
dr. Evan merangkul tubuh Wulan dan membawanya kedalam hotel menuju mini caffe hotel yang terlihat sepi untuk ukuran siang itu.
Ia melangkah masuk tanpa ada penolakan dari Wulan yang masih terlihat syok.
Langkah mereka terhenti pada sofa restoran yang berasa disudut ruangan. Dengan pelan dr. Evan menuntut tubuh Wulan untuk duduk, seketika tubuh dr. Evan turun setengah berlutut melihat kondisi wajah Wulan yang pucat.
" Kamu baik-baik saja??, " tanya dr. Evan menatap Wulan. Namun seketika dr. Evan terpanah melihat mata Wulan yang berkaca-kaca dan sedetik kemudian air mata itu jatuh.
Dan dengan nalurinya dr. Evan memeluk tubuh Wulan. Ia merasakan tubuh gadis itu benar-benar terguncang akan kejadian tadi.
dr. Evan mencoba menahan tubuh Wulan dalam pelukkannya untuk waktu yang cukup lama.
Pelan Wulan merengangkan pelukannya pada tubuh dr. Evan. Ia mencoba mengontrol tangisnya yang ia pendam.
" Maaf Dokter, " ucapnya tertunduk dengan suara parau.
" kamu sudah baikkan??, " tanya dr. Evan.
Wulan tak menjawab, ia hanya sanggup mengangguk pelan. Sekilas dr. Evan dapat melihat bekas jari pria tadi di lengan Wulan yang terlihat memerah.
" Saya antar kamu pulang, " ucapnya menatap wajah Wulan yang sembab.
" Terima kasih dokter, tapi..., " suara Wulan serak, ia mencoba bangun tapi dr. Evan meraih tangan Wulan.
" Sebaiknya biar saya yang mengantar kamu pulang, " ucapnya lagi dengan serius seraya membuka jasnya dan mengenakannya pada tubuh Wulan, untuk menutupi bekas merah dikedua belah lengan Wulan yang putih.
Wulan sedikit kaku, menerima perlakuan dr. Evan yang membuatnya berdebar.
Namun Wulan tak bisa mengelak dari kebaikan dr. Evan yang sejujurnya tubuh Wulan benar-benar lemas setelah kejadian tadi.
Uluran tangan dr. Evan dihadapan Wulan membuat tangan Wulan reflek meraih tangan dr. Evan. Dengan sigap tangan dr. Evan memegang jemari tangan Wulan yang ramping.
" Bagaimana bisa Mas Rendi berpikir gila seperti itu??, " gumamnya dalam hati.
" Apa yang ada dipikirannya??, istri simpana??, " gerutu hati Wulan yang masih terbayang-bayang perkataan Mas Rendi tadi.
Sesaat mobil sedan dr. Evan itu berhenti didepan pertokoan dan dr. Evan turun meninggalkan Wulan yang masih terpaku melihat jalan. Selang beberapa lama, dr. Evan kembali dengan menenteng kantong putih kecil.
" Wulan, " panggilnya lembut.
Wulan berpaling melihat dr. Evan yang menatapnya dengan cemas.
" Ini untukmu, pakai ini dilengan kamu nanti, ini akan membantu menyembukan memar dilengan".
Wulan hanya mengangguk saja tanpa berani menatap dr. Evan.
" Apa tadi dokter mendengar semua??, " tanya Wulan ragu.
" Tidak, " jawabnya pendek.
Wulan kembali mengangguk paham, setidaknya dr. Evan tak mendengarkan kata-kata frustasi mas Rendi tadi padanya.
" Sejujurnya aku mencemaskanmu Wulan, karena tadi sungguh membuat aku khawatir ketika melihat kamu terpojok dengan seorang pria yang terlihat ingin menyakitimu, " ujarnya jujur.
" Bukankah ia mantan kekasihmu??, dan ia suami dr. Luna".
Seketika mata Wulan melebar.
" Dokter tau??, " ucap Wulan kaget.
" Maaf, seharusnya aku tak ikut campur kehidupan pribadimu, Wulan, " jawab dr. Evan yang mencoba untuk tidak membuat Wulan tak nyaman.