One Step Closer

One Step Closer
21



Wulan membawa mobil Freed itu tanpa tujuan, ia hanya mengikuti jalur jalan yang ia lihat sekilas. Dan lama-lama jalur yang dilewati masuk pada sebuah area perumahan mewah. Dan Wulan sedikit menikmati dengan memandang rumah-rumah megah itu. Berbagai macam desain rumah mewah terlihat disana ada gaya klasik bak Victoria, ada ala candi yang tergambar dari pagarnya dengan batu-batu yang terlihat bagai gapura dan gaya minimalis.


Sesaat Wulan sempat berandai-andai jika kelak ia ingin memiliki rumah sederhana yang didalamnya selalu ada canda tawa hangat, juga berharap kehadiran seorang anak. Namun ia narik nafas panjang, "angan-angan yang hanya dalam mimpi, " gerutunya.


Sesaat ketika laju mobil mulus berubah jadi sendatan yang menguncangkan. Dan mobil Wulan berhenti total tanpa ada yang mencurigakan sedari tadi. Wulan yang tak mengerti soal mesin mencoba turun dan berjalan kearah cap mobil depannya, dan membukanya lalu mencoba meneliti sebab akar mobil ini mati total.


Ketika Wulan dengan serius meneliti mobilnya. Terlintas sebuah mobil sedan yang melaju pelan dan terlihat berlahan mobil itu terhenti dengan arah berlawana dengan mobil Wulan.


Dan siapa sangka dr. Evan datang dengan berlari kecil menuju mobil freed yang berlogo dr. Dessert itu berhenti.


" Wulan??, " sapa dr. Evan pelan mengagetkan Wulan yang tengah serius melihat kearah dalam mesin mobilnya.


" Ah, Dokter??, " sahutnya kaget akan kehadiran dr. Evan yang menghampiri dengan setelan jas rapi.


" Apa yang terjadi??, " tanya dr. Evan yang menyadarkan kekagetan Wulan.


" Ah, hhmm, mobil ini tersendat dan tiba-tiba mati total, " ucapnya kembali serius melihat kearah mesin mobilnya.


" Hhmm, coba biar saya liat, " ucap dr. Evan meminta izin.


Dan Wulan pun meminggirkan tubuhnya agar dr. Evan dapat melihat mesin mobil , dan ia langsung ke tabung diujung atas kanan mobil dan membukanya. Dan sepertinya ia menemukan akar permasalah mobil Wulan terhenti.


" Ini, air battrenya habis, kamu lupa mengisinya??, " ucapnya menoleh kearah Wulan.


" Hah??, hhmm, sepertinya iya, Wulan lupa servis secara berkala, " ucapnya yang sedikit ragu mengingat kalo benar ia lupa akan perawatan si Freednya ini yang sudah setia menemaninya.


" Hhmm, biar saya telfon supir saya, " ujarnya seraya menutup cap mobil freed Wulan.


Namun tiba-tiba ada suara menghardik mereka dari jauh, seorang pria dengan rambut gimbal dan baju robek-robek dengan membawa kayu balok berjalan dengan begis mendekati mereka.


" Oi, GUE BUNUH KALIAN !!!, " ucap pria begis itu dengan lantang dan keras yang membuat dr. Evan dan Wulan menoleh dan terkejut. Wajah Wulan bingung melihat pria begis itu.


" Wulan, hitungan ketiga kita lari, " kata dr. Evan tegang.


" Lari???, " tanya Wulan bingung seraya melihat pada dr. Evan


Namun sedetik kemudian dr. Evan meraih tangan Wulan.


" Gak ada waktu lagi, lariii Wulan, " ucapnya seraya menarik tangan Wulan, yang sontak membuat Wulan jadi ikut berlari mengikuti dr. Evan.


"JANGAN LARI, GW BUNUH, GW BUNUH LO, " ucapnya lantang dan marah berlari mengikuti lari dr. Evan dan Wulan yang berlari jauh meninggalkannya dibelakang.


Kejar-kejaran itu belangsung jauh, Wulan hampir kewalahan mengatur nafas dan langkahnya, dan setengah jalan tangan Wulan terlepas dari gengaman dr. Evan.


" Hah..,hah..,haah, wu..,wu, Wulan gak sanggup lagi Dokter, " ucapnya tengah mengatur nafas yang terengah-engah karena berlari tanpa pemanasan dulu. ( What??, masih mikir pemanasan??, secara udah mau digepok sama orang gila?? πŸ˜…).


dr. Evan terhenti, lalu ia mundur sedikit dan menarik tangan Wulan kembali yang tengah menunduk kelelahan. dr. Evan melihat kebelakang Wulan yang ternyata lari pria aneh itu hampir mendekati mereka.


" Ayo, lari, dia ada dibelakang kamu, " ucapnya yang tetap memaksa Wulan untuk lari.


Wulan menggeleng, namun tangannya telah terpaut oleh jemari dr. Evan, dan lagi tubuhnya tersentak mengikuti lari dr. Evan yang mencoba menghindar dari pria gila tersebut.


Kalo di hitung bisa tuh dr. Evan dan Wulan berlari 2 kali gelora Bung Karno, bisa kalah para maraton mania larinya 🀣.


Dari kejauhan dr. Evan mendapat pencerah, ia melihat ada sebuah kios yang terlihat ramai dengan para Abang Ojol yang duduk disana. Ia mengerahkan tenaganya berlari sampai kesana untuk mencari pertolongan.


" To..,to..,tolong.., ada orang gila, " ucapnya dengan susah payah mengatur nafas dan memberitau kepada para pria-pria berjaket Ojol itu, yang menatap dengan heran kepada dr. Evan dan Wulan yang seperti orang habis melihat setan.


" Orang gila??, mana??, " tanya abang Ojol kedua yang penasaran, seraya memicingkan matanya untuk melihat kearah tunjuk dr. Evan yang masih berusaha mengatur nafas.


" Ituuu.., " ucap dr. Evan yang tiba-tiba bengong melihat kebelakang, yang ternyata kosong tak ada sosok pria gila pembawa balok itu lagi. Dan seketika dr. Evan terhenyak, " Gila!!, aku dikerjain orang gila???, " gerutunya, dan tersadar tangannya masih terpaut dengan tangan Wulan.


Wulan terlihat mencoba mengatur nafasnya dengan membuka sepatu heelsnya yang 5 cm.


" Udah gak ada lagi pak, si gila Wawok itu, " ucap abang Ojol pertama yang menyadarkan dr. Evan yang melihat Wulan.


" Ah, iyaa, sepertinya sudah pergi dia, terima kasih Pak, dan maaf jadi membuat kaget para Bapak-bapak, " ucapnya sopan dan seraya melongarkan dasinya.


" Oh, yaa gak papa Mas, " ucap abang Ojol kedua yang kembali duduk keposisi semula.


Wulan yang sedari tadi mencoba mengatur nafas kini telah bisa bernafas normal. Dan sedetik kemudian ia melihat dr. Evan yang sama-sama beradu pandang. Dan hal itu membuat dr. Evan juga Wulan tertawa lepas. Benar-benar hal terkonyol, berlari bak Olimpiade berdua dan bergandeng tangan bersama.


Deg...


Jantung Wulan berdetak beda, menyadari sedari tadi tangannya bertaut dengan jemari dr. Evan dan reflek Wulan melepaskannya seketika. dr. Evan pun tiba-tiba jadi canggung.


" Kaki kamu gak papa??, " tanya dr. Evan yang melihat pada Wulan yang cantik walau keringat, terduduk di tepi trotoar jalan.


" Ah, iyya gak papa Dokter, " sahut Wulan kurang yakin.


Tanpa diduga dr. Evan dengan segera melepaskan sepatu ya, dan setengah berjongkok kehadapan Wulan memberikan sepatunya tepat didepan kaki Wulan.


Seketika Wulan terkaget, melihat perhatian dr. Evan.


" Dokter, jangan, kaki Wulan gak papa, " ujarnya panik.


" Pakailaah, saya merasa bersalah karena membuat kamu berlari dengan sepatu heels tinggi hingga lecet, " sahut dr. Evan dengan sorot mata dalam melihat pada Wulan.


Wulan terpaku dengan tatapan dr. Evan. Ia sedikit ragu menerima sepatu dr. Evan lalu memakainnya, tapi sepatu itu terlihat longgar di kaki Wulan yang bersize 36.


Wulan bangun , dan melihat daerah sekeliling dengan bingung. Karena baru kali ini ia jalan daerah ini.


" Ini didaerah mana??, " ucapnya pelan seraya meraba saku dan tersadar, Wulan meninggalkan semua didalam mobil lebih tepatnya didalam tas Fossil merahnya dan hanya ada kunci mobil disakunya.


dr. Evan memperhatikan gerak gerik Wulan yang bingung.


" Kamu mau kemana??"


" Mungkin Wulan mau kebengkel dulu dokter, tapi semua keperluan tertinggal didalam mobil, " jelas Wulan pada dr. Evan.


Seketika dr. Evan mengeluarkan handphone dari dalam saku jasnya. Dan terlihat dr. Evan menjauh dari sisi Wulan lalu berbicara dengan serius, sehingga Wulan tak dapat mendengarnya. Beberapa menit kemudian dr. Evan kembali kehadapan Wulan.


" Pak Didi, supir saya sedang dijalan membawa anak-anak ke toko kamu, bisa 1 jam lebih menunggu, " ucapnya kearah Wulan.


" Ah, gak papa dokter, Wulan bisa naik Ojol aja, terima kasih dokter, " ucapnya yang mencoba melangkah kearah para kerumunan abang Ojol dikios tersebut.


Namun lengan Wulan ditahan oleh tangan dr. Evan. Dan detik itu juga suara perut Wulan bunyi.


Krruuuuuk...,krrrruuuuk..,nyaring.


Hingga dr. Evan tertawa ringan mendengar hal tersebut, dan itu sungguh membuat wajah Wulan memerah bagai udang rebus karena menahan malu.


" Pasti lapar setelah maraton, yuk saya traktir makan??, " ajak dr. Evan yang menarik tangan Wulan untuk mengikuti langkahnya yang terlihat berat karena malu ditambah sepatu longgar itu.