One Step Closer

One Step Closer
77



Empat tahun berlalu. Kehidupan rumah tangga Wulan penuh bahagia. Namun sudah lebih dari 3 minggu mas Evan yang sebagai kepala Rumah Sakit Petramedika sangat sibuk.


Dan pagi itu perang dimulai.


" Ya ampun, Mas??, 2 bulan yang lalu baru juga siap cek up, masa harus cek up lagi siih??, biasanya juga satu tahun sekali, " keluh Wulan karena ia malas untuk cek up kesehatan.


" Apa salahnya siih cek ulang!!, " balas Mas Evan yang menerima respon tak menyenangkan dari Wulan.


" Ya gak salah sih, cuma Wulan males aja Mas!!, harus buka baju dan lain-lain stepnya belom lagi harus nampung BAB!!, " keluh Wulan lagi yang memang memikirnya saja sudah malas.


Mas Evan yang tengah mengkancing baju pun berpaling melihat istrinya. Dan ia menghela nafas panjang lalu mendekat pada Wulan yang duduk dimeja rias.


Lalu ia menurunkan badannya hingga tatapannya sejajar dengan Wulan.


" Dengar, Mas gak mau kita bertengkar karena hal sepele apa lagi dipagi hari yang banyak malaikat rejeki dan berkah lewat, jadi tolong turuti permintaan Mas, untuk kali ini saja!!, " ucap Mas Evan lembut, namun menuntut untuk Wulan patuhi.


" Kali ini cek upnya tidak akan berkepanjangan, Mas janji!!, " tutur Mas Evan kembali dan dengan lembut mengecup bibir ranum Wulan yang telah berpoles lipstik orange.


Wulan pun menyerah, dan dengan hela nafasnya ia mengangguk pelan dengan permintaan mas Evan untuk cek up.


" Baiklaah, " ucapnya pelan lalu berlahan Wulan meraih kancing baju mas Evan dan membantu mengkancing baju suaminya yang tinggal 2 kancing lagi belum terpasang.


Setelah itu, ketika akan pergi lagi-lagi mas Evan mendikte Wulan dari balik jendela mobil sedan mewahnya.


" Ingat, untuk tidak memakai sepatu hak tinggimu!!, Mas sudah belikan yang baru, " kata Mas Evan yang kemudian berlalu meninggalkan wajah kesal Wulan, memang dalam 2 bulan ini Wulan terus mendapat dikte dari mas Evan yang dianggap sudah keterlaluan.


Mulai dari makan, jadwal tidur, berapa lama berdiri hingga urusan sepatu dan bahkan ia dilarang untuk tak membawa kendaraan lagi itu pun jadi ikut didikte.


Dengan wajah sedikit kesal ia kembali kedalam rumah untuk menemui Safa Marwah yang telah siap dengan tas sekolahnya dan tengah menunggu pak Didi.


" Ayo Mah, kita pergi biar gak telat, " ajak Marwah.


" Ah, iyya sayang Mama ambil tas dulu, dan Pak Didi mana??, suruh panggil Bibik sekalian biar langsung kita pergi."


Marwah pun kembali kedalam dapur belakang yang kini luas bagai dapur roti ditoko dr. Dessert. Selama ini Bibik tidak ditinggal lagi dirumah, Bibik kini juga menjadi karyawan toko Wulan. Karena Wulan sayang melihat Bibik jika dirumah saja.


Selama perjalanan menuju sekolah, Safa Marwah sibuk menghapal naskah drama sekolahnya. Tak lama lagi anak-anak akan mengikuti pentas seni yang diadakan disekolah. Tak terasa Safa Marwah sudah besar bahkan tak lama lagi mereka akan tamat sekolah dasar.


Wulan tersenyum bahagia melihat tumbuh kembang Safa Marwah yang kini berubah jadi anak mandiri bahkan kini mereka jadi siswa teladan disekolah dengan berbagai prestasi yang mereka raih. Keduanya selalu bersaing untuk mendapatkan nilai terbaik agar mama Wulan bisa tidur bersama mereka.


" Pak, nanti siang tolong antar saya kerumah sakit yaa!!, " ujar Wulan mengingatkan.


Safa Marwah kaget mendengar perkataan Wulan.


" Mama sakit??, " tanya Safa serius.


Marwah melihat dengan serius kearah wajah mamanya.


" Gak sayang mama baik-baik aja, hanya ada cek up sebentar kerumah sakit, " jelas Wulan.


Safa pun mengangguk pelan. Masih teringat jelas diingatan keduanya bagaimana mama mereka pucat bak mayat didalam gendongan papa mereka.


Dan tanpa terasa mobil Alphard itu pun sampai disekolah, dan keduanya pun buru-buru turun tanpa lupa mencium mesra mama mereka.


" Daaah mamaaaah, love you!!, " ucap keduanya bersamaan. Ucap yang tak bosan-bosan mereka ucapkan kepada mama mereka.


Wulan tiap hari dibuat meleleh dengan ucapan keduanya yang mengucapkan kata-kata romantis untuknya, baik ucapan dan kadang lewat surat yang diselip dihandphone Wulan.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Siang itu dirumah sakit Petramedika, Wulan yang baru saja selesai mengambil darah. Keluar bersama seorang perawat yang terlihat akrab mengobrol.


" Baik ibu sekarang tunggu diruang dr. Evan yaa!!, permisi saya tinggal, " ujar Perawat sopan dan tak berselang lama perawat dari dr. Evan menyambut Wulan yang ia tau merupakan Nyonya pemilik rumah sakit.


" Nyonya, tunggu sebentar yaa saya kabari dr. Evan dulu. Nyonya sehat kan??, " tanya Perawat sopan.


" Ah, yaa saya sehat, " jawab Wulan ramah namun timbul bingung.


Dan tak berselang lama Wulan pun dituntun untuk masuk kedalam ruangan dr. Evan. Dan kini terlihat suaminya yang tampan tersenyum kepadanya dan kemudian ia mengakhiri telfon seketika.


" Hay sayang!!, akhirnya kamu datang juga, ayo kita periksa kondisi kamu!!!, " sapa dr. Evan yang sengaja mengoda Wulan didepan Perawatnya.


" Ikh, Mas ini!!, " ujar Wulan yang cemberut manja namun malu karena ada perawat disana. Dan tak berselang lama mas Evan memeriksa keadaan perut Wulan, Wulan tak bertanya karena memang setiap cek up berkala suaminyalah sendiri yang memeriksakan kondisi rahimnya yang tak pernah kunjungi memberi perubahan.


Wulan hanya menatap langit-langit ruang kerja suaminya. Dan ia terkecoh dengan layar didepan tak menyala. Namun ia tak ambil pikir karena tak ada hal yang harus ia lihat dari hasil usg itu.


Dan tak lama mas Evan selesai mengUSG perutnya. Dengan bantuan perawat Wulan bangun berlahan.


" Mungkin malam ini Mas telat pulang," ujar Mas Evan dengan memegang kertas hasil USG Wulan.


" Apa??, Mas lembur lagi??, " tanya Wulan yang kesal. Baru semalam mas Evan pulang cepat dan kini ia berkata akan lembur lagi??, " gumam Wulan kesal.


Dan karena perasaan tak enak, perawat itu pun meminta ijin untuk meninggalkan keduanya.


Wulan mendegus kesal, namun ia memilih tak melanjutkan kesalnya dan mengalah lalu segera keluar dari ruang kerja suaminya. Dan kini mas Evan membiarkan Wulan keluar dari ruangannya tanpa menghalangi. Lalu ia terpaku melihat kearah kertas hasil USG.


" I get you Baby, " ucap Mas Evan senang dan mencium foto USG itu.


Disisi lain Wulan keluar dengan perasaan kesal. Hatinya terus mengedumel akan lemburnya mas Evan. Lemburnya benar-benar keterlaluan nyaris tidak ada hari keluarga lagi sabtu minggu pun ikut di embat untuk lembur.


" Oke, Mas bisa!!, Wulan juga bisa!!" gumamnya yang menunggu mobil Alphard Pak Didi.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Sesampai di toko, Wulan duduk di mini cafenya seraya merekap penghasilan bulan ini. Dan berselang itu ia pun kembali melihat-lihat desain toko yang bagus menurutnya, untuk dipilih merenovasi tokonya yang kini terlihat kuno tak mengikutin jaman. Ia sedikit menarik nafas panjang dan tak lama berselang Mbak Nita datang menghampirinya dengan membawa sebuah buket bunga.


Wulan melihat dengan bingung.


" Ini ada yang kirim buat kamu, " kata Mbak Nita seraya meletakkan buket bunga mawar itu dipangkuan Wulan.


Wulan menerima dengan bingung. Namun ia menemukan sepucuk surat disana, lalu mengambilnya dan berlahan membacanya.


" Jangan marah pada suamimu, itu akan sangat membuat mas sedih, " Evan.


Seketika ia tersenyum kecil. Sudah lama mas Evan tak memberikannya bunga. Dan berlahan ia mencium aroma bunga mawar itu dengan senang.


" Hhhmm.. gimana mau marah lama-lama kalo dikirim bunga begini!!, " gumamnya sendiri, lalu tertawa kecil.


Dan tak berselang lama, seorang pria datang dengan membawa kotak besar berwarna putih.


" permisi Mbak, ini ada titipan untuk Mbak Wulan" ucap pria itu pada Wiwit yang terlihat bingung menerima kotak besar itu.


" Ah iyya, biar saya berikan pak. Apa cuma ini aja??, " tanya Wiwit kepada pria itu.


" Iyya, kalo begitu permisi Mbak, " lalu pria itu pamit pergi.


Wiwit pun dengan membawa kotak itu memberikannya pada Wulan yang masih menikmati buket bunga mawar ditangannya.


" Mbak, ini ada titipan buat Mbak, " kata Wiwit kepada Wulan yang terlihay bingung.


" Dari siapa??, " tanya Wulan dengan melihat kotak besar dihadapannya.


" Gak tau mbak??, " jawab Wiwit polos.


" Ya ampun Wit, kok gak ditanya dari siapa sih??, kalau ini bukan untuk mbak gimana??, " sela Wulan.


" Ya, soalnya bapak yang antar cuma bilang titip ini untuk Mbak, ya udah Wiwit ambil aja, " ucap Wiwit.


Wulan mengenggeleng.


" ya udah, coba sini, " ujarnya yang berdiri untuk meraih kotak itu hadapanya.


Wulan membuka dengan berlahan, dan seketika ia terkaget. Ia menemukan sebuah gaun putih lengkap dengan hiasan kepala dan yang paling ia kagetkan sepatu flat yang senanda dengan gaun itu.


Wulan mengeyit dahinya melihat dengan bingung siapa yang mengirimkan kado ini. Dengan meneliti sekeliling dalam kado itu dan akhirnya ia menemukan sebuah surat yang ia cari.


" Dandan yang cantik, temui Mas malam ini. Dan sssssttt..jangan beritahu siapa-siapa!!!. Pak didi siap mengantar, " Evan.


Sesaat Wulan tertawa kecil. Bagaimana mana bisa mas Evan melakukan ini untuknya. Berlahan ia mengambil gaun itu dan memandangnya dengan sedikit senyum.


Wiwit dibuat bingung dengan bosnya yang tertawa sendiri. Namun ia memilih meninggalkan Wulan begitu saja.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Malam pun tiba Wulan turun berlahan dari rumah mininya ditoko. Mbak Nita menatap kaget Wulan malam itu.


" Cantik banget, mau kemana kamu??, " tanya Mbak Nita yang terkagum dengan dandan Wulan yang cantik.


Wulan hanya tersenyum simpul tapi tak menjawab pertanyaa mbak Nita.


Dan ia pun berlalu meninggalkan toko dengan menaiki mobil Alphard yang telah ditunggu pak Didi.


Didalam mobil Wulan menerima surat lagi.


" Kau ingat hari ini hari apa??, " Evan.


Dan Wulan terpaku dengan pertanyaan suaminya. Seraya mengenyitkan dahi mencoba mengingat hari ini??, apa?? kamis???, " gumannya sendiri.


" Pak, kita mau kemana yaa??, " tanya Wulan pada pak Didi.


" Nanti, Nyonya juga tau, " jawab Pak Didi irit.


Mendapat jawaban seperti itu membuat Wulan melongo. " Bahkan pak Didi juga bermain tebak-tebakan??, " ucap hatinya sendiri.


Dan Wulan pun terdiam membisu menikmati jalanan malam seraya mengingat hari ini hari apa??.