One Step Closer

One Step Closer
37



Empat hari berlalu, setelah terakhir kali Wulan menjengung Safa dan Marwah di rumah sakit. Wulan kembali menjalani hari-harinya seperti biasa.


Kegiatan ditoko juga berjalan seperti biasa. Mini cafe dr. Dessert pun telah menerima pegawai baru namanya Yuli, sehingga Wiwit dan Desi bisa fokus mengurus pelanggan yang datang untuk membeli kue.


Namun ada yang beda, siang itu pelanggan kecil Safa dan Marwah datang dengan gembira membawa seorang tamu yang mengagetkan Wulan.


" Tante Wulaaaan??," panggil Safa didepan meja kasir.


Wulan yang tengah fokus mencatat itu pun teralihkan fokusnya pada suara Safa. Dan ia terkejut melihat Safa tengah berdiri menatapnya.


" Safa???" sambut Wulan yang terkaget.


Marwah pun menghampiri Wulan dengan menggandeng tangan wanita paruh baya.


" Tante??" sapa Marwah menyapa.


Dan Wulan pun terkejut ketika melihat pada Warwah dan ibu dr. Evan bersama. Wulan dengan reflek menghampiri ibu dr. Evan lalu menyalami tangan ibu dr. Evan..


" Sehat Wulan?," tanya ibu dr. Evan ramah.


Wulan/"ah, saya sehat ibu, ibu sehat??" ucapnya canggung.


Marwah/"kita yang ajak eyang kemari tante, eyang juga mau beli cake tante lagi" jelasnya.


Ibu dr. Evan/"kamu sibuk??"


Wulan/"ah, gak ibu, jam segini biasa agak lengang pelanggan"ucapnya seraya melihat kondisi toko sekeliling.


"hhhmm, ibu mau minum teh?? kalo ibu tidak keberatan??"ucapnya ragu


Ibu dr. Evan/"ah, baik laah"


Wulan/"mari ibu kesebelah sini" ucapnya seraya menuntun safa marwah untuk mengikutinnya menunju pintu cafe mini dr. Dessert.


Ibu dr. Evan terlihat senang dijamu ramah oleh wulan. Ia mengikuti wulan yang menuju meja disisi sudut cafe yang terlihat 4 kursi disana.


Wulan/"ibu mau teh putih?? atau teh jahe??"


Ibu dr. Evan/"hhmm saya mau teh jahe saja yang hangat"balasnya ramah


Wulan mengangguk dan memanggil yuli, dan ia memesan seperti permintaan ibu dr. Evan.


Wulan/"safa marwah mau apa???"


Safa/"kita lagi gak boleh minum yang aneh-aneh dulu kata papa, jadi kita air putih aja tante"


Wulan/"ooh, kasian yaa"


Marwah/"gak papa tante, kita udah biasa, kalo udah lewat dari 1 minggu biasa papa ijinin kita buat makan-makan lagi asal bukan seafood"


Ibu dr. Evan/"ngapapa wulan, hal yang biasa jika anak-anak baru sembuh, evan akan sangat tegas soal makanan"


Wulan/"ah, begitu yaa,, oh iya ibu mau rasa honey cake??"


Ibu dr. Evan/"oh oke"


Wulan/"sebentar yaa ibu, saya ambil kan cakenya"ujarnya seraya berlalu menuju estalase cake premiumnya.


Safa/"gimana eyang?? tante wulan baik kan??"


Tak berselang lama wulan pun kembali dengan honey cakenya dan beberapa cake kecil didalam box.


Wulan/"ini ibu, cakenya dan ini buat safa marwah" ucapnya seraya menaruh cake itu ke hadapan keduannya.


Safa dan marwah menatap bergantian. Mereka ragu untuk memakan cake box pemberian wulan.


Safa/"tante, boleh pinjam handphonenya gak?"


Wulan dengan tanpa bertanya, ia langsung mengambil handphonenya dari balik saku apron (celemek) yang berlogokan dr. Dessert dan memberikan handphonenya ke pada safa. Dengan serius safa memencet no telfon papanya dan ternyata sudah tersimpan dihandphone wulan, lalu ia menaruhnya ke kuping.


dr. Evan/"hallo!! wulan??"


Safa/"papaaah?? hehehhe" tawanya yang mengecutkan dr. Evan ternyata anaknya yang menelfon.


dr. Evan/"safa??" masih bingung.


Safa/"papa?? safa boleh gak makan dessert box tante wulan gak??"


dr. Evan/"hhmm, boleh tuan putri, asal nanti titip salam untuk tante wulannyaa"


Safa/"oke"ucapnya tersenyum dan memutuskan komunikasi itu seraya mengembalikan handphone milik wulan.


Ibu dr. Evan/"apa kata papa??"


Safa/"kata papa boleh tapi papa kirim salam untuk tante" ucapnya polos dan kini meraih dessert box itu dengan semangat.


Wulan yang sedari tadi canggung karena yang ditelfon safa adalah papanya. Dan kini wulan jadi salah tingkah karena tak menyangka safa akan menyampaikan pesan dari papanya langsung kepadanya dan didepan ibu dr. Evan.


Wulan hanya bisa tertawa kecut, hatinya merasa tak enak kepada ibu dr. Evan yang mendengarkan hal itu. Ia takut ibu dr. Evan jadi salah menafsirkan salam tersebut.


Ibu dr. Evan/"kamu pintar buat kue yaa?? sudah lama??"


Wulan/"ah, gak juga ibu, yaa belum terlalu lama usaha cake ini dirintis" ucapnya merendah.


Ibu dr. Evan/"jarang sekarang perempuan yang suka dengan hal-hal seperti ini, wanita sekarang lebih suka kerja dibalik meja dan tentunya berdandan" ujarnya seraya memotong honey cake itu dan menyuapinya kedalam mulut.


Wulan/"hhhmmm, begitu yaa, mungkin karena saya cuma bisa buat kue aja bu, ilmu lain saya gak ada"ujarnya lagi.


Ibu dr. Evan/"kamu pasti bisa masak juga??"


Wulan sedikit terkejut dengan pertanyaan ibu dr. Evan.


Wulan/"hhmm gimana yaa bu, wulan justru gak pintar masak" ujarnya ragu


Namun sesaat ibu dr. Evan tertawa kecil, ia melihat kearah wulan dengan sorot mata hangat.


Ibu dr. Evan/"waaah, jadi kamu kebalikan dari saya yaa??? saya malah gak bisa buat kue, padahal udah ikut kursus tapi tetap gagal" ujarnya dengan masih mencoba menahan tawa.


Wulan/"hah?? serius ibu?? wulan pikir hal aneh bisa buat kue tapi gak bisa masak??" ucapnya yang kini terbiasa dengan obrolan ibu dr. Evan.


Dan ia melihat ke arah marwah yang sedikit belepotan memakan dessertnya yang membuat bibirnya menjadi coklat. Dengan berlahan wulan menarik tisu dan membantu marwah untuk menyeka mulutnya.


Ibu dr. Evan melihat dengan senang, ternyata wulan memang begitu perhatian kepada kedua cucunya.


Obrolan hangat itu berlangsung lama, tanpa mereka sadari.