
Masih disore yang bahagia itu, seluruh rangkaian acara pernikahan dr. Evan dan Wulan pun selesai dengan sukses. Para tamu undangan dibuat terkesan oleh acara sederhana tapi penuh kesan sederhana dan hangat.
Wulan dan dr. Evan telah kembali kekamar yang menjadi room make over mereka tadi, dan kesan kapal pecah masih tersisah disana. Wulan menganti baju pestanya dibantu oleh asisten desainnya mbak Lula. Dan mengantinya dengan dress hitam dengan lingkar bahu rendah. Karena mereka akan bergabung dengan para crew WO kak Ari dan keluarga besar untuk dinner malam ini penutup acara.
Diroom sebelahnya dr. Evan telah selesai menganti baju dan ia duduk disofa depan tv ruangan itu seraya membalas semua pesan masuk yang mengucapkan selamat atas pernikahannya. Berlahan sayup-sayup suara obrolan kecil antara wulan dan desainernya mbak Lula dan Josua pun muncul. Yang mengalihkan perhatian dr. Evan untuk menoleh menatap sosok Wulan yang terlihat elegan dengan dress hitam yang membalut tubuh rampingnya.
Wulan/"iyya,, ya mbak, makasih banyak loh udah buat gaun sebagus itu" ucapnya yang benar-benar memuji hasil karya mbak Lula yang sukses membuat ia menjadi perhatian tamu.
Mbak Lula/"sama-sama wulan, aku tuh yang harusnya makasih sama kamu, cuma kamu pelanggan yang gak banyak maunya, baru kali ini nemu gini, disodorin ini itu mau aja, untung cuma permak dikit" tersenyum memegang pundak Wulan yang ramping.
Josua/"iyya ini klien gak cerewet yaa mbak??" timpalnya.
Wulan/"haha,, bisa aja kalian" ujarnya tertawa malu dan berhenti melangkah tepat diruang tv yang terlihat dr. Evan mendekat kesisi Wulan dan melingkarkan lengan kirinya pada pinggang ramping wulan seraya bersalaman pada kedua sahabat Wulan.
dr. Evan/"terima kasih mbak Lula dan Kak Josua" seraya berjabat tangan secara bergantian.
Mbak LuLa/"oke kalo gitu aku pamit yaa. Sekali lagi selamat yaa Wulan dan dr. Evan, semoga bahagia" doanya tulus.
Josua/"aku juga pamit ya neng, sekali lagi selamat yaa untuk pernikahannya, bahagia selalu, dan jangan lupa doain akuuh" pintanya dengan berbalik mengikuti mbak Lula.
Wulan hanya tersenyum seraya berjalan mengikuti keduanya dari belakang dan berhenti di depan pintu kamar dan melambaikan tangan kepada keduanya yang berlalu menghilang.
Wulan/"huuuft" hela nafas wulan seraya memegang pundaknya yang seakan lelah. Berlahan ia masuk kedalam kamar dan menyadari kamar hotelnya bak kapal pecah. Dengan kening mengeyit ia melihat dr. Evan berdiri dengan jemarinya lincah membalas pesan masuk.
Berlahan Wulan mendekat. Ia berdiri tepat disisi pria itu. Sesaat ia hanya memandang dr. Evan dalam diam.
dr. Evan/" apa ada yang ingin kamu utarakan??" ucapnya yang menyadari sorot mata Wulan yang memandangnya seraya menyimpan handphonenya kembali kedalam saku celananya.
Wulan menggeleng pelan.
dr. Evan/"kalo begitu kemasi barang-barangmu dan kita akan kekamar ku sekarang"
Wulan/"dokter??"namun terhenti ketika jari telunjuk dr. Evan dengan cepat menyentuh bibir Wulan dan seketika mata wulan melebar bingung.
dr. Evan/"nama!!" sanggahnya cepat.
Wulan/"ah, maaf, hhmmm mas.. mas Evan??" ucapnya kaku.
dr. Evan menghela nafasnya.
dr. Evan/"lebih mesra lagi!!" pintanya menatap wajah wulan.
Wulan/"???"
dr. Evan/"??? tidakkah ada panggilan mesra dan manja yang kau tau??"
Wulan/"???" bingung.
dr. Evan/"seperti "sayangku" , "cintaku" , "belahanjiwaku" , "jantung hatiku" pfhhh" ucapan dr. Evan terhenti seketika, karena tangan Wulan dengan cepat menutup mulut dr. Evan. Wulan tak sanggup mendengar panggilan-panggilan itu, bulu kuduknya meremang mendengarnya.
Wulan/"ijinkan wulan untuk tetap memanggil dengan "Mas Evan" saja!! Wulan mohon??" pintanya ragu.
Berlahan tangan Wulan diraih oleh jemari dr. Evan dengan lembut. Senyum hangat dr. Evan mengembang ke arah tatapan wajah Wulan yang cantik dengan masih memakai riasannya tadi.
dr. Evan/"panggilan apapun itu aku akan tetap menoleh padamu" ujarnya yang meraih pinggang Wulan yang ramping mendekat ke padanya. Dan jemari dr. Evan dengan lembut meraih wajah wulan.
Deg.. Jantung wulan berdebar.
dr. Evan/"kau membuatku ingin menciummu selalu" ujarnya yang berhasrat seraya mendekatkan bibirnya kebibir wulan yang ranum. Berlahan nafasnya bertemu dan bibir Wulan pun bertemu dengan bibir dr. Evan yang mengecup dengan lembut. Berlahan kecupan itu berubah menjadi lumatan yang dalam. Pangutan dalam dan lembut membuat ruangan yang diterpa cahaya sore itu seakan menghangatkan keduanya.
Namun suara deringan handphone dr. Evan mengusik ciuman hangat keduanya yang terlepas dengan nafas yang agak sedikit tersengal. Berlahan dengan masih memeluk tubuh Wulan, dr. Evan meraih handphonenya dan melihat nama yang tertera Kak Eva.
dr. Evan/"Hallo??"
Safa/"papa??? kok belum turun??? safa dan marwah udah tungguin papa mama dibawah??" ujarnya kesal.
Wulan yang sama-sama suara safa pun tertawa kecil. Ternyata ia diselamatkan oleh sikembar.
dr. Evan/"baiklah sayang, mamamu masih membereskan barangnya" dengan mimik wajah mengangguk melihat kearah wulan seakan mengkonfirmasi bawah nanti jika ditanya anak-anak itu adalah alasannya.
Wulan menatap wajah dr. Evan dengan tawa tertahan yang kewalahan menghadapi pertanyaan safa sedari tadi.
Seketika dr. Evan berbicara berbisik ke arah wulan, untuk bersuara menjawab telfon safa untuk menolongnya dari kekesalan safa marwah. Dan wulan pun memgangguk paham.
Wulan/"baik sayang, mama turun segera dengan papa, sabar yaa" ucapnya lembut dan langsung mendapat jawaban ceria dari safa dan marwah yang bersorak senang. Dan telfon itu pun terputus seketika.
dr. Evan pun bernafas lega.
Wulan hanya tersenyum, dan ia melepaskan diri dari pelukan dr. Evan seraya berjalanan kesisi dinding kamar dan meraih koper kecilnya.
Wulan/"ayo??" ajak Wulan.
dr. Evan pun berjalan menuju Wulan yang telah berdiri dilorong kamar. Ia meraih tas koper wulan dan mengereknya berlahan dan keluar meninggalkan kamar kapal pecah itu.
Dan pada saat bersamaan Ayah wulan pun baru keluar dari pintu kamar hotelnya. Dan dengan terkejut melihat menantunya yang baru saja keluar bersama putrinya.
Wulan/"ayah?? apa ayah sudah siap??"
Ayah/"ya, ayah sudah siap" ucapnya ramah seraya melihat menantunya.
Wulan/"kalo begitu kita turun bersama" ucapnya senang dan mengandeng lengan ayahnya.
dr. Evan tersenyum dan ketiganya pun turun bersamaan.
ππππ
Dibawah, di restoran hotel telah menunggu para leluarga inti Mas Evan. Para crew WO kak Ari pun telah duduk bergabung bersama mbak Nita, Wiwit dan desi. Obrolan hangat dan canda tawa terlepas disana.
Disela-sela obrolan itu terselip kesan mereka ketika Mas Evan bernyanyi tadi. Para crew salut dengan Mas Evan yang tanpa latihan hanya dibrifing 15 menit langsung paham. Konsep awalnya tak seperti itu, tapi dengan ide Mas Evan mereka menyetujui dengan kejutan Mas Evan yang bernyanyi romantis dipesta tadi yang mendapat standing a plus oleh para tamu undangan.
Kak Eva dan Ibu Mas Evan dengan santai menyatu dengan mbak Nita, wiwit dan desi. Obrolan ringan itu pun berlalu hingga pukul 9 lewat. Beberapa mereka sudah pulang karena harus istirahat untuk mengejar kegiatan lain lagi.
Wulan/"makasih banyak kak Ari, wulan benar-benar puas dengan kerja kakak dan para teman-teman WO"
Kak Ari/"sama-sama wulan, kami doakan semoga kalian bahagia selalu, dan semoga cepat dapat momongan yaa"
Sesaat Wulan terdiam, kata-kata "momongan" membuat hati wulan sedikit pilu. Namun ia berusaha untuk mengakhiri hari ini dengan senyum terbaik.
Mbak nita dan keluarga juga telah kembali. Wiwit dan desi kompak masih ingin menginap dihotel karena memang untuk keluarga inti dan mbak nita, wiwit juga desi mendapat fasilitas nginap yang diberi Wulan. Karena hanya mereka laah saudara yang wulan miliki.
Ibu Mas Evan mendekat ke sisi wulan yang tengah menghabiskan air minumnya sesaat.
Ibu Mas Evan/"Wulan??"
Wulan berpaling melihat kearah ibu mertuanya itu.
Wulan/"ya ibu??"
Ibu Mas Evan/"sepertinya ibu malam ini harus segera balik ke bandung. Karena bukde Juan masuk rumah sakit, jadi ibu langsung pulang"
Wulan/"ah begitu yaa?? apa tidak besok pagi saja ibu??" ujarnya cemas.
Ibu Mas Evan/"gak papa, bukde sedang kritis, jadi ibu ingin segera disampingnya"
Wulan/"ah, begitu yaa, maaf ibu Wulan gak tau" ujarnya sungkan.
Ibu Mas Evan menepuk lembut pundak wulan.
Ibu Mas Evan/" kalian istirahat laah "
Wulan hanya mengangguk pelan. Dan berlahan Wulan merasa pinggangnya dilingkar oleh lengan Mas Evan yang datang ditengah pembicaraa Wulan dan ibu mertuannya.
Mas Evan/"ibu hati-hati dijalan, kabari evan segera kondisi bukde, salam untuk mas haris yaa bu"
Ibu Mas Evan/"ya, sudah ibu pergi dulu" ucapnya seraya menerima salam hikmat dari putra dan menantu barunya. Dan ia pun berlalu meninggalkan restoran hotel.
Safa Marwah berlari kearah Wulan dan mereka menjatuhkan pelukan ke pinggang Wulan yang telah ada tangan Mas Evan disana.
Marwah/"malam ini kita tidur sama-sama kan mah??"
Wulan/"ya sayang" jawabnya lembut.
Mas Evan/" tunggu.. tunggu?? kalian tidur dikamar mimi eva kan??"
Marwah/"kan udah janji kemarin, malam ini tidur bareng kan mah??"
Wulan/"iyya sayang" dengan tawa tertahan.
Sesaat Mas Evan memejamkan matanya, bagaimana tidak misinya untuk malam ini digagalkan oleh putri kembarnya sendiri. Namun disisi lain Wulan malah menang.
"maaf mas!!" gumamnya dalam hati yang sukses tawa senang.