
Sesaat dr. Evan menyentuh jemari wulan yang memeluknya dari belakang. Berlahan dr. Evan mererai jemari tangan wulan dan menariknya kehadapan dr. Evan. Tubuh wulan yang lemah pun tak berdaya dengan tarikan tangan dr. Evan hingga ia pun kini berada di hadapan dr. Evan.
Tangan dr. Evan menyentuh sisi pelipis wajah wulan yang telah basah oleh air mata. Ia memandang dalam wajah wulan.
Wulan/"dokter"ucapnya pilu.
"apa dokter pernah menyesali setiap keputusan yang dokter ambil???"
dr. Evan/"setiap keputusan yang telah ku ambil itu adalah yang terbaik, jadi tak akan ada kata penyesalan, sepahit apa pun itu tidak akan pernah aku tarik kembali."
Wulan terdiam. Berarti dr. Evan seorang yang memegang 1 kata, tidak ada istilah kembali atau menyesal dalam kamusnya walau hal itu sanggat ingin ia milik.
dr. Evan/"lihat aku" pintanya lembut.
Bola mata wulan pun beralih melihat wajah dr. Evan.
dr. Evan/"kau harus percaya pada ku, bersamaku, kita lewati semua!!"ucap dr. Evan yakin dan ia menarik lembut tubuh wulan kedalam pelukkannya.
Wulan tak bisa bertahan ia membalas pelukan dr. Evan dengan dalam. Dititik ini Wulan berjanji pada dirinya sendiri untuk mengabdikan seluruh hidupnya pada dr. Evan. Ia tak mengerti, tapi tak ada yang selalu mengerti dirinya sebaik dr. Evan. Entah seperti apa hari-hari yang dilewatkan Wulan bersama dr. Evan yang tak lama lagi menjadi Suaminya.
ππππ
Setelah pelukan hangat tadi. Kini dr. Evan tengah memasang jarum infus ditangan Wulan. Wulan yang masih tak bisa mengontrol takutnya akan jarum suntik pun meremas bantal sofanya dengan kuat. dr. Evan melihat dengan senyum kecil.
dr. Evan/"oke, sudah" ucapnya setelah memplaster jarum infus itu agar tak goyang.
Berlahan wulan membuka matanya yang terpejam sedari tadi saat dipasang jarum infus.
dr. Evan/"bagaimana bisa kau takut akan jarum sekecil ini??" ucapnya sedikit tertawa.
Wulan/"memangnya kenapa?? siapa pun pasti akan takut, jika benda itu menyakiti tubuhnya."ujarnya ngeles.
dr. Evan tertawa kecil.
Wulan/"kenapa tertawa?? apa itu lucu??"
dr. Evan pun tak menjawab, ia beralih membereskan sampah yang tertinggal di meja depan sofa.
Wulan/"terima kasih dokter"
dr. Evan sesaat memandang wulan yang duduk disofa memandangnya dalam.
dr. Evan/"jaga lah kesehatan, waktu pernikahan kita tak lama lagi"ucapnya lembut menyentuh lutut wulan yang berada dihadapannya.
Wulan/"ya"
dr. Evan/"aku lapar???" ujarnya cepat.
Wulan pun terkaget, benar ia pun juga lapar. Dan Wulan pun reflek bangun untuk pergi, tapi langkahnya tertahan oleh tangan dr. Evan yang memegang lututnya. Dan wulan pun reflek menunduk kebawah melihat dr. Evan.
Wulan/"???"
dr. Evan/"biar aku saja"ujarnya yang berlahan bangun dari duduknya.
Wulan/"tapi dokter??"
dr. Evan/"biar aku saja!! didapur mu ada apa??" ujarnya seraya berjalan kedapur mini wulan yang mungil.
Wulan/"apa yaaa??"
dr. Evan/"kau tak pernah masak??" ujarnya mengenyitkan dahi.
Wulan menggeleng seraya berjalan mengikuti dr. Evan dengan memegang botol infus.
Sesaat dr. Evan menghela nafas panjang.
dr. Evan/"ternyata aku tak menyeleksimu dengan benar??" ucapnya sedikit menyesal seraya tersenyum nakal
Wulan/"APA?? menyeleksi??"ucapnya mengeyutkan keningnya.
dr. Evan/"ya menyeleksi, aku ingin istri bisa masak" ucapnya kembali menahan tawa melihat ekspresi wulan yang terlihat syok dengan ucapnya.
Wulan/"tunggu!! bukan kah awalnya dokter yang ngelamar wulan??? jadi kenapa sekarang baru bilang butuh istri bisa masak??" ujarnya tersinggung.
dr. Evan pun sukses tertawa lepas melihat ekspresi kesal wulan. Tau dikerjain wulan reflek mencubit pinggang dr. Evan yang tengah menertawakanya.
Wulan/"memangnya lucu apa???"kesalnya ditertawakan dr. Evan.
dr. Evan mencoba mengontrol tawanya segera. Berlahan ia memegang kedua pundak wulan dan menurunkan sedikit wajahnya tepat di hadapan wulan.
Deg..
Jantung wulan berdebar mendengar pengakuan dr. Evan yang terang-terangan.
dr. Evan/"oke, sekarang bahan apa yang bisa kita olah untuk dimakan??"
Wulan/"bagaimana kalo kita buat spagetti??"ujarnya yakin karena bahan-bahan itu selalu ada dikulkasnya.
dr. Evan menyetujuinya.
dr. Evan/"oke kita buat itu sekarang" ujarnya melangkah ke dapur mini dan di ikuti wulan dari belakangan dengan memegang botol infus.
Wulan memberi tahukan dimana bahan-bahan spagetti berada, alat-alat dapur juga bumbu-bumbu yang diperlukan. Setelah di lihat lengkap semua oleh dr. Evan ia menyuruh untuk wulan duduk saja di sofa sembari menonton.
dr. Evan/"lebih baik kami nonton saja, biar aku yang membuat spagetti, oke???"
Wulan menganggu paham. Namun merasa tak yakin kalo dr. Evan bisa masak.
Berlahan waktu berlalu. Dua piring indah yang berisi spagetti pun terhidang di meja makan wulan yang minimalis.
dr. Evan/"ayo kita makan" ucap dr. Evan kepada wulan dan mengajaknya untuk duduk dimeja makan.
Wajah wulan terlihat kaget dengan apa yang dilihat. Spagetti yang di masak dr. Evab terlihat enak, aroma harum masakan itu memenuhi ruangan itu.
dr. Evan/"makan laah!! semoga rasanya cocok untuk mu" ucapnya seraya menyerahkan sendok kepada wulan. Namun tangan kanannya agak sakit jika digerakkan karena tertancap jarum infus disana.
"biar aku menyulangi mu" ucapnya lagi mengambil inisiatif dengan berlahan mengambil spagetti dipiring wulan dan menyulangkannya pada mulut wulan.
Wulan pun menerimanya, dan memakan suapan dari tangan dr. Evan. Dan betapa terkejutnya wulan, spagetti yang dibuat oleh dr. Evan benar-benar lezat.
Wulan/"hhhmm, ini enak banget dokter" puji wulan tak percaya dengan mulut masih ada spagetti.
dr. Evan pun terseny puas, dan kembali menyulangkan suapan kedua pada wulan. Wulan menerima dengan antusias, rasa gurih dan lezat dari spagetti ini membuatnya tak ingin berhenti makan.
Wulan/"gak nyangka dokter bisa masak juga yaa??"
dr. Evan/"dulu waktu dijepang aku sempat jadi koki cadangan di sebuah kedai makanan dipinggir jalan. Dan itu berlangsung tidak lama. Jadi beberapa resepnya masih aku ingat dengan jelas."
Wulan/"waahhhh, dokter pernah jadi koki masak??" tak percaya.
dr. Evan/"mmh" gumamnya seraya menyulangkan lagi sendok kedalam mulut wulan.
"terkadang kita perlu mencoba hal baru, yang berbeda dari kebiasaan kita"
Wulan mengangguk pelan dengan mulut terus menguyah spagetti. Ia senang bisa jadi lebih tau sisi lain dari seorang dr. Evan.
Wulan/"hhhmm, mungkin nanti wulan akan coba belajar masak"ucapnya pelan.
dr. Evan tertawa kecil.
dr. Evan/"aku akan memberi nilai untuk tiap masakanmu"ujarnya jahil.
Wulan/"duuuh udah sekayak juri chef aja"
dr. Evan hanya tersenyum melihat wulan.
dr. Evan/"aku akan menginap disini!!"
Wulan/"HAH??" ujarnya terkejut.
"jangan dokter, wulan sudah baikan, dokter bisa pulang" ujarnya panik.
dr. Evan/"ssssstt..dengar aku akan tidur di sofa dan kau tetap dikamarmu" ujarnya menyentuh bibir wulan yang terlihat ranum jika di kecup.
Dan cup..
dr. Evan mengecup bibir wulan dengan lembut. Dan reflek wulan menutup bibirnya seketika dengan terkejut.
Wulan/"dokter!!!"
dr. Evan/"itu bonus untukku karena memasak untuk mu!!" ujarnya yang puas dengan kecupan tadi.
Layout rumah atas Wulan