
Sore hari dikediaman dr. Evan, terlihat Marwah yang menunggu papanya yang sedang menerima telfon. Selang beberapa menit kemudian dr. Evan berjalan menuju Marwah dan mengendong Marwah dengan lembut.
" Kita mau kemana??, " ucapnya menatap wajah Marwah yang sendu.
" Beli cake, " jawab Marwah pelan.
" Oke, baik Tuan Putri, " ujar dr. Evan dengan senyum.
Pak Didi berjalan menghampiri dr. Evan seraya memberikan kunci mobil Sedan BMW seri 8. Dengan senang dr. Evan menyambutnya.
" Makasih, Pak Didi, hari ini istirahat aja, tapi besok seperti biasa, " ujar dr. Evan.
" Baik Tuan, terima kasih".
"Yuk.., kita jalan, " ucap dr. Evan menuju mobil sedan mewah warna hitam itu.
Terlihat Marwah duduk dikursi samping, dan dr. Evan pun berjalan menuju pintu mobil pengemudi.
πππ
Mobil sedan itu melaju dengan pelan, didalam mobil dr. Evan sesekali mengalihkan perhatian Marwah yang tak bersemangat. Arah mobil sedan itu pun berputar balik arah menuju toko Dr. Dessert dan ketika mobil itu masuk keperkarangan parkir toko, Marwah kecewa karena toko itu tertutup.
Dan tiba-tiba seorang tukang parkir datang menghampiri dengan ragu. Dan dr. Evan menurunkan kaca mobil disisinya.
" Maaf Pak, toko kuenya gak buka untuk beberapa hari, karena Mbak Wulannya lagi sakit, " jelasnya Tukang Parkir pada dr. Evan.
" Oh.., iyya, terima kasih Pak ".
Seketika dr Evan tersadar, benar Wulan dirumah sakit ia benar-benar lupa Wulan adalah pasiennya. Dan dr. Evan kembali melihat Marwah yang tambah cemberut.
" Kita kerumah sakit yuk, liat tante kue, " ajak dr. Evan pada Marwah yang sedih.
" Sungguh??, memang papa tau??, " ucapnya sedikit senang.
dr. Evan tak menjawab ia hanya membalas senyuman kearah Marwah yang penasaran . Dan arah mobil sedan mewah itu pun kembali ke arah jalur menuju rumah sakit Pertamedika.
Marwah terlihat tidak sabar ingin bertemu dengan Tante Wulan.
Sesampai diparkiran rumah sakit, dr. Evan memarkir mobilnya diarea parkiran dokter dengan leluasa. Marwah menunggu papanya membukakan pintu dengan senang.
Dan Marwah pun turun dengan mengandeng tangan papanya.
Ketika memasuki rumah sakit silih berganti para perawat menyapa dr. Evan dan Marwah yang kadang-kadang memanggilnya Safa. Dan langkah kaki mereka sampai pada lantai ruang rawat inap ibu dan anak. Terlihat dr. Evan menuju meja jaga perawat, mengecek laporan pasien hari ini.
" Marwah, papa visit kekamar pasien lain dulu yaa, setelah itu baru ketempat tante kue ".
" Mau sekarang, " pintanya.
dr. Evan pun menghela nafas panjang, tak ada gunanya membuat Marwah menunggu, itu hanya akan menambah masalah.
" Oke baiklah, sebentar yaa ".
" Sus, minta laporan pasien kamar Sakura ".
" Baik dokter, " ucap Suster sigap mengambil map laporan kamar Sakura dan menyerahkannya ketangan dr. Evan.
dr. Evan meraih segera dan mengecek lembaran-lembaran laporan itu.
" Oke, ayuk, " ajaknya pada Marwah.
Marwah dengan senang meraih tangan papanya. Mereka berjalan melewati 5 kamar dan sekarang tepat berhenti dikamar Sakura.
" Ayuk, ketuk dulu, " perintah dr. Evan kepada Marwah.
Tok..., tok...
" Permisi, " ucapnya pelan, dan tangan dr. Evan membantu Marwah membuka pintu kamar itu.
Dan sosok Wulan terlihat tengah duduk ditempat tidur pasien dengan handphone ditangannya. Wajah Wulan terkejut ketika Marwah masuk dengan riang menyapa dirinya.
" Tante Wulaaan, " sapanya riang.
" Marwah???, " ujarnya kaget.
" dr. Evan??".
dr. Evan tersenyum melihat wajah Wulan yang syok dengan kehadiran Marwah. Mbak Nita dan Wiwit yang sedari tadi tengah asyik mengobrol juga ikut kaget dengan kehadiran Marwah dan dr. Evan.
" Bagaimana keadaan kamu Wulan??, " tanya dr. Evan lalu mendekat pada ranjang pasien dan berdiri dibelakang Marwah.
" Sa..., saya baik Dokter, be.., benar-benar baik," ucapnya terbatah-batah.
" Cepat sembuh Tante Wulan, " ucap Marwah.
" Oooh.., sayang maaf yaa, sampai kamu jadi liat Tante begini".
Wulan mengangguk pelan, tangan Marwah tak melepaskan tangan Wulan yang mengubah posisinya menjadi berbaring.
" Maaf, " ujar dr. Evan sopan ketika akan memeriksa dada dan perut Wulan dengan Stetoskop. Mata dr. Evan tertuju pada wajah Wulan, dan itu cukup membuat Wulan risih, ia sengaja membuang tatapan matanya ke arah langit-langit kamar.
Dan seketika dr. Evan mengangguk.
" Apa haidmu sudah lancar??".
Wulan sedikit risih mendengar pertanyaan dr. Evan.
" Sudah dokter, " jawabnya berat.
"Oke, ini sudah baik".
" Dokter apa ini akan berulang??, " tanya Wulan ragu.
" Mungkin, sebenarnya hal yang biasa bagi wanita senggut atau keram pada perutnya ketika haid, tapi ini mungkin berbeda karena haidmu yang berbulan-bulan tak keluar dan itu menganggu hormon ditubuhmu, sehingga bereaksi seperti itu, " jelas dr. Evan.
Wulan mengangguk paham, apa yang dimaksud dr. Evan.
" Kapan saya bisa keluar Dokter??, " tanya Wulan lagi.
" Sekarang pun kamu boleh pulang, karena kondisi kamu sudah baik, mungkin nanti saya akan meresepkan beberapa obat tambahan, " kata dr. Evan.
Wulan terlihat senang. Ia sudah tak sanggup lagi berlama-lama dirumah sakit, aromanya membuat ia teringat akan ibunya yang meninggal dirumah sakit.
Namun perhatiannya beralih kepada wajah Marwah yang tersenyum.
" Makasih yaa, Marwah udah datang, tapi Safa mana??, " ujarnya bingung.
" Safa ikut mommy pergi, " jawab Marwah.
Jawaban Marwah tadi cukup membuat hati dr. Evan tenang.
" Dokter terima kasih banyak yaa, maaf saya tidak datang melanjutkan konsul dengan dokter, " ujar Wulan agak sedikit tidak enak.
" Hhmm, kalo kamu ingin penjelasan lebih dalam datang laah kembali kepraktek saya".
" Ah, hhmm iyya dokter, saya hanya masih merasa belum benar-benar kuat menerimanya, " jawab Wulan.
" Ya, saya paham, yuk Marwah, " ajak dr. Evan pada putrinya.
" Papa, Marwah tinggal disini sebentar lagi yaa, boleh, " pintanya pada papa Evan.
" Jangan sayang, Tante Wulan mau istirahat lagi".
"Gak papa Dokter, biar Marwah disini kalau Dokter mengijinkan, " sanggah Wulan.
" Baiklah, papa pergi visit ke kamar pasien yang lain yaa, setelah itu kita pulang".
" Iya, makasih Papa, " ujar Marwah senang.
" Saya permisi, " pamit dr. Evan seraya berbalik menuju pintu untuk keluar.
Sesaat setelah dr. Evan keluar, terdengar suara sorak bergembira, karena senang Wulan sudah bisa pulang.
" Tante Wulan jangan sakit lagi ya???, " pinta Marwah.
"Hhmm, kamu sedih yaa gak bisa beli kue Tante??".
Tiba-tiba Marwah memeluk Wulan dengan cepat. Dan Wulan terperangah dengan pelukan Marwah yang tiba-tiba.
" Tante bisa gak pulang kerumah Marwah??"
" Marwah??, " ucap Wulan yang bingung dengan permintaan Marwah.
" Pasti seneng bisa ketemu Tante selalu dan makan kue Tante setiap saat, " harap Marwah.
" Walau Tante gak pulang kerumah Marwah, tapi kamu kan bisa ketoko Tante selalu dan kapan pun kamu mau, toko Tante selalu terbuka untuk kamu dan Safa".
" Janji, " ucap Marwah yang melepas pelukan itu seraya mengulurkan jari kelingkingnya dihadapan Wulan
" Janji, " ucap Wulan senang dan menautkan kelingkingnya di kelingking Marwah.
Dan keduanya pun tersenyum senang.
Mbak Nita dan Wiwit yang melihat kedua juga ikut senang. Memang Safa dan Marwah begitu dekat dengan Wulan. Keduanya bukan hanya pelanggan setia tapi mereka lebih dari itu, Safa dan Marwah bisa 1 atau bahkan 3 jam duduk ditoko sembari bercerita dengan Wulan, Mbak Nita dan Wiwit.
" Tapi Marwah kok gak ikut Mommy pergi??," tanya Mbak Nita penasaran.
" Marwah gak suka Mommy, " ucapnya cepat.
Dan seketika Mbak Nita terkaget, " Masa anak kecil gak suka sama ibunya sendiri??, " pikirnya dalam hati. Wulan tak menyadarinya, ia malah tengah asyik bercanda dengan Marwah yang melihat tangan Wulan yang terinfus.