan melangkah kehadapan dr evan, berjalan melewati kak linda yang melihatnya tak senang.


Ayah wulan mengikuti langkah putrinya dengan berat. Wajahnya sedih melihat wulan. Wulan berjalan keluar dari perkarangan rumahnya dengan tak berpaling melihat sosok ayahnya.


dr. Evan berjalan menghampiri ayah wulan, ia menyalami ayah wulan tanda hormatnya kepada calon mertua.


Ayah wulan/"tolong jaga wulan, saya restui kalian"ucapnya sedih.


dr. Evan hanya bisa menganggu dan ia berpamitan dengan ayah wulan yang mengantarkannya hingga kepintu pagar dengan wajah sedih.