
Siang itu, setelah tiba dari Bali. Mas Evan mengantar Wulan pulang kerumah dan ternyata mereka dikejutkan dengan Safa Marwah yang ternyata telah lebih dahulu pulang.
" Mamaaah!!!, " panggil Safa riang.
Wulan yang terkejut hanya bisa terpaku dengan kedua anaknya memelukanya bersamaan.
" Kalian kapan pulangnya??, " tanya Wulan yang benar-benar terkaget.
" Tadi pagi mah, kita udah kangen banget sama mama papa, " ucap Marwah seraya mempererat pelukkannya di pinggang Wulan.
Wulan terharu. Ia pun memeluk keduanya dengan hangat. Mas Evan hanya memandang dalam moment itu.
" Kalian cuma rindu mama aja?? kalo papa??, " tanya mas Evan.
" Hehehe.., " tawa Safa riang namun tetap tak melepaskan pelukan dari Wulan.
" Ayo Mah, kita kekamar, kita mau cerita sesuatu, " ajak Marwag meriah jemari Wulan.
"Safa Marwah!!, " panggil papa mereka lembut.
Sehingga Safa Marwah pun menoleh melihat pada papa mereka.
" Mulai sekarang, mama tidur dikamar utama sama papa, " jelas papa mereka menerapkan peraturan baru.
Keduanya terlihat tak begitu senang mendengar peraturan itu dari papanya.
" Dan minggu depan kalian sudah masuk sekolah baru, " jelas papanya memberi info.
" Marwah gak mau kesekolah!!!, " ucapnya marah.
Dan mas Evan sudah tau akan respon Marwah yang keras menolak untuk sekolah.
Namun Wulan menarik tubuh Safa dan Marwah lalu ia turun untuk sejajar dengan tatapan keduanya.
" Sayang.. Kalian harus sekolah, disana ada banyak teman baru dan hal-hal baru yang sangat menyenangkan, " ucapnya pelan.
" Tapi, nanti pasti ada teman-teman yang mengejek kita mah, Safa gak mau dengar itu lagi, " ujarnya yang hampir ingin menangis.
" Kita gak mau mah, pah!!, " ucap Marwah sedih.
" Mama akan temanin kalian kesekolah. Percaya sama mama, " ucapnya meyakinkan keduanya.
Marwah dan Safa masih terlihat gusar. Hal yang memang membuat mereka tak senang untuk sekolah adalah ejekan teman-teman dulu yang mengatakan mereka tak punya "ibu".
πππ
Didalam kamar utama mas Evan duduk disofa kamar dengan terduduk memandang layar handphonenya. Wulan yang baru masuk pun mengalihakan pandangannya.
" Kamu yakin anak-anak gak papa kesekolah??, " ujarnya yang cemas dengan keputusannya mengikuti ide Wulan untuk menyekolahkan Safa Marwah.
Wulan mendekat dan duduk dihadapan mas Evan.
" Mas!!, percayalaah anak-anak akan suka, biar Wulan yang akan menjaga mereka, seiring waktu keduanya akan terbiasa dan itu bagus untuk tumbuh kembang juga kehidupan sosial Safa Marwah, " tutur Wulan meyakinkan papa Safa Marwah yang jauh lebih gusar.
Wulan meraih jemari mas Evan dan tersenyum hangat.
" Mas percaya sama Wulan???".
" Aku akan selalu percaya pada keputusanmu, " ujarnya tersenyum. Dan hal yang mengejutkan mas Evan, Wulan mengecup punggung tangan suaminya.
" Makasih ya mas, " kata Wulan bahagia.
Namun mas Evan menarik tubuh Wulan mendekat pada dirinya. Dan memandang wajah istrinya dalam.
"???," Wulan bingung.
" Cium mas!!, " pinta mas Evan pada istrinya.
" Iiih, Mas!!, " jawab Wulan geli.
" Kamu gak mau???, "ujarnya mengoda pada istrinya yang terlihat malu-malu.
Wulan hanya tersenyum simpul, namun berlahan iya mengecup bibir suaminya singkat.
" Udah akh, Mas, " ujarnya yang malu-malu, lalu ia berlari kecil menuju kamar mandi, meninggalkan mas Evan yang tersenyum melihatnya.
πππ
Kehidupan rumah tangga Wulan pun berjalan dengan hangat. Safa Marwah baru 1 minggu masuk sekolah di sekolah dasar Bunga Matahari Internasional shcool. Dan hampir 1 minggu juga Wulan menemani mereka disekolah.
Namun lambat laun keduanya pun berlahan mulai berani ditinggal oleh Wulan. Keduanya malah jauh lebih antusias ketika berangkat ke sekolah.
Mas Evan pun bersyukur akhirnya Safa Marwah bisa menjalanin kehidupan layaknya anak-anak pada usianya. Dan Wulan pun jadi kebagian tugas tambahan, setiap dua minggu sekali Wulan membuat cup cake untuk Safa Marwah bagi-bagi keteman-teman kelasnya.
Dan setiap malamnya di meja makan Safa Marwah selalu bercerita dengan antusias kejadian-kejadian lucu dikelas bersama teman-teman mereka.
" Ya sayang, " jawab Wulan seraya menaruhkan gelas air putih disamping mas Evan.
" Boleh gak kita ajak teman kita main kerumah???, " tanya Safa ragu.
Mas Evan terkejut.
" Tentu boleh sayang, kapan teman Safa Marwah mau kerumah??, " ujarnya antusias.
" Minggu ini boleh gak mah??, tapi teman-teman sebenarnya mau lihat mama buat kue, " tanya Marwah cepat.
" Hah??, " Wulan terkaget.
Marwah melirik safa.
" Iyya, kemarin teman-teman bilang mau kerumah biar bisa liat mama buat kue, trus kita jawab iya mah, boleh ya mah???, " pinta Safa manja.
Wulan melihat kearah mas Evan yang masih terkaget dengan penjelasan Safa yang sekarang memiliki teman.
" Gimana pah?? boleh gak???, " tanya mama Wulan mengunggu persetujuan papa Evan.
Mas Evan tersenyum simpul dan mengangguk pelan tanda ia setuju.
Dan hal itu di sambut sorak gembira keduanya. Wulan pun bahagia ternyata ide menyekolahkan Safa Marwah adalah yang terbaik, berlahan ia melihat senyum di wajah mas Evan yang bahagia.
πππ
Lima bulan berselang, pagi itu Wulan bangun seperti biasanya. Ia membantu bibik untuk menyiapkan sarapan pagi. Namun kali ini ia merasa agak tidak enak badan.
" Bik, maaf yaa saya kekamar dulu, " ucapnya pelan dengan meletakkan gelas-gelas yang akan ia buat susu untuk kedua anaknya.
" Ah, iyya Nyonya.. Nyonya??, apa Nyonya baik-baik saja???, " tanya Bibik cemas melihat wajah majikannya yang terlihat pucat.
" Saya agak pusing Bik, saya kekamar dulu yaa Bik, " berlahan Wulan jalan menuju kamarnya dengan memegang kepalanya yang sakit.
Sesampai didalam kamar, terlihat mas Evan tengah menerima telfon dan belum mengenakan dasinya. Sadar akan hal itu, Wulan mendekat pada suaminya dengan menyampingkan sakit yang ia rasa.
Berlahan ia mulai menyimpulkan dasi mas Evan. Dengan trus mendengarkan pembicaraan suaminya. Dan tak berselang lama komunikasi telfon itu pun terputus diikuti simpul dasi itu mengait rapi di leher mas Evan.
" Terima kasih, sayang, " ujarnya seraya mengecup kening istrinya.
" Apa kamu melihat pulpenku??, " tanyanya pada Wulan yang tersenyum.
" Hhmm, sepertinya ada, sebentar Wulan lihat, " ujarnya seraya melangkah menuju meja kerja mini milik suaminya. Namun ketika beberapa langkah, nyeri di perut Wulan menyerang dan ia terhenti dan tak berselang lama tubuh Wulan pun roboh jatuh kelantai.
Dan seketika mas Evan terkejut melihat tubuh Wulan roboh.
"WULAN!!!!, " panggil mas Evan panik seraya jatuh meraih tubuh Wulan yang terkulai lemas. Dan ia terpaku dengan darah yang mengalir segar dari kedua kaki Wulan.
" Ya Tuhan.., Wulan!!!, " paniknya seraya mengendong tubuh Wulan dan berusaha untuk membawa keluar dari kamar.
Bibik dan Safa Marwah ikut terkejut ketika melihat mas Evan mengendong tubuh Wulan yang terkulai lemas dan darah terus mengalir. Dan sontak membuat Safa Marwah menangis histeris.
" Panggil Pak Didi, CEPAT!!!"
Bibik pun tergopoh-gopoh berlari panik menuju dapur belakang.
Mas Evan dengan wajah paniknya berusaha membawa tubuh Wulan menuju mobil yang tengah dipanaskan oleh pak Didi yang ditinggal sarapan pagi didapur belakang.
Safa Marwah yang mengikuti papanya pun tak bisa berkata-kata hanya tangisan mengiringi.
Setelah mas Evan menaruh tubuh Wulan didalam mobil, ia berusah meraih Safa Marwah.
" Dengar, mama baik-baik saja, papa akan membawa mama kerumah sakit, kalian, kalian dirumah saja okeh, tunggu kabar dari papa!!!, " ujarnya dengan wajah tegang.
Dan Safa Marwah pun paham mereka berusaha mengontrol tangisnya. Pak Didi pun datang dan dengan sigap naik kedalam mobil yang terlihat majikannya terkulai lemas.
" Cepat pak, kita kerumah sakit!!" ucapnya tegas.
πππ
Sesampai dirumah sakit Wulan diturunkan di pintu IGD dan sontak membuat kaget para perawat yang berjaga pagi itu. Ternyata istri kepala rumah sakit mereka tengah terkulai lemas dengan darah segar mengalir dari kedua kakinya.
Mas Evan dengan wajah tegang memerintahkan perawat untuk mempersiapkan ruang oprasi segera.
" Panggil dr. Wayu sekarang, CEPAT!!!" ucapnya seraya membentak perawat yang ikut panik melihat wajah dr. Evan yang berubah kejam.
Terlihat dr. Evan berubah arogan dengan statusnya sebagai Kepala Rumah Sakit Petramedika. Para staf perawat yang melihat, berubah kaget karena selama berkerja dr. Evan paling ramah dan paling sabar. Namun kali ini berbeda dan semua menjadi ciut menghadapi dr. Evan yang terlihat panik dan marah dengan kinerja para perawat yang di anggap lamban.
Setelah memerikasa USG perut Wulan, mas Evan terlihat terkaget. Ternyata Wulan tengah hamil bayinya yang baru berjalan 8 minggu. Dengan wajah panik dan tegang ia memanggil perawat senior.
" Siapkan ruang operasi sekarang!!, panggil dr. Santi untuk anastesi dan siapkan 6 kantong darah B+," perintahnya pada perawat senior dan perawat senior itu pun dengan sigap menjalankan perintah dr. Evan.
Mas Evan menatap wajah Wulan yang kian pucat pasih, dan ia pun bersegera untuk berganti baju dengan atribut keruang operasi. Ada rasa sesal menghinggapi hatinya. Bagaimana mana bisa ia melewatkan kesehatan Wulan, bahkan ia tak menyadari bahwa Wulan tengah hamil, bukankah hal bodoh seorang dokter kandungan tak menyadari istrinya sendiri tengah hamil.