
Diruangan dr. Wayu sahabat dr. Evan, terdengar suara tawa terbahak-bahak yang mendengar curhatan hati sahabatnya yang tengah bermuram durja. Bagaimana tidak pernikahan yang nyaris sudah 1 bulan tapi sampai saat ini dr. Evan masih belum mendapat jatahnya sebagai suami.
" Kamu pikir ini lucu??" ucapnya kesal.
" Sorry..sorry, yaa gimana yaa?? ngenes banget nasib kamu fan. Udah menduda 5 tahun dan sekarang udah ada istri malah masih puasa, " celetuk dr. Wayu yang kembali tertawa.
" Yaa aku juga gak ngerti, kenapa sampai saat ini Wulan gak mau??, aku gak ngeh sama sekali, soalnya kalo ciuman atau pelukan dia bisa membalas balik, " jelasnya serius dengan mimik wajah kesal.
" Mungkin aja dia punya trauma??, " tukas dr. Wayu.
" Trauma apa??, " tanya balik.
" Yaaaa mana aku tau Fan, kan dia istri kamu??, lagian selama kamu kenal sama dia, apa kamu gak mencari tau sejarah percintaan dia gimana??, kali aja dia pernah tidur dengan pacarnya dan itu membuat dia trauma??, " jelas dr. Wayu blak-blakan.
Jleb.
Sesaat jantung mas Evan bagai tersayat. "Benar???, " gumamnya dalam hati. Ia hanya mengenal Wulan sekilas dan ia langsung jatuh cinta pada Wulan karena ia menyayangin Safa Marwah. Dan tanpa proses lama ia melamar Wulan dan berakhir menikah dalam waktu singkat.
Dan berlahan mas Evan mencoba flash back saat-saat ia mengenal Wulan. Tapi tak ada hal yang janggal menurutnya. Atau benar mungkin Wulan pernah Making Love dengan pacarnya dan itu menjadi traumatik untuk Wulan sekarang.
" Baiknya kamu cari tau dulu deh??, " saran dr. Wayu seraya menandatangi berkah dimeja kerjanya.
Wajah dr. Evan masih serius berputar dengan pikirannya sendiri.
" Tapi kalo bukan gimana??, " tanya balik dr. Evan yang masih belum puas dengan saran sahabatnya.
" Yaelaah Fan, ini tuh bukan pernikahan kamu yang pertama kan?? kamu udah pernah lewatin itu semua dulu, masa kamu lupa??".
" Ya lupa laah kalo harus ingat wanita ****** itu!!!, " ujarnya yang benci mengingat istri pertamanya Vivian.
dr. Wayu menghela nafas pajang, ia pun akhirnya menurunkan nada bicaranya kepada sahabatnya ini yang tiba-tiba jadi buta semuanya.
" Bisa jadi dia takut sama nafsumu itu!!, " terang dr. Wayu.
dr. Evan menatap bingung dengan dr. Wayu.
Berlahan dr. Wayu pun melonggarkan dasinya dan bangun berjalan untuk duduk berselahan dengan sahabatnya itu.
" Mungkin istrimu tak melihat cinta dimatamu, tapi nafsumu yang membuat ia risih. Wanita itu akan suka rela memberi hal yang berharga dengan rasa suka dan cinta, bukan dengan paksaan seperti pemerkosa yang menjarah dengan nafsu binatangnya." jelas dr. Wayu tajam.
dr.Evan kembali merenung berpikir.
" Tapi kan dia istri ku, harusnya dia tau kewajibannya??".
" Sekarang aku tanya sama kamu, oke dia istri dan itu kewajibannya untuk memenuhi kebutuhan biologis kamu, trus kamu mau melakukannya dengan paksaan dan derai air mata dia???, memang kamu gak mau melakukannya secara nikmat dengan desahan yang mengema???, " tanya dr. Wayu yang blak-blakan.
Dan dr. Evan pun tak bisa berkata. Pertanyaan sahabatnya itu ada benarnya. Ia tak ingin berhubungan dengan paksaan apa lagi derai air mata seakan ia pemerkosa. Dan nafas panjang dr. Evan pun terhebus.
" Tugas kamu mundur selangkah untuk dapatin 3, 4 dan 5 didepan" ujar serius dr. Wayu.
Dan tiba-tiba suara deringan telfon dari handphone dr. Evan pun berbunyi menbuyarkan obrolan pria dewasa itu. Dan tertera nama kak Eva disana.
" Hallo, kak??"
" Evan, kakak ijin bawa Safa dan Marwah ke Singapura yaa??, Zerin libur sekolah kasian kalo cuma Zerin aja, dia mau Safa Marwah juga ikut, gimana??, " jelas kak Eva.
" Hhhmm ya oke aja kak, asal Safa Marwah mau."
" Oke kalo gitu kakak telfon Wulan biar bisa berbenah, eh satu lagi, kakak bawa Bibik dan pak Didi juga sekalian, " pintanya lagi.
" Loh kok??, yaa udah deh terserah!!" jawabnya tak mau ambil pusing. Dan komunikasi itu pun terputus.
dr. Wayu kembali duduk dimeja kerjanya.
" Fan??, kamu apa gak ada pasien??,"ucapnya yang tak melihat ke arah sahabatnya dan sibuk menulis laporan.
" Enggak??"
" Hah??, "kaget.
" Aku izin sakit, " jawab dr. Evan ketus.
" Akhirnya lo bisa sakit juga yaa??" ujarnya yang seolah menyindir dr. Evan yang terkenal jarang sakit.
πππ
Di toko dr. Dessert Wulan termenung sesaat. Ia masih terus menerka-nerka bagaimana perasaan mas Evan atas penolakannya tadi pagi yang terang-terangan.
Namun lamunannya itu terusik oleh telfon dari kak Eva yang mengema.
Wulan/"hallo kak??"
Kak Eva/"Wulan?? kamu apa masih ditoko??? sibuk gak??"
Wulan/"iyya kak Wulan lagi ditoko, gak, gak lagi sibuk kak. Ada apa kak??"
Kak Eva/"gini mbak mau ajak Safa Marwah ke Singapura, sore ini kakak jemput yaa??"
Wulan/"hah?? kesingapur??"
Wulan/"oh begitu, sebentar yaa Wulan tanyakan ke safa marwah" seraya melihat sekitaran dalam toko dan menemukan sosok marwah yang tengah serius mengerjakan tugas tambahan dari miss suri.
" Marwah??"panggilnya.
Marwah/"ya mah??"
Wulan/"sini!!"
Marwah pun bangun dari kursinya dan berjalan menuju mamanya.
Wulan/"sayang ini mimi Eva mau tanya sesuatu sama kamu" ucapnya seraya menyerahkan handphone itu ke telinga marwah.
Marwah/"hallo mimi?? yaa?? kesingapur??" jawabnya dengan melihat mamanya yang merapikan bando dikepalanya.
Marwah/"mama papa?? hhhmm marwah tanya kak safa dulu, bentar ya mimi!!" dan marwah pun mengembalikan handphone mamanya dan ia pun berlari mencari kakaknya yang tengah duduk dimeja kasir bersama tante wiwit.
Marwah/"kak sini, mimi eva mau ngomong sama kakak!" ucapnya serius.
Dan Safa pun mengikuti adiknya menuju meja mamanya dan marwah memberikan telfon itu kepada safa.
Safa/"hallo mimi?? ya?? hhmmm boleh safa ikut kalo mimi bilang gitu" ucapnya yang melihat kewajah mamanya yang terlihat penasaran dengan pembicaraan keduanya itu. " iyaa, tar safa bilang sama bibik dan pak Didi untuk siap-siap juga". Dan seketika handphone itu pun ia kembalikan kepada mamanya.
Wulan/"mimi eva bilang apa??"
Safa/"mimi ngajak kita ke singapur karena temanin zerin liburan sekolah. Bibik dan pak Didi juga ikut. Tapi papa mama gak ikut" ujarnya sedikit cemberut.
Wulan/"duuuh segitunya sedih, kan cuma beberapa hari aja sayang. Udah jangan sedih gitu, nanti zerin jadi ikut sedih kalo liat kalian gak senang." ujarnya seraya membelai rambut safa marwah bergantian.
"ya udah yuk, kita balik kerumah untuk kemas-kemas barang kalian." ajaknya seraya bangun mencari mbak nita dan wiwit untuk menyerahkan urusan toko kepada mereka.
ππππ
Dirumah mewah itu Wulan sibuk membereskan dua koper anak kembarnya. Mulai dari pakaian, celana jaket, kaos kaki dan segala printilan anak gadis tangung itu.
Tak ketinggalan Bibik dan pak Didi juga ikut sibuk berbenah secara mereka sudah 2 tahun tak di ajak jalan-jalan oleh tuan mereka mas Evan.
Wulan secara detail mencatat barang bawaan safa marwah dan ia selipaka catatan itu pada kantong tas koper. Untuk sebagian catatan safa marwah ketika pulang untuk tidak ketinggalan barang bawaannya.
Sore harinya Kak Eva datang menjemput Safa marwah bibik dan pak Didi. perjumpaan yang singkat itu hanya berlangsung sesaat. Dan seketika rumah besar itu pun sunyi dengan kepergian Safa Marwah yang merupakan inti rumah besar ini selalu terlihat ramai penuh canda tawa.
Wulan berjalan gontai masuk kedalam rumah besar itu. Dan ketika ia berjalan melewati kamar mas Evan ada perasan bersalah mengingat kejadian tadi pagi yang masih terbayang jelas wajah kecewa mas Evan.
Sampai dengan pukul 9 malam pun mas Evan belum juga kembali. Wulan duduk sendiri di ruang TV itu dan memandang layar handphonenya. Ia ingin menanyakan keberadaan mas Evan, tapi rasa bersalahnya jauh lebih besar sehingga hal itu tak bisa ia tanyakan.
Hingga akhirnya Wulan menyerah dan ia pun masuk kedalam kamar anaknya dan tidur dengan hati gelisah.
ππππ
Pagi harinya Wulan bangun seperti biasa. Setelah selesai mandi dan berpakaian, ia pun mengerjakan hidangan sarapan pagi dengan harapan bisa bertemu dengan mas Evan.
Setelah sarapan sederhana selesai diatas meja. Sosok yang dinanti pun keluar dari kamar dengan wajah datarnya.
Wulan/"mas, sarapan dulu??" pintanya pada mas Evan dan hal itu mendapat respon baik dengan mas Evan duduk dimeja makan dan mulai memakan sarapan sederhana itu berlahan.
Suasana hening di meja makan itu terasa amat sangat tak menyenangkan. Wulan yang canggung jadi lebih berhati-hati dalam menatap mas Evan yang melihat layar handphone dengan serius.
Setelah selesai makan mas Evan berjalan berlahan menuju pintu keluar dengan membawa tas ransel kerjanya. Dan Wulan mengikutinya dari belakang secara berlahan. Namun tiba-tiba langkah mas Evan terhenti sehingga reflek Wulan juga ikut berhenti. Tubuh mas Evan berbalik melihat ke hadapan Wulan yang terlihat tertuduk menghindari tatapan matanya.
Mas Evan/"maaf kalau kemarin aku terlalu terburu nafsu" ujarnya pelan. Dan hal itu membuat Wulan terkesima.
" aku tau kita pernah mengalami masalalu yang menyakitkan, dan jika hal itu harus terulang kembali, maka aku akan rela" ucapnya menatap sorot mata Wulan yang melihatnya dalam.
"asalkan aku bisa bertemu denganmu lagi" ucapnya jujur dengan sedikit mengembangkan senyum hangat pada Wulan.
Wulan/"mas???" lirih suaranya yang terpanah mendengar pengakuan mas Evan yang tulus.
Mas Evan/"maaf kan aku karena tergesa-gesa sehingga tak memikirkan perasanmu, mungkin hal itu karena perasaan ku yang terpedam sekian lama, sehingga diluar kontrol ku" ungkapan jujur.
"tapi, tapi aku akan menunggu mu, sampai kau benar-benar siap"
Raut wajah Wulan pun berubah simpatik pada mas Evan. Betapa pria ini tulus memikirkan perasaannya yang takut. Dan sedetik kemudian Mas Evan mengeluarkan sebuah bingkisan dari dalam tas ranselnya. Dan menyerahkannya kepada Wulan yang terlihat bingung.
Mas Evan/"aku pergi kerja dulu" ucapnya seraya membelai wajah Wulan dan berlalu meninggalkan Wulan yang masih terkesima dengan Mas Evan.
Dan mobil sedan mewah mas Evan pun keluar dari perkarangan rumah dan menghilang dari penglihatan Wulan.
Berlahan Wulan membuka bingkisan mungil itu dan menemukan lipstik disana.
Dan Wulan menemukan surat kecil didalamnya. Berlahan ia membaca tulisannya dan terkesima seketika.
"aku tak tau warna lipstik kesukaan mu?? tapi apapun warnanya, aku pasti akan jatuh cinta dengan warna itu dibibirmu" Evan.
Sesaat air mata Wulan jatuh. Ia tak menyadari perasaannyaa sendiri pada mas Evan. Yang berkali-kali menyatakan cinta padanya secara terang-terangan.