
Tiga minggu berlalu setelah hari pernikahan Wulan dan Mas Evan. Rumah tangga yang harmonis dan selalu penuh canda tawa. Namun disisi lain ada hal yang masih terlihat aneh, karena Wulan masih tidur bersama anak-anaknya. Entah apa yang membuat Wulan begitu enggan masuk kekamar yang seharusnya ia tempati bersama mas Evan.
Disisi lain kegiatan bisnis toko Dr. Dessert berjalan normal kembali. Penjualan roti-roti itu selalu memuaskan. Bahkan Mbak Nita memaksa Wulan untuk menambah 1 karyawan lagi, khusus untuk membantu membuat roti bersama Mbak Nita. Penggemar cake premium Wulan pun tak mau kalah, namun belakangan Wulan membatasi jumlah orderan. Karena Wulan merasa kewalahan membagi waktunya saat ini antara membuat kue dan bermain bersama Safa Marwah.
Mas Evan memang tak pernah mempersoalkan jika Wulan pulang malam, namun Wulan yang merasa tau diri dan sungkan, sehingga ia membatasi dirinya sendiri untuk bisa pulang lebih awal sebelum mas Evan pulang dari rumah sakit.
Wulan pun terus belajar dengan peran barunya sebagai ibu dengan dua anak perempuan. Belakangan Wulan memberanikan diri untuk menyarakan Safa Marwah untuk masuk kesekolah, agar jiwa sosial kedua terbuka. Mas Evan tengah menimbang saran Wulan karena tak mudah membujuk Safa Marwah untuk masuk sekolah.
ππππ
Sore itu Wulan pulang lebih cepat, karena Marwah ingin mengajak mamanya membeli pernak pernik kecil di toko Pita yang baru buka beberapa hari lalu di arah jalan menuju pulang kerumah. Wulan pun mengiyakan karena sudah beberapa hari keduanya meminta untuk mengunjungi toko tersebut yang menarik perhatian mereka sedari awal toko itu dibuka.
Mobil Freed itu pun kini terpakir didepan toko. Terlihat ketiganya masuk kedalam toko yang berdekorasi pink dominan disana. Dan sesuai namanya bermacam jenis pernak pernik pita terjual disana, khas anak perempuan yang menyukai hal-hal lucu dan unik. Wulan pun tanpa sadar hampir terpengaruh dengan benda-benda unik yang dijual disana untuk membelinya, namun berlahan ia sadar untuk mengontrol sifat belanjanya. Tapi tidak untuk Safa Marwah, mereka begitu semangat untuk memilihnya barang-barang imut-imut itu.
" Mama ijinin, tapiiii.. hanya memilih 1 benda yang boleh kalian beli oke??, " tegasnya untuk mengontrol si kembar yang terlihat akan kalap dalam membeli.
" Okeee Mama, " dan keduanya pun kembali berkeliling melihat-lihat dengan serius rak-rak pajangan yang menaruh barang-barang imut itu dengan antusias.
Wulan duduk di meja kasir dengan mengobrol pada pegawainya disana. Dan tanpa terasa 30 menit berlalu sampai kedua putrinya itu kembali kekehadapan Wulan yang tersenyum melihat kearah keduanya yang sepertinya puas dengan apa yang telah mereka pilih.
Terlihat keduanya menunjukkan barang yang mereka pilih secara bersamaan.
" Ini mah??, boleh gak??, " tanya Marwah yang menyerahkan bando yang ia bawa sebanyak 3 pcs.
" Ini kenapa tiga?, karena kan Marwah mau pakai sama-sama dengan kak Safa dan Mamah," jelasnya sedikit ragu karena melihat ekspresi mamanya dengan dahi mengeyit.
" Iya Mah, kalo Safa gelang ini boleh gak mah??, Safa juga pilih 3, biar kita bisa pakek bareng," timpalnya lagi.
Seketika Wulan pun menghela nafas panjang. "Begini kali yaa punya anak perempuan apa-apa harus sama??," gumamnya dalam hati. Namun sejujur ya Wulan senang, ia tau maksud keduanya. Dan senyum Wulan pun mengembang.
" Baiklah sayang, Mama ngerti, ya udah yuk kita bayar dan terus pulang, " ucapnya lembut.
Dan sontak Wulan mendapatkan pelukan hangat dari keduanya yang tertawa senang karena Mamanya tak marah.
Transaksi pembelian itu pun selesai. Ketiganya keluar dari toko Pita dengan senang. Safa Marwah semangat bercerita bagaimana mereka melihat benda-benda unik di toko Pita tadi.
Berlahan arah laju mobil Freed itu pun memasuki kawasan perumahan elit, dan sampai pada halaman rumah kediaman Mas Evan. Safa Marwah berlomba untuk turun dan masuk kedalam rumah. Hal baru yang menjadi lomba untuk keduanya adalah mandi sore. Siapa yang duluan cepat bangun pagi dan cepat mandi maka ialah yang berhak tidur bersama Mama Wulan.
Bibik juga berlahan terbiasa dengan tingkah baru nona kecilnya yang berubah menjadi lebih penurut dan mudah diatur berkat ibu baru mereka yang tegas namun penuh kasih sayang.
" Masak apa kita bik untuk malam ini??, " tanya Wulan seraya menaruh tas di meja makan dan meraih sebuah buku resep masakan.
" Apa ya nyonya??, bibik juga bingung??"
" Kita masak simpel aja yaa bik??, tumis brokoli dan ikan sambal aja yaa?? cocok gak bik??, " tanya Wulan seraya melihat isi buku resep yang ia beli dua minggu lalu dan kini menjadi andalannya untuk contekan masaknya selama ini.
" Cocok nyah,cocok, " jawab Bibik seraya memberi jempol pada Wulan, yang disambut tawa kecil oleh Wulan.
" Oke deh, bahan adakan Bik??".
" Lengkap Nyah" jawabnya yakin.
" Siip kalau gitu, tapi saya beresin anak-anak mandi dulu yaa," ucapnya seraya bangun dan langsung menuju kamar Safa Marwah yang terdengar tawa dan canda dari balik kamar mandi.
Setelah membereskan Safa Marwah. Wulan pun kembali keluar kamar menuju dapur kotor bersama Bibik yang sudah siap dengan bahan-bahan yang diresepkan dari buku. Berlahan keduanya pun mulai sibuk mengolah bahan-bahan itu sesuai step by step dari petunjuk buku resep.
Memasak bukan hal mudah bagi Wulan, terlihat entah berapa plaster tersemat dijemarinya, selama ia belajar mengupas bawang dan memotong ikan. Ia benar-benar buta akan masakan namun karena ia mengingat sosok mendiang ibunya yang tekun belajar untuk hal-hal baru membuatnya termotivasi ingin seperti ibu. Dan Wulan pun ingin menghidupkan kembali hangatnya suasana rumah dengan selalu makan malam bersama. Walau mas Evan kadang kala melewatkan jam makan malam bersama, setidaknya ia sudah berusaha menjadi ibu yang baik untuk kedua putrinya dengan menyuguhkan masakan yang ia olah sendiri.
Namun sore itu, tepat dipukul 5 sore mas Evan pulang dengan wajah tak biasa. Ia berjalan masuk dengan diikuti pak Didi yang terlihat mengikutinya dari belakang dengan menenteng tas ransel dan plastik kecil.
Mas Evan bahkan ia tak menyapa Safa Marwah yang berada diruang TV, ia langsung masuk kekamar.
Wulan yang melihat dengan bingung kearah itu berlahan mendekat kearah pak Didi yang juga datang kearahnya.
" Ini Nyonya, Tuan baru selesai operasi cabut gigi geraham. Dan ini obat yang harus Tuan minum Nyonya," ucapnya sopan seraya menyerahkan plastik obat itu ketangan Wulan yang masih kaget dengan kepulangan mas Evan sesore ini.
" Ah, baik pak, makasih yaa pak Didi"
" Permisi Nyonya, " pamit pak Didi menuju kebelakang.
Wulan hanya mengangguk menjawab pak Didi yang berlalu menuju dapur belakang. Terlihat Safa Marwah yang bengong melihat kearah Wulan.
" Papa kenapa Mah??," tanya Marwah.
" Papa sakit gigi, " jawab mama Wulan pelan yang sekarang duduk bersebelahan dengan Safa.
" Oooh, Papa memang sering sakit gigi Mah, " jawab Safa santai.
" Oya??, " sambut Wulan terkaget.
" Ia, kadang bisa dua hari Papa gak kerumah sakit, " timpal Marwah.
" Kasian yaa Papa jadi gak bisa makan masakan Mama, " tukas Safa sedih.
" Ah iyaa ya, hhmm, kalau gitu mama Masak bubur untuk Papa dulu yaa, biar Papa bisa makan, " ujar Wulan seraya bangun.
Namun tiba-tiba, pintu kamar mas Evan terbuka. Mas Evan dengan wajah tak ramah berjalan lurus menuju kulkas dan meraih air dingin lalu meminumnya secara berlahan dan ia mencoba mengontrol sakit giginya. Wulan berlahan menghampiri mas Evan menunggu jeda ketika mas Evan selesai minum.
" Mas??, " sapa Wulan pelan. " Apa mau minum obat?? ini obat yang dikasih sama dokter gigi".
Mas Evan tak berbicara, tapi ia hanya melambaikan tangan menolak. Dan lagi matanya terpejam menahan sakit giginya. Wulan yang melihat hal itu sedikit risau.
Tak tega melihat hal itu, Wulan berbalik berjalan masuk kekamar Safa Marwah, ia mencari-cari tempat handuk kecil didalam rak laci lemari baju Safa Marwah. Dan ia menemukannya satu, dan Wulan pun bersegera menuju tempat mas Evan yang kini telah terduduk dimeja makan dengan menopang kepalanya.
Wulan membuka kulkas freezer dan mengambil es batu kecil dan menuangkannya kedalam handuk tersebut, lalu mengumpulkan dan memnutupnya seketika dan beralih kesisi samping mas Evan yang melihatnya berlahan.
" Coba kompres pakek ini mas, biar berkurang sedikit bengkaknya, " ujarnya dengan wajah khawatir.
Berlahan mas Evan meraih handuk kecil itu dan mengompresnya tepat dipipi kanannya yang sedikit bengkak.
" Sebaiknya mas minum obatnya, agar mengurangi sakit, " tawar Wulan lagi dengan raut wajah cemas.
Mas Evan mengerakkan satu tangannya, untuk memberi tahu Wulan bahwa rahangnya sakit jika dia buka untuk meminum obat.
Wulan pun berusaha paham dengan isyarat tangan yang acak kadul itu. Namun seketika Wulan berinisiatif berjalan kedapur belakang dan ia mencari sesuatu dibawah lemari bawah dengan berlahan, dan ia menemukan benda yang ia cari "cobek batu". Dengan berlahan ia mengangkat cobek batu yang berukuran sedang yaa beratnya sekitar 8 kg untuk dibawa kemeja makan depan.
Mas Evan melihat dengan aneh, namun sakitnya membuatnya tak sanggup berpikir akan hal apa yang Wulan buat.
Dan Wulan meraih plastik obat dan membukanya berlahan dan menyatukan beberapa obat yang telah diresepkan oleh dr. Gigi. Setelah itu ia menghancurkannya diatas cobek yang telah ia beri plastik dengan ulekan cobek tersebut sehingga 3 obat itu pun hancur. Wulan pun meraih sendok yang berada disisi meja makan tersebut dan menaruhnya obat serbuk itu disendok dan menyerahkan sendok itu kehadapan mas Evan yang terlihat bengong dengan aksi Wulan.
"Diminum Mas, " ucapnya seraya memberikan sendok juga gelas yang sedari awal sudah mas Evan pegang.
Dengan ragu mas Evan mengambil sendok obat itu, dan mencoba membuka mulutnya berlahan dan mencoba menahan sakit. Sedetik kemudian sendok obat itu sukses ia minum dengan diburu-buru meraih gelas air dinginnya untuk melarutkan obat itu segera kedalam tenggorokannya.
Namun sesaat mas Evan menatap Wulan dengan wajah kesal.
" Ini pedas!!!, "ujarnya dengan rahang tak bergerak dan mata melotot, mas Evan merasakan tenggorokannya pedas karena obat yang tadi ia minum.
Wulan bingung. Namun ia seperti tersadar, dan sedetik kemudian Wulan tertawa terpingkal-pingkal. Bagaimana tidak, obat tadikan ia hancurkan dengan ulekan anak cobek yang sudah beberapa kali ia gunakan untuk membuat sambal ayam penyet dan sambal ijo.
Mas Evan melihat kesal kepada Wulan yang menertawainnya karena meminum obat rasa cabe.
" Ya ampun Mas maaf, bener maaf, Wulan gak inget ini tuh bekas ulek cabe-cabe. Tapi ini kan darurat, " belanya yang dengan mencoba menahan tawa melihat ekspresi mas Evan yang tak bisa berkata-kata karena menahan sakit.