One Step Closer

One Step Closer
63



Didalam lift Safa Marwah tak melepaskan tangannya pada mama baru mereka. Ketiganya bercanda gurau dengan tertawa kecil. Dan ketika lift terhenti dilantai 11 keduanya terpaksa turun karena harus mengambil koper dan berganti pakaian dikamar mimi Eva.


Marwah/"tunggu kita ya mah, kita secepat kilat ganti baju dan langsung kekamar mama".


Wulan hanya memberikan tanda jempol kepala keduanya tanda setuju. Dan pintu lift itu pun tertutup meninggalkan bayangan Mas Evan dan dirinya yang berdiri berjarak.


Lift itu pun bergerak menuju lantai 14. Dan lift itu pun terhenti di no 14 dengan mulus. Mas Evan berjalan dengan mata masih menatap layar handphone. Wulan berjalan dibelakangnya seraya memandang punggung bidang Mas Evan. Dan langkahnya terhenti dikamar suit room 140. Berlahan pintu kamar itu terbuka, hati Wulan pun jadi sedikit gelisah.


Wulan melihat sekitar kamar yang terlihat tenang dengan desain kamar yang mewah.


Mas Evan/"lebih baik kau yang mandi lebih dulu"


Wulan mengangguk pelan, ia setuju dengan saran Mas Evan. Berlahan ia berjalan ke sisi kamar yang terlihat luas dengan kasur king size disana yang tertata indah dengan bantal-bantal kecil. Wulan berjalan menuju kamar mandi yang berada di sisi kiri yang bersebelahan dengan lemari pakaian. Dan ia menemukan kopernya disana.


Wulan membuka kopernya itu dan mengambil peralatan mandinya juga tas make up kit yang dibawanya untuk masuk kekamar mandi.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Dua puluh menit berlalu, Wulan keluar dari kamar mandi dengan segar, dan ia kembali melihat kedalam kopernya untuk mengambil baju piayamanya. Dan beberapa saat wulan pun kembali kekamar mandi, 5 menit kemudia ia keluar dengan dengan telah memakai baju piyaman dress selututnya.


Wulan berjalan dengan masih mencoba mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Dan langkahnya terhenti ketika mendapatkan Mas Evan telah tertidur dengan handphone berada diatas dadanya.


Mata Wulan melebar dan matanya bertemu pandang dengan sorot mata mas Evan yang menatapnya tajam. Wulan terpaku.


Mas Evan/"apa kau ingin mengodaku??"ucapnya berbisik dan menarik tangan Wulan dan membuat wanita itu semakin jatuh kearah mas Evan.


Wulan/"maaf membangunkan mas lagi, tapi wulan hanya ingin membuat mas untuk nyaman tidur" ucapnya pelan seraya ingin mencoba merengangkan tangannya dari gengaman mas Evan. Namun hal itu malah memancing tangan mas Evan untuk membuat tubuh Wulan jatuh di atas pangkuan mas Evan.


Wulan terlihat panik, ia terkejut dengan gerakan cepat yang membuatnya kini terkunci didalam pankuan mas Evan dengan tangan melingkar dipinggangnya.


Mas Evan/"kau benar-benar harum" pujinya yang menarik pelan ujung rambut wulan yang setengah basah itu ke indra penciumannya. Wulan terpaku dan mematung menerima tatapan mas Evan.


Wulan/"se.. sebaikanya mas man.." namun ucapnya tak selesai, karena mas Evan meraih dagu Wulan dan mengecupnya dengan lembut. Berlahan kecupan itu berubah jadi lumatan lembut berlahan bibir mas Evan menuntut untuk bibir Wulan terbuka menerima lumatan bibirnya. Berlahan tangan mas Evan menyusuri punggung Wulan belayan lembut itu membuat Wulan berhenti menyudahi ciumannya.


Wulan/"mas???" dengan nafas tersegal sedikit. Dengan menatap Mas Evan dalam.


Mas Evan tersenyum sesaat.


Mas Evan/"ya mas tau, sebentar lagi anak-anak akan datang" berlahan mas Evan meraih tubuh wulan untuk memeluknya dalam. "betapa susahnya aku mendapatkan mu, bahkan setelah menikah pun masih ada saingan untuk tidur bersama mu" rutunya yang mencium sisi leher Wulan yang harum.


Wulan hanya bisa tertawa kecil. Namun sesaat ia berpikir "malam pertama??" hatinya ada sedikit janggal mengingat hal itu.