
Malam harinya, Wulan tengah menemani Safa Marwah untuk tidur. Tapi hatinya gelisah mengingat mas Evan yang sakit dan belum keluar kamar sedari sore tadi.
"Safa?? Marwah?? kalian tidur duluan bisa???, " tanya Wulan kepada keduanya.
Safa Marwah melihat dengan bingung.
" Mama mau liat kondisi Papa, dan keliatannya papa juga belum makan malam," ujarnya dengan nada khawatir.
" Bisa mah " jawab Safa cepat. Dan Safa bangun untuk tidur bersama dikasur marwah.
Wulan sedikit tersenyum lega. Setelah mencium kening keduanya, ia pun keluar kamar anaknya dan menatap ke arah kamar mas Evan yang berjarak 1,5 meter dari kamar anak-anak.
Dengan ragu ia mengetuk berlahan pintu kamar mas Evan yang tak mendengarkan jawaban dari dalam kamar. Berlahan Wulan membuka pintu kamar mas Evan yang terlihat terang. Berlahan ia masuk seraya melihat ke arah tempat tidur besar dengan mas Evan tertidur disana dengan selimut tebal. Wulan curiga dan dengan cepat berlari kearah tempat tidur itu. Ia bergegas menyentuh kening mas Evan yang panas.
" Ya Tuhan!!, " ujarnya panik. Dan Wulan pun bersegera bangun dan berlari kecil keluar kamar dan mengambil mug sedang dan mencari handuk kecil lagi dikamar Safa Marwah yang terlihat keduanya telah tertidur.
Wulan bergegas kembali kekamar mas Evan yang terlihat menggigil kedinginan. Wulan yang panik berusaha mengompres kening mas Evan dengan air biasa. Dengan cemas Wulan mencoba mengobrak abrik kamar mas Evan untuk mencari obat demam di laci sebelah tempat tidurnya. Dan ia menemukan obat itu dan berusaha keras memikirkan bagaimana cara agar mas Evan bisa meminumnya.
" Mas??, Mas??, " panggil Wulan berusaha agar mas Evan tersadar.
Dan diluar dugaan mas Evan tersadar mengenali suara Wulan.
" Mas minum obatnya dulu yaa?"
Mas Evan tak menjawab, tapi ia mengerti intruksi Wulan. Dengan susah payah Wulan mematahkan obat tablet itu dengan giginya agar terbagi dengan kecil. Dengan cepat ia menyuapinya ke dalam mulut mas Evan dan langsung memberi minum kepada mas Evan secara berlahan dengan sendok.
" Mas apa gak kerumah sakit aja??, " saran Wulan yang cemas. Namun hal itu ditolak mas Evan dengan mengerakkan tangannya berlahan. Dan berlahan mas Evan tertidur kembali.
Wulan yang risau melihat kondisi mas Evan tak berniat untuk meninggalkan pria ini sendiri, ia terus mengompres kening mas Evan secara berkala. Ia terus memantau demam mas Evan yang sesekali terlihat gelisah dalam tidurnya.
Dan hal itu terus berjalan hingga dini hari, tanpa Wulan sadari ia pun tertidur disisi samping kasur itu dengan terduduk berpangku lengan untuk menganti bantal dikepalanya.
Perlahan mas Evan berangsur-angsur sadar dari tidurnya dengan merasakan kening tersemat handuk dan baju yang terasa basah oleh keringat. Berlahan ia bangun untuk duduk, dan ia terpaku menyadari Wulan yang duduk tertidur berpangku lengan disisi ranjangnya.
Mas Evan melirik jam di meja samping ranjangnya dan terlihat jam 3 dini hari, dan ia juga melihat nampan yang dengan mangkung sedang dan teh disana. " ya Tuhan, dari jam berapa ia tidur disini??" gumamnya dalam hati, dan menyadari sakit giginya telah jauh lebih baik. Berlahan mas Evan mencoba turun dari tempat tidur untuk menganti bajunya yang basah oleh keringat.
Setelah menganti baju dengan kaos putih, mas Evan berjalan mengendap-ngendap kehadapan Wulan yang masih tertidur pulas. Namun berlahan ia mencoba untuk mengendong Wulan untuk memindahkannya ke atas kasurnya.
" Bagaimana bisa kau seringan ini??, " ujar mas Evan yang nyaris berbisik melihat wajah Wulan yang tertidur lelap dengan tak bergeming didalam gendongannya. Dengan pelan ia merebahkan tubuh Wulan ke atas kasurnya, dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Eulan.
Perlahan mas Evan merebahkan tubuhnya disisi tubuh Wulan.
" Akhirnya kau tidur disini, dikamar kita, " gumamnya dalam hati seraya merapikan rambut-rambut diwajah Wulan yang teduh. Dan reflek mas Evan mencium kening Wulan.
" Kali ini aku relakan lagi, karena sakit gigi ini, " gumamnya dalam hati seraya mendekat ketubuh Wulan. Dan terlepat tidur bersama.
ππππ
Pagi hari nya, Wulan bangun berlahan dengan mencoba mengumpulkan kesadarannya berlahan. Dan terkaget , ketika ia melihat disampingnya mas Evan tidur dengan lelap dengan memeluk tubuhnya. Seketika Wulan menutup mulutnya dengan mata melebar.
" Ya Tuhan, bagaimana bisa aku tidur disini???, " pekik hatinya yang panik. Dan seketika ia mendapatkan mata Mas Evan terbuka melihatnya tajam.
Wulan terdiam seraya merasakan tubuhnya makin ditarik untuk mendekat ke arah mas Evan.
" Mas??, apa?? apa Mas udah baikan??" ucapnya ragu.
Namun yang ditanya tak menjawab, mas Evan malah bangun dan menindih tubuh Wulan berlahan. Ia menjatuhkan ciuman disisi samping leher Wulan yang terpaku. Mas Evan terus menyerang tubuh Wulan tanpa jeda dengan tangannya berlahan menyentuh disisi dada Wulan, namun reflek tangan Wulan menghentikan rabaan lembut tangan mas Evan didadanya.
Mata mas Evan mentapa wajah Wulan lekat-lekat.
" Kenapa??, " tanya mas Evan yang bingung dengan penolakan Wulan.
" Mas?? maaf, maaf Wulan.., " Wulan terbatah-batah.
Tiba-tiba panggilan telfon masuk dari handphone mas Evan pun terdengar mengusik kecangungan keduanya dan terlihat wajah mas Evan berubah dingin. Dan berbalik meninggalkan Wulan yang masih terpaku disana. Wulan berlahan bangun dengan perasaan risau, ia telah membuat hal fatal dipagi ini.
Berlahan suara Safa Marwah pun datang dan masuk kedalam kamar Papanya dan menghampiri mas Evan yang berdiri membelakangi Wulan.
" Papa udah sembuh???, " tanya Marwah.
Safa melihat dengan teliti wajah Papanya yang terlihat tak begitu bengkak lagi.
Mas Evan menjawab pelan pertanyaan Marwah dan ia pun berlalu masuk kedalam ruang wadrobenya dan masuk kekamar mandi.
Wulan yang masih terpaku sesaat ia tersadar dengan kehadiran Marwah yang memanggilnya.
" Mama, mandiin kita donk!, " pinta Safa manja.
Dengan tergagap Wulan menjawab dan ia pun segera turun dari ranjang itu.
ππππ
Pagi tersuram bagi Wulan yang masih tak bisa menghilangkan kejadian tadi pagi bersama mas Evan yang membuatnya benar-benar terkejut.
Wulan menyuapi Safa Marwah dengan hati gelisah. Dan terdengar suara mobil sedan mas Evan keluar dari garasi tanpa ada sapaan dan kecupan seperti biasa dipagi hari. Hal itu menambah kegusaran hatinya.